แชร์

#Bab 6: Di Balik Ritual

ผู้เขียน: Amerta Klandestin
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-10 15:12:30

Pulau Hera, di dalam batang Yggdrasil, Kalender Bintang – 14 Oktober 2148

Dor! Trang!

“Jangan bercanda, Richard! Jangan menghalangiku!” seru sosok lelaki bertopeng besi yang sejak tadi berlarian sembari memuntahkan peluru tanpa henti dari kedua pistolnya.

“Itu kalimatku, Billy!” lelaki lain dengan pedang dan zirah baja aksen merah balas berseru, menangkis setiap peluru yang ditembakkan lelaki satunya.

Richard the Lionheart dan Billy the Kid—sebut saja mereka begitu. Sudah cukup lama sejak mereka memasuki batang Yggdrasil, kini keduanya bertemu di salah satu pulau yang katanya menyimpan petunjuk menuju Cawan Suci. Petunjuk itulah yang tengah mereka perebutkan hingga berseteru.

Graa!!

Richard kembali mengayunkan pedangnya guna menyerang Billy. Ayunan itu seakan diiringi raungan singa. Pun meski diayunkan dari jauh, tebasannya seakan melesat menghampiri Billy dengan cepat.

Billy tidak pasrah begitu saja dihampiri tebasan Richard, tentu saja. Namun ketimbang membalas serangan Richard, ia lebih memilih menghindar. Jadilah tebasan jarak jauh itu malah menghancurkan sekeliling untuk ke sekian kalinya.

“Sialan! Kau berusaha kabur, ya!!” seru Richard menyadari Billy malah menjauh, lantas mengejarnya.

“Iyalah! Objektif ritual ini jelas—mendapatkan Cawan Suci secepat mungkin,” balas Billy dari depan, “Menyingkirkan Embers atau Pencari Api yang lain hanya opsi tambahan, terutama karena jauh lebih merepotkan. Seharusnya kau setuju denganku, Raja Singa!”

“Naif!”

Graa!!

Richard kembali mengayunkan pedangnya, meluncurkan tebasan diiringi raungan singa. Kali ini, ia benar-benar berniat menghabisi Billy dengan meluncurkan tebasan itu dari jarak dekat. Iya, Richard entah sejak kapan sudah berada di dekat Billy ketika menyabetkan pedangnya.

Trang!

Sayang, tebasan Richard sekali lagi tidak berhasil mengenai target. Namun penyebabnya bukan karena Billy menghindar. Ada sosok yang menahannya dengan pedang, muncul begitu saja di antara mereka. Mengejutkannya, sosok itu tak lain adalah Gilles de Rais.

“Kau ...!” Richard memilih mundur dari adu pedang mendapati serangannya ditahan, “Kenapa kau menghalangiku juga, Jeanne d’Arc?!” ia berseru ke arah lain.

Benar saja, tak jauh dari mereka, sudah berdiri sosok gadis berambut pirang dengan bendera besar di tangan. Jeanne d’Arc, “Karena Tuhan memerintahkan saya untuk melakukannya.”

“Kau bilang begitu, tapi membiarkan Billy kabur mencari petunjuk Cawan Suci,” celetuk Richard.

“Tuhan akan menghukumnya,” balas Jeanne tanpa terpancing, meletakkan tangan di dada.

Brak!

Seakan merespons ucapan Jeanne, kini Billy malah kena getahnya karena berusaha pergi ketika sang Gadis Suci menolongnya. Pria bertopeng itu masuk lubang sumur yang entah sejak kapan ada di sana. Untungnya, Gilles berbaik hati dan membantu Billy naik—meski Billy tampak sangat enggan.

“Soalnya kalau begini terus, situasinya jadi buntu!” seru Billy tak lama setelah ditolong.

“Setuju,” Richard menimpali, “Semua ini harus diselesaikan dalam pertempuran tiga arah,” usulnya.

“Tumben kita banyak sepakat hari ini, Richard,” celetuk Billy, “Ah, di luar itu ideologi kita saja sudah sangat berbeda, sih—termasuk dalam bagaimana menanggapi ritual ini.”

