MasukLampu belakang mobil Ellen menembus gelapnya malam. Ken dan dua mobil pengawal mengejar tanpa jarak, mesin meraung keras, ban berdecit menyayat aspal. Mobil itu menuju pegunungan. Jalanan semakin menyempit, tikungan demi tikungan datang tanpa ampun. Ellen memacu mobilnya semakin liar, lampu sein tak pernah menyala, tubuh kendaraan oleng setiap kali ia memaksa berbelok.“Dia sungguh nekat,” gumam Ken, rahangnya mengeras. “Jangan lepaskan jarak.”Satu tikungan tajam muncul terlalu cepat.Mobil Ellen terlambat mengerem.Teriakan logam terdengar ketika ban kehilangan cengkeraman. Mobil itu menghantam pembatas jalan, terpental, lalu terjun bebas ke jurang. Waktu seolah melambat—lampu belakang berputar di udara, lalu lenyap ditelan gelap.DUA DETIK SUNYI.Ledakan membelah malam.Api menyembur dari dasar jurang, menjilat pepohonan di sekitarnya. Panas terasa hingga ke jalan. Ken menghentikan mobil, lalu ia turun dengan napas berat, menatap kobaran api yang masih bergolak.“Tidak mungkin dia
Suara rem berdecit keras memecah malam di depan Mansion Raymond.Deretan mobil hitam berhenti nyaris bersamaan, lampu depan menyapu halaman yang sudah porak-poranda. Pintu terbuka serempak. Raymond turun lebih dulu—jasnya terbuka, langkahnya mantap, wajahnya tenang dengan mata yang menyala dingin. Anak-anak buahnya menyebar di belakangnya, senjata terangkat dengan formasi rapi.Satu sosok melompat dari balik pilar.DOR!Satu tembakan saja dari Raymond membuat tubuh itu terhempas ke tanah sebelum sempat berteriak.Raymond terus maju.Satu lagi menghadang, mencoba mengayunkan popor senjata. Raymond menangkis, pukulannya menghantam rahangnya, suara tulang retak—pria itu tumbang seketika. Anak buah Ellen yang ketiga mengangkat senjata. Namun secepat kilat pistol Raymond menghunus. DOR!Darah memercik ke dinding marmer. Tubuh pria itu jatuh tanpa suara.“Amankan perimeter!” perintah Raymond singkat.“Siap, Tuan!” sahut anak buah serempak.Raymond berbelok, menuruni tangga menuju ruang b
Di Mansion Raymond, malam pecah seperti kaca yang dilempar ke lantai marmer.Dentuman senjata terdengar pertama kali di gerbang. Lampu taman padam satu per satu. Bayangan bergerak cepat di antara pepohonan, lalu teriakan menyusul.“SERANG!”Anak buah Ellen datang seperti gelombang gelap—liar, terlatih, dan penuh amarah. Penjaga Raymond menyambut mereka tanpa ragu. Pukulan beradu dengan pukulan, suara tulang beradu, senjata api meletup pendek, teredam oleh dinding tebal mansion.“Lindungi Mansion!” teriak salah satu ketua anak buah Raymond.“Jangan biarkan mereka masuk!” balas yang lain.Di dalam, Bu Eli dan para pelayan berlari tertatih di lorong belakang. Dada mereka naik turun, matanya panik. “Astaga… astaga…” gumam Bu Eli, tangannya gemetar memegangi dinding. Ia mendengar teriakan yang memekakkan telinga. Pintu samping tiba-tiba runtuh. Tiga pria menerobos masuk, wajah dingin dan matanya tajam. “Cari ruang bawah tanah,” perintah salah satunya singkat.Bu Eli terhenti. “Jangan—!”
Tuan… bagaimana ini?” suara Ken panik. “Apa kita keluarkan saja dia dari sana?”Raymond berdiri kaku, mata hitamnya menahan sesuatu yang beriak di dada. “Tidak.” Suaranya rendah dan dan tegas, seperti palu yang jatuh satu kali. “Panggil dokter ke ruang bawah tanah.”Ken mengangguk cepat. “Baik, Tuan.” Ia bergegas pergi, langkahnya cepat namun senyap.Di ruang bawah tanah, Clara meringkuk di lantai, tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi pelipis. Nafasnya pendek-pendek, terasa sesak. Ketika dokter datang bersama Ken, lampu kecil dinyalakan, menerangi wajah pucat itu. “Pasien demam tinggi,” gumam dokter sambil memeriksa nadi Clara. “Dehidrasi dan kelelahan. Dia butuh istirahat dan banyak cairan.”Ken menyelubungi Clara dengan selimut tebal, gerakannya hati-hati. Di ambang pintu, Raymond berdiri. Tangannya terkepal keras di sisi tubuh, urat-uratnya menegang. Ia tidak melangkah lebih dekat.Kelopak mata Clara bergetar. Ia membuka mata sedikit, pandangannya buram. Di balik cah
Mansion Baker sudah mulai sibuk—penuh kilau palsu yang menutup bau busuk di baliknya. Aula utama dipenuhi contoh undangan berlapis emas, daftar tamu panjang yang memuat nama-nama keluarga mafia lintas kota, dan maket venue pernikahan yang megah. Charles mondar-mandir dengan senyum puas, sesekali memberi instruksi, sesekali tertawa keras, seolah pernikahan ini adalah mahkota terakhir kekuasaannya.Di sudut lain, Baker mengawasi dengan tatapan tajam. Setiap detail harus sempurna—itulah wajah yang ia pamerkan pada dunia. Sementara Veronika, anggun dalam gaun gelapnya, sesekali mendekat pada Baker, berbisik, lalu menjauh lagi. Senyum mereka saling bertukar, cepat, dan rahasia.Sementar itu, Ellen tenggelam dalam dunia yang berbeda. Ruang ganti dipenuhi gaun-gaun pengantin—sutra, renda, kilau mutiara. Ia berjalan perlahan, menyentuh kain-kain itu seolah menyentuh masa depan. Ketika Raymond masuk, Ellen langsung berbalik, matanya berbinar.“Ray,” panggilnya manja. “Bantu aku memilih gaun.”
Keesokan harinya, mansion itu masih dibungkus sunyi yang berat. Raymond melangkah di koridor belakang ketika mendapati Bu Eli berdiri di dapur kecil, menata makanan di atas nampan—sup hangat, nasi lembut, dan segelas air.Bu Eli terkejut saat bayangan tinggi menjulang muncul tepat di belakangnya. Ia berbalik cepat. “T-Tuan…” suaranya bergetar. “Ini… ini untuk Nona Clara. Maaf jika… jika tidak boleh, aku akan—”Raymond hanya diam. Tatapannya jatuh pada nampan itu cukup lama, seperti sedang menimbang sesuatu. Lalu, tanpa sepatah kata pun, ia melangkah melewati Bu Eli.Ken yang menyusul di belakangnya berhenti sejenak. Ia memberi anggukan kecil pada Bu Eli, nyaris tak terlihat, lalu berbisik singkat, “Lanjutkan,” sebelum kembali mengikuti Raymond.Bu Eli menghela napas panjang. Tangannya masih gemetar, namun langkahnya mantap saat ia membawa nampan itu menuruni tangga sempit menuju ruang bawah tanah.Di bawah, udara lembap dan dingin menyelimuti. Clara meringkuk di sudut ruangan, memelu







