Share

Bab 8

Author: Atonim
Suara Natasha dingin dan tanpa perasaan, matanya tidak menunjukkan emosi apa pun.

"Apa pun yang kamu minta, pasti aku penuhi. Bahkan mati sekalipun." Abian memeluknya erat, benar-benar khawatir dia sakit, dan bahkan menyentuh dahinya.

Natasha melirik ke bawah pada kaki pria itu yang tidak mengenakan sandal, matanya sedikit bergetar.

Mungkin karena cemas mencarinya, Abian bahkan tidak sempat memakai sandal.

Natasha bukannya tersentuh, dia hanya merasa lelah.

Tindakan-tindakan yang tampaknya tanda kasih sayang tulus kini justru menjadi belenggu, mengikatnya erat dan membuatnya sulit bernapas.

"Aku cuma bercanda. Ayo kita masuk."

Abian berdiri dengan sedikit goyah, tapi matanya secara naluriah menatap Natasha. Dia tidak tahu kenapa, hatinya terasa cemas dan gelisah.

Sikap Natasha yang terlalu tenang tidak membuatnya lega.

Padahal, beberapa kali terakhir ini Natasha tampak baik-baik saja.

Dokter mengatakan bahwa istrinya mungkin mengalami depresi pasca melahirkan dan sebaiknya lebih sering diajak keluar rumah. Abian ingin membawanya keluar, tapi Natasha jatuh sakit.

"Sasha, ayo ajak Chika pergi ke kampus kita dulu. Sudah lama kita nggak ke sana."

Natasha mendongak menatapnya dan hanya mengangguk pelan.

Tidak masalah. Kembali ke tempat-tempat yang penuh kenangan bisa menjadi hadiah perpisahan terbaik sebelum kepergiannya.

Malam itu, setelah menidurkan Chika, Natasha turun ke lantai bawah.

Dia mendengar suara mobil di luar dan berjalan ke sana, kemudian mendengar suara Abian.

"Ma, kenapa kamu di sini? Aku sudah bilang, aku mau pulang kalau kamu mau menerima Sasha."

"Aku di sini bukan mau membicarakan Natasha. Kenapa kamu nggak beri tahu aku Giska hamil? Rumah sakit sudah konfirmasi kalau bayinya laki-laki." Ratna tampak sangat puas dengan Giska.

Dia tidak pernah menyukai Natasha. Mengetahui Giska mengandung bayi laki-laki semakin membuatnya tidak suka Natasha.

"Giska anak baik, dia bilang nggak akan ganggu posisi Natasha. Tapi kamu tetap nggak boleh keterlaluan."

"Kamu begadang semalaman merawat wanita itu. Apa kamu lupa Giska paling butuh kamu di masa-masa ini?"

Ratna melontarkan hardikan yang kasar, tapi Abian yang biasanya tak acuh kini terbungkam seribu bahasa.

"Kak Abian, aku bukan mau mengganggu kamu dengan Kak Natasha, tapi bayiku juga merindukan ayahnya. Aku cuma ingin melihatmu sekali." Giska menangis, air matanya jatuh mengundang iba.

Natasha melongok dari balik tirai, berdiri diam dan menyaksikan semua itu, entah kenapa sangat ingin tertawa.

Jadi, seluruh keluarga tahu. Hanya dia yang ditipu dan dipermainkan.

Dia tersenyum sinis.

"Sasha sedang sakit. Pulanglah dulu, nanti aku susul." Abian mendekat, memeluk Giska, dan dengan lembut mengusap perut wanita itu.

"Apa dia seberharga itu? Sudah berapa hari kamu melayaninya? Giska sekarang menantu yang aku akui. Kamu harus merawatnya dengan baik!"

"Mama, aku sudah bilang. Cuma Sasha satu-satunya istriku selamanya." Abian mengatakan ini dengan begitu serius, seolah dia tidak pernah berselingkuh.

Giska mengusap air matanya, terlihat rapuh dan mengundang iba. "Aku nggak bermaksud begitu. Aku cuma mau ditemani sebentar, walaupun cuma beberapa jam."

"Sudah, jangan menangis. Nanti sakit." Abian membantu menyeka air matanya dengan lembut.

Ratna mengamati dari samping, tampak sangat puas.

Bagi Natasha, adegan itu sangat ironis. Orang yang hanya melihat mungkin mengira merekalah keluarga yang sesungguhnya.

Abian merangkul Giska dan berjalan ke sofa. Dia segera melihat Natasha, yang tampaknya baru saja turun dari tangga. Seketika, dia menarik tangannya dan bergegas mendekat, tampak gugup.

"Sasha, kenapa kamu turun?"

Dia sangat cemas, takut Natasha mendengar atau melihat sesuatu.

Tapi Natasha hanya menjawab datar, "Mau ambil minum."

"Ketemu orang tua nggak nyapa sama sekali. Nggak punya sopan santu," sindir Ratna tiba-tiba.

Natasha menatap senyuman menjijikkan di wajah mereka, tidak mampu berkata-kata. Abian menyela lebih dulu. "Sudahlah, Ma. Sasha masih sakit. Kalau nggak ada urusan lain lagi, pulang saja dulu."

"Kamu itu terlalu memanjakannya!" Ratna meradang. "Ada orang memang keterlaluan, nggak punya apa-apa, masih saja nggak tahu diri. Nggak seperti Giska, paling nggak dia punya kemampuan."

Natasha memahami makna di balik kata-kata itu. Tatapannya tertuju pada wajah Giska, melihat ekspresi puas terlintas di mata wanita itu.

"Begitu, ya? Suruh dia jadi menantumu saja kalau begitu."

"Sasha, ngomong apa kamu ini? Seumur hidupku, aku cuma menikahi kamu, nggak mungkin menikahi wanita lain!" kata Abian dengan cemas.

Natasha jelas melihat wajah Giska memucat. Dia sungguh merasa seluruh sandiwara ini hanya buang-buang waktu saja.

Dia mengambil air minum dan naik ke atas.

"Lihat dia! Nggak hormat sama orang tua. Nggak punya etika. Abian, kamu harus cepat ceraikan dia!"

Natasha menaiki tangga satu per satu, menggemakan kata-kata itu dalam pikirannya.

‘Memang, perceraian sudah di depan mata. Akhirnya, keinginannya akan terpenuhi.’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 25

    Natasha membalas senyumnya, matanya pun berkerut.Dibandingkan dengan orang yang bertele-tele, dia lebih suka ketegasan seperti ini."Ya sudah, kalau begitu, mari kita jadi rekan kerja yang baik.""Tapi, aku memang mengagumimu. Kalau ada kesempatan, tolong berikan aku kesempatan itu."Dion berbicara dengan sangat terus terang.Natasha membalas candaan itu. "Kalau ada kesempatan."Setelah makan bersama, Dion mengantar Natasha pulang.Beberapa waktu berikutnya, Natasha belum bisa pergi ke laboratorium.Memang merepotkan, karena dia juga harus mengurus anak. Tidak mungkin dia meninggalkan Chika sendirian di rumah.Dion menyarankan padanya agar mencari pengasuh, dan Natasha juga mempertimbangkannya.Tapi setelah bertemu beberapa calon, tidak ada yang memenuhi standarnya.Belum ada penyelesaian.Kebetulan, Abian tiba-tiba datang.Natasha awalnya sedikit khawatir, tapi Abian menepati janji dan jarang mengganggunya.Abian datang ke sini untuk membahas kerja sama. Kebetulan, dia bisa sekalian

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 24

    Kali ini, Abian benar-benar tidak melakukan tipuan apa-apa.Setelah menyelesaikan proses perceraian, Natasha bebas pergi.Memegang akta cerai, dia bersiap untuk memanggil taksi."Ayo kuantar. Walaupun kita sudah bercerai, kita sudah bersama sekian lama. Nggak mungkin langsung tiba-tiba jadi orang asing, 'kan?""Aku tahu kamu mau pergi besok. Di sana ... jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa makan waktu sibuk kerja."Abian menasihatinya dengan lembut.Natasha mendengarkan dengan penuh perhatian. Perasaan campur aduk perlahan menyebar di hatinya.Dia benar-benar mencintai Abian. Cinta mereka nyata.Tapi, kesalahan ini benar-benar tidak bisa dia maafkan."Kalau kamu nggak bisa ngurus Chika di sana, beri tahu aku. Aku pasti akan datang menjaganya.""Sasha, ini bukan berarti aku melepaskanmu. Dan bukan berarti aku nggak mencintaimu. Aku cuma nggak mau kamu membenciku."Natasha bersandar pada jendela mobil, menatap kendaraan yang berlalu-lalang. Lampu jalan menerangi wajahnya yang dihiasi setet

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 23

    "Giska, kalau kamu wanita lain, mungkin aku nggak akan membencimu."Natasha menatapnya dengan tenang, masih tanpa sedikit pun rasa simpati."Tapi karena itu kamu, aku pernah membantumu, dan kamu bilang aku memberimu harapan untuk terus berjuang.""Kamu memanfaatkan kebaikanku untuk menyakitiku. Aku menerima permintaan maafmu, tapi aku nggak akan memaafkanmu."Giska bersandar di kepala tempat tidur, memaksakan senyuman pahit. "Aku tahu kamu nggak akan memaafkanku.""Aku cuma ... ya sudahlah, tolong terima ini."Dia mengambil kartu dari bawah bantalnya dan memberikannya kepada Natasha."Utangku padamu dulu. Sudah kutambah bunga juga. Jangan ditolak. Ini bukan uang dari Abian. Ini uang yang aku dapatkan sendiri.""Kamu dulu menolongku, tapi aku malah nggak tahu terima kasih. Aku memang nggak pantas mendapatkan kebaikanmu. Mungkin dengan mengembalikan semuanya padamu, beban di hatiku bisa berkurang."Natasha menerima kartu itu. "Kamu tahu aku akan datang?"Giska menggeleng pelan. "Aku cuma

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 22

    Natasha menutup telepon.Dia tidak ingin bermain-main dengan Abian lagi. Waktunya terlalu berharga untuk itu.Setelah ditipu berulang kali, siapa pun akan merasa tidak tahan.Natasha merasa dirinya sudah sangat sabar.Jadwal pesawat tercepat baru besok pagi.Natasha tidak ingin bertemu Abian, apalagi terlibat dengannya lagi, jadi dia memesan kamar hotel.Dia membawa barang-barangnya langsung ke hotel.Keluarga Yanuar memiliki banyak properti. Dia butuh waktu cukup lama untuk mencari satu hotel yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka.Proses check-in berjalan lancar. Satu-satunya kekurangan adalah Chika mengalami demam ringan.Perjalanan bolak-balik yang terus-menerus jelas telah menguras tenaga kecilnya.Natasha merasa sangat bersalah dan membawa anaknya ke rumah sakit terlebih dahulu.Chika masih muda, dan Natasha menyadarinya tepat waktu, jadi yang perlu dia lakukan hanyalah minum obat dan air yang cukup.Natasha duduk menggendong Chika di kursi koridor. Sesosok wanita t

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 21

    Abian keluar langsung dari kantor untuk menemui Natasha.Natasha baru saja selesai makan.Saat membuka pintu dan bergegas masuk, Abian mengambil tangan Natasha dan memeriksanya dengan saksama."Mama nggak menyentuhmu, 'kan?"Natasha menarik tangannya dan berbalik menuju sofa. "Nggak.""Sasha, aku minta maaf. Aku sudah bicara dengannya. Dia nggak akan mengganggumu lagi.""Abian, kamu pasti tahu kenapa dia datang mencariku. Kalau kamu benar-benar peduli padaku, cepat selesaikan perceraiannya."Dalam sekejap.Apartemen menjadi sunyi.Abian menatap Natasha dengan mata merah. Dia sudah tidak asing lagi dengan sikap dinginnya.Tapi sudah lebih dari sebulan. Natasha tidak menunjukkan sedikit pun perasaan padanya.Seolah-olah segala sesuatu yang pernah ada di antara mereka di masa lalu benar-benar lenyap tanpa jejak."Cukup sudah. Bukannya semuanya sudah jelas? Apa lagi yang masih perlu dijelaskan?""Kamu sendiri yang bilang, kita bisa meresmikan proses cerai setelah aku pulang. Aku tahu sekar

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 20

    Natasha sudah mengerti.Dia bersandar ke dinding, merasa ingin tertawa.Meskipun dia tidak melakukan apa-apa, semua orang tetap menyalahkannya.Pernikahan ini memang sangat tragis."Makanya, kamu hubungi saja Abian.""Anakku nggak mau menemuiku lagi! Semua ini karena kamu! Kamu harusnya merasa bersalah!"Ratna awalnya bermaksud meminta maaf, tapi dia merasa tidak senang melihat Natasha tinggal di apartemen putranya dengan nyaman.Suaranya semakin tajam."Pahami baik- baik. Yang membekukan kartu dan uangmu itu Abian, bukan aku."Natasha menatap wajahnya, tatapannya berubah semakin dingin. "Jangan salahkan semuanya padaku. Aku nggak pernah melakukan kesalahan apa pun kepada Keluarga Yanuar.""Sedangkan anakmu, jelas-jelas selingkuh. Kenapa nggak kamu pikir pakai logika?"Mendengar itu, Ratna merasa sedikit bersalah.Tapi dia tidak boleh kehilangan wibawanya. Dia adalah nyonya Keluarga Yanuar."Laki-laki mana yang nggak suka bersenang-senang? Pernikahan itu tentang kompromi satu sama lain

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status