LOGINClara tidak mampu mengalihkan pandangannya.Matanya seolah terkunci pada pemandangan itu—pada tubuh kecil yang tergantung tak berdaya di cabang pohon, pada darah yang masih menetes perlahan, jatuh setitik demi setitik ke tanah di bawahnya. Setiap tetes terasa seperti dentuman yang menggema di dalam dadanya.Napasnya mulai tersengal. Pendek. Tidak teratur.Dingin merayap pelan, dimulai dari ujung jari, menjalar ke lengan, hingga akhirnya mencengkeram dadanya erat.“Ray…” suaranya nyaris tak terdengar, seperti bisikan yang terpecah oleh ketakutan.Tangannya refleks mencengkeram lengan pria di sampingnya.Raymond menoleh. Ia menatap Clara dan Noah bergantian. Tanpa berkata apa-apa, Raymond langsung bergerak. Tangannya terangkat, menarik Clara mendekat ke dalam pelukannya, memutar tubuh wanita itu sedikit agar pandangannya tertutup sepenuhnya dari pemandangan mengerikan di depan mereka.“Jangan lihat,” ucapnya pelan, namun tegas—seperti perintah yang tak boleh dibantah.Clara menggeleng l
Keesokan harinya, mansion yang biasanya tenang berubah total—seolah napasnya sendiri ikut dipercepat oleh kesibukan yang tak ada henti. Orang-orang berlalu-lalang tanpa jeda, membawa kotak-kotak besar berisi dekorasi mewah, kain-kain mahal, dan rangkaian bunga yang masih terbungkus rapi. Di sudut lain, tumpukan undangan dicetak dengan tinta emas yang berkilau, satu per satu memuat nama-nama penting dari berbagai kalangan. Pernikahan itu bukan sekadar acara, tapi akan menjadi perhelatan besar. Sangat besar. Di ruang tengah, beberapa desainer berdiri mengelilingi Clara yang tengah diukur untuk gaun pengantinnya. Kain putih menjuntai panjang di sekeliling tubuhnya, lembut menyentuh lantai marmer, mengalir seperti kabut tipis yang indah. Gaun itu terlihat begitu anggun—nyaris seperti mimpi yang perlahan menjadi nyata. “Bagian ini kita jatuhkan sedikit… supaya siluetnya lebih elegan,” ujar salah satu desainer sambil merapikan lipatan kain. Clara hanya mengangguk pelan. Pikirannya masi
Hans menatap Clara beberapa detik. Sorot matanya sempat berubah—seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar peringatan biasa. Namun kemudian ia menggeleng pelan, menarik sudut bibirnya dalam senyum ringan. “Tidak… bukan apa-apa,” ujarnya santai. “Aku cuma… ya, kalian tahu sendiri. Dunia sekarang tidak aman. Jadi… hati-hati saja.” Clara mengangguk pelan. “Iya… terima kasih, Hans.” Hans tersenyum kecil, lalu mundur satu langkah. Tatapannya beralih sekilas ke Raymond—singkat, namun cukup tajam untuk menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya santai. “Jaga dia baik-baik,” ucap Hans. Raymond membalas tatapan itu tanpa ekspresi. “Itu tugasku.” Hening sesaat. Lalu Hans menepuk pelan bahu Clara. “Aku pergi dulu. Senang melihatmu baik-baik saja.” Clara mengangguk. “Aku juga… hati-hati ya.” Hans tersenyum, lalu berbalik. Langkahnya menjauh perlahan dari sana, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Clara menatap kepergian sahabat lamanya itu beber
“CLARA!” Semua kepala menoleh serempak—Raymond, Ken, bahkan Thomas yang sejak tadi berdiri diam. Seorang pria berlari mendekat. Langkahnya tergesa, napasnya sedikit terengah. Rambutnya berantakan, kemejanya kusut seperti seseorang yang terburu-buru keluar tanpa sempat merapikan diri. Dan saat wajah itu semakin jelas—mata Clara langsung melebar. “Hans…?” suaranya nyaris tak percaya. Pria itu berhenti tepat di depan mereka, menatap Clara seolah memastikan ia tidak sedang berhalusinasi. “Clara…” ucapnya pelan. Satu detik hening. Lalu—Clara bergerak lebih dulu. Ia melangkah cepat, hampir berlari, dan tanpa ragu langsung memeluk pria itu. “Hans!” Pelukan itu erat. Hangat. Penuh rindu yang tak terucapkan. Galang membalas pelukan itu dengan sama kuatnya. “Ini benar-benar kamu…” gumamnya, masih seperti tidak percaya. Beberapa langkah dari sana—Raymond membeku. Tatapannya seketika menajam. Aura di sekelilingnya langsung turun beberapa derajat. Ken yang berdiri di sampingnya melir
