LOGINDante seketika menatapnya dengan terkejut. "Kau berhasil menghubungi Tuan George Wilde? Bagaimana bisa?"Melihat reaksi Dante, senyum Alicia semakin lebar. Ia menggerakkan jemarinya di dada pria itu dengan gerakan menggoda, seolah keterkejutan tersebut merupakan pujian yang memang pantas diterimanya."Tentu saja bisa. Kau kira ketika kita bekerja sama dengan Black Serpent, aku hanya duduk diam tanpa mencari tahu apa pun?" katanya ringan. "Aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengumpulkan informasi penting dari mereka."Dante masih tampak tidak sepenuhnya yakin. Ia mengenal kemampuan Alicia, tetapi menghubungi pemimpin gangster asing sebesar George Wilde bukan perkara mudah, terlebih dalam kondisi Iron Vultures sekarang."Kalau kau sudah mengetahui cara menghubungi mereka, mengapa tidak melakukannya sejak awal?" tanyanya. Kali ini, nada suaranya menyimpan sedikit kecurigaan.Alicia tidak tersinggung. Ia justru menghela napas kecil, s
Alicia Ricci berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin. Tatapannya menyapu ketiga pemimpin kelompok kecil yang masih berada di dalam ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Dante Morello. Tanpa menghiraukan pembicaraan yang baru saja berlangsung, ia melangkah masuk dengan santai. Bunyi sepatu hak tingginya beradu dengan lantai, terdengar teratur di tengah suasana yang mendadak hening.Ketiga pemimpin kelompok kecil itu saling bertukar pandang. Mereka bukan takut kepada Alicia, tetapi khawatir perempuan itu akan mengubah keputusan Dante. Mereka tahu betul bagaimana Alicia memengaruhi pemimpin mereka. Jika perempuan itu berhasil membujuk Dante untuk kembali menentang Shin, kesempatan Iron Vultures untuk bertahan hidup mungkin akan semakin tipis.Alicia tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun pada ketegangan yang menyelimuti ruangan. Ia berjalan menghampiri Dante, lalu duduk di pangkuan pria itu seolah tempat tersebut memang disediakan khusus untuknya. Dante secar
Dante juga menyadari bahwa dirinya telah melakukan banyak kesalahan terhadap Shin. Ia tahu pria itu memiliki cukup banyak alasan untuk membencinya. Namun, kesadaran tersebut tidak membuatnya merasa bersalah, apalagi setelah Alicia terus-menerus memengaruhi pikirannya.Setiap kali Dante mulai berpikir untuk mundur, berhenti mengusik Shin, atau membiarkan Red Line menjalankan urusannya sendiri, Alicia akan segera mencegahnya. Perempuan itu selalu mengatakan bahwa menyerah berarti mengakui kemenangan Shin. Bagi Dante, yang sejak dulu tidak ingin kalah dari pria tersebut, kalimat itu memiliki pengaruh besar.Ia tidak ingin dianggap sebagai pecundang. Ia tidak ingin Shin menjadi satu-satunya orang yang berdiri di puncak sementara dirinya harus menerima kekalahan. Karena itulah, setiap kali keraguan muncul, Dante kembali menguatkan tekad untuk melawan Shin, bahkan ketika ia sendiri tidak lagi yakin apakah tindakan tersebut akan membawa keuntungan bagi kelompoknya.Ironisnya, ketika Dante be
Di sebuah sudut terpencil di kawasan permukiman kumuh Blackstone, berdiri sebuah rumah berukuran paling besar dibandingkan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Dindingnya kusam, beberapa bagian atapnya mulai rusak, dan halaman depannya dipenuhi barang-barang bekas yang tidak lagi terpakai. Meskipun tampak seperti rumah tua yang sudah lama ditinggalkan, bangunan itulah yang menjadi markas kelompok Iron Vultures selama tiga bulan terakhir.Tempat itu jauh berbeda dari markas mereka sebelumnya yang megah dan dilengkapi berbagai fasilitas. Dahulu, Iron Vultures pernah menjadi salah satu kelompok terbesar di Blackstone. Mereka memiliki banyak anggota, wilayah kekuasaan yang luas, serta sumber pendapatan yang cukup untuk membuat kehidupan para anggotanya terjamin. Namun, semua kemewahan itu lenyap setelah mereka mengambil keputusan yang salah.Tiga bulan lalu, setelah kelompok Red Line menghancurkan Black Serpent, mereka tidak berhenti sampai di situ. Kelompok-kelompok yang sebelumnya bert
