Mag-log in“CLARA!” Semua kepala menoleh serempak—Raymond, Ken, bahkan Thomas yang sejak tadi berdiri diam. Seorang pria berlari mendekat. Langkahnya tergesa, napasnya sedikit terengah. Rambutnya berantakan, kemejanya kusut seperti seseorang yang terburu-buru keluar tanpa sempat merapikan diri. Dan saat wajah itu semakin jelas—mata Clara langsung melebar. “Hans…?” suaranya nyaris tak percaya. Pria itu berhenti tepat di depan mereka, menatap Clara seolah memastikan ia tidak sedang berhalusinasi. “Clara…” ucapnya pelan. Satu detik hening. Lalu—Clara bergerak lebih dulu. Ia melangkah cepat, hampir berlari, dan tanpa ragu langsung memeluk pria itu. “Hans!” Pelukan itu erat. Hangat. Penuh rindu yang tak terucapkan. Galang membalas pelukan itu dengan sama kuatnya. “Ini benar-benar kamu…” gumamnya, masih seperti tidak percaya. Beberapa langkah dari sana—Raymond membeku. Tatapannya seketika menajam. Aura di sekelilingnya langsung turun beberapa derajat. Ken yang berdiri di sampingnya melir
Malam merambat turun dengan perlahan, menelan setiap sudut kota dalam bayangan gelap yang panjang. Di lantai atas hotel, di balik pintu kamar yang tertutup rapat—Raymond berdiri sendirian di depan jendela. Lampu-lampu kota berkilau di bawah sana, terlihat indah… namun baginya, itu hanyalah ilusi ketenangan. Dunia yang ia kenal tidak pernah benar-benar aman. Tidak pernah. Tangannya perlahan mengepal. Sella sudah mati dengan cara yang terlalu kejam untuk disebut sekadar pembunuhan. Dan lebih dari itu—mayatnya dibuang tepat di depan hotelnya. Itu bukan kebetulan—itu pesan. Raymond menyipitkan mata. “Siapa pun kau…” gumamnya pelan. “…kau sudah memilih orang yang salah.” Namun di balik kemarahan itu—ada sesuatu yang lain. Sebuah kesadaran yang tidak bisa ia abaikan. Clara dan Noah. Dunia mereka sekarang sudah terseret ke dalam dunianya. Dan dunia Raymond… tidak pernah memberi ampun. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Tidak…” Suara itu hampir seperti bisi
Ponsel di tangan Ken masih menempel di telinganya. Wajah pria itu berubah semakin pucat seiring ia mendengar penjelasan dari seberang sana. Raymond yang sejak tadi duduk dengan tenang perlahan meletakkan sendoknya. Tatapannya tajam. "Kenapa?" tanyanya dingin. Ken menelan ludah pelan sebelum menurunkan ponselnya. "Ada mayat perempuan di depan hotel, Tuan. Polisi dan media juga mulai berdatangan." Suasana meja makan yang semula hangat mendadak membeku. Clara refleks menggenggam tangan Noah di bawah meja. Bu Eli menatap Ken dengan kaget. "Mayat?" Ken mengangguk pelan. Raymond langsung berdiri dari kursinya tanpa banyak bicara. Aura pria itu berubah seketika. Kehangatan yang tadi sempat terlihat di meja makan lenyap begitu saja, digantikan oleh ekspresi dingin dan tajam yang selama ini selalu melekat padanya. "Siapkan mobil," ucap Raymond. "Baik, Tuan," sahut Ken cepat. Clara ikut berdiri. "Sebaiknya aku pulang saja sekarang." Raymond menoleh ke arahnya. Wajahnya masih kera
Suara Clara bergetar pelan. Air matanya terus jatuh tanpa bisa ia tahan. Dadanya terasa sesak, seolah ada begitu banyak emosi yang berkumpul di sana secara bersamaan—bahagia, takut, terharu, dan tidak percaya. Raymond masih berlutut di hadapannya. Tatapan pria itu yang semula penuh harap, perlahan mulai meredup. Jari-jarinya yang menggenggam tangan Clara terasa sedikit menegang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raymond benar-benar merasa takut. Takut mendengar kata tidak, takut kehilangan lagi. Dan Clara bisa melihat itu dengan jelas di matanya. "Kalau... kalau kau belum siap, aku bisa menunggu," ucap Raymond pelan. Meski suaranya tetap terdengar tenang, Clara tahu pria itu sedang menahan banyak hal. Clara menggigit bibir bawahnya pelan "Aku bukan tidak mau..." bisiknya lirih. Raymond mengangkat wajahnya perlahan, dan tatapan mereka kembali bertemu. "Aku hanya takut," lanjut Clara dengan suara bergetar. "Takut semua ini terlalu indah. Takut suatu hari nanti aku bangun dan
