Share

Cemoohan

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-03-10 18:00:41

Setelah pemberitahuan itu, suasana hotel yang sebelumnya masih berjalan normal berubah seketika, seperti langit cerah yang tiba-tiba tertutup awan badai. Para pegawai yang beberapa menit lalu masih berdiri santai sambil mengobrol kini bergerak cepat ke sana kemari, langkah mereka tergesa, suara sepatu mereka bergema di lantai marmer yang mengilap.

Perintah saling bersahutan di udara.

“Cepat periksa daftar tamu VIP!”

“Siapa yang bertugas di lobby hari ini?”

“Pastikan tidak ada kesalahan sedikit
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Wartawan Takut

    Brak... Brak... Brak... Suara langkah sepatu bot para pengawal menggema serempak di halaman depan Mansion Antonio. Belasan pria bertubuh tegap itu maju satu langkah bersamaan, lalu membentuk barikade baru di belakang gerbang besi hitam setinggi hampir tiga meter. Setelan jas hitam, sarung tangan kulit, dan alat komunikasi yang terpasang di telinga mereka membuat kehadiran mereka terlihat semakin mengintimidasi. Tatapan mereka lurus ke depan. Dingin. Tanpa sedikit pun keraguan. Tidak ada celah yang bisa dilewati. Tidak ada ruang bagi wartawan untuk mendekat. Udara pagi yang semula dipenuhi suara teriakan dan kilatan kamera kini berubah mencekam. Hanya suara embusan angin yang menggoyangkan daun-daun cemara di sepanjang jalan masuk menuju mansion. Di tengah barisan itu... Raymond berdiri tegak. Kedua bahunya tetap lurus. Dagunya sedikit terangkat. Sorot matanya yang tajam menyapu satu per satu wajah para wartawan di balik pagar. Amarah yang tadi meledak-ledak kini seola

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Murka

    Tepat pada saat itu... Terdengar suara langkah pelan dari belakang. Tok... Tok... Tok... Elena maju. Gaun panjang berwarna gading yang dikenakannya berkibar pelan diterpa angin pagi. Wajahnya masih terlihat pucat. Namun sorot matanya berubah begitu tegas. Ia berdiri tepat di samping Raymond. Semua kamera langsung beralih ke arahnya. Klik! Klik! Klik! Kilatan flash kembali memenuhi halaman. Raymond menoleh cepat. Tatapannya dipenuhi tanda tanya. Mengapa Elena maju? Apa yang sedang ingin dilakukannya? Namun Elena tidak memandang Raymond. Ia menatap lurus ke arah para wartawan. "Aku..." Suaranya pelan. Namun begitu jelas. "...adalah Elena." "Adik kandung Nyonya Antonio." Kerumunan kembali gaduh. Beberapa wartawan langsung saling berteriak. "Itu dia!" "Rekam!" "Cepat!" Elena mengangkat tangan kanannya. Memberi isyarat agar semua diam. Keributan perlahan mereda. "Aku tidak keberatan kalau kalian mempertanyakan siapa diriku." "Kalian boleh meragukan hubung

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Fitnah

    Raymond membeku. Bukan karena terkejut. Melainkan karena otaknya membutuhkan beberapa detik untuk mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan wartawan itu. Angin pagi yang berembus pelan seakan berhenti. Kilatan kamera yang sejak tadi terus menyala kini terdengar jauh. Yang memenuhi pendengarannya hanya satu kalimat. "...mendiang Nyonya Besar Antonio pernah terlibat dalam kasus penyelundupan berskala besar..." Tatapan Raymond perlahan terangkat. Mata hitamnya yang semula tenang berubah semakin tajam. Dingin. Kelam. Berbahaya. Rahangnya mengeras hingga garis otot di kedua pipinya tampak jelas. Tulang rahangnya menonjol. Kedua tangannya yang semula berada di sisi tubuh perlahan mengepal. Jari-jarinya menekan telapak tangan sendiri begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Urat-urat pada punggung tangannya mulai menonjol. Dadanya naik turun perlahan. Bukan karena takut. Melainkan karena ia sedang mati-matian menahan amarah. "Apa..." Suaranya terdengar rendah. Pe

