LOGINJohn masih terpaku di depan dinding monitor. Pantulan cahaya kebiruan dari puluhan layar membuat wajahnya tampak semakin pucat. Rekaman CCTV itu terus diputar berulang-ulang. Detik demi detik. Frame demi frame. Namun perhatian John kini bukan lagi tertuju pada wajah kedua dokter palsu itu. Melainkan... Cara pria bertubuh tinggi tersebut berjalan. Langkahnya mantap. Tenang. Nyaris tanpa suara. Namun kaki kanannya selalu sedikit terlambat setengah langkah dibanding kaki kirinya. Bahu kirinya juga tampak lebih rendah. Sangat tipis. Hampir mustahil disadari orang lain. Tetapi... John pernah melihatnya. Berkali-kali. "Pak..." Suara teknisi membuyarkan lamunannya. "Apakah rekamannya diulang lagi?" John tidak menjawab. Tatapannya masih melekat pada layar. Di dalam kepalanya, berbagai wajah mulai bermunculan. Para mantan petinggi Antonio Group. Direktur perusahaan. Mantan pengawal. Rekan bisnis lama. Semuanya muncul silih berganti. Namun... Tak satu pun terasa be
Raungan mesin SUV hitam milik Antonio Group memecah suasana siang yang semula lengang di halaman depan Rumah Sakit Pusat Sentosa. Lima kendaraan berhenti hampir bersamaan. Ban-ban tebalnya berdecit keras di atas paving block. CIIIIIITTT...! Belasan pintu langsung terbuka serempak. Para pengawal berbadan tegap turun lebih dulu. Jas hitam mereka berkibar diterpa angin, sementara alat komunikasi yang menempel di telinga masing-masing terus mengeluarkan suara laporan yang saling bersahutan. Tak lama kemudian... Sebuah SUV lain berhenti tepat di depan pintu Instalasi Gawat Darurat. Dari sanalah John turun. Wajah pria itu terlihat jauh lebih tegang dibanding biasanya. Dasi hitamnya sedikit miring akibat terburu-buru mengenakannya di perjalanan. Tatapannya langsung menyapu seluruh area rumah sakit. Beberapa petugas keamanan rumah sakit tampak kebingungan. Perawat berlalu-lalang dengan wajah pucat. Keluarga pasien yang sedang menunggu di ruang tunggu mulai berbisik-bisik karena
Clara membeku di tempatnya.Jemari yang sejak tadi menggenggam lengan Raymond perlahan mengendur, seolah seluruh tenaganya menguap dalam sekejap. Wajahnya yang semula masih dipenuhi harapan perlahan kehilangan warna. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar."Apa...?"Bisikan itu begitu pelan hingga nyaris lenyap diterpa embusan angin sore yang melintasi taman belakang mansion.Beberapa langkah di belakang mereka, Bu Eli spontan merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Rosario kayu berwarna cokelat tua yang hampir tak pernah lepas dari genggamannya bergetar pelan."Ya Tuhan..."Doa itu meluncur begitu saja dari bibir wanita tua tersebut.Noah, yang berdiri di samping neneknya, mendongak bergantian ke arah wajah semua orang dewasa di hadapannya. Bocah itu belum benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Namun dari raut wajah mereka, ia tahu sesuatu yang buruk baru saja terjadi.Sementara itu...Raymond masih mematung.Ponsel hitam di tangannya masih menemp
Barulah Raymond menoleh perlahan. Pandangan mereka bertemu. Di balik ketegasan yang selama ini selalu ditunjukkannya... Clara melihat sesuatu yang sangat jarang muncul. Ketakutan. "Aku tahu..." "...Ken sangat berarti bagimu." Raymond mengembuskan napas panjang. "Dia bukan sekadar bawahanku." Suara itu terdengar berat. Serak. "Hampir separuh hidupku..." "...dia selalu berdiri di belakangku." Tatapannya perlahan menerawang. "Waktu ibuku meninggal..." "...Ken yang berdiri di sampingku." "Saat Antonio Group hampir diambil alih..." "...dia berjaga tiga hari tiga malam tanpa tidur." "Ketika aku ditembak dalam penyergapan beberapa tahun lalu..." Raymond berhenti. Rahangnya mengeras. "Dia yang mendorongku." "Kalau dia terlambat satu detik saja..." "...peluru itu menembus dadaku." Clara merasakan jemari suaminya semakin dingin. "Aku berutang terlalu banyak padanya." bisik Raymond. "Aku bahkan belum sempat membalas semuanya." Air mata perlahan memenuhi pelupuk mata C
Raymond membeku. Ponsel masih menempel erat di telinganya, sementara jemarinya mencengkeram perangkat itu begitu kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih. Angin sore yang berembus di taman belakang Mansion Antonio terasa begitu dingin, tetapi sama sekali tidak mampu meredakan gejolak yang memenuhi dadanya. Rahangnya mengeras. Otot-otot di wajahnya menegang. Sorot matanya berubah semakin tajam, seolah seluruh emosinya membeku menjadi sebilah pisau. "...Apa yang baru saja kau katakan?" Suara Raymond terdengar rendah. Tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat semua orang di sekitarnya ikut menahan napas. Di seberang sambungan, suara seorang staf rumah sakit terdengar tergesa-gesa. Bunyi alarm monitor pasien, langkah kaki yang berlarian, dan instruksi para tenaga medis bercampur menjadi latar yang membuat suasana terasa semakin mencekam. "T-Tuan..." "Pak Ken mengalami perdarahan intrakranial yang semakin masif." "Tekanan di dalam rongga kepalanya terus meningkat." "Dok
Nada suaranya tenang. Namun ketenangan itu justru terasa lebih menekan. Elena menundukkan kepala. Ia menarik napas panjang, seolah sedang menyusun kembali ingatannya. "Aku..." "...baru pulang." "Saat melewati jalan belakang mansion..." "...aku merasa ada seseorang yang mengikutiku." Raymond tetap diam. Tidak menyela sedikit pun. Elena melanjutkan. "Aku sempat mengira itu hanya perasaanku." "Tapi ketika aku turun dari mobil..." "...orang itu tiba-tiba muncul." "Dia mengenakan jaket hitam." "Celana gelap." "Topinya ditarik sangat rendah hingga menutupi hampir seluruh wajahnya." "Aku bahkan tidak sempat melihat warna matanya." Clara menahan napas. "Lalu?" Elena memejamkan mata sejenak. "Semuanya terjadi sangat cepat." "Dia mendekat." "Aku mundur." "Lalu..." "...aku merasakan sesuatu menghantam perutku." Refleks, tangan Elena kembali menekan bagian luka. Ekspresinya berubah menahan sakit. "Aku baru sadar..." "...aku sudah ditusuk." Clara membelalak. "Ya Tuha
Mobil Raymond memasuki halaman mansion. ajahnya masih setenang biasanya—dingin dan tertutup. Ia bahkan belum menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang malam itu.Langkahnya mantap ketika memasuki ruang utama. Jas hitamnya masih rapi, aroma rokok dan parfum mahal bercampur samar di udara. Dan Ken berj
Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di Mansion Raymond. Pintu mobil terbuka. Ken, asisten Raymond dan para anak buah serempak menunduk. Raymond turun lebih dulu. Clara melangkah mengikutinya, sedikit tertinggal di belakang.Salah satu anak buah melirik Clara terlalu lama.“Jaga pandanganmu,”
Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan
Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap







