INICIAR SESIÓN“Gue mimpi buruk lagi. Lo tahu, kan, setiap gue mimpi buruk, pasti itu pertanda kalau sesuatu yang buruk bakal terjadi?” Bisakah kau bayangkan rasanya menjadi Devlin?! Ibunya meregang nyawa tepat di depan matanya. Sayangnya, dia tak pernah mendapatkan keadilan sedikit pun. Pelaku pembunuhannya saja
Ver más"Lepaskan aku! Tolong lepaskan aku!" Seorang pemuda berusia 14 tahun berusaha memberontak dari kepala desa dan beberapa orang desa yang sedang mengaraknya. Pemuda itu sedang diarak menuju ke jurang yang sangat dalam hingga tak ada satupun yang dapat melihat dasarnya karena tertutup kabut hitam.
Pemuda itu bernama Lingga Kalageni, pemuda malang yang sudah ditinggal ayah dan ibunya sejak masih berusia lima tahun. "Dasar bocah terkutuk! Kamu pantas mati!" Beberapa warga desa yang berpapasan dengan arak-arakkan, mengumpat dan melempari Lingga dengan bebatuan. Sebagian dari yang lain memukulinya hingga darah mengucur deras dari sekujur tubuhnya. "Bunuh pembawa sial terkutuk!" teriak warga desa. Semua ini karena sebuah tato aneh yang ada di perut Lingga yang dianggap terkutuk. Wabah, kekeringan, dan bencana yang selalu melanda desa selalu dikaitkan dengan tato yang ada di perut Lingga. Karena anggapan-anggapan itulah, Lingga pun selalu menjadi bahan siksaan dari warga desa setiap harinya. Namun kali ini warga desa sudah bertindak keterlaluan. Mereka yang tidak terpuaskan karena meski telah disiksa, segala musibah masih datang melanda desa, lantas memutuskan untuk membunuhnya dengan menjatuhkannya ke dalam jurang. Mereka beranggapan, melenyapkan bocah terkutuk itu, sama dengan melenyapkan bencana yang selalu menerpa desa mereka. "Ampuni aku! Tolong ampuni aku!" Lingga menangis sejadi-jadinya. Namun, baik warga desa maupun kepala desa yang seharusnya punya kuasa untuk menghentikan semua perbuatan kejam ini, tidak lagi bisa berhenti. "Pembawa sial tidak pantas untuk diampuni." Keinginan mereka adalah kematian Lingga. Dan jurang yang tak berujung adalah cara yang dianggap paling ampuh untuk menenggelamkan mayatnya. Sampai di tepi jurang, bocah malang itu berlinang air mata. Dia ketakutan setengah mati. Dalam detik-detik terakhir hidupnya, Lingga menatap ke langit. "Dewa, kenapa kamu memberiku nasib sial seperti ini?" batinnya. "Kenapa kamu membiarkan aku memiliki tato aneh ini?!" Detik selanjutnya, tanpa belas kasih, kepala desa mendorong tubuh ringkih Lingga ke jurang. "Arghhh...." Melihat tubuh itu meluncur dengan cepat menuruni jurang tanpa ujung, warga desa terlihat sangat senang. Mereka yakin, bocah itu akan mati. Siapa pun akan mati jika jatuh ke dalam jurang tak berujung itu. "Dengan kematiannya, desa kita tidak akan terkena bencana lagi," kata warga desa. Tak mau kalah, kepala desa menambah sorak sorai para warga. "Malam ini, kita akan mengadakan pesta besar atas kematian si pembawa sial terkutuk." Sementara itu, tubuh Lingga melesat jatuh ke jurang. Dia merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak dan jiwanya seakan lepas dari raganya. Matanya mulai menutup dan kesadarannya mulai menghilang. Saat tubuh Lingga hendak mengenai dasar jurang, tiba-tiba seorang kakek tua berambut dan berjenggot putih menangkapnya. Hap! Tubuh bocah itu selamat dari benturan keras yang mungkin akan membuat tubuhnya terbelah, beberapa meter lagi. "Benar-benar malang sekali nasibmu, Nak," kata kakek tua melihat kondisi Lingga yang terluka parah. Kakek tua itu menggendong Lingga ke dalam gubug kecilnya, kemudian merebahkan tubuh Lingga di kasur yang terbuat dari jerami. Kakek tua itu lalu mengalirkan tenaga dalam ke telapak tangannya, kemudian mengarahkannya ke tubuh Lingga. Dalam hitungan menit, luka-luka di tubuh Lingga tiba-tiba menghilang. Kakek tua itu mengobatinya dengan teknik pengobatan tenaga dalam yang cukup rumit bagi seniman beladiri biasa. "Uhuk ... uhuk." Lingga terbatuk dan sadarkan diri. "Apa kamu baik-baik saja, Nak?" tanya kakek tua. Lingga berusaha menenangkan diri, memandangi sekelilingnya, kemudian tatapannya beralih ke kakek tua di hadapannya. "Apa aku sudah mati?" "Kamu belum mati," jawab kakek tua sambil mengelus-elus jenggotnya. Lingga merasa hal itu sangat mustahil. Dia meraba luka di tubuhnya yang ternyata sudah menghilang. "Apa kakek tidak bercanda? Bagaimana mungkin aku tidak mati setelah dijatuhkan ke dalam jurang?" "Aku menyelamatkanmu," jawab kakek tua. Lingga sontak terkejut, dia mencubit pipinya untuk memastikan bahwa dia sedang tidak bermimpi. "Aaaa. I-ini, bukan mimpi!" Lingga berteriak kesakitan dan mulai meyakinkan dirinya bahwa dia memang benar-benar masih hidup. "Kakek, terimakasih telah menyelamatkanku," ucapnya kemudian. Kakek tua itu mengangguk. "Tidak perlu berterimakasih, sudah kewajibanku menyelamatkanmu." "Ngomong-ngomong, siapa gerangan kekek tua?" tanya Lingga. Dengan aura penuh kewibawaan, kakek tua itu menjawab, "Aku Batara Kara, ketua sekte Pedang Naga."Musim hujan masih bertahan jauh lebih lama di tahun ini, hari ini Ibukota kembali diguyur hujan lebat. Seolah semakin membuat hati yang pilu terasa lebih pilu. Aku menatap ke arah luar jendela mobil yang menampilkan tampias air hujan. Memberikan kesan sendu yang sangat pekat di hati.Jauh di dalam lubuk hatiku teriris hebat menyaksikan betapa sesak tangisan seorang ibu yang kehilangan anak semata wayangnya dalam usia yang sangat muda. Pagi tadi sekolah kembali dihebohkan dengan kabar yang tak mengenakkan bagi siapapun yang mendengarnya. Suci yang sudah terbaring koma selama kurang lebih satu bulan tak mampu lagi bertahan.Gadis berkulit pulih dengan rambut coklat itu mengakhiri hidupnya setelah segala upaya keras para tenaga medis kerahkan. Setelah rapalan doa kedua orangnya minta tiap malam demi kesembuhan putri mereka.Tentunya setelah semua rasa sesal dan bersalah melingkupi hati. Aku masih ingat bagaimana pilu dan perihnya tangis kehilangan Ibu Marta saat jenazah Suci diturunka
“Gue udah ambil keputusan,” pernyataan itu keluar pertama kali dari mulutku di hadapan kedua orang yang masih mematung, sembari menautkan kedua alis mereka. Tentunya mereka sedang kebingungan saat ini. Mungkin keduanya mempertanyakan hendak dibawa kemana pembicaraan ini. Aku menarik nafas panjang, lalu kembali melanjutkan, “Gue mau berhenti cari tahu siapa pelaku pembunuhan dan teror di sekolah.” Sekilas, aku mendongak menanti reaksi yang diberikan oleh Satria juga Sarah.Sepulang dari kegiatan mading tadi, aku mengirimi pesan pada Satria juga Sarah. Memberitahu bahwa ada yang perlu ku katakan pada mereka, tentunya tanpa keterlibatan Benny. Karena memang lelaki itu membuat keputusan untuk berhenti melakukan pencarian, bahkan tak ingin terlibat dengan semua hal yang berhubungan dengan kasus pembunuhan maupun teror. Meskipun demikian, mungkin saja aku akan mengirimi lelaki itu sebuah pesan dengan pernyataan yang sama. Bukan tanpa maksud apapun, hanya ingin meyakinkan bahwa lelaki itu t
Terlahir sebagai anak tunggal membuatku terbiasa mengambil semua keputusan seorang diri. Tak ada seorang pun yang bisa menjadikan tempat bercerita dan berbagai selain kedua orang tua, khususnya Ibu. Ibu menjadi tempat paling nyaman bagiku untuk menceritakan semua hal. Sayang, selama Ibu meninggal, aku sudah tak punya tempat untuk bercerita. Tak punya tempat untuk sekedar menumpahkan segala keresahan dan kegundahan hati. Bahkan untuk sekedar bercerita mengenai hal sepele seputar masalah sekolah saja aku tak mampu menceritakannya pada Ayah. Bukankah aku sudah bercerita sebelumnya, bahwa Ayah telah banyak berubah semenjak kematian Ibu? Kematian memang selalu membawa banyak perubahan selain luka yang mendalam. Satria menjadi satu-satunya tempat yang bisa kupercaya, namun jika sudah begini, kepada siapa lagi aku bercerita? Terlebih mengenai semua kejadian hari ini. “Jika kamu melangkah mungkin ada hasil, mungkin tidak ada hasil. Tapi, jika kamu tidak melangkah, sudah pasti tidak ada has
Di usiaku sekarang, aku baru pertama kali menginjakkan kaki di ruang BK untuk menerima sebuah hukuman. Salah jika ada yang mengatakan bahwa ruang BK hanya untuk siswa berandal yang tak berprestasi. Pada kenyataannya, aku pernah beberapa kali memasuki ruangan ini untuk konsultasi mengenai penjurusan juga minat serta bakat belajar - di sekolahku dahulu. Namun detik ini, aku sudah menjelma menjadi siswa yang membangkang. Aku duduk seorang diri di deretan bangku yang masih kosong. Di sampingku ada tv cembung jaman dahulu yang sedang menyala. Menampilkan berita kenaikan BBM yang membuat masyarakat miskin semakin sulit saja menjalani kehidupan. Sempat hendak membuka mulut, hanya untuk sekedar menyampaikan pendapat. Tapi aku memilih untuk bungkam, lalu menatap sekilas pada seorang wanita yang mengenakan hijab. Kulihat Bu Susan tengah mencatat beberapa poin tentang kenakalan yang sudah kulakukan. Dari arah berlawanan terdengar suara pintu terbuka, menampilkan sosok lelaki yang tadi pagi menem
Di antara banyak nya hal di dunia ini, memiliki sahabat yang selalu ada menjadi salah satu hal yang paling aku syukuri. Khususnya kehadiran Satria di hidupku. Dia benar-benar sebuah anugrah yang tak bisa tergantikan oleh apapun. Semenjak Ibu meninggal, aku benar-benar tak punya teman mengobrol selai
Aku selalu percaya bahwa bagaimana pun sebuah bangkai disembunyikan, suatu saat nanti pasti akan tercium. Begitupun kasus tabrak lari yang terjadi pada ibuku, lalu kasus percobaan pembunuhan yang terjadi pada Suci. Semua kasus tersebut membuatku merasa frustasi. Sudah berbulan-bulan aku merasa seper
Suara kaca pecah mengusik ketenanganku malam ini. Terlihat Mbok Iroh berlari khawatir ke arahku, wajahnya pucat pasi, seperti telah melihat hantu."Non, i-itu.. itu.. ada yang ngelempar batu sampe kacanya pecah. Terus ada.... " kata Mbok Iroh terbata tak mampu melanjutkan perkataannya.
Pagi ini aku begitu cemas pergi ke sekolah. Semalaman setelah bermimpi buruk, aku tak bisa tidur. Dari jam dua belas malam aku terjaga hingga pagi. Menyebalkan memang, tapi aku takut jika mimpi itu kembali menghantui tidurku.Pagi itu kelas masih begitu sepi, hanya terlihat Satria yang e






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas