مشاركة

Mentok di Nilai 89
Mentok di Nilai 89
مؤلف: Senpai

Bab 1

مؤلف: Senpai
Cincin itu tenggelam hingga ke dasar gelas. Denting kecil terdengar di tengah suasana yang mendadak sunyi.

Armand menunduk dan menatap cincin itu selama dua detik. Kemudian, dia membungkus jarinya dengan serbet sebelum mengambilnya.

"Mengamuk di depan umum, delapan puluh."

Dia meletakkan cincin itu di atas meja. Suaranya tetap dingin, seolah baru saja menilai sebuah pekerjaan yang tidak memuaskannya.

"Vanda, jangan buat semua orang ikut nanggung malu sama kamu."

Tawa dan obrolan di sekitar kami seketika terhenti.

Irene buru-buru mengangkat ujung gaunnya yang terkena cipratan minuman, lalu berdiri di antara kami.

"Armand, jangan salahin Vanda. Dia hanya terlalu peduli sama kamu."

Setelah itu, dia menoleh kepadaku dengan tatapan lembut

"Vanda, cincin nggak boleh dilempar sembarangan. Pakai lagi, ya."

Aku tidak menjawab. Pandanganku justru jatuh pada tangannya yang terulur kepadaku.

Di jari manis Irene terpasang sebuah cincin berlian biru.

Desain cincin itu adalah desain yang kugambar sendiri tahun lalu.

Waktu itu, Armand bilang hasil akhirnya ada cacat dan tidak pantas untukku. Dia bahkan mengirimnya untuk dimusnahkan.

Rupanya, yang dimaksud dengan dimusnahkan adalah memindahkannya ke jari Irene.

Aku menatap cincin itu, lalu bertanya pelan, "Bagus?"

Irene refleks menarik tangannya.

"Ini hanya hadiah ulang tahun dari Armand. Kalau kamu suka, aku bisa langsung lepaskan."

Namun sebelum dia sempat berbuat apa-apa, Armand sudah menahannya.

"Barang yang sudah dikasih, nggak akan kuambil kembali."

Dia menatapku. "Vanda, perhiasanmu banyak. Nggak perlulah memperebutkan semuanya."

Aku tersenyum tipis.

"Kenapa desain yang kubuat sendiri justru nggak boleh kuperjuangkan?"

"Karena sekarang cincin itu milik Irene."

Dia mendorong cincin pernikahan yang tadi kuletakkan di atas meja ke arahku.

"Pakai kembali. Minta maaf padanya. Setelah itu, kita anggap masalah malam ini selesai."

"Aku nggak akan minta maaf."

Irene kembali menarik lembut lengan bajunya.

"Sudahlah. Lagi pula, hanya sebuah gaun. Vanda sudah terlalu lama nggak kerja. Wajar kalau emosinya jadi lebih sensitif."

Mendengar itu, ekspresi Armand melunak.

"Kamu selalu saja belain dia."

Dia mengambil mikrofon. Di tengah suasana yang masih canggung, dia mengumumkan penunjukan terakhir malam itu.

"Mulai hari ini, Irene akan menjabat sebagai kepala Divisi Bisnis Luar Negeri dan bertanggung jawab penuh atas Proyek Fajar."

Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.

Semua orang di sana tahu bahwa Divisi Bisnis Luar Negeri adalah proyek yang kusiapkan selama dua tahun.

Klien-klien yang susah payah kudapatkan sebelum mengundurkan diri, empat bahasa asing yang kupelajari, hingga ratusan halaman proposal yang kususun, semuanya kini menjadi pijakan bagi Irene untuk meraih kesuksesan.

Armand menyerahkan mikrofon kepadanya.

Dengan mata yang memerah, Irene berkata, "Terima kasih, Pak Armand. Terima kasih juga, Vanda. Meskipun dia nggak akan ikut terlibat dalam pekerjaan selanjutnya, dia sudah kasih aku banyak inspirasi."

Seseorang di antara kerumunan tertawa dan berseru menggoda.

"Istri Pak Armand benar-benar murah hati. Proyeknya sendiri saja rela dikasihkan ke orang lain."

"Namanya juga suami istri. Bu Vanda tinggal menikmati hidup di rumah. Buat apa masih berebut karier dengan Bu Irene?"

Aku diam. Sementara itu, Armand menatapku.

"Kamu dengar sendiri, 'kan? Nggak ada yang menyangkal semua usahamu. Hanya saja, Irene memang lebih cocok daripada kamu."

Aku menggenggam lembar hasil pemeriksaan yang tersimpan di dalam tas. Perlahan, ujung jariku mulai terasa dingin.

Padahal, malam ini aku datang dengan niat memberitahunya bahwa aku sedang hamil.

Dokter mengatakan kondisi janinku belum stabil. Karena itu, aku diminta menjaga suasana hati tetap tenang

Aku meremas lembar hasil pemeriksaan itu sampai kusut. Setelah itu, kudorong kursi dan berdiri.

Armand langsung mencengkeram pergelangan tanganku.

"Mau ke mana?"

"Pulang."

"Pakai dulu cincinnya."

Aku melirik cincin yang ada di atas meja. "Sudah kotor. Aku nggak mau."

Jari-jarinya mengerat di pergelangan tanganku, tetapi suaranya masih terdengar tenang.

"Vanda, kalau mau nguji kesabaranku, tahu batasnya. Makin besar keributan yang kamu buat, makin rendah nilaimu."

Aku menatapnya. "Kalau gitu, bagaimana dengan perceraian?"

Dia menatapku, lalu tiba-tiba tersenyum.

"Pakai perceraian untuk maksa aku ngubah standar penilaian bukan tindakan yang cerdas."

Irene berjalan menghampiriku dan menyerahkan sebuah dokumen.

"Vanda, ini surat kuasa hak suara untuk Proyek Fajar. Armand bilang, kalau kamu tanda tangani besok, semua orang akan melupakan kejadian malam ini."

Aku membuka dokumen itu dan langsung membalik ke halaman terakhir.

Lima belas persen hak suara milikku akan sepenuhnya diwakili oleh Armand.

Artinya, begitu aku membubuhkan tanda tangan, di perusahaan ini aku bahkan tidak lagi memiliki hak untuk mengatakan tidak.

Aku menutup dokumen itu.

"Kalau aku nggak mau tanda tangan?"

Armand mengambil cincin pernikahan itu, lalu menyelipkannya ke telapak tanganku.

"Kamu akan tanda tangan."

Aku menatapnya. "Kenapa?"

"Karena pernikahan ini satu-satunya pencapaian yang bisa kamu banggakan."

Setelah mengatakan itu, dia melepaskanku. Dia berbalik, lalu mengambil mantel dan memakaikannya pada Irene.

Saat itulah lembar hasil pemeriksaan yang sudah kusut terjatuh dari dalam tas.

Irene membungkuk hendak mengambilnya.

Aku baru saja mengulurkan tangan ketika Armand lebih dulu melindunginya. Tubuh Irene pun tersenggol dan mundur selangkah.

Lembar hasil pemeriksaan itu terlepas dan jatuh ke dalam ember berisi es. Dalam sekejap, air lelehan es meresap ke dalam kertas hingga basah kuyup.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Mentok di Nilai 89   Bab 10

    Pada hari cabang Arsea resmi berdiri, aku dipercaya memimpin proses seleksi perekrutan pertama.Setelah menyelesaikan tes penerjemahan, seorang gadis muda menghampiriku dengan wajah tegang. "Bu Vanda, kira-kira berapa nilai yang akan saya dapat?"Aku menutup buku catatan di tanganku."Kenapa harus ada nilai?""Saya takut kemampuan saya masih belum cukup baik.""Kamu sudah menyampaikan makna aslinya dengan utuh dan berhasil menangani situasi yang nggak terduga. Kalau masih ada yang perlu diperbaiki, pulang dan berlatih lagi."Gadis itu masih tampak ragu."Kalau begitu, apa saya diterima?"Aku menyerahkan kartu identitas kerjanya."Selamat bergabung."Dia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum dan menerima kartu itu.Di dekat pintu, Adrian berdiri sambil membawa dua porsi sarapan."Bu Vanda, pewawancaranya saja belum sarapan. Penilaiannya nggak lulus.""Dipotong berapa poin?""Nggak ada potongan."Dia menyodorkan segelas susu kedelai hangat kepadaku."Lain kali jangan lupa sar

  • Mentok di Nilai 89   Bab 9

    Rapat darurat Grup Hantara berlangsung selama enam jam.Ketika akhirnya keluar dari ruang rapat, Armand sudah tidak lagi menjabat sebagai direktur utama.Dewan direksi menilai bahwa selama ini dia terlalu sering menyalahgunakan wewenangnya dan mengutamakan orang-orang terdekatnya. Sikap tersebut telah menyebabkan kerugian pada sejumlah proyek perusahaan.Kebocoran informasi internal yang dilakukan Irene juga membuat perusahaan harus menghadapi tuntutan ganti rugi dalam jumlah besar.Ayahnya melemparkan surat pengunduran diri ke hadapannya."Demi seorang wanita, kamu sampai hancurin perusahaan seperti ini. Sekarang kamu puas?"Armand membungkuk dan mengambil surat itu."Ini kesalahanku."Malam itu, dia datang menemuiku untuk menyelesaikan penandatanganan perjanjian restrukturisasi saham yang terakhir.Aku membaca seluruh ketentuannya sebelum mengangkat kepala."Kamu menyerahkan sepuluh persen saham atas namamu sendiri?""Untuk ngasih kompensasi kepada tim luar negeri yang diberhentikan.

  • Mentok di Nilai 89   Bab 8

    Kabar tentang penonaktifan Irene dengan cepat menyebar ke seluruh Grup Hantara.Namun, sebelum perusahaan sempat mengambil langkah lebih lanjut, dia tiba-tiba muncul dalam konferensi pers dan memberikan versinya sendiri."Semua surel itu dikirim sendiri oleh Vanda."Dia mengangkat setumpuk dokumen yang sudah dicetak dan menunjukkannya kepada para wartawan."Dia memang sudah lama berniat meninggalkan Pak Armand. Karena itu, dia sengaja mengalihkan semua kesalahan kepadaku."Seorang wartawan segera mengarahkan mikrofon kepadaku."Nona Vanda, bukti apa yang Anda miliki?"Aku menyalakan proyektor yang sudah disiapkan."Pertama, alamat login saat surel pertama dikirim berasal dari kantor Presiden Grup Hantara."Layar besar menampilkan lokasi login dari sistem kantor tersebut.Ekspresi Irene seketika menegang."Siapa pun bisa masuk ke kantor itu.""Benar. Karena itu, aku juga mengajukan pemeriksaan tulisan tangan dan keaslian cap."Aku mengganti tampilan ke halaman berikutnya."Cap yang digu

  • Mentok di Nilai 89   Bab 7

    Enam bulan berlalu. Aku akhirnya berhasil menyelesaikan sebuah negosiasi internasional di Jenovia.Begitu keluar dari ruang rapat, Adrian Gunadi menyerahkan termos kepadaku."Dokter sudah nyuruh kamu ngurangin kopi."Aku menerima sambil tersenyum. "Hari ini aku cuma minum satu cangkir.""Minggu lalu kamu juga bilang begitu."Aku tertawa kecil."Pak Adrian sampai harus ngurusin kebiasaan minumku sekarang?""Bukan ngurusin. Aku cuma mengingatkan."Dia menyerahkan catatan rapat yang baru saja kami selesaikan."Nggak ada yang berhak menilai keputusanmu. Termasuk aku."Aku menunduk, memandangi catatan di tanganku.Setelah kembali bekerja, rupanya kebiasaan lama masih sulit kutinggalkan. Tanpa sadar, aku terus memeriksa pekerjaanku berulang kali, bahkan memperbaiki setiap jeda kecil dalam prosesnya.Seusai rapat pertamaku, aku bahkan sempat bertanya kepada Adrian, "Menurutmu, tadi penampilanku gimana?"Dia hanya menjawab singkat, "Sudah selesai. Itu sudah cukup."Kalimat sederhana itu membua

  • Mentok di Nilai 89   Bab 6

    Selama tujuh hari penuh, Armand tidak berhasil menghubungiku.Baru pada hari kedelapan, akhirnya dia berhasil menghubungi mentorku."Di mana dia?"Mentorku menjawab dengan nada dingin, "Memangnya kamu siapa, sampai mencarinya?""Aku suaminya.""Perjanjian perceraian sudah sampai di tanganmu.""Belum aku tanda tangani.""Itu urusanmu."Armand menahan emosi, lalu berkata, "Dia baru saja kehilangan anaknya, dia butuh perawatan. Aku akan jemput dia pulang.""Saat dia paling butuh kamu, di mana kamu?"Sambungan telepon langsung terputus.Armand kemudian menunggu seharian penuh di depan lembaga penerjemahan.Dulu, ketika aku sering lembur hingga larut malam, dia juga pernah menungguku di tempat yang sama.Saat itu aku berlari menerobos hujan. Dia membukakan payung untukku, lalu menyodorkan secangkir kopi panas.Dia berkata, "Kamu selalu jadi prioritas di atas segala hal."Kini, payung yang sama kembali dipenuhi tetesan hujan. Hanya saja, kali ini tidak ada seorang pun yang datang menghampiri

  • Mentok di Nilai 89   Bab 5

    Saat Armand pulang, hal pertama yang dilihatnya adalah dokumen yang tergeletak di atas meja.Tanpa menyalakan lampu, dia langsung mengambilnya dan membalik hingga ke halaman terakhir."Setidaknya dia masih mau menurut."Namun, begitu membaca judul dokumen itu dengan jelas, gerakannya mendadak terhenti.Itu bukan surat kuasa.Melainkan perjanjian perceraian.Separuh isi ruang kerja sudah kosong.Buku-buku, pakaian, dan seluruh dokumen pribadiku telah kubawa pergi.Armand segera mengambil ponsel dan meneleponku. Namun, yang terdengar dari seberang hanya suara pemberitahuan otomatis.Irene menyusul dari belakang dan berkata pelan, "Mungkin Vanda hanya ingin nakut-nakutin kamu. Bujuk saja dia. Nanti juga dia akan pulang.""Dia nggak akan pergi."Setelah mengatakan itu, Armand terdiam sejenak, seolah-olah sedang meyakinkan dirinya sendiri."Dia nggak punya pekerjaan ataupun penghasilan sendiri. Kalau pergi, dia mau ke mana?"Dia membuka pintu kamar dan melihat sebuah kotak tergeletak di sis

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status