LOGINSetelah memutuskan hubungan dengan keluarganya yang terjerat kasus korupsi, Magnus bekerja pada keluarga Montgomery, sebuah perusahaan lokomotif terbesar di dunia. Dan dia harus menikah dengan Cressa, putri bungsu Montgomery yang pemarah. Bersama, Magnus dan Cressa punya tujuan masing-masing dalam pernikahan itu. Namun, perlahan-lahan Cressa mengungkap jati diri Magnus yang sebenarnya. Magnus bukan anak koruptor semata, lalu siapa sebenarnya dia?
View More"Aaaah..."
Di tengah kesadarannya, Azelyn mendesah saat merasakan sentuhan hangat sang suami merambat perlahan di kulitnya.
Ketika merasakan pria itu melucuti pakaiannya satu per satu, Azelyn tak elak kembali berbisik, "Eunggg, Kevin …." Dia menggigit bibir bawah dengan mata terpejam, merasakan sentuhan suaminya semakin berani menyusuri tiap inci tubuhnya. "Kevin, kamu—"
Tiba-tiba, kalimat Azelyn terpotong akibat ciuman panas yang membungkam bibirnya.
Kening Azelyn berkerut; ada yang aneh.
Bukan hanya cara Kevin bereaksi ketika namanya disebut, tapi juga sensasi tak biasa ketika tangannya menyentuh lengan pria itu.
Azelyn tercekat—lengan itu terasa lebih keras, lebih berotot, seolah bukan milik Kevin.
Seketika perasaan waspada menyelinap, tapi di saat yang sama, pria di atasnya itu menyatukan tubuh mereka, membuat Azelyn tersentak dan terbuai ke dalam malam panas yang bergelora.
Paginya, Azelyn terbangun dengan tubuh yang terasa remuk dan perut yang seperti diaduk-aduk. Dia memijit pelipisnya yang berdenyut keras, pening akibat minum terlalu banyak di pesta kemarin malam.
Azelyn ingat, di malam sebelumnya, dirinya diminta oleh Laura, sahabat dekatnya, untuk membantu keberlangsungan sebuah acara di hotel. Anehnya, di tengah acara saat meminum minuman jamuan, Azelyn merasa dirinya tiba-tiba pusing.
“Pergilah istirahat, aku akan minta Kevin menjemputmu nanti setelah dia tiba,” ucap Laura dengan wajah khawatir saat melihat wajah pucat Azelyn.
Azelyn pun pamit dari pesta kepada Laura, lalu beristirahat di kamar yang disediakan sahabatnya itu.
Setelah tanpa sengaja tertidur, Azelyn setengah terbangun saat merasakan sentuhan familier sang suami dan berakhir menghabiskan malam panas dengan pria tersebut.
Sungguh tidak Azelyn sangka, Kevin, suaminya untuk dua tahun yang biasa begitu tenang dan cenderung dingin kepadanya, bisa begitu panas seperti tadi malam.
Mungkin … ini efek mereka terpisah untuk beberapa minggu lamanya setelah pria itu sibuk dengan bisnisnya di luar kota?
Namun, baru saja Azelyn ingin membangunkan Kevin yang sedang memunggunginya, dengan menyentuh lengannya, pria itu memutar tubuh menghadap Azelyn, membuat wanita itu seketika membeku.
"Tidak mungkin…" Azelyn menutup mulutnya, menahan diri untuk tidak berteriak.
Alis tebal, hidung tinggi, bibir tipis, dan rahang tegas berwibawa. Wajah itu memang tampan, tapi jelas … itu bukan wajah Kevin!
Siapa pria ini?!
Apa dirinya baru saja tidur dengan pria lain yang bukan suaminya sendiri!?
**
“Kenapa semua ini bisa terjadi?” gumam Azelyn sembari menutup wajahnya.
Sekarang, Azelyn sudah berada di dalam taksi pulang.
Usai menyadari dirinya telah menghabiskan malam dengan seorang pria asing, Azelyn langsung panik dan tanpa berpikir panjang dirinya langsung melarikan diri dari hotel untuk kembali ke kediamannya.
