LOGINPulau Hera, di dalam batang Yggdrasil, Kalender Bintang – 14 Oktober 2148
Dor! Trang!
“Jangan bercanda, Richard! Jangan menghalangiku!” seru sosok lelaki bertopeng besi yang sejak tadi berlarian sembari memuntahkan peluru tanpa henti dari kedua pistolnya.
“Itu kalimatku, Billy!” lelaki lain dengan pedang dan zirah baja aksen merah balas berseru, menangkis setiap peluru yang ditembakkan lelaki satunya.
Richard the Lionheart dan Billy the Kid—sebut saja mereka begitu. Sudah cukup lama sejak mereka memasuki batang Yggdrasil, kini keduanya bertemu di salah satu pulau yang katanya menyimpan petunjuk menuju Cawan Suci. Petunjuk itulah yang tengah mereka perebutkan hingga berseteru.
Graa!!
Richard kembali mengayunkan pedangnya guna menyerang Billy. Ayunan itu seakan diiringi raungan singa. Pun meski diayunkan dari jauh, tebasannya seakan melesat menghampiri Billy dengan cepat.
Billy tidak pasrah begitu saja dihampiri tebasan Richard, tentu saja. Namun ketimbang membalas serangan Richard, ia lebih memilih menghindar. Jadilah tebasan jarak jauh itu malah menghancurkan sekeliling untuk ke sekian kalinya.
“Sialan! Kau berusaha kabur, ya!!” seru Richard menyadari Billy malah menjauh, lantas mengejarnya.
“Iyalah! Objektif ritual ini jelas—mendapatkan Cawan Suci secepat mungkin,” balas Billy dari depan, “Menyingkirkan Embers atau Pencari Api yang lain hanya opsi tambahan, terutama karena jauh lebih merepotkan. Seharusnya kau setuju denganku, Raja Singa!”
“Naif!”
Graa!!
Richard kembali mengayunkan pedangnya, meluncurkan tebasan diiringi raungan singa. Kali ini, ia benar-benar berniat menghabisi Billy dengan meluncurkan tebasan itu dari jarak dekat. Iya, Richard entah sejak kapan sudah berada di dekat Billy ketika menyabetkan pedangnya.
Trang!
Sayang, tebasan Richard sekali lagi tidak berhasil mengenai target. Namun penyebabnya bukan karena Billy menghindar. Ada sosok yang menahannya dengan pedang, muncul begitu saja di antara mereka. Mengejutkannya, sosok itu tak lain adalah Gilles de Rais.
“Kau ...!” Richard memilih mundur dari adu pedang mendapati serangannya ditahan, “Kenapa kau menghalangiku juga, Jeanne d’Arc?!” ia berseru ke arah lain.
Benar saja, tak jauh dari mereka, sudah berdiri sosok gadis berambut pirang dengan bendera besar di tangan. Jeanne d’Arc, “Karena Tuhan memerintahkan saya untuk melakukannya.”
“Kau bilang begitu, tapi membiarkan Billy kabur mencari petunjuk Cawan Suci,” celetuk Richard.
“Tuhan akan menghukumnya,” balas Jeanne tanpa terpancing, meletakkan tangan di dada.
Brak!
Seakan merespons ucapan Jeanne, kini Billy malah kena getahnya karena berusaha pergi ketika sang Gadis Suci menolongnya. Pria bertopeng itu masuk lubang sumur yang entah sejak kapan ada di sana. Untungnya, Gilles berbaik hati dan membantu Billy naik—meski Billy tampak sangat enggan.
“Soalnya kalau begini terus, situasinya jadi buntu!” seru Billy tak lama setelah ditolong.
“Setuju,” Richard menimpali, “Semua ini harus diselesaikan dalam pertempuran tiga arah,” usulnya.
“Tumben kita banyak sepakat hari ini, Richard,” celetuk Billy, “Ah, di luar itu ideologi kita saja sudah sangat berbeda, sih—termasuk dalam bagaimana menanggapi ritual ini.”
“Nona Jeanne,” Gilles mendekati Jeanne, bersiap.
“Sepertinya tidak ada pilihan lain,” Jeanne hanya bisa menghela napas, “Biarkan Tuhan menurunkan hukuman untuk kalian—para Pencari Api yang mengabaikan jiwa-jiwa Embers yang menderita!!”
Maka pertempuran tiga arah yang diharapkan Billy pun meletus di Pulau Hera—yang tanpa mereka sadari, angin yang mereka ciptakan dari konflik secara tidak langsung bergerak bersama ombak.
......
Di saat yang sama, suatu tempat di lautan di dalam batang Yggdrasil
“Mereka tidak menjadi Pahlawan untuk sekadar diabadikan dalam Pohon Dunia ....” Dante menelan ludah, “Mereka melakukannya untuk bersaing satu sama lain dalam Pencarian Cawan Suci ....”
Sempat hening selama beberapa saat, kini Kapal Argonauts seakan kembali diliputi keputusasaan. Analisis Dante pun seakan menegaskan situasi mereka yang berada di atas kapal itu. Ah, lelaki satu itu bukan tipikal yang akan menyemangati temannya meski di saat seperti ini, sih.
“Ironis ... padahal aslinya itu adalah pusaka pengabul permohonan,” justru itu yang dikatakan Dante.
“Dunia juga tadinya indah—damai dan stagnan. Umat manusia berlomba mencapai puncak peradaban dengan berbagai macam cara heroik dan romantis,” timpal Marie—tertular sisi pesimis Dante.
“Sulit mengatakannya, tapi begitulah kenyataannya,” Dumas menghela napas, “Entah apa yang Pohon Dunia pikirkan sampai menciptakan konsep ‘kematian’, lalu lanjut menciptakan Cawan Suci.”
“Nah, untungnya, sih, taktik untuk ritual ini ada banyak—termasuk taktik menjadi pengecut,” celetuk Francois, “Terlebih kita tidak tahu Muasal Roh macam apa yang Yggdrasil panggil Nama Aslinya.”
“Tenang saja, Muasal Roh macam apa pun, mereka tetaplah manusia!” seruan Muramasa dari jauh lebih dulu terdengar. Malah dia yang berperan menyemangati rekan-rekannya—padahal sejak tadi tidak muncul di hadapan yang lain.
Francois pun dibuat terdiam sesaat oleh seruan Muramasa. Tak lama, ia mengangguk-angguk, seakan mengiyakan begitu saja ucapan Muramasa, “Tenang saja.”
Di titik itu, Dante hanya bisa menghela napas, “Kenapa saya terlibat di sini begini, ya, Beatrice ...”
......
Area gudang di salah satu sudut Distrik Barat, Kalender Bintang – 14 Oktober 2148
“Wow, kerusakannya lebih parah dari dugaanku. Sistem lagi-lagi memanggil Embers yang mengerikan agaknya, ya,” ujar sosok lelaki dengan seragam militer hitam dan jubah merah berkibar.
Kedua kaki lelaki berseragam militer segera melangkah memasuki area gudang lebih dalam. Dilihatnya sekitar, hampir semuanya luluh lantah. Meski begitu, ia segera tersenyum ketika mendapati tak jauh darinya terkapar dua sosok yang tak asing—James Moriarty dan Sherlock Holmes.
“Kau ...” James tampaknya masih sadar meski tertimpa bangunan sejak semalam.
“Salam kenal,” lelaki berseragam melepaskan topi militernya, “Namaku Oda Nobunaga, Pencari Api.”
“Oda ....” James berpikir di antara sekaratnya, “Raja Iblis Surga Keenam ....”
“Tepat,” balas lelaki berseragam militer—Oda, “Nah, sekarang biar kulihat apa nyawa kalian cukup untuk dijadikan bumbu ritual korup penuh penipuan ini.”
......
“Jawab pertanyaan diriku, Dante Alighieri. Apa itu Pahlawan?”Meski tadinya sudah bersikap santai dan mulai bisa menerima bahwa suara Beatrice di hadapannya tak ubahnya program yang digunakan perwujudan Yggdrasil, kini Dante kembali terdiam. Ia tak bisa langsung menjawab pertanyaan butiran cahaya itu. Pikirannya lebih dulu pergi ke banyak ingatan.Ingatan tentang sosok Muramasa Sengo yang menempa karma demi mencegah kehancuran dunia.Ingatan tentang sosok Gadjah Mada yang mengakhiri hidup dalam pujian dewa-dewi pujaannya.Ingatan tentang sosok Qin Shi Huang yang menolak kematian hingga akhir hayat.Ingatan tentang sosok Edmond Dantes, dirinya yang lain, yang merelakan dendam yang terus dipegang teguh seumur hidupnya, lantas berlayar pergi ke dunia yang lebih baik bersama Haydee.Ingatan tentang sosok Hassan-I-Sabbah yang menyeramkan dan mengintimidasi.Ingatan tentang sosok Nitocris yang terlihat ramah meski aslinya penguasa jiwa.Ingatan tentang sosok Richard I yang meraung di medan p
Di awal legenda, dunia berada dalam kekacauan.Bencana melanda, wabah menyebar, hingga Dewi dari Tanah Jauh turun ke dunia.Pada dunia yang kacau, Dewi dari Tanah Jauh menghapus semua peradaban yang menyiksanya, lalu menanamkan ulang benih Pohon Dunia yang menciptakan peradaban-peradaban baru.Tiga peradaban membawa kemakmuran.Tiga peradaban membawa kesengsaraan.Tiga peradaban membawa perubahan.Kesembilan peradaban menumbuhkan benih Pohon Dunia, menginisiasi peradaban kesepuluh—yang berawal damai dan makmur, namun berujung sengsara dan kacau akibat konsep Kematian yang tak pernah diminta penciptaannya.“Wahai manusia. Bila kalian mendamba kedamaian, carilah Cawan Suci di kedalaman Pohon Dunia.”Maka sejak saat itu, ritual megah Pencarian Cawan Suci pun digelar.“Sang Kaisar Pertama yang lolos dari maut, bimbinglah rakyat engkau dalam ritual, maka engkau akan mendapatkan keabadian yang engkau dambakan di akhir hidup engkau.”“Akan muncul di hadapan engkau, Rubah Penguasa Jiwa yang me
Buagh! Buagh! Buagh! Buagh!Di titik itu, baik Oda maupun Dante tak lagi memiliki Muasal Roh yang banyak.Di titik itu, baik Oda maupun Dante sudah tahu dirinya tak lagi lama.Di titik itu, baik Oda maupun Dante hanya bisa mengandalkan tinju masing-masing.Meski begitu, baik Oda maupun Dante tetap bergelut, saling baku hantam demi melihat siapa yang akan benar-benar bertahan di akhir. Tinju demi tinju terus dilayangkan, tak lagi sakit. Pukulan demi pukulan terus dihantamkan, berharap lawan tumbang.Hah ... hah ... hah ...!Bukan duel yang megah memang. Oda dan Dante bahkan sama-sama sempat berhenti jual-beli tinju, mengatur napas. Namun tak selang lama, Oda sudah kembali melayangkan tinju—yang meski gagal karena lengan kanannya itu lebih dulu terlepas dari tubuh, hancur dan menghilang.Sempat terkejut, Dante memanfaatkan momen itu, berusaha balik melayangkan tinjunya ke Oda. Kabar baiknya, ia berhasil menghantam wajah Oda yang sudah memar itu. Kabar buruknya, Oda tidak menyerah meski k
“Terima kasih banyak, Dante Alighieri ... atas perasaanku yang kamu terima ini ...!”Krak! Brak!Marie melepaskan diri dari pegangan Dante, mengakhiri dansa beriringan Waltz mereka seorang diri. Langkahnya menghancurkan dataran es yang menyelimuti penjuru Yggdrasil. Lalu, pecahan-pecahan esnya membentuk sebilah pedang yang melayang beberapa senti di atas kepalanya.“Marie—“Syuuu—syat!!Terlambat. Dante gagal mencegah pedang es melayang di atas kepala Marie menjatuhkan bilahnya. Bak guillotine, pedang es itu mengakhiri riwayat Marie dalam sekejap. Meski begitu, pengorbanan itu agaknya tak berujung sia-sia.Ketika Dante menyadarinya, tubuhnya sudah dipenuhi Muasal Roh dingin milik Marie, membuatnya jauh cukup mampu untuk lanjut melepas Tahap Ketiga Pelepasan Penuh Api Jiwa miliknya.“Sayalah yang berterima kasih, Marie,” tidak terasa, air mata Dante pun mengalir membasahi pipinya, “Akan saya terima perasaanmu kalau kita memang bertemu lagi di kehidupan berikutnya ...!!”Iya, efek akhir
“Menari hingga akhir ... Marie, jangan bilang kau juga ...?!”Dante hanya bisa terus mempertanyakan alasan Marie menahan tangannya untuk menolong Jeanne dan Florence di bawah sana. Situasi sudah terlanjur kacau balau. Dante agaknya sudah tidak sanggup jika harus kehilangan teman lainnya.Meski begitu, Marie justru tertawa kecil, “Kamu benar-benar berubah dibanding saat pertama kali kita bertemu,” ujarnya, “Tapi tenang saja, kalau kamu mau berdansa denganku, kita mungkin akan bisa menyelamatkan Jeanne dan Kak Flora,” ia tersenyum meyakinkan.Dante menelan ludah, berusaha menenangkan diri, “Bagaimana ...?”“Kamu ingat Api Jiwa milikku, kan,” ujar Marie membalas.Dante mengangguk.“Meski efeknya hanya membekukan sekitar untuk sesaat, lalu menghancurkan semua bak guillotine mengeksekusi terdakwa, Muasal Roh mereka yang dihancurkan akan tersalur ke tempat yang kuingin,” Marie menjelaskan ulang, “Seharusnya itu cukup untukmu mencapai Surga, kan?”Dante melebarkan mata, “Tapi dengan Muasal R
“Serahkan saja ini kepada kami untuk sementara, Dante ...!”Belum habis Dante terkejut dengan situasi di sekitarnya, lagi-lagi, terdengar suara yang tak asing. Pun bahu dan punggungnya segera diselimuti kehangatan yang menenangkan setelahnya. Benar saja, saat Dante berbalik, yang menyambutnya di sana adalah sosok gadis muda yang tak lain adalah Marie.“Marie ...!” Dante yang sebelumnya terbelalak dengan hidup kembalinya Oda kembali dibuat terkejut atas kehadiran Marie yang mengikuti perlawanan Jeanne dan Florence yang juga muncul begitu saja.Marie tersenyum. Dia sudah mengaktifkan Kemampuan penyembuhannya yang khas, menghancurkan luka-luka Dante. Namun karena Muasal Roh Dante sedang tidak stabil akibat Api Jiwa Pelepasan Penuh miliknya memanggil Nama Asli individu-individu legendaris, penyembuhan berjalan lebih lama.Trang! Trang! Trang!Namun meski Dante dalam penyembuhan, situasi di hadapannya tetap memanas. Jeanne tanpa henti berusaha mendaratkan serangan kepada Oda. Florence yang
“Kalau begitu kami pamit dulu, ya, Martha. Maaf karena mendadak!”Demi mendengar penjelasan situasi dari Eva, Marie tak punya pilihan selain pamit dari gereja. Dante pun langsung mengeluarkan tiket dan penanya—tiket untuk dirinya memasuki Yggdrasil, sedangkan pena untuk Marie berpindah via Kemampuan
Area taman ria, Distrik Barat, Kalender Bintang – 2 November 2148“Anu, Dante, rasanya kamu sudah berlebihan, deh,” Marie menelan ludah mengatakannya.“Apanya?” meski bertanya begitu, Dante pun menelan ludah gemetaran.“Semuanya—termasuk ini, tentu saja,” Marie mencoba memperjelas.“Kau mungkin ben
Di suatu tempat di dalam Yggdrasil, Kalender Bintang – 14 Oktober 2148“Apa pun itu, pokoknya kuucapkan selamat datang di kapal, Dante Alighieri.”Seharusnya, Dante baru saja bangun beberapa saat lalu setelah banyak hal terjadi semalam. Namun bukannya penatnya lepas, begitu terbangun, ia justru ber
Suatu gudang di Distrik Barat, Kalender Bintang – 13 Oktober 2148“M—Mati? Tunggu dulu ... saya baru saja hampir mati ...!”Malam itu mungkin salah satu malam terpanjang untuk Dante. Ia baru saja hampir dibunuh dua temannya yang entah sekarang ada di mana. Tidak berselang lama, monster sebesar gunu







