Mag-log inObsesi Audrey Dianne pada mantan tunangannya semakin menjadi-jadi ketika gadis itu mengalami hal misterius yang membawanya kembali ke masa lalu setelah ia mengakhiri hidupnya. Kehidupan lama yang penuh dengan hinaan karena paras buruknya, ketidakberuntungan, dan menjadi korban perselingkuhan, berganti menjadi hidup yang lebih manis karena 'sebuah sihir' yang mengubahnya. Kini, Audrey bertekad untuk mewujudkan pernikahannya yang sempat gagal dan menjalani hidup sesuai keinginannya. Apapun akan ia lakukan. Akankah semua dapat terwujud? Misteri apa yang membawa Audrey kembali ke masa lalu? Genre : Romance, Psychological Thriller
view more"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat.
Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tubuh gadis itu menempel lebih erat tanpa celah. Gerakan Sasa yang malu-malu dan ragu justru menjadi pemicu yang membakar kendali diri Javendra. "Lebih cepat, Sasa," perintah Javendra dengan napas yang memburu di telinga gadis itu. Sasa tersentak, ia mencoba mempercepat gerakannya meski tangisnya semakin pecah. Dada polosnya bergesekan lebih kasar dengan kulit Javendra, menciptakan sensasi panas yang membuat kepalanya pening. Javendra mengerang keras, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan kelembutan Sasa yang benar-benar membuatnya gila. Pria itu kehilangan sedikit kendalinya. Tangannya tidak lagi hanya diam di pinggang, tapi mulai menjalar ke punggung Sasa, menekan tubuh gadis itu seolah ingin menyatukan kulit mereka sepenuhnya. Javendra benar-benar terpancing oleh bagaimana Sasa mencoba patuh meski tubuhnya gemetar hebat. "Sial, kamu benar-benar membuat aku gila," gumam Javendra serak. Beberapa hari sebelum kejadian itu, saat hari dimana Sasa diterima sebagai pelayan pribadi di rumah itu. Sasmaya berdiri di depan pintu rumah besar itu dengan jantung berdegup kencang. Tangan kirinya memegang tali tas, tangan kanannya menggenggam map lamaran yang sudah agak lembab karena keringat. "Ini kesempatan bagus," katanya berulang dalam hati. "Gajinya lumayan, bisa kirim ke ibu tiap bulan, dan aku nggak perlu lagi bantu-bantu warung tetangga." Tapi harapan itu bercampur takut. Kalau ditolak lagi, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ruang tamu terasa terlalu luas dan dingin. Dua kandidat lain sudah duduk. Sasa memilih kursi paling ujung, duduk dengan punggung tegak tapi lututnya gemetar sedikit. Ia berusaha mengatur napas. Tenang, Sasa. Jawab saja pertanyaan dengan baik. Jangan banyak bicara. Tak lama kemudian, Javendra Prakasa masuk. Pria itu berjalan dengan langkah mantap, wajahnya datar dan dingin. Rumor yang beredar pria itu sangat arogan, tidak suka dibantah, pemilik kepribadian dingin yang mencekam. Pria 34 tahun yang masih lajang, meskipun begitu, pesonanya membuat setiap orang yang melihat menahan napas. Javendra duduk di kursi utama. Tatapannya menyapu ketiga orang di depannya. Saat mata itu mampir ke arah Sasa, gadis itu merasa ada yang aneh. Pandangannya agak lama, lalu Javendra cepat mengalihkan mata. Sasa menelan ludah. Apa aku salah kostum? Batinnya. Rok hitam dan kemeja putihnya sudah paling rapi yang dia punya. "Perkenalkan diri kalian," kata Javendra dengan suara rendah. Kandidat pertama dan kedua bicara duluan. Mereka punya pengalaman bertahun-tahun dan banyak sertifikat. Sasa merasa semakin gugup. Mereka jauh lebih berpengalaman. Kenapa aku nekat datang ke sini? Batin Sasa lagi. Gilirannya tiba. Sasa berdiri, tangannya saling meremas di depan perut. "Nama saya Sasmaya Larasati, Tuan. Biasa dipanggil Sasa. Umur 21 tahun. Lulus SMA. Saya nggak kuliah karena biaya nggak memungkinkan. Tapi