Di dalam taksi, Azelyn memeluk tubuhnya erat dengan mata terpejam, merasa begitu kotor.
Seharusnya, malam itu adalah malam di mana dirinya akan mengabarkan sebuah berita bahagia kepada suaminya. Akan tetapi, dirinya malah berakhir mengkhianati suaminya sendiri, dengan orang yang tidak dia kenal pula.
Ini adalah malapetaka!
“Nona, kita sudah sampai,” ujar sopir taksi saat sampai di tujuan.
Turun dari taksi, Azelyn menyeret kakinya masuk ke dalam rumah.
Melihat keadaan kediaman yang tampak sepi, wanita itu merasa bingung.
Sepertinya, Kevin masih belum tiba di rumah. Mungkinkah … pria itu tidak jadi kembali dari luar kota?
Jujur, Azelyn jadi berharap sang suami membatalkan rencananya untuk pulang. Karena dengan demikian, pria tersebut tidak akan tahu maupun curiga mengenai kenapa dirinya tidak pulang kemarin malam!
Sesampainya di lantai dua, Azelyn berniat membuka pintu kamarnya. Namun, seketika dia mematung saat mendengar suara mengejutkan dari dalam kamar.
"K-Kevin... Bagaimana jika Azelyn pulang— akh.... "
Itu adalah suara desahan seorang wanita.
Dan wanita itu memanggil nama … suaminya?
"Sstt... bukankah itu lebih baik? Hah … aku justru akan semakin bersemangat jika wanita itu menonton kita …."
Wajah Azelyn berubah pias. Suara itu … dia jelas mengenalinya.
Itu adalah … suara Kevin.
“T-tapi, kalau Azelyn tahu mengenai kita, dia—”
BRAK!
Suara pintu yang terbanting terbuka membuat dua orang di dalam ruangan terkejut dan langsung menarik selimut, tapi keterkejutan mereka tidak sebanding dengan sosok Azelyn yang menangkap pemandangan menjijikkan di dalam ruangan tersebut.
“Kevin …?” panggil Azelyn, sebelum kemudian beralih pada pasangan perselingkuhan sang suami yang tidak dia duga, “Laura …?!”
"Azelyn?!" Laura yang langsung memisahkan diri dari Kevin, gegas menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Kenapa kamu di sini?!”
Tangan Azelyn bergetar, air mata menuruni wajahnya.
"Kalian berdua... kenapa begitu kejam? Sejak kapan kalian berselingkuh?!" seru Azelyn dengan ekspresi kecewa yang mendalam.
Ternyata, ketika dirinya ketakutan dan merasa jijik dengan dirinya sendiri, ternyata sang suami dan sahabat baiknya sedang berselingkuh dan bersenang-senang di belakangnya!?
Dari dulu, Azelyn tahu pernikahannya dengan Kevin tidak bisa terhitung pernikahan paling bahagia. Walau begitu, dia tidak menyangka sang suami akan mengkhianatinya seperti ini, dengan sahabat terdekatnya pula!
"Kejam?! Kamu sendiri masuk ke kamar hotel dengan pria lain! Kenapa aku tidak boleh tidur dengan wanita lain? Jangan bersikap sok suci di hadapanku, Azelyn!" Dengan wajah acuh tak acuh, Kevin langsung bangkit dari ranjang sambil merapikan bajunya.
Kevin meraih sebuah amplop cokelat, lalu melemparkannya ke wajah Azelyn dengan kasar.
Sejumlah foto pun bertebaran, dan salah satunya terjatuh di depan kaki Azelyn membuat lutut wanita itu lemas.
Itu adalah foto Azelyn tadi malam. Dimana dirinya terlihat seakan sedang berciuman dengan seorang pria yang hanya terlihat pungunggnya di depan kamar hotel.
Siapa sebenarnya yang sudah mengirimkan foto-foto ini kepada Kevin!?
