Mag-log inDengan tangan yang gemetar hebat, Brayan segera mematikan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengamannya. Deru napasnya memburu, diburu rasa panik yang menjalar ke seluruh tubuh.Ia memutar gagang pintu dan keluar dari mobil. Hawa dingin sisa hujan seolah membekukan kulit wajahnya. Namun hawa panas kecemasan jauh lebih menguasai dirinya saat ini. Brayan melangkah tergesa mengitari bagian depan mobil yang sedikit penyok.Di atas aspal basah yang menyerap genangan air hujan, tergeletak sebuah sepeda dengan roda depan yang sudah bengkok.Tak jauh dari sana, seorang perempuan terbaring miring, menyembunyikan wajahnya yang tertutup helai-helai rambutnya yang basah.“Mbak ... Mbak, Anda tidak apa-apa?” panggil Brayan dengan suara bergetar, berlutut di samping tubuh yang tak bergerak itu.Jantung Brayan bertalu-talu. Jemarinya yang ragu meraih pundak perempuan itu karena berniat akan menolongnya.Namun, saat tubuh berbalut dress biru muda itu perlahan terbalik dan wajahnya tersorot temaram
“Selamat pagi, Pak. Ini berkas yang Bapak minta tadi,” ucap Rava seraya meletakkan sebuah map ke atas meja Kerja Brayan. Brayan yang dalam posisi duduk hanya melirik sekilas. Ia lalu meraih map tersebut dan menandatanganinya. “Besok kamu gantikan saya meeting dengan klien.” “Saya, Pak?” Rava sedikit terkejut. “Eum. Soalnya saya mau pergi ke suatu tempat.” “Tapi, Pak … saya kan belum pernah melakukan pertemuan dengan klien sebelumnya. Saya takut nanti terjadi kesalahan.” Rava tidak yakin dengan dirinya sendiri. “Tidak masalah. Kamu tidak akan bisa jika tidak mencobanya.” Brayan menutup map dan menyodorkannya lagi ke arah Rava. Rava diam dan mengangguk pelan. Setelah mengambil kembali map itu dia pun berlalu keluar dari ruangan Brayan. Saat sudah di luar, dahinya berkerut bingung. Bukan tentang perintah Brayan, melainkan tentang kemana pria itu akan pergi. ***Pukul empat sore Rava sudah kembali ke rumah. Ia masuk dan mendapati Lisa sedang duduk di sofa dengan raut wajah cemberu
Melihat ekspresi wajah tegang Lisa, tiba-tiba saja Rava menyunggingkan senyum tipis. Kekakuan di wajahnya mencair seketika, berganti dengan kekehan pelan yang bergaung lembut di antara jarak wajah mereka yang begitu dekat.Rava tertawa, lalu pelan-pelan menarik kembali tubuhnya dan menegakkan posisinya. Ia mengacak rambutnya sendiri dengan cengiran ringan, seolah beban berat yang baru saja menggantung di udara hanyalah halusinasi semata.“Astaga, Lis ... kau serius sekali,” ucap Rava seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku cuma bercanda. Kenapa ekspresimu tegang begitu?”Lisa tertegun, mengerjapkan matanya beberapa kali. Napasnya yang sempat tertahan kini terembus patah-patah. “Be–bercanda?”“Iya, bercanda,” sahut Rava santai. Ia lalu melangkah mundur menghampiri sisi ranjang yang lain untuk mengambil ponselnya dari atas nakas.“Bukankah kata-kata puitis seperti tadi sangat cocok untuk mencairkan suasana. Kamu pikir aku ini seperti Pak Brayan yang punya rahasia besar?” sambungny
Mendengar itu, Rava terdiam cukup lama. Ia tidak marah, tapi juga tidak menunjukkan ekspresi menerima kenyataan. Ia hanya menatap Lisa, jauh lebih dalam dari sebelumnya. Lisa ikut diam dan balas menatap tatapan penuh makna Rava. Setelah menyatakan sebuah kenyataan, ada sedikit rasa lega di hatinya. Tapi juga rasa bersalah yang teramat besar. Bukankah harusnya ia mengatakan itu sebelum mereka menikah? “Maksudmu?” tanya Rava setelah terdiam cukup lama. “Aku sudah tidak perawan,” jelas Lisa. Ada sedikit getar dalam suaranya. Lagi-lagi Rava diam. Ekspresi wajahnya datar. Entah ia kecewa, atau sebenarnya sudah menduga sejak awal. Lagi pula, hanya sekian persen dari perselingkuhan yang tidak berakhir di atas ranjang bukan? “Aku sudah tahu,” ucap Rava santai. Ia lalu beranjang dari atas ranjang dan melangkah ke dekat meja rias. “Hah?! Ka–kamu sudah tahu?” tanya Lisa kaget. “Eum,” angguk Rava santai. “Jadi—”“Jadi tidak usah dibahas lagi,” potong Rava cepat. Rava membuka jam tangan
