Share

Romantis

Author: Miss Wang
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-09 15:10:38

Beberapa hari setelah kejadian itu, suasana di rumah sakit perlahan berubah.

Bau obat-obatan yang semula terasa menyesakkan, kini tidak lagi terlalu menakutkan. Monitor jantung Raymond sudah dilepas. Infus di tangannya tinggal satu. Wajahnya juga tidak sepucat hari pertama ia sadar.

Meski begitu, pria itu tetap terlihat dingin seperti biasa.

Hanya saja—kali ini ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya tidak lagi terlalu tajam. Kadang, diam-diam, ia akan menatap Clara yang sedang mengupas buah un
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
GigiKaka
Maaf aku tak bisa menolakmu...
goodnovel comment avatar
Nia Khair
maaf apa nih Clara
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mengejutkan

    Clara memahami maksud suaminya. Ia tidak berusaha menahan. Sebaliknya, ia mengangguk pelan sambil menggenggam tangan Raymond sesaat. "Jangan terlalu lama." bisiknya lembut. Raymond membalas dengan anggukan tipis. Lalu ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya di lantai atas. Klik... Pintu kayu mahoni setinggi hampir tiga meter itu menutup perlahan, memisahkan Raymond dari keramaian rumah. Keheningan langsung memenuhi ruangan. Ruang kerja itu didominasi nuansa cokelat tua yang elegan. Rak-rak buku menjulang hingga mendekati langit-langit, dipenuhi koleksi buku bisnis, sejarah, hingga album keluarga. Sebuah meja kerja besar dari kayu walnut berdiri kokoh di tengah ruangan, sementara jendela kaca berukuran penuh membentang di sisi kanan, menghadap langsung ke taman depan mansion. Raymond berjalan perlahan menuju jendela. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Tatapannya menembus kaca. Di luar... Halaman mansion telah kembali tenang. Tak ada lagi kilatan kamera.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kenangan

    Beberapa menit kemudian... Ruang makan utama di Mansion Antonio kembali dipenuhi aroma kopi arabika yang baru selesai diseduh. Uap hangat mengepul dari setiap cangkir porselen putih, bercampur dengan wangi mentega dari roti panggang yang baru keluar dari oven. Di atas meja makan sepanjang hampir lima meter yang terbuat dari kayu ek mengilap, berbagai hidangan telah tersaji dengan sempurna. Keranjang rotan berisi aneka roti hangat diletakkan di bagian tengah meja, berdampingan dengan semangkuk besar sup krim jagung yang masih mengepulkan uap tipis. Telur orak-arik berwarna keemasan, sosis panggang dengan permukaan kecokelatan, salad sayur segar, irisan buah-buahan, serta beberapa jenis selai tersusun rapi seolah menunggu untuk disantap. Namun pagi itu... Tak satu pun dari mereka benar-benar memiliki selera makan. Suasana yang beberapa saat sebelumnya diwarnai kepanikan di depan gerbang mansion masih menyisakan jejak yang sulit dihapus. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah c

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Wartawan Takut

    Brak... Brak... Brak... Suara langkah sepatu bot para pengawal menggema serempak di halaman depan Mansion Antonio. Belasan pria bertubuh tegap itu maju satu langkah bersamaan, lalu membentuk barikade baru di belakang gerbang besi hitam setinggi hampir tiga meter. Setelan jas hitam, sarung tangan kulit, dan alat komunikasi yang terpasang di telinga mereka membuat kehadiran mereka terlihat semakin mengintimidasi. Tatapan mereka lurus ke depan. Dingin. Tanpa sedikit pun keraguan. Tidak ada celah yang bisa dilewati. Tidak ada ruang bagi wartawan untuk mendekat. Udara pagi yang semula dipenuhi suara teriakan dan kilatan kamera kini berubah mencekam. Hanya suara embusan angin yang menggoyangkan daun-daun cemara di sepanjang jalan masuk menuju mansion. Di tengah barisan itu... Raymond berdiri tegak. Kedua bahunya tetap lurus. Dagunya sedikit terangkat. Sorot matanya yang tajam menyapu satu per satu wajah para wartawan di balik pagar. Amarah yang tadi meledak-ledak kini seola