Beberapa hari setelah kejadian itu, suasana di rumah sakit perlahan berubah. Bau obat-obatan yang semula terasa menyesakkan, kini tidak lagi terlalu menakutkan. Monitor jantung Raymond sudah dilepas. Infus di tangannya tinggal satu. Wajahnya juga tidak sepucat hari pertama ia sadar. Meski begitu, pria itu tetap terlihat dingin seperti biasa. Hanya saja—kali ini ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya tidak lagi terlalu tajam. Kadang, diam-diam, ia akan menatap Clara yang sedang mengupas buah untuknya. Atau menatap Noah yang sibuk menggambar di sofa kecil sambil sesekali menunjukkan hasil gambarnya. “Papa, lihat! Ini gambar kita!” seru Noah semangat. Raymond menerima kertas itu. Di sana gambar tiga orang dengan garis-garis berantakan—satu pria tinggi, satu wanita berambut panjang, dan satu anak kecil di tengah. Di atasnya ada gambar rumah besar dan matahari besar berwarna kuning. Noah tersenyum lebar. “Itu Papa, Mama, sama aku.” Raymond menatap gambar itu cukup lama. Lalu perlahan,
“Raymond—!” Suara Clara pecah. Tubuhnya langsung bergerak menuju pintu ruang perawatan, namun salah satu perawat buru-buru menahannya. “Maaf, Nona, Anda tidak boleh masuk dulu!” “Lepaskan saya!” Clara menangis. “Dia sendirian di dalam!” Di balik kaca kecil di pintu ruangan itu, Clara bisa melihat beberapa dokter dan perawat bergerak cepat di sekitar ranjang pasien Raymond. Monitor jantung berbunyi nyaring. Salah satu dokter menekan sesuatu pada infusnya, dan yang lain memeriksa monitor tekanan darah. “Tekanan darah turun drastis!” “Nadi melemah!” “Siapkan oksigen tambahan!” Setiap kalimat yang keluar dari dalam ruangan itu terasa seperti pisau yang menusuk dada Clara satu per satu. Kakinya melemas, kalau bukan karena Bu Eli cepat memegang lengannya, mungkin Clara sudah jatuh ke lantai. “Tidak…” bisiknya lirih. “Tidak… jangan…” Noah yang baru saja terbangun langsung menangis saat melihat ibunya. “Mama…” Clara menoleh cepat, lalu memeluk Noah erat. “Papa tidak apa-apa ka
Srrreeeettttt—!!! Suara decitan ban memekakkan telinga, seperti jeritan yang merobek udara siang itu—mobil hitam itu berhenti mendadak. Tubuh Raymond terdorong ke depan, bahunya hampir menghantam kursi depan. Namun refleksnya cepat—tangannya menahan, rahangnya mengeras, napasnya tertahan dalam sa
Napas Clara tercekat. Dalam satu gerakan refleks, ia berbalik cepat. Tubuhnya menegang, mulutnya sudah hampir terbuka untuk berteriak— Namun—sebuah tangan besar langsung menutup mulutnya. Hangat, kuat, dan tak memberi ruang untuk suara keluar. “Jangan berteriak.” Suara itu rendah namun dalam.
Suara itu tidak keras, tidak juga tinggi—namun ketika jatuh di lorong rumah sakit yang dingin itu—ia seperti palu yang menghantam keheningan. Semua orang menoleh, setiap langkah kaki terhenti. Bahkan suara mesin monitor di kejauhan terasa meredup, seolah ikut tunduk pada satu sosok yang berdiri d
Namun—sebelum tatapan itu benar-benar bertemu— Clara lebih dulu tersadar. Seperti tersengat arus listrik, tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Ia langsung memalingkan wajah dengan gerakan cepat, napasnya tercekat. Tangannya bergerak refleks, meraih tubuh kecil Noah dan menariknya lebih