“Nona Jeanne,” Gilles mendekati Jeanne, bersiap.

“Sepertinya tidak ada pilihan lain,” Jeanne hanya bisa menghela napas, “Biarkan Tuhan menurunkan hukuman untuk kalian—para Pencari Api yang mengabaikan jiwa-jiwa Embers yang menderita!!”

Maka pertempuran tiga arah yang diharapkan Billy pun meletus di Pulau Hera—yang tanpa mereka sadari, angin yang mereka ciptakan dari konflik secara tidak langsung bergerak bersama ombak.

......

Di saat yang sama, suatu tempat di lautan di dalam batang Yggdrasil

“Mereka tidak menjadi Pahlawan untuk sekadar diabadikan dalam Pohon Dunia ....” Dante menelan ludah, “Mereka melakukannya untuk bersaing satu sama lain dalam Pencarian Cawan Suci ....”

Sempat hening selama beberapa saat, kini Kapal Argonauts seakan kembali diliputi keputusasaan. Analisis Dante pun seakan menegaskan situasi mereka yang berada di atas kapal itu. Ah, lelaki satu itu bukan tipikal yang akan menyemangati temannya meski di saat seperti ini, sih.

“Ironis ... padahal aslinya itu adalah pusaka pengabul permohonan,” justru itu yang dikatakan Dante.

“Dunia juga tadinya indah—damai dan stagnan. Umat manusia berlomba mencapai puncak peradaban dengan berbagai macam cara heroik dan romantis,” timpal Marie—tertular sisi pesimis Dante.

“Sulit mengatakannya, tapi begitulah kenyataannya,” Dumas menghela napas, “Entah apa yang Pohon Dunia pikirkan sampai menciptakan konsep ‘kematian’, lalu lanjut menciptakan Cawan Suci.”

“Nah, untungnya, sih, taktik untuk ritual ini ada banyak—termasuk taktik menjadi pengecut,” celetuk Francois, “Terlebih kita tidak tahu Muasal Roh macam apa yang Yggdrasil panggil Nama Aslinya.”

“Tenang saja, Muasal Roh macam apa pun, mereka tetaplah manusia!” seruan Muramasa dari jauh lebih dulu terdengar. Malah dia yang berperan menyemangati rekan-rekannya—padahal sejak tadi tidak muncul di hadapan yang lain.

Francois pun dibuat terdiam sesaat oleh seruan Muramasa. Tak lama, ia mengangguk-angguk, seakan mengiyakan begitu saja ucapan Muramasa, “Tenang saja.”

Di titik itu, Dante hanya bisa menghela napas, “Kenapa saya terlibat di sini begini, ya, Beatrice ...”

......

Area gudang di salah satu sudut Distrik Barat, Kalender Bintang – 14 Oktober 2148

“Wow, kerusakannya lebih parah dari dugaanku. Sistem lagi-lagi memanggil Embers yang mengerikan agaknya, ya,” ujar sosok lelaki dengan seragam militer hitam dan jubah merah berkibar.

Kedua kaki lelaki berseragam militer segera melangkah memasuki area gudang lebih dalam. Dilihatnya sekitar, hampir semuanya luluh lantah. Meski begitu, ia segera tersenyum ketika mendapati tak jauh darinya terkapar dua sosok yang tak asing—James Moriarty dan Sherlock Holmes.

“Kau ...” James tampaknya masih sadar meski tertimpa bangunan sejak semalam.

“Salam kenal,” lelaki berseragam melepaskan topi militernya, “Namaku Oda Nobunaga, Pencari Api.”

“Oda ....” James berpikir di antara sekaratnya, “Raja Iblis Surga Keenam ....”

“Tepat,” balas lelaki berseragam militer—Oda, “Nah, sekarang biar kulihat apa nyawa kalian cukup untuk dijadikan bumbu ritual korup penuh penipuan ini.”

......

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Menulis Ulang Takdir di Tengah Perang Para Pahlawan   #Bab 60: Penunggu Pulau Artemis

    Syuu! Syuu! Syuu! Syuu!Trang! Trang! Trang! Trang!Sejak meluncur pertama kali beberapa saat lalu, sesuatu yang Muramasa duga sebagai panah cahaya yang serupa dengan yang menghancurkan Si Janggut Biru di Pulau Dionysus, panah itu kini meluncur tak habis-habisnya—siapa pun penembaknya berusaha membombardir Argonauts.Meski begitu, Muramasa pun dengan sigap menangkis semua panah cahaya yang meluncur dengan katana miliknya, seakan tubuhnya bereaksi penuh tepat saat serangan tiba.[Kemampuan Teraktivasi – Muramasa Sengo: Zona Muasal]Ah, begitu. Ternyata Muramasa memang mengaktivasi satu Kemampuan miliknya untuk menangkis semua panah cahaya itu. Dante segera menyadarinya begitu notifikasi barusan muncul di hadapan matanya. Meski begitu, ia tak punya waktu untuk kagum.Grakk!Kapal akhirnya berlabuh di pesisir Pulau Artemis setelah Muramasa cukup lama menangkis panah-panah cahaya yang datang. Pun seakan tak menunggu posisi kapal lebih stabil, kakek tua itu segera melompat turun dari kapal

  • Menulis Ulang Takdir di Tengah Perang Para Pahlawan   #Bab 59: Tamu Tak Diundang

    Di sekitar perairan Pulau Artemis, Kalender Bintang – 30 Maret 2149Kriiieeett ...!“Marie, kau tidak apa-apa? Kau belum istirahat sejak kita kembali dari Pulau Dionysus.”Dante memasuki kamar yang sejak 12 Maret lalu menjadi tempat Francois dirawat oleh Marie. Iya, sejak mereka kembali dari Pulau Dionysus, Marie selalu berada di sana—keluar hanya saat malam dan ingin melihat bintang. Siapa pun akan khawatir dengan baik kondisinya maupun Francois.“Aku tidak apa-apa,” balas Marie simpel, mencoba melebarkan senyum tipis meski terpaksa.“Kau tampak lelah,” Dante mendapati kantung mata Marie yang semakin tebal.Namun Marie hanya menggeleng, “Ini tidak seberapa demi teman,” ujarnya.Dante mengembuskan napas, melapisi pundak Marie dengan selimut yang sudah dibawanya, “Kau tidak bisa merawat temanmu kalau kau sendiri tumbang, kan,” ujarnya.“Dante ....” Marie sejenak terkejut dilapisi selimut seperti itu. Hangat.“Lagian kau juga bilang, kan,” ujar Dante lagi, “Ada batasan untuk berbuat bai

  • Menulis Ulang Takdir di Tengah Perang Para Pahlawan   #Bab 58: Yang Tersisa di Sana

    “Aku sudah menduga hasilnya akan parah. Tapi tidak kuduga akan separah ini ....”Beberapa jam telah berlalu sejak kengerian Si Janggut Biru di Pulau Dionysus berakhir. Disinari mentari yang entah berasal dari mana, pulau itu kini tak ubahnya pulau tak berpenghuni biasa. Namun pagi itu, kalian justru bisa melihat wujud laki-laki Francois berjalan-jalan santai di sana.“Apa pun itu, aku tetap punya data bagus untuk diserahkan kepada Qin Shi Huang, sih,” Francois mengangkat bahu setelah cukup lama berjalan-jalan di Pulau Dionysus, lantas menoleh, “Bagaimana denganmu, apa yang akan kau lakukan mulai sekarang, Obyek Penelitian Tak Terpakai?”“Kalau menghina ada batasannya juga, Bajingan,” balas sosok yang dimaksud Francois—sosok gadis berzirah hitam lengkap, tatapan sinis, dan kulit pucat: Jeanne d’Arc.Iya, Jeanne selamat dari kehancuran wujud kolosal Si Janggut Biru meski berada di area ledakan. Entah itu kabar baik atau buruk, tapi salah satu alasannya mungkin karena ia sudah pernah mat

  • Menulis Ulang Takdir di Tengah Perang Para Pahlawan   #Bab 57: Panah Surgawi

    Cklek!Billy the Kid, di antara perjalanan panjangnya pasca kesepakatan dengan Dante Alighieri, dini hari itu tiba di perairan Pulau Dionysus dan berubah menjadi Pahlawan Bertopeng. Pun perubahannya tidak tanggung. Bukannya menggunakan koin, ia menggunakan kartu dari dek di sabuknya.Lepas menggeser tombol di bagian depan sabuknya, Billy pun memasukkan kartunya, “Henshin.”Blarr!!![Final Form – Mode: Star Burst]Berbekal Muasal Roh yang meluap-luap dari wujudnya yang ditutupi kostum berlapis zirah corak emas di dada, lengan, dan kaki, Billy menyiapkan kontainernya. Benda itu ditransformasinya menjadi bazoka yang menyatu di lengan kiri. Ia pun memindai tiket miliknya—bukan hanya sekali, tapi dua kali.[Final Form: Full Charge – Maximum Drive][Di antara liarnya dunia barat, diriku berburu][Di antara kejamnya kematian, peluruku menari]“Maka biarlah peluru yang dimuntahkan diri ini menari bersamamu menuju kematian!!” seru Billy, bersamaan dengan berpendarnya bagian mata topeng besinya

  • Menulis Ulang Takdir di Tengah Perang Para Pahlawan   #Bab 56: Pesta Kekejian Tanpa Batas

    Graaaa!!!!!“Tidak hanya sifatnya, kini wujudnya juga sama menjijikkannya.”Jeanne hanya bisa menggerutu demi mendapati wujud Si Janggut Biru saat ini. Ia bahkan juga menatap sinis makhluk kolosal berwujud abstrak dengan tentakel di belakangnya. Pun kalau dijadikan taruhan, Si Janggut Biru di dalam wujud kolosalnya mendengar dan keenakan dibuat cemoohan Jeanne.“Apa yang kau lakukan, Jeanne?! Bagaimana bisa kau berpihak kepadanya!?”Seruan Dante kembali mengalihkan tatapan sinis Jeanne terhadap sosok Si Janggut Biru. Iya, gadis berzirah hitam itu masih menahan tinju Dante dengan tongkat benderanya. Meski begitu, terasa betul jika ia tidak senang ditanyai begitu oleh Dante.“Menurutmu saya melakukannya karena ingin?” ujar Jeanne mempertanyakan—cukup membuat Dante menaikkan alis dan bertanya-tanya, “Masa bodohlah. Kau juga berisik. Lenyaplah.”Bwosh!!Api hitam tiba-tiba saja berkobar dari tongkat bendera yang dipegang Jeanne. Pun kobaran itu segera merangsek membakar tangan Dante. Tak s

  • Menulis Ulang Takdir di Tengah Perang Para Pahlawan   #Bab 55: Si Janggut Biru

    Di pedalaman Pulau Dionysus, Kalender Bintang – 12 Maret 2149“Di sini tempatnya ... kalau menurut pelacakan lanjutan Merlin.”Beberapa jam berjalan di antara aura pekat dan bau menyengat yang menyelimuti Pulau Dionysus, Dante dan Marie pun tiba di seluruh kebusukan pulau. Di hadapan keduanya, berdiri sebuah gubuk kayu tua yang tampak tak berpenghuni. Namun pelacakan Merlin tampaknya tepat.Dari gubuk kayu tua di hadapan Dante dan Marie, memancar tak hanya aura pekat, tapi juga Muasal Roh gelap yang benar-benar menyesakkan dada mereka selama beberapa jam terakhir.Marie hanya bisa menelan ludah, “Kalau begitu kita masuk ...?” tanyanya ragu-ragu.Dante pun mau tidak mau mengangguk, “Ayo masuk—“Kriieett ...!!Belum sempat Dante dan Marie melangkahkan kaki menuju gubuk kayu tua di hadapan mereka, pintu gubuk itu berderit. Papan kayu yang membatasi dunia luar dengan bagian dalam gubuk terbuka. Pun dari sana, keluar sosok yang tak asing—tapi dengan aura gelap yang mengintimidasi.Siapa lag

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status