Masuk“Apa?” Satu kata itu jatuh berat dari bibir Raymond. Ia langsung berdiri. Kursinya bergeser pelan, namun cukup untuk membuat Clara tersentak. Suasana hangat yang tadi memenuhi ruang makan seketika retak. Clara ikut berdiri perlahan. “Ada apa…?” tanyanya hati-hati, alisnya bertaut ketat. Raymond menoleh. Dalam sepersekian detik, ekspresinya berubah. Dingin itu menghilang, digantikan senyum tipis yang dipaksakan. “Tidak ada,” jawabnya singkat. “Hanya urusan pekerjaan.” Clara menatapnya beberapa detik, mencoba membaca sesuatu di balik wajah itu. Namun seperti biasa—Raymond terlalu pandai menyembunyikan. “Kau tidak usah khawatir,” lanjutnya pelan. Clara terdiam sejenak. Lalu akhirnya mengangguk kecil. “Iya…” “Lanjutkan sarapan kalian,” ucap Raymond. “Aku ada urusan.” Clara kembali mengangguk, meski ada sesuatu yang terasa menggantung di dadanya. Ia perlahan duduk kembali di kursinya. Raymond berbalik, hendak pergi. Namun langkahnya terhenti. Ia menoleh ke arah Noah. Anak keci
Lampu ruang tamu yang redup berpendar lemah, menciptakan bayangan panjang yang merayap di lantai seperti sesuatu yang hidup. Dan di ambang pintu—berdiri seseorang. Diam dan tak bergerak. Tubuhnya dibalut pakaian serba hitam, menyatu dengan gelap malam. Topi menutupi sebagian wajahnya, sementara masker gelap menyembunyikan sisanya. Tidak ada yang bisa dikenali… kecuali sepasang mata. Mata itu—dingin. Tajam. Kosong. Sebuah benda kecil terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai. Tok. Bunyi itu pelan—namun terasa menggema, memantul di dinding Paman Bobi mundur satu langkah. “Si-siapa kau…?” suaranya bergetar, tercekat di tenggorokan. Bibi Elsa menelan ludah, matanya tak lepas dari sosok itu. “Kami tidak kenal kamu… pergi dari sini!” Tidak ada jawaban, dan tidak ada reaksi. Orang itu hanya berdiri… menatap. Tatapan yang membuat bulu kuduk meremang. “Pergi!” bentak Paman Bobi, memaksakan keberanian yang jelas rapuh. Hening, lalu—orang itu melangkah pelan. Satu langkah, kemudian
Suara di seberang telepon tidak langsung dikenali Clara—serak, pelan, seolah sengaja ditahan. Namun hanya butuh satu detik berikutnya untuk membuat darahnya seakan berhenti mengalir.“Clara… ini aku. Paman Bobi.”Jantung Clara seperti jatuh ke dasar perutnya.“Pa… Paman?” suaranya gemetar. “Kenapa—kenapa Paman menghubungiku? Darimana Paman tau nomorku?"Lalu terdengar suara lain di belakang, lebih tajam, lebih mendesak.“Itu karena kami tidak ingin kau menghindar lagi!” suara Bibi Elsa menyusul, menusuk tanpa basa-basi.Clara langsung menegakkan tubuhnya. Jemarinya mencengkeram ponsel lebih erat.“Ada apa?” tanyanya, mencoba terdengar tenang meski napasnya mulai tidak stabil.“Jangan pura-pura tidak tahu,” balas Bibi Elsa dingin. “Kami lihat berita itu. Kau mau menikah dengan pria kaya itu, kan?”Clara terdiam.“Kau hidup enak sekarang,” lanjut wanita itu. “Rumah besar, kehidupan mewah… sementara kami di sini? Dikejar-kejar utang!”Nada suaranya meninggi.Paman Bobi kembali bicara, ka
Clara tidak mampu mengalihkan pandangannya.Matanya seolah terkunci pada pemandangan itu—pada tubuh kecil yang tergantung tak berdaya di cabang pohon, pada darah yang masih menetes perlahan, jatuh setitik demi setitik ke tanah di bawahnya. Setiap tetes terasa seperti dentuman yang menggema di dalam dadanya.Napasnya mulai tersengal. Pendek. Tidak teratur.Dingin merayap pelan, dimulai dari ujung jari, menjalar ke lengan, hingga akhirnya mencengkeram dadanya erat.“Ray…” suaranya nyaris tak terdengar, seperti bisikan yang terpecah oleh ketakutan.Tangannya refleks mencengkeram lengan pria di sampingnya.Raymond menoleh. Ia menatap Clara dan Noah bergantian. Tanpa berkata apa-apa, Raymond langsung bergerak. Tangannya terangkat, menarik Clara mendekat ke dalam pelukannya, memutar tubuh wanita itu sedikit agar pandangannya tertutup sepenuhnya dari pemandangan mengerikan di depan mereka.“Jangan lihat,” ucapnya pelan, namun tegas—seperti perintah yang tak boleh dibantah.Clara menggeleng l