Malam merambat turun dengan perlahan, menelan setiap sudut kota dalam bayangan gelap yang panjang. Di lantai atas hotel, di balik pintu kamar yang tertutup rapat—Raymond berdiri sendirian di depan jendela. Lampu-lampu kota berkilau di bawah sana, terlihat indah… namun baginya, itu hanyalah ilusi ketenangan. Dunia yang ia kenal tidak pernah benar-benar aman. Tidak pernah. Tangannya perlahan mengepal. Sella sudah mati dengan cara yang terlalu kejam untuk disebut sekadar pembunuhan. Dan lebih dari itu—mayatnya dibuang tepat di depan hotelnya. Itu bukan kebetulan—itu pesan. Raymond menyipitkan mata. “Siapa pun kau…” gumamnya pelan. “…kau sudah memilih orang yang salah.” Namun di balik kemarahan itu—ada sesuatu yang lain. Sebuah kesadaran yang tidak bisa ia abaikan. Clara dan Noah. Dunia mereka sekarang sudah terseret ke dalam dunianya. Dan dunia Raymond… tidak pernah memberi ampun. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Tidak…” Suara itu hampir seperti bisi
Ponsel di tangan Ken masih menempel di telinganya. Wajah pria itu berubah semakin pucat seiring ia mendengar penjelasan dari seberang sana. Raymond yang sejak tadi duduk dengan tenang perlahan meletakkan sendoknya. Tatapannya tajam. "Kenapa?" tanyanya dingin. Ken menelan ludah pelan sebelum menurunkan ponselnya. "Ada mayat perempuan di depan hotel, Tuan. Polisi dan media juga mulai berdatangan." Suasana meja makan yang semula hangat mendadak membeku. Clara refleks menggenggam tangan Noah di bawah meja. Bu Eli menatap Ken dengan kaget. "Mayat?" Ken mengangguk pelan. Raymond langsung berdiri dari kursinya tanpa banyak bicara. Aura pria itu berubah seketika. Kehangatan yang tadi sempat terlihat di meja makan lenyap begitu saja, digantikan oleh ekspresi dingin dan tajam yang selama ini selalu melekat padanya. "Siapkan mobil," ucap Raymond. "Baik, Tuan," sahut Ken cepat. Clara ikut berdiri. "Sebaiknya aku pulang saja sekarang." Raymond menoleh ke arahnya. Wajahnya masih kera
Beberapa hari setelah kejadian itu, suasana di rumah sakit perlahan berubah. Bau obat-obatan yang semula terasa menyesakkan, kini tidak lagi terlalu menakutkan. Monitor jantung Raymond sudah dilepas. Infus di tangannya tinggal satu. Wajahnya juga tidak sepucat hari pertama ia sadar. Meski begitu,
“Raymond—!” Suara Clara pecah. Tubuhnya langsung bergerak menuju pintu ruang perawatan, namun salah satu perawat buru-buru menahannya. “Maaf, Nona, Anda tidak boleh masuk dulu!” “Lepaskan saya!” Clara menangis. “Dia sendirian di dalam!” Di balik kaca kecil di pintu ruangan itu, Clara bisa mel
Clara menutup mulutnya, dan seketika air matanya kembali jatuh, dadanya terasa sesak—seolah ada sesuatu yang menekan begitu kuat hingga ia sulit bernapas. “Jadi… kondisinya berbahaya?” tanyanya dengan suara pecah. Dokter itu terdiam beberapa detik sebelum mengangguk pelan. “Kami masih berusaha me
Napas Clara memburu tidak beraturan. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik perlahan dari dalam. Tangannya gemetar hebat saat terus mencoba menghubungi nomor Raymond, lagi dan lagi, berkali-kali, seolah dengan begitu ia bisa mengubah kenyataan mengerikan yang baru saj







