LOGINRaymond bahkan tidak memberi kesempatan Bu Eli menyelesaikan kalimatnya. Begitu mendengar istrinya menginginkan mangga muda, pria itu langsung berbalik menuju pintu utama mansion dengan langkah panjang dan tergesa. “Tuan, maksud saya kita bisa—” “Ken.” “Ya, Tuan?” “Siapkan mobil.” “Tapi—” “Sekarang.” Nada suaranya tegas dan tidak memberi ruang untuk perdebatan. Lima menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah meluncur keluar dari gerbang besar Mansion Antonio dengan kecepatan yang biasanya digunakan untuk mengejar target penting. Dari kejauhan, iring-iringan kendaraan itu terlihat seperti sedang menjalankan operasi rahasia tingkat tinggi. Padahal kenyataannya... Mereka sedang berburu mangga muda. Empat puluh menit kemudian. Mobil berhenti di sebuah daerah pinggiran kota yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan kebun-kebun rakyat yang membentang luas hingga ke kaki perbukitan. Udara di sana jauh berbeda dari pusat kota. Lebih sejuk. Lebih lembap. Dan dipenuhi arom
Namun... Raymond telah membersihkan setiap jejak jauh sebelum menjatuhkan Clark. Saat agen itu akhirnya menutup map terakhir, ekspresi frustrasi samar terlihat di wajahnya. "Kami tidak menemukan pelanggaran." "Bagus." "Tapi kami akan tetap mengawasi bisnis Anda, Tuan Antonio." "Silakan." Tatapan keduanya bertemu selama beberapa detik. Pertarungan diam tanpa kata. Lalu kedua agen itu berdiri. "Selamat siang, Tuan Antonio." "Selamat siang." Pintu tertutup. Dan aura dingin itu langsung lenyap begitu saja. Ken mengembuskan napas panjang. "Saya benci federal." Raymond mengambil cangkir kopi. "Mereka hanya melakukan pekerjaan mereka." "Dan Tuan baru saja membuat mereka pulang tanpa hasil." Kali ini Raymond benar-benar tersenyum. "Karena aku tidak memberi mereka apa pun." Namun begitu ia kembali ke kamar utama... Seluruh aura mafia menakutkan itu menghilang tanpa sisa. Benar-benar hilang. "Raymond, bagaimana?" "Lancar," Jawa Raymond singkat.
Keheningan yang nyaman di kamar utama itu pecah ketika Ken mengetuk pintu dan masuk dengan wajah lebih serius dari biasanya. "Tuan." Raymond yang sedang duduk di sofa dekat jendela perlahan mengangkat kepala dari dokumen yang sedang dibacanya. Di sampingnya, Clara masih bersandar santai di kepala ranjang sambil membolak-balik novel yang belum benar-benar ia baca sejak lima menit terakhir. Ken berhenti beberapa langkah dari mereka. "Polisi federal datang." Kalimat itu langsung membuat suasana berubah. Clara refleks mengangkat wajah. Sementara Raymond hanya terdiam sesaat sebelum mengembuskan napas pelan. Tidak terkejut. Tidak panik. Seolah ia sudah memperkirakan bahwa kunjungan seperti ini hanya tinggal menunggu waktu. Setelah jatuhnya Clark Holdings beberapa minggu lalu, terlalu banyak pihak yang kehilangan uang, pengaruh, dan jalur bisnis. Tentu saja federal akan mulai memperhatikan siapa yang paling diuntungkan dari semua itu. Dan jawabannya sangat jelas. Raymond Anto
Raymond langsung menoleh ke arah Noah. Lalu tiba-tiba mengangkat tubuh kecil anak itu tinggi-tinggi ke udara. Noah tertawa keras kegirangan. “Papa! Aku jadi kakak?!” Dan akhirnya— Raymond tersenyum lebar. Senyum yang benar-benar tulus. Hangat. Hidup. Sampai semua orang di ruangan itu ikut terdiam haru melihatnya. “Iya…” suara Raymond serak pelan. “Kau jadi kakak sekarang.” Noah langsung memeluk leher ayahnya erat. “YEEEEE! Aku mau ajarin adik main dinosaurus!” Ken spontan tertawa kecil sambil menggeleng tak percaya. “Kalau anak buah lain lihat Tuan sekarang…” gumamnya pelan. “Mereka pasti pingsan,” sambung Bu Eli sambil tertawa di sela air matanya. Raymond masih memeluk Noah sambil sesekali menoleh ke arah Clara. Tatapannya begitu lembut. Begitu penuh rasa syukur. Seolah hidup yang selama ini hanya dipenuhi darah, senjata, dan kekerasan… akhirnya memberinya alasan baru untuk bertahan. Tak lama kemudian dokter mulai membereskan alat-alatnya. Sebelum pergi, pria itu k
Dokter itu terdiam cukup lama di samping ranjang. Tatapannya berpindah dari layar hasil pemeriksaan kecil di tangannya menuju wajah Clara yang masih pucat dan belum sepenuhnya sadar. Kerutan tipis muncul di dahinya, seolah ia sedang menimbang bagaimana cara menyampaikan sesuatu yang penting tanpa membuat suasana semakin tegang. Di dalam kamar utama mansion Antonio, udara terasa berat dan menyesakkan. Hanya suara hujan tipis yang mengetuk kaca jendela dan bunyi pelan alat medis yang masih menyala di atas meja kecil dekat ranjang. Raymond berdiri tidak jauh dari sana dengan tubuh tegak kaku. Rahangnya mengeras. Tatapannya tajam menusuk dokter itu tanpa berkedip sedikit pun. Kesabarannya benar-benar berada di ujung batas. “Kalau ada sesuatu yang terjadi pada istri saya…” suaranya rendah, berat, dan penuh tekanan. “…katakan sekarang.” Dokter itu langsung tersentak kecil. “N-no, Tuan Raymond…” jawabnya buru-buru. Namun anehnya, pria paruh baya itu justru terlihat sedikit lega. Sud
“Apa?!”Suara Raymond langsung menggema keras di dalam mobil.Tubuhnya menegang seketika. Rahangnya mengeras, sementara tatapan matanya yang tadi tenang langsung berubah tajam penuh kepanikan yang nyata.Ken refleks menoleh cepat.“Ada apa, Tuan?”Raymond menggenggam ponselnya begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.“Clara pingsan.”Kalimat itu langsung mengubah suasana di dalam mobil.Udara yang tadi terasa lebih ringan mendadak membeku.“PUTAR BALIK SEKARANG!”Bentakan Raymond terdengar tajam dan penuh tekanan.Ken langsung membanting setir tanpa berani bertanya apa pun. Ban mobil berdecit keras di atas jalan basah sebelum kendaraan hitam panjang itu melesat cepat membelah lalu lintas kota.“Semua pertemuan bisnis dibatalkan,” ucap Raymond dingin sambil kembali menatap layar ponselnya.“Tapi Tuan, rapat sore dengan investor—”“AKU BILANG BATALKAN SEMUA!”Suara Raymond kali ini jauh lebih keras sampai Ken langsung diam.Selama bertahun-tahun bekerja dengannya, Ken sangat jarang
Pintu bilik itu baru terbuka setengah ketika bayangan gelap menerobos dari samping.Raymond.Tangannya menyambar pergelangan Clara secepat kilat. Pisau kecil itu terlepas, direbut dan disembunyikan ke balik jasnya. Dalam satu gerakan senyap, Raymond menarik Clara ke bilik sebelah, menutup pintu, da
Keesokan harinya, mansion terasa berbeda sejak pagi. Udara dipenuhi aroma bunga segar dan wewangian mahal. Clara duduk diam di depan meja rias, sementara dua penata sibuk mengatur detail terakhir. Tangannya dingin, tapi punggungnya tegak—ia memaksa diri mengingat setiap latihan, setiap langkah, se
Raymond menyambut dingin mereka. “Masuk,” katanya pendek.Ia berbalik tanpa menunggu jawaban. Langkahnya mantap menuju ruang tengah. Ken memberi isyarat halus pada Clara, telapak tangannya terbuka, memintanya ikut. Clara menelan ludah, lalu melangkah. Setiap kali ia bertemu dengan Charles, ada r
Clara berdiri kaku, seolah kakinya tertanam di aspal. Tatapan Raymond jatuh tepat padanya—tajam, dingin. Udara di sekeliling mereka berubah tegang. Hans melirik bolak-balik, bingung. ‘Siapa pria ini?’ pikirnya. Ia ingin melangkah, tapi sesuatu pada cara Raymond berdiri—tenang namun mengancam—membu