Sebelum Chiara sempat membuka mulut, Shin lebih dahulu berbicara.“Sebaiknya kita membicarakannya di tempat lain.”Tatapan Shin beralih kepada Bella. Sikapnya tetap tenang, seolah ia tidak merasa perlu menjelaskan hubungan mereka di tengah restoran yang ramai.“Aku sudah memesan ruang pribadi. Apa kau mau makan di sana?”Bella menatap Shin, lalu mengalihkan pandangan kepada Chiara dan Adrian. Ia pikir ruang pribadi akan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk berbicara tanpa menarik perhatian pengunjung lain.“Bagaimana kalau kalian ikut makan bersama kami?” tanyanya kepada Chiara dan Adrian.Chiara langsung mengangguk. Ia memang berniat meminta penjelasan, dan tidak ada alasan untuk menolak ajakan tersebut. “Boleh. Lagipula, aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”Adrian tidak keberatan. Ia kemudian menoleh kepada pelayan yang sebelumnya menerima pesanan mereka dan memberitahukan bahwa mereka akan pindah ke rua
Bella dan Shin berjalan berdekatan dengan tangan saling menggenggam. Bukan sekadar bersentuhan tanpa sengaja, melainkan bergandengan erat seolah keduanya sudah terbiasa dengan kedekatan tersebut. Shin bahkan tampak sama sekali tidak keberatan memperlihatkan sikap mesranya di tempat umum.Chiara berhenti melangkah. 'Sejak kapan Bella kembali akrab dengan Shin? Dan mengapa mereka terlihat begitu dekat?'Pikiran Chiara langsung mengarah pada satu kemungkinan. Melihat cara mereka bergandengan tangan, ia menduga bahwa hubungan asmara yang pernah berakhir itu mungkin telah terjalin kembali. Namun, ia belum mendengar kabar apa pun dari Bella mengenai perubahan tersebut.Chiara mengerjapkan mata, memastikan dirinya tidak sedang salah menafsirkan situasi. Ia segera melangkah mendekati mereka.“Bella!”Mendengar namanya dipanggil, Bella dan Shin serentak menghentikan langkah lalu menoleh ke arah suara tersebut.Shin tampak biasa saja ketik
Bella keluar dari kamar mandi dan melihat Adrian sibuk di dapur. Rambutnya tergerai masih setengah basah, matanya menatap senang pada Adrian yang datang membawakan makanan untuknya. Kebetulan Bella lapar, dia tidak perlu masak."Aku tadi buat minestrone, kamu pasti belum makan malam, makanlah." Adr
Bella duduk di kursi makan dan merenung. Benar kata Adrian, dirinya agak ceroboh membawa pria itu kerumahnya. Walau terluka dan tidak sadarkan diri, ia tidak mengenalnya.Siapa yang melukainya? Luka separah itu jika ia tidak melihatnya pasti tidak akan selamat sampai esok hari.'Apakah pelakunya su
Udara malam Desa San Felice menusuk kulit Bella, dingin terasa semakin pekat karena keringat yang bercampur dengan ketakutan. Dengan susah payah, ia menahan tubuh pria asing itu yang beratnya jauh melebihi tenaganya.Nafasnya tersengal, kakinya hampir menyeret, namun entah dari mana kekuatan itu mu
"Astaga… semoga bukan sesuatu yang buruk." Gumamnya pelan.Untuk penerangan lebih jelas, ia mengeluarkan ponsel dari tas, jari-jarinya gemetar saat menyalakan senter. Cahaya putih menembus kegelapan, menguak bayangan tembok bata yang lembap.Dan di sanalah ia melihatnya."Hhh... hhh..."Seorang pri







