MasukSuara Clara bergetar pelan. Air matanya terus jatuh tanpa bisa ia tahan. Dadanya terasa sesak, seolah ada begitu banyak emosi yang berkumpul di sana secara bersamaan—bahagia, takut, terharu, dan tidak percaya. Raymond masih berlutut di hadapannya. Tatapan pria itu yang semula penuh harap, perlahan mulai meredup. Jari-jarinya yang menggenggam tangan Clara terasa sedikit menegang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raymond benar-benar merasa takut. Takut mendengar kata tidak, takut kehilangan lagi. Dan Clara bisa melihat itu dengan jelas di matanya. "Kalau... kalau kau belum siap, aku bisa menunggu," ucap Raymond pelan. Meski suaranya tetap terdengar tenang, Clara tahu pria itu sedang menahan banyak hal. Clara menggigit bibir bawahnya pelan "Aku bukan tidak mau..." bisiknya lirih. Raymond mengangkat wajahnya perlahan, dan tatapan mereka kembali bertemu. "Aku hanya takut," lanjut Clara dengan suara bergetar. "Takut semua ini terlalu indah. Takut suatu hari nanti aku bangun dan
Beberapa hari setelah kejadian itu, suasana di rumah sakit perlahan berubah. Bau obat-obatan yang semula terasa menyesakkan, kini tidak lagi terlalu menakutkan. Monitor jantung Raymond sudah dilepas. Infus di tangannya tinggal satu. Wajahnya juga tidak sepucat hari pertama ia sadar. Meski begitu, pria itu tetap terlihat dingin seperti biasa. Hanya saja—kali ini ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya tidak lagi terlalu tajam. Kadang, diam-diam, ia akan menatap Clara yang sedang mengupas buah untuknya. Atau menatap Noah yang sibuk menggambar di sofa kecil sambil sesekali menunjukkan hasil gambarnya. “Papa, lihat! Ini gambar kita!” seru Noah semangat. Raymond menerima kertas itu. Di sana gambar tiga orang dengan garis-garis berantakan—satu pria tinggi, satu wanita berambut panjang, dan satu anak kecil di tengah. Di atasnya ada gambar rumah besar dan matahari besar berwarna kuning. Noah tersenyum lebar. “Itu Papa, Mama, sama aku.” Raymond menatap gambar itu cukup lama. Lalu perlahan,
“Raymond—!” Suara Clara pecah. Tubuhnya langsung bergerak menuju pintu ruang perawatan, namun salah satu perawat buru-buru menahannya. “Maaf, Nona, Anda tidak boleh masuk dulu!” “Lepaskan saya!” Clara menangis. “Dia sendirian di dalam!” Di balik kaca kecil di pintu ruangan itu, Clara bisa melihat beberapa dokter dan perawat bergerak cepat di sekitar ranjang pasien Raymond. Monitor jantung berbunyi nyaring. Salah satu dokter menekan sesuatu pada infusnya, dan yang lain memeriksa monitor tekanan darah. “Tekanan darah turun drastis!” “Nadi melemah!” “Siapkan oksigen tambahan!” Setiap kalimat yang keluar dari dalam ruangan itu terasa seperti pisau yang menusuk dada Clara satu per satu. Kakinya melemas, kalau bukan karena Bu Eli cepat memegang lengannya, mungkin Clara sudah jatuh ke lantai. “Tidak…” bisiknya lirih. “Tidak… jangan…” Noah yang baru saja terbangun langsung menangis saat melihat ibunya. “Mama…” Clara menoleh cepat, lalu memeluk Noah erat. “Papa tidak apa-apa ka
Clara menutup mulutnya, dan seketika air matanya kembali jatuh, dadanya terasa sesak—seolah ada sesuatu yang menekan begitu kuat hingga ia sulit bernapas. “Jadi… kondisinya berbahaya?” tanyanya dengan suara pecah. Dokter itu terdiam beberapa detik sebelum mengangguk pelan. “Kami masih berusaha memastikan semuanya. Untuk saat ini, kami akan memindahkan pasien ke ruang observasi setelah CT scan selesai. Tapi kondisinya memang harus diawasi ketat.” Kalimat itu seperti menghantam Clara tanpa ampun. Ia mundur satu langkah, seketika kakinya terasa lemas. Jika bukan karena kursi di belakangnya, mungkin ia sudah jatuh sejak tadi. Noah yang duduk di dekat Bibi Janeta menatap wajah ibunya dengan mata merah dan sembab. “Mama…” panggilnya lirih. Clara langsung menoleh. Anak itu turun dari kursi, lalu berjalan kecil ke arahnya. “Apa Papa sakit banget?” tanyanya pelan. Clara tidak bisa menjawab, tenggorokannya terasa terkunci. Ia hanya bisa memeluk Noah erat. Sangat erat. Seolah hanya itu sa
“Raymond!”Jeritan Clara pecah bersamaan dengan tubuh pria itu yang ambruk ke lantai.Bruk!Suaranya terdengar begitu keras. Sebagian orang langsung berdiri dan menghampiri. Noah langsung mundur setengah langkah, matanya membulat penuh ketakutan melihat pria yang baru saja ia panggil papa jatuh seperti itu—membuat dadanya ikut sesak.“Papa!” teriak Noah panik.Clara langsung berlutut di lantai. Tangannya gemetar saat meraih wajah Raymond.“Tuan Ray... Tuan…” suaranya pecah. “Buka mata Anda… tolong…”Wajah pria itu pucat dan bibirnya sedikit membiru. Keningnya dipenuhi keringat dingin. Raymond masih sadar samar, namun pandangannya kabur. Suara Clara terdengar jauh, seperti datang dari tempat yang sangat jauh.“Kenapa…” bisiknya pelan.Clara menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak menangis semakin keras.“Jangan bicara… tolong jangan bicara…”Bibi Janeta langsung berdiri dengan panik. “Cepat! Kita harus bawa dia ke rumah sakit sekarang juga!” serunya.Noah mulai menangis, tangis kecil
Napas Clara memburu tidak beraturan. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik perlahan dari dalam. Tangannya gemetar hebat saat terus mencoba menghubungi nomor Raymond, lagi dan lagi, berkali-kali, seolah dengan begitu ia bisa mengubah kenyataan mengerikan yang baru saja ia lihat di layar televisi. Namun hasilnya tetap sama—nomor itu tidak aktif. “Tidak…” bisiknya lirih, nyaris seperti suara orang yang kehilangan pijakan. “Tidak mungkin…” Air matanya mulai jatuh satu per satu tanpa bisa ia tahan lagi. Di layar televisi, berita itu terus diputar berulang. Mobil hitam mewah yang sudah hancur, kaca pecah berserakan di jalan, asap mengepul, lampu sirine, kerumunan orang. Dan mobil itu—mobil itu milik Raymond. 'Bagaimana jika pria itu… sudah terlambat diselamatkan?' “Ma…” Suara kecil Noah membuat Clara tersentak. Anak itu menatapnya dari kursi dengan wajah bingung. Melihat Clara menangis seperti itu—membuat Noah ikut takut. “Kenapa Mama nangis?” tan
Napas Clara tercekat. Dalam satu gerakan refleks, ia berbalik cepat. Tubuhnya menegang, mulutnya sudah hampir terbuka untuk berteriak— Namun—sebuah tangan besar langsung menutup mulutnya. Hangat, kuat, dan tak memberi ruang untuk suara keluar. “Jangan berteriak.” Suara itu rendah namun dalam.
Suara itu tidak keras, tidak juga tinggi—namun ketika jatuh di lorong rumah sakit yang dingin itu—ia seperti palu yang menghantam keheningan. Semua orang menoleh, setiap langkah kaki terhenti. Bahkan suara mesin monitor di kejauhan terasa meredup, seolah ikut tunduk pada satu sosok yang berdiri d
Namun—sebelum tatapan itu benar-benar bertemu— Clara lebih dulu tersadar. Seperti tersengat arus listrik, tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Ia langsung memalingkan wajah dengan gerakan cepat, napasnya tercekat. Tangannya bergerak refleks, meraih tubuh kecil Noah dan menariknya lebih
“Apa?!” suaranya pecah—nyaris tak terbentuk. Di seberang sana, suara Bibi Janeta bergetar, terburu-buru, dipenuhi ketakutan yang tak bisa disembunyikan. “Dari tadi demamnya tinggi sekali, Clara… dia mengigau… aku takut sesuatu terjadi…” Clara memejamkan mata sejenak. Hanya satu detik—namun dala