Dan seakan menjawab pertanyaan Azelyn, Kevin lanjut berucap dengan nada merendahkan, “Andai Laura tidak menghubungiku karena melihatmu masuk ke dalam ruangan hotel dengan pria lain, mungkin aku tidak akan pernah tahu kebusukanmu selama ini!”
KLIK!
Perlahan, Azelyn mengangkat pandangan, menatap Kevin sesaat sebelum beralih pada sosok Laura yang berada di sebelah pria tersebut.
Acara pesta tadi malam diselenggarakan oleh Laura, kamar hotel dipesan oleh Laura, informasi Azelyn bersama seorang pria diterima oleh Kevin dari Laura, dan wanita selingkuhan Kevin … juga adalah Laura.
Sekarang, semuanya menjadi jelas. Dalang dari semua kekacauan yang terjadi di malam lalu sampai detik ini adalah—
“Laura!! Kau yang menjebakku!” Dengan marah, Azelyn langsung berlari menghampiri Laura dan menjambak rambutnya. “Kau yang sudah merencanakan semuanya untuk menghancurkan rumah tanggaku!”
“Ah! Jangan menuduhku, Lyn! Kevin! Kevin tolong aku!” teriak Laura sembari berusaha melepaskan diri.
“Azelyn!” Melihat sang istri menggila dan menjambak Laura, Kevin yang panik langsung bertindak.
Dia menarik tangan Azelyn dan mendorongnya sekuat tenaga menjauh dari Laura. Hal tersebut menyebabkan tubuh Azelyn terhempas dan menabrak meja dengan keras tepat di perut.
“Ugh …” rintih Azelyn selagi memegangi perutnya yang kesakitan. Bersamaan dengan tubuhnya merosot ke lantai, tampak cairan merah merembes dari rok gaunnya dan mengalir menggenangi lantai.
Dengan wajah yang memucat dan pandangan yang perlahan memudar, air mata menjadi semakin deras menuruni wajah Azelyn seiring dirinya bergumam, “Tidak … tidak … anakku ….”
Kemudian, semuanya menjadi gelap.
Kali ini Cressa tak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia membutuhkan Magnus untuk memuaskan hasratnya. Dan Magnus yang menginginkan hal serupa jelas tak akan berhenti di sana. Apa lagi bagaimana Cressa memberikan reaksi. Cressa membuatnya gila.Tanpa berbasa-basi, Magnus mengangkat tubuh Cressa, melingkarkan kaki Cressa di pinggangnya dan membawa Cressa naik ke kamar. Dia kemudian membaringkan Cressa di kasur. Sementara dirinya mulai melucuti pakaiannya sendiri yang hanya akan menghalangi kegiatan mereka. Cressa memperhatikan bagaimana Magnus menelanjangi dirinya, memperhatikan jika otot-otot Magnus belakangan ini semakin jelas, ukuran ototnya sepertinya bertambah seiring dia berada jauh dari Cressa. Pikiran tentang tidak menyentuh Cressa dalam waktu yang lama tentu adalah sesuatu yang berat. Magnus harus mengalihkan perhatiannya agar dia tidak terlalu memikirkan tentang tubuh istrinya, atau segala kepuasan yang ada di dalamnya. Dia melampiaskan semuanya dengan kegi
Setelah Serenia mengatakan sesuatu tentang hukuman, sekarang Cressa mengerti kenapa Magnus saat ini duduk di pinggir kasur dengan membungkuk, hingga kedua lengannya harus menahan postur tubuhnya yang sedang tertunduk tak jauh dari Cressa. “Aku akan pergi ke Bericont untuk beberapa minggu. Ada banyak yang harus aku lakukan di sana.” Magnus menghela nafasnya dengan berat, kelihatannya dia sebenarnya enggan. Cressa memalingkan wajahnya. Dia sebenarnya tidak mau berbicara dengan Magnus. Namun Magnus sudah berkali-kali membujuknya dan meminta maaf padanya. Hingga dia juga mengalah dengan tinggal di mansion Montgomery untuk beberapa haru belakangan ini. “Sepertinya kau sangat ingin menjauhiku,” gumam Cressa. “Kau tahu bukan itu maksudku. Ini perintah Serenia. Dia saat ini kembali memegang kendali di kantor. Aku tidak bisa menentangnya.” Magnus menatap Cressa dengan pasrah. Cressa hanya bisa menghela nafasnya kemudian. Dia juga tidak tahu harus mengatakan apa. Lagi pula, sepertinya