Keesokan harinya, mansion yang biasanya tenang berubah total—seolah napasnya sendiri ikut dipercepat oleh kesibukan yang tak ada henti. Orang-orang berlalu-lalang tanpa jeda, membawa kotak-kotak besar berisi dekorasi mewah, kain-kain mahal, dan rangkaian bunga yang masih terbungkus rapi. Di sudut lain, tumpukan undangan dicetak dengan tinta emas yang berkilau, satu per satu memuat nama-nama penting dari berbagai kalangan. Pernikahan itu bukan sekadar acara, tapi akan menjadi perhelatan besar. Sangat besar. Di ruang tengah, beberapa desainer berdiri mengelilingi Clara yang tengah diukur untuk gaun pengantinnya. Kain putih menjuntai panjang di sekeliling tubuhnya, lembut menyentuh lantai marmer, mengalir seperti kabut tipis yang indah. Gaun itu terlihat begitu anggun—nyaris seperti mimpi yang perlahan menjadi nyata. “Bagian ini kita jatuhkan sedikit… supaya siluetnya lebih elegan,” ujar salah satu desainer sambil merapikan lipatan kain. Clara hanya mengangguk pelan. Pikirannya masi
Hans menatap Clara beberapa detik. Sorot matanya sempat berubah—seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar peringatan biasa. Namun kemudian ia menggeleng pelan, menarik sudut bibirnya dalam senyum ringan. “Tidak… bukan apa-apa,” ujarnya santai. “Aku cuma… ya, kalian tahu sendiri. Dunia sekarang tidak aman. Jadi… hati-hati saja.” Clara mengangguk pelan. “Iya… terima kasih, Hans.” Hans tersenyum kecil, lalu mundur satu langkah. Tatapannya beralih sekilas ke Raymond—singkat, namun cukup tajam untuk menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya santai. “Jaga dia baik-baik,” ucap Hans. Raymond membalas tatapan itu tanpa ekspresi. “Itu tugasku.” Hening sesaat. Lalu Hans menepuk pelan bahu Clara. “Aku pergi dulu. Senang melihatmu baik-baik saja.” Clara mengangguk. “Aku juga… hati-hati ya.” Hans tersenyum, lalu berbalik. Langkahnya menjauh perlahan dari sana, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Clara menatap kepergian sahabat lamanya itu beber
Tiba-tiba, pintu di belakang mereka terbuka—Raymond keluar dari dalam ruangan dengan langkah yang tenang. Tidak ada tanda panik. Tidak ada emosi berlebihan. Namun justru itulah yang membuat suasana semakin mencekam.Tatapannya dingin seperti biasa… tapi hari ini, ada sesuatu yang lebih tajam di sa
Clara menatap mereka bergantian dengan bingung. Alisnya berkerut, jantungnya masih berdetak tidak teratur sejak Raymond turun dari mobil.“Kalian… saling kenal?” tanyanya pelan.Thomas menoleh sekilas ke arah Clara, lalu kembali menatap Raymond dengan sorot mata yang tidak kalah tajam.“Ya,” jawab
Seisi restoran seolah kehilangan napas pada saat yang bersamaan—semua orang tercengang.Jennifer membeku dengan wajah bingung, sementara para staf berdiri kaku seperti patung yang baru saja kehilangan jiwa.Clara sendiri mematung di dalam pelukan Raymond. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ter
Suara Raymond membuat setiap orang yang berada di sana langsung terdiam.Bisikan-bisikan yang sebelumnya berdesir di antara para staf seketika mati. Denting sendok yang beradu dengan piring berhenti. Seorang tamu yang hendak menyesap minumannya bahkan membeku dengan gelas yang masih terangkat. Cla