LOGINSuara benturan itu meledak di tengah jalan seperti ledakan bom.Kaca mobil pecah berhamburan ke segala arah. Potongan-potongan kecil berkilat di udara sebelum jatuh seperti hujan pecahan kristal.Mobil Raymond terpental keras ke samping, ban-ban bergesekan brutal dengan aspal. Tubuh mobil itu berputar setengah lingkaran sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan dengan suara logam yang memekakkan telinga.Dugg! Benturan kedua terdengar lebih keras. Dalam hitungan detik—suara klakson bersahutan di mana-mana. Teriakan orang-orang mulai terdengar. Seseorang menjerit, seorang lagi berteriak meminta tolong.Asap tipis mulai keluar dari kap mobil yang ringsek parah. Orang-orang mulai berkerumun. Ada beberapa orang yang memotret, dan beberapa lainnya berteriak. “Cepat panggil polisi!”***Sementara itu—di sebuah kafe tempat mereka janji bertemu—Clara duduk di dekat jendela.Tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah lama dingin.Permukaannya bahkan sudah tidak lagi mengeluarkan uap. Ta
Rapat itu berlangsung hampir satu jam. Suara gelas kristal, lembaran dokumen yang dibalik, dan angka-angka besar terus memenuhi ruangan. Namun sejak Tuan Clark mengatakan bahwa putranya telah kembali—pikiran Raymond tidak benar-benar di sana. Bukan takut, tapi kali ini dia merasa punya seseorang yang harus ia lindungi. Tak lama kemudian, pertemuan itu pun selesai. Satu per satu pria-pria penting itu berdiri, berjabat tangan, lalu keluar dari ruangan dengan wajah serius. Tuan Clark juga pergi lebih dulu, diikuti para pengawalnya. Pintu ruang rapat itu tertutup, menyisakan Raymond dan Ken di ruangan besar yang mendadak terasa sunyi. Ken berdiri di dekat meja, tangannya masuk ke saku celana. Ia menatap pintu yang baru saja tertutup beberapa detik sebelum akhirnya bicara. “Aku dengar putra Tuan Clark itu sangat berbahaya, dan..." Ken menundukkan kepalanya. Raymond tidak menjawab. Ia hanya mengambil rokok dari saku jasnya. Krek. Api menyala, lalu asap tipis mengepul pelan saat
Clara membeku di tempatnya. Pria berpakaian hitam itu berdiri diam di sudut lift. Topinya menutupi sebagian wajah, masker hitam menutupi sisanya. Hanya matanya yang terlihat—gelap, tajam, dan menatap lurus ke arahnya melalui pantulan pintu lift. Udara di dalam lift mendadak terasa sempit. Clara menelan ludah. Tangannya perlahan menggenggam tasnya lebih erat. Lift terus bergerak naik, lalu sampai di lantai dua. Tidak ada yang keluar atau pun masuk. Pria itu masih diam. Namun tatapannya belum bergeser sedikit pun. Deg. Jantung Clara berdetak semakin cepat. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin ia terlalu takut. Mungkin pria itu hanya tamu biasa, atau mungkin semua ini hanya karena Raymond tidak ada di dekatnya. Kemudian, lift kembali berhenti. Ting—pintu terbuka. Seorang pasangan suami istri masuk sambil mengobrol pelan, diikuti dua tamu lain yang membawa koper kecil. Seketika, suasana lift yang semula mencekam mendadak berubah ramai. Clara langsung bergerak, ta
Keesokan paginya, rumah kecil Bibi Janeta terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui sela-sela tirai tipis di ruang makan, memantulkan warna keemasan di atas meja kayu tua yang sudah mulai kusam. Aroma teh hangat dan roti panggang memenuhi udara. Clara duduk diam. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Tatapannya kosong, sejak semalam, ia hampir tidak tidur. Pikirannya dipenuhi dua orang—Raymond dan Noah. Bibi Janeta duduk di sampingnya dengan wajah penuh kekhawatiran, sementara Thomas berdiri di dekat jendela, bersandar dengan tangan terlipat di dada. “Ada apa sebenarnya?” tanya Bibi Janeta lembut. “Dari tadi kau terlihat gelisah, Clara." Clara menarik napas panjang. Lalu perlahan, ia mengangkat wajahnya. “Aku… ingin memberitahu Raymond tentang Noah.” Ruangan mendadak sunyi. Thomas langsung menoleh cepat. Sementara Bibi Janeta tampak membeku beberapa detik. “Kau serius?” tanya wanita tua itu lirih. Clara mengangguk pelan. “Aku capek terus b
Basement itu terasa semakin dingin. Lampu-lampu redup menggantung di langit-langit, memantulkan bayangan panjang di lantai semen yang lembap. Udara dipenuhi bau oli, debu, dan ketegangan yang menggantung begitu pekat. Ken dan beberapa anak buah langsung menyebar. Mereka memeriksa setiap sudut—di balik deretan mobil, di antara pilar-pilar beton, di ruang penyimpanan kecil. Namun—Sella tidak ada. “Periksa ke sana!” teriak salah Ken. Para anak buah melangkah cepat menuju sudut paling belakang basement. Di sana, tepat di balik tumpukan kardus dan drum bekas, ada sebuah jendela kecil yang terbuka lebar dengan kaca di sekitarnya yang sudah retak. Tirai plastiknya bergerak perlahan tertiup angin malam. Ken mengumpat pelan, "sial!" Ia kembali ke arah Raymond dengan wajah tegang. “Tuan…” ucapnya lirih. “Dia berhasil kabur.” Raymond tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam dengan tatapan gelap. Rahangnya mengeras begitu kuat hingga urat di lehernya terlihat jelas. Beberapa detik berlalu
DOR! Suara tembakan itu memecah keheningan seperti petir yang menyambar terlalu dekat. Dinding kamar bergetar halus, dan dalam sekejap—suasana yang tadinya hangat dan rapuh berubah menjadi tegang dan mencekam. Clara tersentak. Matanya membelalak, napasnya tercekat di tenggorokan. Refleks, ia langsung meraih lengan Raymond, jemarinya mencengkeram erat. “A-apa itu…?” suaranya bergetar. Di luar—terdengar suara langkah kaki berlarian. Teriakan. Perintah-perintah kasar yang saling bersahutan. Raut wajah Raymond langsung berubah. Wajah yang tadi lembut kini mengeras. Tatapannya tajam, instingnya mengambil alih sepenuhnya. “Tetap di sini,” ucapnya cepat dan tegas. Clara menatapnya panik. “Tuan Ray—” “Jangan keluar dari kamar ini. Apa pun yang terjadi.” Nada suara Raymond tidak memberi ruang untuk dibantah. Clara mengangguk cepat, meski ketakutan masih membekap dadanya. Raymond menatapnya sejenak sebelum berbalik. Langkahnya cepat menuju pintu. Klik—Pintu ruangan itu terbuka. Dan