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Berita Mengejutkan

    Suaranya tidak keras. Namun cukup berat hingga terdengar jelas di tengah keributan. Ken segera mendekat. "Tuan." "Mereka mulai berkumpul sejak pukul enam pagi." "Mereka menolak meninggalkan lokasi." "Kami sudah meminta bantuan kepolisian untuk mengatur lalu lintas." Raymond mengangguk tipis. Tatapannya kembali mengarah ke kerumunan wartawan. "Siapa yang memberi kalian izin membuat keributan di depan rumah saya?" Tak seorang pun langsung menjawab. Seorang wartawan wanita berjas biru mengangkat mikrofonnya lebih tinggi. "Tuan Raymond." "Apakah benar Nyonya Elena saat ini tinggal bersama keluarga Antonio?" Raymond tetap diam. Wartawan lain langsung menyusul. "Apakah benar sedang dilakukan tes DNA?" "Apakah beliau akan memperoleh hak waris keluarga Antonio?" "Apakah hubungan darah ini sengaja disembunyikan selama puluhan tahun?" Raymond masih belum menjawab. Ekspresinya nyaris tidak berubah. Di belakangnya... Clara mulai merasa tidak nyaman. Keributan, suara kamera,

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Wartawan

    Pintu kamar utama di lantai dua terbuka lebar.Raymond melangkah keluar lebih dulu dengan langkah panjang dan cepat. Wajah yang beberapa saat lalu dipenuhi ketenangan kini berubah serius. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya kembali menjadi tajam—sorot mata seorang Mafia yang terbiasa menghadapi situasi genting tanpa kehilangan kendali.Di belakangnya, Clara keluar dengan langkah jauh lebih hati-hati.Tangan kirinya menopang perut yang kini mulai membulat, sementara tangan kanannya menggenggam erat jemari Noah agar bocah itu tidak berlari menyusuri koridor."Noah, tetap di samping Mama.""Iya, Ma."Noah mengangguk patuh.Meski belum memahami apa yang sedang terjadi, bocah itu dapat merasakan perubahan suasana dari wajah orang-orang di sekelilingnya.Koridor lantai dua yang biasanya tenang pagi itu berubah menjadi sibuk.Beberapa pelayan tampak berlari kecil membawa alat komunikasi internal.Ada yang menoleh ke arah halaman depan melalui jendela-jendela besar.Ada pula yang sali

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Bahagia

    Clara mengusap matanya perlahan. "Lalu sejak tadi cuma memandangiku?" "Iya." "Memangnya tidak bosan?" "Tidak." jawab Raymond tanpa berpikir. "Aku bahkan bisa melakukan ini sampai malam." Clara tertawa kecil. "Untung Antonio Group punya banyak direktur." "Kalau tidak..." "CEO-nya pasti sudah dipecat." Raymond ikut tertawa. "Hari ini aku memang sengaja tidak bekerja." "Aku sendiri yang membatalkan seluruh jadwal." Clara langsung menatapnya. "Seluruhnya?" Raymond mengangguk. "Rapat." "Bertemu investor." "Semuanya." "Ray..." "Kau tidak perlu melakukan itu." Raymond mengusap pipi Clara dengan ibu jarinya. "Perlu." "Sangat perlu." "Aku sudah terlalu lama membiarkan pekerjaan mengambil waktuku." "Aku tidak ingin kehilangan lebih banyak lagi." Tatapan Clara berubah lembut. Ia mengangkat tangan lalu menggenggam tangan suaminya. "Raymond..." Pria itu mengecup pelan kening istrinya. "Boleh egois satu hari saja?" Clara tersenyum. "Egois bagaimana?" "Aku ingin sat

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijodohkan

    Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dikurung di Basement

    Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijual Paman, Dibeli Tuan Mafia

    Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tuan Mafia Kejam

    Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. T

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status