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Murka

    Tepat pada saat itu... Terdengar suara langkah pelan dari belakang. Tok... Tok... Tok... Elena maju. Gaun panjang berwarna gading yang dikenakannya berkibar pelan diterpa angin pagi. Wajahnya masih terlihat pucat. Namun sorot matanya berubah begitu tegas. Ia berdiri tepat di samping Raymond. Semua kamera langsung beralih ke arahnya. Klik! Klik! Klik! Kilatan flash kembali memenuhi halaman. Raymond menoleh cepat. Tatapannya dipenuhi tanda tanya. Mengapa Elena maju? Apa yang sedang ingin dilakukannya? Namun Elena tidak memandang Raymond. Ia menatap lurus ke arah para wartawan. "Aku..." Suaranya pelan. Namun begitu jelas. "...adalah Elena." "Adik kandung Nyonya Antonio." Kerumunan kembali gaduh. Beberapa wartawan langsung saling berteriak. "Itu dia!" "Rekam!" "Cepat!" Elena mengangkat tangan kanannya. Memberi isyarat agar semua diam. Keributan perlahan mereda. "Aku tidak keberatan kalau kalian mempertanyakan siapa diriku." "Kalian boleh meragukan hubung

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Fitnah

    Raymond membeku. Bukan karena terkejut. Melainkan karena otaknya membutuhkan beberapa detik untuk mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan wartawan itu. Angin pagi yang berembus pelan seakan berhenti. Kilatan kamera yang sejak tadi terus menyala kini terdengar jauh. Yang memenuhi pendengarannya hanya satu kalimat. "...mendiang Nyonya Besar Antonio pernah terlibat dalam kasus penyelundupan berskala besar..." Tatapan Raymond perlahan terangkat. Mata hitamnya yang semula tenang berubah semakin tajam. Dingin. Kelam. Berbahaya. Rahangnya mengeras hingga garis otot di kedua pipinya tampak jelas. Tulang rahangnya menonjol. Kedua tangannya yang semula berada di sisi tubuh perlahan mengepal. Jari-jarinya menekan telapak tangan sendiri begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Urat-urat pada punggung tangannya mulai menonjol. Dadanya naik turun perlahan. Bukan karena takut. Melainkan karena ia sedang mati-matian menahan amarah. "Apa..." Suaranya terdengar rendah. Pe

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Berita Mengejutkan

    Suaranya tidak keras. Namun cukup berat hingga terdengar jelas di tengah keributan. Ken segera mendekat. "Tuan." "Mereka mulai berkumpul sejak pukul enam pagi." "Mereka menolak meninggalkan lokasi." "Kami sudah meminta bantuan kepolisian untuk mengatur lalu lintas." Raymond mengangguk tipis. Tatapannya kembali mengarah ke kerumunan wartawan. "Siapa yang memberi kalian izin membuat keributan di depan rumah saya?" Tak seorang pun langsung menjawab. Seorang wartawan wanita berjas biru mengangkat mikrofonnya lebih tinggi. "Tuan Raymond." "Apakah benar Nyonya Elena saat ini tinggal bersama keluarga Antonio?" Raymond tetap diam. Wartawan lain langsung menyusul. "Apakah benar sedang dilakukan tes DNA?" "Apakah beliau akan memperoleh hak waris keluarga Antonio?" "Apakah hubungan darah ini sengaja disembunyikan selama puluhan tahun?" Raymond masih belum menjawab. Ekspresinya nyaris tidak berubah. Di belakangnya... Clara mulai merasa tidak nyaman. Keributan, suara kamera,

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tewasnya Sang Psikopat

    Angin malam masih meraung keras di atas gedung tua itu, membawa aroma asin laut dan suara deburan ombak yang menghantam tebing di bawah sana. Namun kini tidak ada lagi bentakan penuh amarah ataupun suara perkelahian brutal. Semuanya mendadak terasa sunyi setelah tubuh Thomas menghilang ke dalam gel

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Obsesi

    Clara mundur satu langkah lagi tanpa sadar. Jemarinya yang menggenggam ponsel terasa dingin dan mati rasa, sementara matanya terpaku pada sosok Thomas yang berdiri beberapa meter di depannya. Wajah itu masih sama seperti yang ia kenal selama lima tahun terakhir—tenang, rapi, penuh kelembutan—tetapi

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Persiapan Pernikahan

    Keesokan harinya, mansion yang biasanya tenang berubah total—seolah napasnya sendiri ikut dipercepat oleh kesibukan yang tak ada henti. Orang-orang berlalu-lalang tanpa jeda, membawa kotak-kotak besar berisi dekorasi mewah, kain-kain mahal, dan rangkaian bunga yang masih terbungkus rapi. Di sudut l

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gadis Yatim Piatu, Clara

    “Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya te

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status