Share

Bab 7

Penulis: Atonim
Setelah hari itu, Natasha sakit parah.

Abian sibuk bolak-balik tanpa henti, tubuhnya tampak semakin kurus dalam beberapa hari. Orang yang tidak tahu mungkin mengira dialah yang sakit.

"Sasha, cepat sembuh."

Dia bergumam pelan di samping Natasha, kepalanya bersandar di bantal. Mungkin karena kelelahan, matanya segera terpejam.

Natasha membuka matanya tanpa ekspresi. Rasa sakit di matanya membuatnya sulit bernapas selama beberapa saat. Dia memutar kepalanya untuk melirik Abian, pikirannya dipenuhi peristiwa hari itu.

Karena takut menangis lagi, dia memalingkan muka, dengan hati-hati mengangkat selimut, lalu bangun dari tempat tidur.

Di taman.

Natasha duduk di ayunan, matanya yang gelap setenang air danau.

Ponselnya tiba-tiba berdering. Dia merasa kesal mendengar bunyi itu. Nomor asing, menelepon tanpa henti. Dia mengepalkan tangannya dan mengangkat telepon itu.

"Aku tahu kamu sudah lihat pesan itu." Suara manja Giska mengalun perlahan.

Natasha mengenang kembali saat pertama kali bertemu Giska. Giska saat itu masih seorang gadis muda yang rendah hati dan percaya diri.

"Kamu pasti penasaran kenapa aku berani telepon langsung begini, ya 'kan? Kak Natasha, kamu sendiri perempuan dan juga seorang ibu. Kamu pasti paham kalau anak nggak boleh dipisahkan dari ayahnya."

"Apalagi, anakku laki-laki."

Natasha berayun perlahan di ayunan. Taman itu dipenuhi bunga-bunga warna-warni, semuanya indah dipandang. Dia menatap dengan tenang. "Giska, aku ingat kamu pernah bilang mau balas budi kepadaku."

Ada jeda di ujung sana, keheningan yang berlangsung beberapa detik.

Natasha tidak peduli apa yang dipikirkannya dan dengan tenang menceritakan kembali apa yang terjadi saat itu.

"Aku masih ingat pertama kali aku bertemu denganmu. Kamu menangis di ruang istirahat. Aku lihat bayangan diriku di masa lalu dalam dirimu, jadi aku membantumu."

"Cukup! Cuma uang 100 juta, nanti kukembalikan!" Giska menggeram, suaranya penuh amarah.

"Situasi keluargamu jauh lebih rumit dari keluargaku. Aku nggak percaya kamu benar-benar polos. Ayahmu kecanduan judi, minum-minum, dan KDRT. Aku nggak percaya kamu bisa menutupi semua tuntutannya dari kerja paruh waktu saja!"

Seakan sisi sensitifnya telah disentuh, Giska perlahan berubah menjadi ganas.

"Nggak usah sok suci. Paling nggak, aku cuma tidur sama Kak Abian. Kamu kerja di bar waktu kuliah, siapa yang tahu kamu sudah tidur sama berapa banyak laki-laki!"

"Kamu tahu nggak apa kata Kak Abian? Dia bilang kamu kurang rapat. Dia curiga kamu sudah terlalu sering tidur dengan banyak orang. Nggak seenak aku!"

Hati Natasha yang sudah mati rasa kembali merasa ditikam berulang kali.

Genggamannya pada pegangan ayunan semakin erat, ujung jarinya memutih. Dia tidak menyangka Abian akan mengucapkan kata-kata yang begitu menjijikkan untuk didengar.

Tapi, setelah rasa sakit di awal, rasanya memang wajar. Bukankah semua pria yang selingkuh memang seperti itu?

"Terus kenapa?" Natasha memaksa dirinya tetap tenang.

"Kamu jauh lebih tenang dari yang kubayangkan, Kak Natasha. Aku bukan mau merebutnya darimu. Aku cuma minta waktu bersama Kak Abian beberapa hari. Cuma beberapa hari."

Suara Giska terdengar memohon, seolah-olah tidak punya pilihan lain.

Natasha mendengarnya melanjutkan, "Karena merawatmu, dia bahkan nggak balas pesan-pesanku sekarang. Aku nggak bisa hidup tanpa dia. Kak Natasha, aku mohon. Aku bersedia sembunyi selamanya, nggak akan ganggu kalian berdua."

"Kamu boleh benci aku, tapi tolong jangan benci anakku. Dia butuh ayahnya."

Natasha akhirnya tak tahan lagi. Dia memegang dadanya dan muntah-muntah.

Jijik. Sangat jijik.

"Yang satu selingkuh tapi mengaku setia, yang lain sadar diri sebagai selingkuhan tapi menuntut dimaafkan. Kalian berdua pasangan yang sempurna, sama-sama bajingan." Dengan itu, Natasha menutup telepon.

Dia bersandar pada ayunan, wajahnya pucat pasi.

Setelah berhari-hari merasakan perih dan mati rasa, Natasha mengira dia tidak akan pernah menangis lagi, atau merasakan terluka lagi. Tapi ketika memikirkan senyum Chika, dia masih merasa putus asa dan ingin menangis.

Anaknya masih sangat kecil. Kenapa dia harus menanggung kenyataan ini sejak lahir?

"Sasha! Kenapa kamu keluar? Kamu masih sakit. Kalau kamu tambah sakit, nanti gimana?"

Abian bergegas menghampiri Natasha dengan panik, memeriksanya dengan cermat, melihat matanya yang merah, lalu setengah berlutut untuk memeluknya.

"Dokter bilang kamu sedang bad mood akhir-akhir ini, mungkin karena baby blues. Kalau ada sesuatu yang membuatmu sedih, Sasha, kamu harus beri tahu aku."

"Kalau aku mau kamu mati?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 25

    Natasha membalas senyumnya, matanya pun berkerut.Dibandingkan dengan orang yang bertele-tele, dia lebih suka ketegasan seperti ini."Ya sudah, kalau begitu, mari kita jadi rekan kerja yang baik.""Tapi, aku memang mengagumimu. Kalau ada kesempatan, tolong berikan aku kesempatan itu."Dion berbicara dengan sangat terus terang.Natasha membalas candaan itu. "Kalau ada kesempatan."Setelah makan bersama, Dion mengantar Natasha pulang.Beberapa waktu berikutnya, Natasha belum bisa pergi ke laboratorium.Memang merepotkan, karena dia juga harus mengurus anak. Tidak mungkin dia meninggalkan Chika sendirian di rumah.Dion menyarankan padanya agar mencari pengasuh, dan Natasha juga mempertimbangkannya.Tapi setelah bertemu beberapa calon, tidak ada yang memenuhi standarnya.Belum ada penyelesaian.Kebetulan, Abian tiba-tiba datang.Natasha awalnya sedikit khawatir, tapi Abian menepati janji dan jarang mengganggunya.Abian datang ke sini untuk membahas kerja sama. Kebetulan, dia bisa sekalian

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 24

    Kali ini, Abian benar-benar tidak melakukan tipuan apa-apa.Setelah menyelesaikan proses perceraian, Natasha bebas pergi.Memegang akta cerai, dia bersiap untuk memanggil taksi."Ayo kuantar. Walaupun kita sudah bercerai, kita sudah bersama sekian lama. Nggak mungkin langsung tiba-tiba jadi orang asing, 'kan?""Aku tahu kamu mau pergi besok. Di sana ... jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa makan waktu sibuk kerja."Abian menasihatinya dengan lembut.Natasha mendengarkan dengan penuh perhatian. Perasaan campur aduk perlahan menyebar di hatinya.Dia benar-benar mencintai Abian. Cinta mereka nyata.Tapi, kesalahan ini benar-benar tidak bisa dia maafkan."Kalau kamu nggak bisa ngurus Chika di sana, beri tahu aku. Aku pasti akan datang menjaganya.""Sasha, ini bukan berarti aku melepaskanmu. Dan bukan berarti aku nggak mencintaimu. Aku cuma nggak mau kamu membenciku."Natasha bersandar pada jendela mobil, menatap kendaraan yang berlalu-lalang. Lampu jalan menerangi wajahnya yang dihiasi setet

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 23

    "Giska, kalau kamu wanita lain, mungkin aku nggak akan membencimu."Natasha menatapnya dengan tenang, masih tanpa sedikit pun rasa simpati."Tapi karena itu kamu, aku pernah membantumu, dan kamu bilang aku memberimu harapan untuk terus berjuang.""Kamu memanfaatkan kebaikanku untuk menyakitiku. Aku menerima permintaan maafmu, tapi aku nggak akan memaafkanmu."Giska bersandar di kepala tempat tidur, memaksakan senyuman pahit. "Aku tahu kamu nggak akan memaafkanku.""Aku cuma ... ya sudahlah, tolong terima ini."Dia mengambil kartu dari bawah bantalnya dan memberikannya kepada Natasha."Utangku padamu dulu. Sudah kutambah bunga juga. Jangan ditolak. Ini bukan uang dari Abian. Ini uang yang aku dapatkan sendiri.""Kamu dulu menolongku, tapi aku malah nggak tahu terima kasih. Aku memang nggak pantas mendapatkan kebaikanmu. Mungkin dengan mengembalikan semuanya padamu, beban di hatiku bisa berkurang."Natasha menerima kartu itu. "Kamu tahu aku akan datang?"Giska menggeleng pelan. "Aku cuma

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 22

    Natasha menutup telepon.Dia tidak ingin bermain-main dengan Abian lagi. Waktunya terlalu berharga untuk itu.Setelah ditipu berulang kali, siapa pun akan merasa tidak tahan.Natasha merasa dirinya sudah sangat sabar.Jadwal pesawat tercepat baru besok pagi.Natasha tidak ingin bertemu Abian, apalagi terlibat dengannya lagi, jadi dia memesan kamar hotel.Dia membawa barang-barangnya langsung ke hotel.Keluarga Yanuar memiliki banyak properti. Dia butuh waktu cukup lama untuk mencari satu hotel yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka.Proses check-in berjalan lancar. Satu-satunya kekurangan adalah Chika mengalami demam ringan.Perjalanan bolak-balik yang terus-menerus jelas telah menguras tenaga kecilnya.Natasha merasa sangat bersalah dan membawa anaknya ke rumah sakit terlebih dahulu.Chika masih muda, dan Natasha menyadarinya tepat waktu, jadi yang perlu dia lakukan hanyalah minum obat dan air yang cukup.Natasha duduk menggendong Chika di kursi koridor. Sesosok wanita t

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 21

    Abian keluar langsung dari kantor untuk menemui Natasha.Natasha baru saja selesai makan.Saat membuka pintu dan bergegas masuk, Abian mengambil tangan Natasha dan memeriksanya dengan saksama."Mama nggak menyentuhmu, 'kan?"Natasha menarik tangannya dan berbalik menuju sofa. "Nggak.""Sasha, aku minta maaf. Aku sudah bicara dengannya. Dia nggak akan mengganggumu lagi.""Abian, kamu pasti tahu kenapa dia datang mencariku. Kalau kamu benar-benar peduli padaku, cepat selesaikan perceraiannya."Dalam sekejap.Apartemen menjadi sunyi.Abian menatap Natasha dengan mata merah. Dia sudah tidak asing lagi dengan sikap dinginnya.Tapi sudah lebih dari sebulan. Natasha tidak menunjukkan sedikit pun perasaan padanya.Seolah-olah segala sesuatu yang pernah ada di antara mereka di masa lalu benar-benar lenyap tanpa jejak."Cukup sudah. Bukannya semuanya sudah jelas? Apa lagi yang masih perlu dijelaskan?""Kamu sendiri yang bilang, kita bisa meresmikan proses cerai setelah aku pulang. Aku tahu sekar

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 20

    Natasha sudah mengerti.Dia bersandar ke dinding, merasa ingin tertawa.Meskipun dia tidak melakukan apa-apa, semua orang tetap menyalahkannya.Pernikahan ini memang sangat tragis."Makanya, kamu hubungi saja Abian.""Anakku nggak mau menemuiku lagi! Semua ini karena kamu! Kamu harusnya merasa bersalah!"Ratna awalnya bermaksud meminta maaf, tapi dia merasa tidak senang melihat Natasha tinggal di apartemen putranya dengan nyaman.Suaranya semakin tajam."Pahami baik- baik. Yang membekukan kartu dan uangmu itu Abian, bukan aku."Natasha menatap wajahnya, tatapannya berubah semakin dingin. "Jangan salahkan semuanya padaku. Aku nggak pernah melakukan kesalahan apa pun kepada Keluarga Yanuar.""Sedangkan anakmu, jelas-jelas selingkuh. Kenapa nggak kamu pikir pakai logika?"Mendengar itu, Ratna merasa sedikit bersalah.Tapi dia tidak boleh kehilangan wibawanya. Dia adalah nyonya Keluarga Yanuar."Laki-laki mana yang nggak suka bersenang-senang? Pernikahan itu tentang kompromi satu sama lain

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status