saya rajin, teliti, dan mau belajar apa saja yang diperlukan. Saya sangat butuh pekerjaan ini." Suara Sasa pelan tapi ia berusaha supaya jelas. Setelah selesai, ia duduk kembali sambil menahan napas. Tolong terima aku. Tolong. Sasa terus memohon dalam hati. Javendra diam sebentar. Lalu ia berkata, "Kalian berdua boleh pulang. Terima kasih." Dua kandidat lain keluar dengan wajah kecewa. Sekarang hanya Sasa yang tersisa di ruangan bersama Javendra. Jantung Sasa berdegup semakin keras. Ia menunduk, tak berani menatap langsung. "Kamu diterima," kata Javendra datar. "Saya diterima, Tuan?" Sasa seolah tidak percaya. Tapi dia luar biasa bersyukur atas hal itu. "Ya, tapi ada syaratnya." "Syarat apa, Tuan? Saya akan lakukan segalanya demi pekerjaaan ini, Tuan." "Benarkah?" Sasa mengangguk cepat. Sasa mengangkat wajahnya lagi, pelan. Javendra menatapnya lurus. "Panggil saya Tuan Javen. Kamu hanya melayani saya. Jangan pernah berbohong dan jangan coba mendekat lebih dari batas. Mengerti?" "Ya, Tuan Javen. Saya mengerti," jawab Sasa cepat. Suaranya hampir hilang di tenggorokan. "Apa ada syarat lain, Tuan?" Javen menatap Sasa sekilas lalu mengalihkan pandangan. "Nanti aku pikirkan, saat ini cukup. Kamu boleh pulang." Sasa mengangguk. "Terima kasih, Tuan, saya akan bekerja sebaik mungkin untuk keluarga ini." "Apa?" Javen menatap Sasa tajam. Sasa meneguk ludah, apa dia salah bicara, batinnya. "Kamu tidak bekerja untuk keluarga ini. Kamu bekerja untuk aku. Hanya aku, Javendra." Sasa mengangguk paham. "Baik, maafkan saya Tuan Javen." "Mulai besok pagi kamu sudah tinggal di sini." "Baik, Tuan." ** Sasa keluar dari rumah itu dengan kaki yang terasa ringan sekaligus berat. Senang karena akhirnya diterima, tapi ada rasa was-was yang tidak bisa dijelaskan. Tuan Javen terasa berbeda dari yang dibayangkannya. Dingin, tapi tatapannya tadi, entah kenapa membuatnya gelisah. Malam itu, Sasa packing barang sedikitnya sambil berpikir. "Ini cuma pekerjaan. Aku harus profesional. Jaga jarak, kerja keras, dan semuanya akan baik-baik saja. Sasa kamu nggak boleh bikin masalah." ** Keesokan paginya, Sasa sudah berdiri di kamar pelayan pribadi yang disiapkan untuknya. Seragam hitam-putih yang diberikan kepala pelayan terasa kaku dan terlalu ketat di bagian dada. Ia menarik-narik sedikit kain di depan bajunya, tapi tetap saja tidak nyaman. "Kenapa sih baju apa pun selalu begini?" batinnya kesal. Ukuran dadanya memang selalu jadi masalah. Baju longgar jadi kelihatan konyol, baju pas malah seperti ini. Ia menghela napas panjang sambil mencoba berdiri lebih tegak. Baru saja ia merapikan rambutnya yang diikat rapi, pintu ruangan terbuka. Javendra masuk dengan langkah biasa. Sasa langsung membungkuk hormat. "Selamat pagi, Tuan Javen," sapanya sopan, suara masih agak gugup. Javendra berhenti di depannya. Matanya menelusuri Sasa dari bawah ke atas. Saat pandangannya sampai di dada Sasa yang tertutup seragam ketat itu, pria itu tersentak kecil. Wajahnya tetap datar, tapi Sasa sempat melihat perubahan di matanya. Sasa merasa panas di wajah. Ia langsung menunduk dan menarik seragamnya lagi dengan tangan kanan. "Maafkan saya, Tuan Javen. Bajunya agak sempit," katanya pelan, malu sekali. Javendra tidak langsung jawab. Ia meneguk ludah, lalu berdeham pelan sebelum bicara. "Kenapa tidak bilang dari awal?" suaranya rendah. Sasa menggigit bibir bawah. "Saya baru pakai tadi pagi, Tuan. Takut merepotkan. Nanti saya minta ganti yang lebih pas saja." Javendra diam sebentar. Tatapannya masih belum lepas sepenuhnya dari tubuh Sasa. "Tidak perlu. Biar nanti saya yang suruh kepala pelayan mengganti ukurannya." "Terima kasih, Tuan," jawab