Share

Bab 2

Author: Makaira
last update publish date: 2026-10-28 09:23:30

Bau antiseptik yang pekat langsung menyengat indra penciuman Liora, disusul bunyi bip yang stabil dan monoton dari mesin medis, perlahan mengusik kesadaran yang sempat padam.

Siapa yang sedang memanggilku?

Bibir Liora bergerak hendak bersuara, namun tenggorokannya terasa sekering gurun, tak ada satu pun kata yang berhasil lolos.

Kelopak mata Liora terasa teramat berat, seolah sengaja dikunci dari dalam. Dalam kepasrahan itu, jemari tangannya merasakan sebuah remasan kecil dan hangat, namun bergetar.

Tak lama, punggung tangan Liora mendadak dibasahi oleh titik-titik air yang jatuh satu demi satu.

"Liora bangun... kumohon."

Suara siapa ini? Rain? Bukankah dia sedang berada di luar negeri? Dan... apa dia sedang menangis?

Guncangan kecil yang menyusul di tubuh Liora mendadak memicu rasa sakit yang luar biasa, menjalar hebat ke sekujur tubuh. Rasa nyeri itu memaksa kedua kelopak mata Liora terbuka perlahan.

Hal pertama yang tertangkap oleh kornea mata Liora adalah hamparan plafon putih bersih, diiringi kepungan bau obat yang semakin menusuk.

"Lio... ra..."

Wajah Rain mendadak muncul di jarak pandang Liora, menghalangi silau lampu plafon yang terasa terlalu menusuk mata. Terlihat jelas gurat lelah dan kecemasan yang mendalam di wajahnya.

"Oh, syukurlah..." Suara Rain bergetar penuh kelegaan yang teramat sangat. "Dokter... dokter akan segera memeriksamu," tambahnya terburu-buru seraya menekan tombol darurat di samping ranjang.

"Rain?" Bisikan Liora itu lolos begitu serak dan parau dari tenggorokannya.

"Apa? Mana yang sakit?" cecar Rain cepat, mencondongkan tubuhnya dengan sorot mata yang panik.

"Ini... di mana?"

"Rumah sakit," jawab Rain pelan, mencoba melembutkan nada suaranya yang biasanya kaku. "Dokter akan datang memantau kondisimu sebentar lagi."

Saat Rain hendak berbalik untuk memberi ruang, jemari tangan Liora yang masih terkulai lemas bergerak lambat, mencengkeram ujung kemejanya dengan sisa tenaga yang ada.

"Mana orang tuaku? Seingatku... kami sedang liburan dan..."

Langkah Rain terhenti. Ia berbalik, mendekat ke arah ranjang lalu mendaratkan telapak tangannya di atas kepalanya.

Ia mengelus rambut Liora dengan kelembutan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Kita akan bicara nanti. Saat ini, biarkan dokter memeriksa keadaanmu dulu."

Kedua mata Liora seketika mendadak panas dan berair. Sebuah firasat buruk yang mengerikan mendadak menyembul di dasar hati, mencabik-cabik ketenangannya.

"Mereka... mereka tidak apa-apa, kan?"

Rain membisu. Tidak ada jawaban verbal yang keluar dari belah bibirnya. Hanya jemarinya yang terus bergerak konstan, mengelus lembut rambut hitam Liora yang tebal dengan tatapan yang mendadak meredup kosong.

"Rain... jawab aku!" tuntut Liora dengan sisa tenaga, air mata mulai menetes di pelipis.

"Aku janji... aku akan menjagamu."

Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Rain sebelum pintu kamar rawat terbuka kasar. Rombongan dokter dan suster berhambur masuk, perlahan mendesak tubuh Rain untuk mundur ke samping ranjang.

Namun, sebelum tubuhnya menjauh, Liora sempat menangkap mimik wajahnya yang membeku. Sebuah gurat rasa bersalah yang amat dalam terpahat di sana.

Di detik itulah, dunia Liora Winter runtuh sepenuhnya, berubah menjadi Nyonya Frost.

******

"Nyonya Liora..." Panggilan lembut itu beradu dengan suara derit tirai yang digeser.

Seketika, kilauan sinar matahari pagi menerobos masuk, mengusir paksa kegelapan yang tadinya menyelimuti kamar.

"Nyonya," sapa suara familier itu lagi, mencoba mengusik indra pendengaran Liora yang masih enggan terjaga.

"Ini sudah siang. Tuan sudah menunggu Anda di bawah untuk sarapan."

Dengan helaan napas kesal karena cahaya terang mendadak menusuk kelopak matanya, Liora akhirnya menyerah. Ia membuka mata dan langsung disambut senyuman hangat dari asisten rumah tangganya.

"Tuan Rain sengaja menunggu Anda di ruang makan. Beliau sendiri yang menyiapkan sarapan untuk Nyonya," tambah sang ART sebelum berbalik menuju kamar mandi untuk menyiapkan keperluan pagi majikannya.

Liora perlahan menegakkan tubuh, lalu terduduk di tepi ranjang. Detik berikutnya, ia tertegun. Matanya menatap hamparan seprai di sebelahnya; ia terbangun di sisi tempat tidur suaminya.

Seketika, memori semalam berputar otomatis tanpa bisa dicegah. Hujan yang deras. Petir yang menggelegar. Dan... pelukan hangat itu.

Rain yang keras kepala tiba-tiba menurunkan ego, menawarkan dadanya sebagai tameng dari rasa takut Liora. Dan lebih dari itu...

Jemari Liora yang lentik dengan kuku panjang yang terawat bergerak pelan, menyentuh bibir bawahnya sendiri. Ada rasa sedikit bengkak dan sensasi yang tertinggal di sana. Apa semalam...

Tok! Tok!

"Sudah bangun?"

Suara kaku bernada datar yang teramat menyebalkan itu seketika membuyarkan seluruh lamunan Liora.

"Kenapa?" Rain berdiri kokoh sambil bersandar pada kusen pintu, melipat tangan di dada sembari menghujamkan tatapan lekat ke wajah sang istri.

"Memimpikan orang tuamu lagi?"

Liora melirik Rain sekilas, lalu membuang muka dan menggeleng kecil.

"Bukan," jawabnya, menyembunyikan kebimbangan yang mendadak menyerang hatinya.

"Kamu yakin?" selidik Rain, tidak percaya begitu saja.

Sepasang matanya yang tajam bergerak dinamis, menari mengikuti ke mana pun arah langkah kaki istrinya yang mulai beranjak dari tempat tidur.

"Hm," sahut Liora dingin tanpa menatap suaminya. "Aku akan siap dalam tiga puluh menit," tambahnya ketus saat berhasil menyeret langkahnya menuju kamar mandi.

"Santai saja. Biarkan saja klien berhargamu itu menunggu sampai jamur tumbuh di kepalanya," sindir Rain sinis, menekankan kata 'klien' dengan nada cemburu yang gagal disembunyikan.

Brak!

Pintu kamar mandi dihentak kuat dari dalam hingga tertutup rapat, menimbulkan suara dentuman yang sukses membuat sang ART tersentak dan Rain sedikit terkesiap.

"Jelas-jelas ada sesuatu yang disembunyikan," gumam Rain pelan, menatap pintu yang baru saja tertutup dengan rahang mengeras.

Ia menoleh ke arah ART yang baru keluar dari bilik pakaian. "Bi, Liora tadi menangis saat bangun?"

ART-nya buru-buru menggeleng sopan. "Tidak, Tuan. Nyonya baik-baik saja dan bangun seperti biasanya. Mungkin Nyonya hanya sedang kelelahan saja."

Rain hanya mengangguk samar sebagai respons. Namun, sepasang matanya tetap terpaku, memelototi daun pintu kamar mandi yang tertutup rapat seolah ingin menembus apa yang sedang dilakukan sang istri di dalam sana.

***

Mobil bernilai ratusan miliar dengan cat hitam mengkilat itu berhenti mulus di depan pelataran sebuah restoran mewah. Dari balik kaca jendela kursi penumpang, Liora mengintip ke dalam.

Sudut bibirnya tanpa sadar mengulum senyum tipis saat menangkap sosok pria yang akan ditemuinya sedang duduk tenang menyeruput kopi di dekat jendela.

Jemarinya langsung bergerak menarik tuas pembuka pintu, namun benda logam itu sama sekali tak bergeming. Terkunci rapat.

"Buka," perintah Liora, menoleh dengan tatapan menuntut.

"Kita akan—"

"Jangan kekanakan, Pak CEO," potong Liora ketus, menghadiahi suaminya tatapan tajam. "Pertemuan ini juga demi keuntungan perusahaanmu, kan? Jade sudah cukup sabar menunggu."

"Telat tiga puluh menit itu hal wajar dalam bisnis. Itu memperlihatkan siapa yang memegang kendali dan berkuasa," sahut Rain datar, enggan mengaku bahwa egonya sedang terbakar.

"Di sini aku hanya bawahanmu."

"Tapi kamu istriku." Rain membalas tanpa jeda, dingin dan mutlak.

"Kita sedang berada di dalam lingkaran kerja, bukan urusan pribadi."

"Kerja atau pribadi, cincin itu tetap melingkar di jarimu." Rain menatapnya lekat, mengunci pergerakan Liora.

"Buka pintunya!" sentak Liora, suaranya naik satu oktav.

Atmosfer di dalam kabin mobil mendadak terasa begitu pekat dan menyesak, seolah oksigen habis dikuras oleh ketegangan mereka.

Tepat saat tatapan intens keduanya saling berbenturan, deringan telepon genggam Rain memutus keheningan dengan nyaring.

Liora melirik layar ponsel suaminya, lalu mendengus cemooh.

"Sekretarismu menelepon. Mungkin dia butuh saran hebatmu, Pak CEO Frost."

Memanfaatkan kelengahan Rain yang teralih oleh ponsel, jemari Liora bergerak secepat kilat menekan tombol unlock di panel pintu. Dalam sekejap mata, ia menarik tuas dan mendorong pintu hingga terbuka.

Langkah kakinya lebar dan tegas, seolah berlari kecil menjauhi mobil, bergegas menuju tempat di mana Jade sudah menantinya.

Di dalam mobil, rahang Rain mengeras. Tatapannya menembus kaca depan, menguliti punggung sang istri yang kian menjauh.

"Senyummu terlalu manis hanya untuk menemui seorang klien, My-Lio," bisik Rain parau, sebuah geraman rendah yang sarat akan kepedihan dan kecemburuan.

Matanya terus mengawasi setiap pergerakan Liora di balik bingkai kacamata peraknya. Rain menghiraukan dering telepon yang terus memanggil berkali-kali tanpa henti.

Emosi pekat menguasai udara kabin, membakar kewarasannya. Namun, tepat saat Liora memutar tubuh dan menoleh ke arah jendela restoran tempat mobilnya terparkir, Rain langsung menginjak pedal gas dalam-dalam dan melesat pergi meninggalkan tempat itu sebelum istrinya sempat menangkap basah sorot matanya yang hancur.

​

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 7

    "Kamu aneh! Biasanya paling malas repot-repot ke butik cuma buat beli baju. Apa yang kamu pikirkan sekarang, hah? Apa yang kamu rencanakan?" cecar Liora begitu mobil sedan mewah Rain terparkir sempurna di depan butik kelas atas itu."Bukan aku. Ini Mamah yang nyuruh," sanggah Rain santai. "Nih, telepon sendiri kalau gak percaya."Rain menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah sang istri. Tatapan Liora masih menyelidik tajam, mencoba membaca situasi. Namun, benteng ekspresi di wajah suaminya terlalu kokoh untuk ditembus."Selesaikan dengan cepat," ketus Liora. Ia menarik tuas pintu mobil, lalu keluar dengan helaan napas kesal yang kentara.Rain hanya tersenyum tipis, bersyukur Liora tidak memperpanjang kecurigaannya. Di kantor tadi ia sempat cemas rencana ini akan berantakan karena tidak didukung sang Mamah. Untunglah, sebuah pesan masuk mendadak mengirimkan alamat butik ini."Bersiaplah dengan serangan romantisku, My-Lio," gumam Rain seraya melangkah menyusul istrinya.Begitu m

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 6

    "Mah," sapa Rain dengan wajah kusut. Kontras sekali dengan setelan kemeja necis yang melekat di tubuhnya."Liora mana?" tanyanya langsung saat mendapati sisi ranjangnya kosong pagi ini.Esther yang sedang menikmati teh di meja makan menengadah. Alisnya bertaut heran. "Dia istrimu, kenapa tanya Mamah?" selorohnya. "Kamu apakan dia semalam sampai istrimu kabur, hm?"Rain menghela napas berat, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi di seberang sang mamah. "Ini semua gara-gara ide gila Mamah.""Oh, sekarang Mamah yang disalahkan?""Memang salah Mamah! Coba kalau Mamah enggak bisik-bisik ide mengenai kehadiran anak.""Anak? Cucu menantuku hamil?!" sebuah suara serak memotong perdebatan.Raver berjalan mendekat, bertumpu pada tongkat kayunya. Langkah sang kakek tampak tergesa. "Kenapa kalian merahasiakan kabar bahagia ini?""Tahu, ah! Tanya saja sama Mamah," gerutu Rain. Ia bangkit berdiri dan melengos pergi begitu saja.Esther menahan lengan pria tua itu saat melihat tongkatnya sudah mengacu

