로그인Semua terjadi begitu cepat. Cairan itu melesat di udara—berkilat singkat di bawah cahaya siang—menuju wajahnya, menuju tubuhnya… menuju sesuatu yang tak akan bisa ia hindari. Namun—di antara detik yang terlalu sempit untuk berpikir—sebuah bayangan bergerak dengan cepat, pasti dan tanpa keraguan—Raymond. Pria itu baru saja turun dari mobilnya ketika instingnya menangkap sesuatu yang salah. Gerakan motor itu, cara pengendara itu mengangkat tangan, kilatan botol kecil di udara. Ia tidak banyak berpikir, ia langsung bertindak. Dalam satu langkah panjang, ia meraih Clara—menariknya kuat ke dalam pelukannya. Tubuhnya berputar membalikkan posisi mereka, menempatkan dirinya sebagai tameng. Dan—cairan itu mendarat di punggungnya. Ssssss—suara mendesis terdengar jelas. Seperti sesuatu yang hidup sedang terbakar. Asap tipis langsung mengepul dari jas hitam mahal yang ia kenakan. Kain itu seolah meleleh perlahan, berubah bentuk, rusak dalam hitungan detik. Raymond mengepalkan rahangnya.
Jantung Clara berdegup kencang, ia merasa seolah ada sepasang mata yang menempel di punggungnya, mengikuti setiap langkahnya… tanpa suara. Perlahan Clara menoleh lagi. Di belakang kosong, tidak ada siapa-siapa—namun justru itulah yang membuat rasa takut itu tumbuh lebih besar dan lebih nyata Napasnya memburu. “Tenang… tenang…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri, meski jari-jarinya mulai bergetar. Namun langkahnya—tanpa ia sadari—semakin cepat. Tap… tap… tap… Sepatunya beradu dengan lantai lorong yang panjang dan sepi. Lalu—tap… tap… suara itu datang lagi mengikuti. Clara membeku sejenak, darahnya seperti mengalir lebih dingin. Tanpa berpikir panjang—ia berbalik dan mempercepat langkahnya. Pintu keluar terlihat di depan. Cahaya dari luar memanggil seperti satu-satunya jalan selamat. “Aku harus segera keluar…” gumamnya dengan suara bergetar. Dan begitu ia melewati pintu—udara luar langsung menyentuh wajahnya. Namun ia
Srrreeeettttt—!!! Suara decitan ban memekakkan telinga, seperti jeritan yang merobek udara siang itu—mobil hitam itu berhenti mendadak. Tubuh Raymond terdorong ke depan, bahunya hampir menghantam kursi depan. Namun refleksnya cepat—tangannya menahan, rahangnya mengeras, napasnya tertahan dalam satu detik. "Maafkan saya, Tuan," ucap Ken cepat. Sementara itu di depan mobil—Noah berdiri membeku. Tubuh mungil itu kaku, kakinya terpaku di aspal dan matanya terbelalak lebar, memantulkan ketakutan yang masih belum sempat ia pahami sepenuhnya. Mulutnya sedikit terbuka, ia ta bersuara dan tak bergerak sedikitpun. “Noah!!” Teriak Bibi Janeta. Wanita itu berlari dengan napas tersengal, ia hampir jatuh karena terburu-buru. Tangannya gemetar saat meraih tubuh kecil Noah, ia memeluknya erat. “Kamu tidak apa-apa, nak? Kamu tidak apa-apa?!” suaranya pecah, penuh kepanikan yang tak bisa disembunyikan. Noah tetap diam dengan tatapannya yang polos. Ia masih terpaku pada mobil di depannya.
Napas Clara tercekat. Dalam satu gerakan refleks, ia berbalik cepat. Tubuhnya menegang, mulutnya sudah hampir terbuka untuk berteriak— Namun—sebuah tangan besar langsung menutup mulutnya. Hangat, kuat, dan tak memberi ruang untuk suara keluar. “Jangan berteriak.” Suara itu rendah namun dalam. Clara membeku, kedua mata indahnya terbelalak lebar. Raymond—pria itu berdiri tepat di depannya—begitu dekat hingga Clara bisa merasakan hangat napasnya menyentuh kulit wajahnya. Hampir tidak ada jarak di antara mereka. Deg. Jantung Clara berdetak liar dan tak beraturan. Setiap detak terasa keras di telinganya sendiri. Ia mengangguk cepat dengan panik. Raymond menatapnya sejenak—lalu perlahan menurunkan tangannya. Namun tatapan Raymond justru refleks turun ke arah buah dada Clara di balik bra hitam. Clara tersentak—wajahnya langsung memerah. Dengan gerakan cepat dan canggung, ia mengambil seragamnya, menutup tubuh bagian depannya dengan tangan gemetar. “Kenapa Anda ke sini, Tuan?”
Suara itu tidak keras, tidak juga tinggi—namun ketika jatuh di lorong rumah sakit yang dingin itu—ia seperti palu yang menghantam keheningan. Semua orang menoleh, setiap langkah kaki terhenti. Bahkan suara mesin monitor di kejauhan terasa meredup, seolah ikut tunduk pada satu sosok yang berdiri di ujung lorong—Raymond. Ia berdiri tegak di bawah cahaya putih lampu rumah sakit. Bahunya lurus, ekspresinya tenang—terlalu tenang untuk situasi yang genting seperti ini. Matanya menyapu ruangan dengan dingin. Tajam. Mengukur. Menguasai. Di belakangnya, Ken berdiri setia—diam, namun siap. “Berikan perawatan terbaik,” lanjut Raymond datar, tanpa emosi. “Semua biaya… aku yang tanggung.” Dokter itu langsung menegakkan tubuhnya, "Baik, Tuan," ucapnya tanpa ragu. Thomas menatap Raymond dengan sorot mata yang menyala. Rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya—amarah, ketidaksukaan… dan perasaan terancam yang samar namun nyata. Sementara itu—Clara tidak bergerak—tubuh
Namun—sebelum tatapan itu benar-benar bertemu— Clara lebih dulu tersadar. Seperti tersengat arus listrik, tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Ia langsung memalingkan wajah dengan gerakan cepat, napasnya tercekat. Tangannya bergerak refleks, meraih tubuh kecil Noah dan menariknya lebih erat ke dalam pelukannya. Dengan gerakan panik, ia menekan kembali tombol kaca hingga jendela taksi kembali naik. Jendela itu kembali tertutup. Udara di dalam taksi mendadak terasa sempit. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Jemarinya gemetar saat menggenggam tubuh Noah. Di sampingnya, Thomas mengernyit. Ia sempat melihat sekilas sosok pria di mobil sebelah. Tatapannya menyipit. “Ada apa, Clara?” tanyanya pelan, namun nadanya tegas dan penuh curiga. Clara tidak menjawab—ia hanya menunduk, wajahnya tersembunyi di balik rambut yang jatuh berantakan. Tangannya memeluk Noah lebih erat. Thomas kembali menoleh ke arah mobil di samping mereka. Dan dalam sepersekian detik—