Sasa cepat, masih menunduk. Udara di ruangan terasa berat. Sasa merasa jantungnya kembali berdegup tidak karuan. Ia berusaha mengingatkan diri sendiri. Tapi saat ia melirik sekilas ke atas, Javendra masih berdiri di sana, menatapnya dengan cara yang membuat Sasa ingin mundur selangkah. "Untuk hari ini, ikut saya. Saya akan tunjukkan apa saja yang harus kamu kerjakan," kata Javendra akhirnya, suaranya kembali datar seperti biasa. "Baik, Tuan Javen." Sasa mengikuti langkah pria itu keluar dari ruangan, tapi di dalam hatinya sudah mulai muncul pertanyaan yang tak berhenti. Sasa mengikuti Javendra menyusuri koridor rumah yang luas. Pria itu menjelaskan tugasnya dengan suara datar sambil berjalan di depan. "Pagi hari kamu siapkan kopi hitam tanpa gula di meja kerja saya. Setelah itu bersihkan kamar saya, tapi jangan sentuh meja tulis. Siang kamu ikut saya ke mana pun kalau saya butuh. Malam—" Tiba-tiba langkah Sasa tersandung ujung karpet yang sedikit terlipat. Tubuhnya oleng ke depan. Ia panik dan mencoba menyeimbangkan diri, tapi malah terdorong ke arah Javendra yang baru saja berhenti dan membalikkan badan. "Aduh!" Bruk. Sasa jatuh tepat ke pangkuan Javendra yang sedang duduk di kursi panjang ruang kerja. Bokongnya mendarat persis di atas pangkal paha pria itu. Ia bisa merasakan sesuatu yang keras dan hangat tepat di bawahnya. "Maaf, Tuan! Saya—" kata Sasa panik sambil berusaha bangun. Tapi saat itu tangan Javendra otomatis terulur untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai. Telapak tangan kanannya mendarat tepat di dada Sasa yang kencang karena seragam ketat. Jari-jarinya tanpa sengaja meremas pelan di sana, merasakan kelembutan dan bobot yang penuh. Waktu seolah berhenti sebentar. Sasa membeku. Rasa panas langsung naik ke wajah dan telinganya. Ia bisa merasakan dada Javendra naik-turun cepat di belakang punggungnya, napas pria itu menyapu lehernya. Tangan Javendra masih di sana. Tidak langsung dilepaskan. Sasa gemetar. "Tuan Javen ... maafkan saya..." Suara Sasa hampir hilang. Ia berusaha bangkit, tapi gerakannya malah membuat bokongnya bergeser pelan di atas milik Javendra yang semakin keras. Javendra menegang. Napasnya terdengar berat di telinga Sasa. Dia tidak langsung melepaskan tangannya.Situasi kemudian berlanjut di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Terdengar suara teriakan memenuhi lorong yang sepi. Beberapa orang dengan pakaian serba putih segera datang dengan tali yang mereka bawa.Brak!!"Dokter Kenzler, pasien itu kembali mengamuk" seorang wanita yang memakai pakaian sama, membuka pintu ruangan psikiater yang menangani pasien itu. Mereka segera berlari menuju ke sumber suara, teriakan seorang perempuan yang terdengar semakin histeris. Terlihat seorang perempuan bertubuh besar dengan bekas luka bakar di wajah kirinya terikat di tempat tidurnya.Perempuan yang diketahui bernama Audrey Dianne itu terlihat mengamuk dan berusaha menyakiti dirinya sendiri. Tak hanya itu, ia juga sempat melukai pasien lain."Bagaimana dengan wali pasien ini?" tanya psikiater itu kepada para perawat."Mereka sudah dalam perjalanan dan kami sudah memberi obat penenang kepada pasien itu" perawat yang ditanya oleh psik
