Home / Mafia / Nona Incaran Ketua Mafia / Bab 152 Ikut aku.

Share

Bab 152 Ikut aku.

Author: SanASya
last update publish date: 2026-05-29 21:37:19

Setelah mendapat alamat itu, Bella melangkah menuju tempat mobilnya diparkir. Ia menyesal karena memarkirkan mobil itu cukup jauh. Saat baru setengah perjalanan, ia sadar dirinya sedang diikuti.

Bella pun berbalik dan menemukan banyak orang sedang beraktivitas di sana, tetapi ia mencurigai tiga pria berbadan kekar yang sebelumnya ia lihat di dalam kafe.

Bella kembali berjalan menuju mobilnya. Namun, saat langkahnya semakin mendekat, salah satu dari tiga pria itu keluar dari gang dan berdiri di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nina Tantina
Aduh untung ketemu Luca...klo ga iihhh serem
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 304

    Dante juga menyadari bahwa dirinya telah melakukan banyak kesalahan terhadap Shin. Ia tahu pria itu memiliki cukup banyak alasan untuk membencinya. Namun, kesadaran tersebut tidak membuatnya merasa bersalah, apalagi setelah Alicia terus-menerus memengaruhi pikirannya.Setiap kali Dante mulai berpikir untuk mundur, berhenti mengusik Shin, atau membiarkan Red Line menjalankan urusannya sendiri, Alicia akan segera mencegahnya. Perempuan itu selalu mengatakan bahwa menyerah berarti mengakui kemenangan Shin. Bagi Dante, yang sejak dulu tidak ingin kalah dari pria tersebut, kalimat itu memiliki pengaruh besar.Ia tidak ingin dianggap sebagai pecundang. Ia tidak ingin Shin menjadi satu-satunya orang yang berdiri di puncak sementara dirinya harus menerima kekalahan. Karena itulah, setiap kali keraguan muncul, Dante kembali menguatkan tekad untuk melawan Shin, bahkan ketika ia sendiri tidak lagi yakin apakah tindakan tersebut akan membawa keuntungan bagi kelompoknya.Ironisnya, ketika Dante be

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 303

    Di sebuah sudut terpencil di kawasan permukiman kumuh Blackstone, berdiri sebuah rumah berukuran paling besar dibandingkan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Dindingnya kusam, beberapa bagian atapnya mulai rusak, dan halaman depannya dipenuhi barang-barang bekas yang tidak lagi terpakai. Meskipun tampak seperti rumah tua yang sudah lama ditinggalkan, bangunan itulah yang menjadi markas kelompok Iron Vultures selama tiga bulan terakhir.Tempat itu jauh berbeda dari markas mereka sebelumnya yang megah dan dilengkapi berbagai fasilitas. Dahulu, Iron Vultures pernah menjadi salah satu kelompok terbesar di Blackstone. Mereka memiliki banyak anggota, wilayah kekuasaan yang luas, serta sumber pendapatan yang cukup untuk membuat kehidupan para anggotanya terjamin. Namun, semua kemewahan itu lenyap setelah mereka mengambil keputusan yang salah.Tiga bulan lalu, setelah kelompok Red Line menghancurkan Black Serpent, mereka tidak berhenti sampai di situ. Kelompok-kelompok yang sebelumnya bert

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 302

    Sebelum Chiara sempat membuka mulut, Shin lebih dahulu berbicara.“Sebaiknya kita membicarakannya di tempat lain.”Tatapan Shin beralih kepada Bella. Sikapnya tetap tenang, seolah ia tidak merasa perlu menjelaskan hubungan mereka di tengah restoran yang ramai.“Aku sudah memesan ruang pribadi. Apa kau mau makan di sana?”Bella menatap Shin, lalu mengalihkan pandangan kepada Chiara dan Adrian. Ia pikir ruang pribadi akan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk berbicara tanpa menarik perhatian pengunjung lain.“Bagaimana kalau kalian ikut makan bersama kami?” tanyanya kepada Chiara dan Adrian.Chiara langsung mengangguk. Ia memang berniat meminta penjelasan, dan tidak ada alasan untuk menolak ajakan tersebut. “Boleh. Lagipula, aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”Adrian tidak keberatan. Ia kemudian menoleh kepada pelayan yang sebelumnya menerima pesanan mereka dan memberitahukan bahwa mereka akan pindah ke rua

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 301

    Bella dan Shin berjalan berdekatan dengan tangan saling menggenggam. Bukan sekadar bersentuhan tanpa sengaja, melainkan bergandengan erat seolah keduanya sudah terbiasa dengan kedekatan tersebut. Shin bahkan tampak sama sekali tidak keberatan memperlihatkan sikap mesranya di tempat umum.Chiara berhenti melangkah. 'Sejak kapan Bella kembali akrab dengan Shin? Dan mengapa mereka terlihat begitu dekat?'Pikiran Chiara langsung mengarah pada satu kemungkinan. Melihat cara mereka bergandengan tangan, ia menduga bahwa hubungan asmara yang pernah berakhir itu mungkin telah terjalin kembali. Namun, ia belum mendengar kabar apa pun dari Bella mengenai perubahan tersebut.Chiara mengerjapkan mata, memastikan dirinya tidak sedang salah menafsirkan situasi. Ia segera melangkah mendekati mereka.“Bella!”Mendengar namanya dipanggil, Bella dan Shin serentak menghentikan langkah lalu menoleh ke arah suara tersebut.Shin tampak biasa saja ketik

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 300

    Waktu makan siang di kantor kejaksaan agung masih sekitar satu jam lagi. Di salah satu ruangan kerja, Chiara duduk di balik meja dengan beberapa berkas perkara terbuka di hadapannya. Wajahnya tampak serius ketika membaca setiap halaman, sesekali berhenti untuk mencatat poin penting atau menandai bagian yang perlu diperiksa lebih lanjut.Kasus yang sedang ditanganinya berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga yang berujung pada kematian seorang anak. Perkara tersebut cukup rumit karena belum ada kepastian mengenai penyebab kematian korban. Apakah anak itu meninggal akibat kecelakaan yang tidak disengaja, atau justru ada sesuatu yang disembunyikan oleh salah satu orang tuanya? Sejumlah keterangan yang terkumpul belum cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut, sehingga Chiara harus menelaah bukti dan kesaksian dengan lebih cermat.Ia kembali membalik halaman, berusaha menghubungkan setiap keterangan yang tercantum dalam berkas. Kasus yang melibatkan anak-anak selal

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 299

    Bella menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada Shin, lalu mendongak untuk memandang wajah pria itu. Ada senyum tipis di bibirnya.“Jangan bilang restoran itu juga bisnis barumu?”Shin mengangkat alis, tampak terkejut. “Bagaimana kau bisa tahu?”Bella tersenyum puas karena tebakannya benar. “Kau tidak akan tertarik mengunjungi restoran baru kalau bukan milikmu sendiri, bukan?”Shin menatapnya sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat. “Bagaimana kalau restoran itu milik orang lain? Aku mengajakmu ke sana untuk menilai makanannya, supaya aku bisa memastikan mereka tidak akan menyaingi bisnisku.”Bella segera menegakkan tubuh dan menatapnya dengan ekspresi pura-pura terkejut. Ia bahkan sengaja membuka sedikit mulutnya, seolah baru saja mendengar sesuatu yang luar biasa.“Ternyata seorang pebisnis muda terkenal seperti Tuan Shin juga bisa takut tersaingi?”Shin terkekeh pelan melihat wajah cantik kekasihnya yang jelas-jelas sedang mengejeknya. Ia meraih kedua tangan Bella, lalu mengecup

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 2

    "Astaga… semoga bukan sesuatu yang buruk." Gumamnya pelan.Untuk penerangan lebih jelas, ia mengeluarkan ponsel dari tas, jari-jarinya gemetar saat menyalakan senter. Cahaya putih menembus kegelapan, menguak bayangan tembok bata yang lembap.Dan di sanalah ia melihatnya."Hhh... hhh..."Seorang pri

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 1

    "Sampai jumpa Miss Bella, terima kasih sudah menemani Luna menunggu Mama."Suara imut anak perempuan terdengar menyenangkan, ditambah wajah bulatnya yang sangat manis tersenyum. Dari jendela mobil ia melambaikan tangan mungilnya keluar. Berpamitan pada seorang guru yang berdiri di halaman sekolah T

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 31 Bertemu dengan pemilik galeri.

    Dua hari sudah Bella tinggal di rumah, kegiatannya itu-itu saja dan hanya sekali dia pergi ke luar untuk membeli sesuatu. Dengan pengawalan lengkap, meski tidak terlalu mencolok, tetap saja membuat Bella tidak bisa berbaur seperti warga biasa lainnya. Ia pun lebih memilih menghabiskan waktu di ruma

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 18

    Salah satu pria yang sedang bermain melihat ke tempat Bella dan anak-anak dikurung. "Lihat, gadis itu sudah sadar."Tiga pria lainnya menoleh, tatapan berbinar mereka menandakan kekaguman pada kecantikan gadis yang tidak sengaja mereka culik."Kita sungguh beruntung, harganya pasti tinggi.""Tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status