“Uhuk … uhuk … uhuk ….” Raga Lisa terbatuk-batuk. Ekspresi wajah wanita itu berubah seketika. “Rava?” Rava terpaku sejenak. Ia yakin seribu persen, jika yang saat ini bersamanya bukan lagi Kayla, melainkan Lisa. Tapi pertanyaannya, kenapa bisa dua jiwa ini bertukar begitu cepat? Biasanya, kalau Kayla hadir, wanita sejuta branded itu akan bertahan lama. Bisa satu atau bahkan dua hari. Namun kali ini, tidak sampai sejam pun. “Rava? Apa yang kamu lakukan?” tanya Lisa dengan suara serak, masih setengah terbatuk karena napasnya yang terasa tertahan. Kedua mata Rava membelalak sempurna saat menyadari posisi mereka. Ia sedang mengungkung Lisa di atas ranjang dengan menahan kedua pergelangan tangan istrinya di atas kepala. Pakaian Lisa juga sudah setengah terbuka. Lembar-lembar kelopak mawar yang hancur di sekeliling mereka seolah menjadi bukti atas kegaduhan yang baru saja terjadi. Rava bagai tersengat listrik. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke realitas. Sorot mata din
Kayla menghela napas berat, tubuhnya menegang. Rasa tidak nyaman sekaligus bersalah mulai menggerogoti hatinya. Rongga dadanya terasa sesak karena dekapan Rava yang terlalu kuat, hampir membuatnya kesulitan bernapas. Lebih dari itu, nuraninya berteriak bahwa situasi ini keliru.“Rava, ini tidak benar! Tubuh ini milik Lisa!” Kayla menaikkan nada bicaranya, kembali memberontak dan berusaha memundurkan langkah. Namun, kekuatan fisiknya sebagai jiwa yang menumpang jelas tidak sebanding dengan Rava yang sedang didera ego dan kerinduan mendalam.Bukannya melepaskan, Rava justru menangkup pinggang Kayla, mengunci pergerakannya hingga jarak di antara mereka benar-benar terkikis habis. Tatapan mata Rava yang biasanya tegas kini meredup, dipenuhi keputusasaan yang teramat sangat.“Aku tahu ini tubuh Lisa, tapi jiwamu yang ada di sini, Kayla! Jiwa yang akhir-akhir ini membuatku gila,” bisik Rava bertubi-tubi, mengabaikan penolakan fisik dari wanita di depannya. “Jangan egois dengan menyuruhku
"Bangsat ...! Aku diusir seperti sampah." Lisa membuka pintu lemari dengan gerakan murka yang membabi buta. Amarahnya benar-benar tak terkendalikan lagi. Mengambil pakaiannya dengan cara acak dan berantakan. Di belakangnya, Brayan berdiri di pintu dengan tatapan heran. Terus memperhatikan sang sel
'Mati aku, mati ...! Tampaknya Brayan mulai menyadari gelagat aneh ku. Bagaimana mungkin aku tahu semua yang Lisa tahu?' 'Ini baru perkara toilet, bagaimana lagi jika Brayan melihat kulitku yang memerah karena alergi seafood? Come on Key, tetap tenang dan jangan terlihat panik. Kamu harus cari car
Brayan yang melihat apa yang asisten pribadi istrinya itu lakukan pun segera bangkit dan membantu selingkuhnya. "Elena, cukup!" hardik Key. Elena pun segera melepaskan jambakan tangannya dan berdiri sembari bersedekap dada. Sebenarnya, ia masih sangat ingin melanjutkan aksi gilanya itu. Jika perl
Rumah Sakit Langkah Brayan dan Key terlihat lebih cepat dari biasanya. Mereka baru saja tiba di rumah sakit dan akan segera melihat keadaan korban yang diduga Kayla Anindita itu. Dari kejauhan, tampak beberapa orang polisi berjaga di depan sebuah ruangan yang merupakan tempat korban kecelakaan