"Alberth bersama perempuan lain?" Audrey kembali bertanya untuk memastikan apa yang ia dengar."Benar dan kurasa kali ini tindakan Alberth sudah terlalu berlebihan" ucapan Steve membuat degup jantung Audrey berdenyut semakin kencang.Sama halnya seperti perempuan lain ketika mendapat kabar bahwa pasangannya sedang bersama dengan orang lain. Hati yang hancur? Sudah pasti.Tring!Tanpa menunggu lebih lama lagi, Steve segera mengirimkan sebuah alamat di mana Alberth sedang menghabiskan malam di sana.Secepat kilat, Audrey mengambil jaket dan tasnya untuk segera memesan sebuah taksi online. Kejadian ini terasa tak begitu asing. Kejadian serupa tapi tak sama seperti apa yang ia alami waktu itu, kejadian yang bahkan turut hadir di dalam mimpinya.Sepanjang perjalanan, tentunya Audrey begitu gelisah, ia terus melakukan panggilan kepada Alberth, namun selalu berakhir tak terjawab. Mau bagaimana lagi, kecurigaan Audrey selama ini seakan t
- London, 1 Februari 2021 -Beberapa minggu telah berlalu, Audrey kini menekuni pekerjaan yang sama seperti Steve, selain karena tidak adanya panggilan untuk pemotretan, Audrey merasa bahwa ia lebih menyukai pekerjaan sederhana ini.Tanggal satu bulan februari tahun dua ribu dua puluh satu, akhirnya, gadis ini sampai juga di hari yang paling sial bagi hidupnya di kehidupan lalu. Audrey kembali merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh lima. Namun situasi lalu dan sekarang sangat berbeda jauh, jika pada waktu itu Audrey berniat untuk mengakhiri hidupnya di kamar kost yang sempit, Audrey kini merasa sedikit lebih bahagia dan tinggal di apartemen mewah. Entah apakah ini semua nyata atau tidak, kehidupan baru yang ia jalani terasa hampir sempurna sejauh ini.Pagi ini, Audrey tengah menggunakan pakaian yang sedikit terbuka di bagian atasnya, tak hanya itu ia juga merias tipis wajahnya agar tak nampak seperti mayat hidup. Setelah itu, Audrey segera memposisikan
Situasi kembali pada Alberth dan Audrey yang sedang berada dalam posisi canggung. Masing-masing dari mereka terus saja membungkam mulut, sehingga tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut mereka.Situasi ini terjadi cukup lama sampai mereka tiba di apartement yang mereka tinggali. Audrey yang merasa takut, bergegas untuk pergi ke kamar kecil guna menghindari tatapan Alberth, sementara lelaki itu sepertinya hendak membicarakan sesuatu dengan kekasihnya.Alberth yang terus mengikuti Audrey kini terpaksa harus menghentikan langkahnya ketika gadis itu mengunci pintu kamar kecil rapat-rapat. Setelah itu terdengar suara air yang mengalir dari keran.Alberth yang entah sedang memikirkan apa kemudian membuka ponselnya. Ia terlihat sedang mengetik suatu pesan kemudian keluar tuk berbincang dengan seseorang melalui ponsel yang ada digenggamannya.Waktu terasa berjalan begitu lambat, Audrey yang dapat meredakan rasa takutnya kini mulai memberanikan diri unt
Puluhan manusia berbaris rapi menunggu giliran untuk memesan sesuatu di sebuah restaurant ayam. Tempat itu terlihat sangat ramai hari ini dari pagi hingga malam ruangan itu dipenuhi barisan pembeli. Audrey Dianne seorang pekerja paruh waktu yang bekerja sebagai kasir di restaurant ayam itu bahkan
Tahun 2013, Eaton Square Senior High School, LondonSuara derap langkah kaki memenuhi koridor sekolah, semua siswa dan siswi berlomba untuk memperebutkan antrian di kantin terkecuali seorang gadis yang terlihat menahan tangis berjalan lunglai menuju ke ruang guru.Ruangan i
London, 2 Februari 2019 Semburat matahari mulai nampak membuat seorang gadis terbangun dari tidur nyenyaknya. Gadis itu menguap, sepertinya belum menyadari sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya. "Mimpi yang sangat menakutkan" gadis itu bergidik ketika mengingat kembali mimpi yang
London, 1 Februari 2021Seorang gadis duduk membeku dilantai yang dingin sembari memeluk lututnya, matanya terlihat sembab, tatapannya kosong dan hanya memandangi dinding sedari tadi. Ya, sudah terlihat jelas bahwa ia telah menghabiskan seluruh malam hanya untuk menangis. Ruangan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu