공유

Bab 141

작가: Wei Yun
last update 게시일: 2026-04-06 13:28:27

Cahaya lilin di dalam kamar mewah itu bergoyang pelan. Aroma maskulin Long Xuan kini mengepung indra penciuman Liya, membuatnya merasa sesak sekaligus terlindungi. Xuan masih menatapnya dengan intensitas yang sanggup melelehkan logam, jemarinya yang kasar mengusap pipi Liya yang masih kemerahan bekas tangis.

​"Bisakah kau tidak keras kepala dan bertindak sesukamu? Bisakah kau tidak membuatku gila karena mengkhawatirkanmu?" Suara Xuan rendah, serak oleh emosi yang tertahan.

​Liya terdiam, menund
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Fi Tri
kalau mereka belah duren, trus bagaimana dengan penyakitnya si Long Xuan?!...
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 166

    Liya terus mundur hingga punggungnya membentur batang bambu yang dingin dan licin. Parang di tangannya terlepas, jatuh ke atas tumpukan daun kering dengan suara dentang yang hambar. Ia menatap Long Xuan—pria yang semalam membanting cangkir di depannya—kini berdiri hanya beberapa jengkal darinya dengan pedang yang masih meneteskan darah babi hutan.​"Kenapa kau mundur?" tanya Long Xuan, suaranya kini tidak lagi menggelegar, namun justru terdengar berat.​Liya memalingkan wajah, matanya memanas. "Bukankah kau bilang tidak ingin berbicara denganku? Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan agar tidak perlu memintamu melakukan apa pun."​Long Xuan menghela napas kasar. Ia menyarungkan pedangnya dengan sentakan keras, lalu menatap tajam pada lima prajurit yang berdiri kikuk beberapa meter dari mereka. "Kalian berlima, potong bambu-bambu ini sesuai tanda yang dibuat Nyonya. Bawa semuanya ke dekat saluran air sungai sebelum matahari tepat di atas kepala!"​"Siap, Ketua!" Para prajurit itu

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 165

    Sinar matahari pagi menyusup melalui celah jendela kayu, menyentuh wajah Liya yang sembap. Ia mengerjapkan mata, mendapati sisi tempat tidur di sampingnya masih rapi dan dingin. Long Xuan benar-benar tidak kembali semalaman. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara denting logam yang beradu dan teriakan komando yang tegas.​Liya menghela napas panjang. Ia tahu suaminya sedang menumpahkan seluruh kemarahannya pada latihan pedang di lapangan. "Setidaknya dia masih punya energi untuk berlatih," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menghibur hati yang lara.​Sebagai seorang istri yang terbiasa hidup mandiri dan praktis, Liya tak ingin berlarut dalam kesedihan. Ia sadar telah memicu prahara, namun ia juga tahu bahwa kebutuhan pangan di markas Gunung Yu tidak bisa menunggu kemarahan Xuan mereda. Dengan persediaan yang makin menipis, Liya telah merancang sistem hidroponik sederhana untuk membuat kebun sayur-mayur.​"Aku butuh saluran air untuk mengairi tanamannya. Bambu adalah kuncinya,"

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 164

    Cahaya lilin di sudut kamar pengobatan menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah jendela. Suasana begitu hening, hanya interupsi napas Fan Yi yang berat dan tersengal yang sesekali memecah kesunyian. Xiao Cui masih duduk di sana, bahunya turun karena kelelahan, namun tangannya tak berhenti bergerak. ​Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia memeras kain putih ke dalam baskom kayu. Air di dalamnya kini tak lagi jernih; warnanya telah berubah menjadi merah pekat, sewarna dengan darah yang mencemari kesucian air tersebut. Ia menyeka sisa-sisa darah dan kotoran yang mengering di pundak serta dada Fan Yi, tubuh kaku yang biasanya selalu berdiri tegap melindunginya, kini terbaring tak berdaya. ​"Cepat sembuh, Tuan Kaku," bisik Xiao Cui, suaranya lembut dan nyaris hilang ditelan malam. ​Ia berhenti sejenak, memandangi wajah Fan Yi yang pucat pasi dalam tidurnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh, menetes tepat di atas telapak tangan Fan Yi yang kasar. ​"Kalau k

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 163

    Wusss! Jleb!​Desingan tajam membelah keheningan malam yang pekat. Hutan di perbatasan Gunung Yu yang tadinya sunyi mendadak bertransformasi menjadi neraka kecil yang mencekam.​"Awas anak panah! Menunduk semua!" teriak Fan Yi menggelegar, suaranya nyaris tenggelam oleh deru derap kaki kuda pasukan Murong Guan yang semakin merangsek mendekat.​Jleb!​Fan Yi tersentak hebat. Tubuhnya terlempar ke depan, hampir saja ia terjungkal dari kursi kusir yang berguncang keras. Sebatang anak panah menancap telak di punggung kirinya. Rasa panas yang membakar menjalar seketika, namun jemarinya justru semakin erat mencengkeram tali kekang, menolak untuk menyerah pada rasa sakit.​"Fan Yi! Kau terkena?!" teriak Liya dari dalam kereta, suaranya sarat akan vibrasi kepanikan yang tak terbendung.​"Jangan keluar, Nyonya! Tetap menunduk!" balas Fan Yi dengan gigi bergeletuk menahan perih. Ia memacu kuda lebih gila lagi, mengabaikan denyut menyiksa di punggungnya. "Sedikit lagi ... sedikit lagi kita menca

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 162

    Seorang bocah laki-laki dengan pakaian kumal, wajah yang kusam terkena debu, dan rambut yang berantakan menatapnya dengan tatapan kosong. Telapak tangan kecilnya yang kotor terbuka, seolah-olah ia sedang meminta sedekah di pinggir jalan.​"Tuan Muda Yuan!" Xiao Cui menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan pekikan yang nyaris lolos.​Pemandangan di depannya menghancurkan hatinya. Tidak ada lagi jubah hanfu sutra yang mewah atau seragam sekolah Shin Yue yang gagah. Tuan mudanya kini tak berbeda dengan pengemis kecil di pasar.​"Tuan Muda ... apa yang mereka lakukan padamu?" Xiao Cui langsung berlutut dan memeluk erat tubuh kecil itu.​Long Yuan tidak bergerak. Tubuhnya kaku, namun suaranya terdengar lirih dan parau. "Xiao Cui, bawa aku ke Paman Xuan dan Bibi Shishi ... bawa aku bersama nenek."​Fan Yi segera mendekat, matanya yang tajam menyapu sekeliling. "Tuan Muda, di mana Nenekmu? Tunjukkan jalannya sekarang," bisik Fan Yi dengan nada lembut namun tetap matanya mengawasi sekita

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 161

    Langkah kaki Liya terasa seringan bulu saat ia menyelinap di antara bayang-bayang pilar kayu yang menopang bangunan-bangunan kecil di sekitar aula utama Kuil Tianning. Ia menekan tubuhnya ke dinding, mengatur napas agar tidak terdengar oleh para penjaga yang sesekali melintas dengan langkah yang berat. Di pelataran aula utama, pemandangan berbeda tersaji. Seorang biksuni tua dengan wajah teduh menghampiri Xiao Cui dan Fan Yi.​"Semoga Sang Buddha memberkati janin dalam rahimmu, Nyonya. Dan semoga Tuan senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga keluarga kecil ini," ucap biksuni itu tulus sembari merapalkan doa-doa keselamatan.​Fan Yi mengangguk khidmat, tangannya menggenggam jemari Xiao Cui dengan erat yang terasa mendebarkan bagi Xiao Cui. Kepura-puraan mereka begitu natural; sepasang suami istri muda yang sedang menanti kehadiran buah hati pertama mereka. Namun, di balik senyum tipis Fan Yi, matanya terus bergerak liar, memindai setiap wajah di kerumunan jemaat yang bersujud di dep

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 33

    "Nona Lin sungguh murah hati," sahut Liya. Suaranya tetap manis, namun kini setajam pisau yang baru diasah. "Namun, urusan internal kediaman adalah tanggung jawabku sebagai istri sah. Nona Lin adalah tamu agung, dan sudah menjadi tugasku untuk memastikan tamu merasa nyaman tanpa perlu membebani den

    last update최신 업데이트 : 2026-03-21
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 37

    Langkah kaki Liya yang terburu-buru di sepanjang selasar kayu terhenti seketika saat sebuah bayangan besar menyambar lengannya. Liya tak perlu menebak si pemilik bayangan besar itu. Kekuatan itu begitu dominan, menarik tubuhnya berputar hingga ia nyaris kehilangan keseimbangan. Sebelum Liya sempat

    last update최신 업데이트 : 2026-03-21
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 36

    Meja makan di aula utama pagi itu terasa seperti panggung eksekusi yang dingin. Di tengah suasana yang mencekam itu, Long Yuan duduk di antara paman dan bibinya. Bocah kecil itu nampak gelisah, kepalanya tertunduk, namun matanya sesekali melirik ke arah bibinya dengan penuh kekhawatiran. Cahaya m

    last update최신 업데이트 : 2026-03-21
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 35

    Pagi menyapa Kediaman Adipati Long dengan kabut tipis yang menyelimuti atap-atap bangunan, namun di dalam Paviliun Anggrek, suasana terasa lebih beku daripada udara di luar. Liya duduk di depan meja rias, menatap bayangannya di cermin perunggu. Matanya tidak lagi menyiratkan kerapuhan; yang terting

    last update최신 업데이트 : 2026-03-21
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status