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 5

    Langkah kaki Rain berhenti tepat di depan daun pintu jati kamar mereka. Jemarinya sudah mencengkeram kenop pintu yang dingin, namun ia tak segera menekannya.Di dalam keheningan lorong rumah orang tuanya, kata-kata ibunya kembali berdengung, menghantam dadanya tanpa ampun. Buatlah seorang anak.Rain memejamkan mata erat-erat. Rahangnya mengeras saat bayangan Liora yang tersenyum manis pada Jade siang tadi mendadak melintas tanpa izin di benaknya. Rasa cemburu yang sedari tadi ia kekang di balik sikap diktatornya kini mendadak bergolak menjadi letupan posesif yang membakar kewarasan.Lima tahun ini, Rain tahu ia telah gagal. Ia mengira dengan memberikan perlindungan hukum, harta yang melimpah, dan menyembunyikan kerapuhannya di balik topeng sedingin es, ia bisa menjaga Liora dengan aman setelah tragedi kecelakaan yang merenggut orang tua wanita itu. Namun, ia salah. Jarak di antara mereka justru semakin membentang lebar bagai jurang yang tak berdasar.Apakah di hatimu benar-benar su

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 4

    "Senyum," desak Rain setengah berbisik saat langkah kaki mereka mulai memasuki area ruang tengah rumah orang tuanya yang megah bak istana.Liora mendengus tipis, melirik suaminya dari sudut mata. "Kenapa? Kamu takut aktingku akan membongkar kenyataan bahwa pernikahan kita..."Rain enggan meladeni rentetan kalimat kemarahan istrinya. Sebagai jawaban, jemari kokohnya justru bergerak kilat, menyergap pinggang ramping Liora lalu menyentaknya kuat hingga tubuh wanita itu merapat tanpa jarak ke dadanya.Langkah kaki Liora yang limbung akibat hentakan mendadak itu terpaksa membuatnya melemparkan kedua lengan untuk merangkul pundak tegap sang suami. Di jarak sekat ini, sepasang mata mereka saling mengunci pergerakan masing-masing. Deru napas yang saling beradu, debar jantung yang mendadak bertalu kencang seperti ketukan gendang, serta kepungan aroma maskulin parfum dari balik dekapan otot dada yang kekar seketika menguapkan setengah kewarasan Liora."Kemarahan juga merupakan bumbu dalam sebu

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 3

    "Jade," sapa Liora, melangkah mendekat. "Maaf aku terlambat.""It's okay," sahut Jade hangat. Tangannya bergerak sigap menarik kursi di hadapannya, mempersilakan Liora duduk. "Mau pesan apa?"Liora menggeleng pelan. "Aku sudah makan."Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis. Bayangan perlakuan suaminya tadi pagi mendadak melintas. Setumpuk sarapan yang disiapkan khusus untuknya. Potongan buah yang dikupas rapi, secangkir air putih hangat, segelas jus jeruk, dan telur rebus. Entah apa yang sedang merasuki Rain, karena ini pertama kalinya pria itu bertingkah demikian setelah hampir tiga tahun selalu mengacuhkannya."Apa yang dilakukan suamimu, hm?" tanya Jade, menangkap gelagat aneh itu."Hanya menyiapkan sarapan," kilah Liora cepat.Jade melipat kedua tangan di dada, melemparkan tatapan penuh selidik. "Hanya sarapan, tapi wajahmu berseri-seri bagai ABG yang sedang kasmaran."Liora memberengut, matanya menyipit ketus. "Apa salahnya?""Tidak ada. Lalu..." Jade mencondongkan tubuhn

  • My Husband's Sweet Trap   Bab 2

    Bau antiseptik yang pekat langsung menyengat indra penciuman Liora, disusul bunyi bip yang stabil dan monoton dari mesin medis, perlahan mengusik kesadaran yang sempat padam.Siapa yang sedang memanggilku?Bibir Liora bergerak hendak bersuara, namun tenggorokannya terasa sekering gurun, tak ada satu pun kata yang berhasil lolos. Kelopak mata Liora terasa teramat berat, seolah sengaja dikunci dari dalam. Dalam kepasrahan itu, jemari tangannya merasakan sebuah remasan kecil dan hangat, namun bergetar. Tak lama, punggung tangan Liora mendadak dibasahi oleh titik-titik air yang jatuh satu demi satu."Liora bangun... kumohon."Suara siapa ini? Rain? Bukankah dia sedang berada di luar negeri? Dan... apa dia sedang menangis?Guncangan kecil yang menyusul di tubuh Liora mendadak memicu rasa sakit yang luar biasa, menjalar hebat ke sekujur tubuh. Rasa nyeri itu memaksa kedua kelopak mata Liora terbuka perlahan. Hal pertama yang tertangkap oleh kornea mata Liora adalah hamparan plafon putih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status