Saat Cressa memberontak dari gendongannya, Magnus menguatkan lengannya untuk menahan tubuh Cressa. Dia bisa merasakan betapa lemahnya tubuh Cressa karena mungkin kurangnya asupan nutrisi yang cukup selama beberapa hari belakangan ini. “Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!” Cressa terus memberontak. Magnus mendekap Cressa ke dadanya. Cressa menolak menyentuhnya sama sekali, itu sebenarnya membuat harga dirinya turun di depan orang-orang yang ada di sekitarnya. Meski begitu, Magnus tetap berusaha mempertahankan fasadnya yang tegas. “Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik untukmu sekarang. Berhenti memberontak!” Tangan kanan Magnus mencengkeram kuat kedua lutut Cressa.Cressa terus mendorong Magnus menjauh, dan kedua kakinya dia ayunkan. Meski begitu, tak lama kemudian dia terdiam saat merasakan nafasnya tiba-tiba menjadi berat. Dan dia merasa lelah hanya karena pemberontakannya yang lemah. “Lihat? Kau membutuhkan bantuan medis sekarang.” M
“Aku tidak tahu apa pun tentang yang terjadi antara Cressa denganmu. Tapi aku sedikit tersinggung atas ucapanmu tentang selingkuh. Aku? Menjadi selingkuhan? Oh, harga diriku benar-benar terluka. Aku lebih baik mendapatkan gadis lain.” James langsung mendecak tak percaya, dia menaruh kedua tangannya di pinggang. Dia sebenarnya sangat penasaran atas apa yang terjadi dengan hubungan rumah tangga pasangan yang menikah kurang dari empat bulan tersebut. Dia bertemu mereka saat mereka baru menikah, dan dalam keadaan harmonis. Suasana ini jelas sangat berbanding terbalik. Magnus hanya melirik ke arah James dengan sedikit sinis. Meski begitu, mendengar langsung bagaimana James menjelaskan situasi yang terjadi antara dia dan Cressa, tak ada indikasi perselingkuhan. Berusaha mengesampingkan perasaan kesalnya karena melihat Cressa bersama pria lain di sebuah kabin, dia ingin fokus pada perasaan Cressa saat ini dan fakta kalau dia sedang hamil. Magnus berjalan mendekati Cressa, dia berdiri
“Apa ini yang kau maksud sibuk selama ini? Melakukan urusan yang tak aku ketahui?” Cressa menatap ke arah Magnus dengan sinis dan agak sedikit kosong, kekecewaan yang mendalam sepertinya kurang tergambar di wajah antagonis Cressa. Membuat perasaannya selalu bisa disalahpahami. “Cressa
Cressa sudah pernah bertemu dengan pamannya Magnus dan kakaknya Magnus, yang sama-sama mengerikan. Dia juga tahu kalau Magnus tidak jauh dari mereka berdua, namun dia memang lebih baik dari keduanya. Sementara itu... sosok Carlos—ayah Magnus? “Sepertinya memang dia,” gumam Serenia sambil me
Tidak ada kabar dari Magnus sama sekali sejak dia pergi ke Luston. Berkali-kali Cressa meneleponnya, sama sekali tidak bisa tersambung pada Magnus. Hingga akhirnya Cressa berhenti menghubungi Magnus dan menunggu Magnus menghubunginya lebih dulu. Sementara itu, yang sebenarnya terjadi
“Hey! Kau jalang tak tahu diri!” Glenn berteriak sejadinya dengan marah. Glenn mendengus saat melihat Agnes pergi meninggalkan ruangan itu begitu saja. Rasa frustasi muncul di wajahnya. Dia tidak bisa lagi tenang. Dan dia menyadari kesalahannya. Dengan cepat, Glenn sadar kalau dia mem












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.