MasukTanpa pikir panjang, Axel langsung meminta sang sopir taksi mengubah arah tujuannya. Bukan ke apartemen atau rumah kerabat yang sudah kompak menolaknya, melainkan menuju gedung perkantoran milik keluarga Darmawan. Di tengah keputusasaan dan rasa malunya yang sudah menggunung, Reynald menjadi satu-satunya benteng terakhir yang ia harapkan bisa memberinya sedikit pertolongan. Toh katanya mereka saudara kembar, sepertinya Reynald orangnya baik dan mungkin akan menolongnya.Setibanya di depan gedung megah tersebut, taksi yang ditumpangi Axel berhenti di area drop-off lobby. Waktu kedatangannya bertepatan persis saat Reno baru saja melangkah keluar dari pintu utama lobi gedung, sudah ditunggu seorang sopir yang membukakan pintu mobil mewah di depan lobby.Melihat sosok suami Viona itu, langkah Axel sempat terhenti. Namun, saat ia melihat bahwa Reno berjalan sendirian tanpa bersama Darmawan ataupun keluarga yang lainnya.Dengan napas memburu dan sisa-sisa harga diri yang ia injak-injak sen
Sementara itu, di lantai atas rumahnya, Lani yang berdiri di balik tirai kamar lantai dua sempat melihat kedatangan Axel dan menyaksikan saat-saat pria itu diusir secara kasar oleh sang ayah dari halaman rumah. Hatinya sempat mencelus nyeri, menyadari bahwa pria yang pernah ia cintai dan menjadi ayah dari anak di kandungannya itu ternyata benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa untuk melindunginya.Namun, alih-alih merasa sedih atau ingin mengejar Axel, Lani justru merasakan kehampaan. Kejadian barusan semakin membuka matanya lebar-lebar bahwa keputusan ayahnya untuk menjauhkannya dari Axel adalah jalan yang paling benar.Lani menarik napas panjang, menghapus sisa-sisa air mata di pipinya dengan punggung tangannya, lalu membalikkan badan menghadap koper besar yang terbuka di atas tempat tidurnya. Tidak ada lagi keraguan di hatinya. Ia sudah sepenuhnya pasrah dan memilih untuk menuruti segala arahan serta keputusan orang tuanya demi masa depan anak yang dikandungnya dan pemulihan nama
Beberapa menit setelah perbincangan singkat namun melegakan dengan Danu, ketenangan Viona kembali terusik oleh suara dering ponsel dari atas nakas. Tanpa melirik layarnya, Viona mendengus sebal sambil menarik selimut menutupi sebagian bahunya. "Dih, dibilangin nggak penting, malah nelpon lagi. Palingan bapaknya Lani mau minta tolong apa lagi," gerutu Viona malas, membiarkan panggilan itu berdering tanpa niat sedikit pun untuk mengangkatnya. Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali bergetar dan berdering nyaring untuk kedua kalinya. Karena merasa terganggu dengan dering yang tak kunjung berhenti, Viona akhirnya membuka mata dengan malas, meraih ponsel tersebut untuk mematikan dayanya. Seketika itu juga, rasa jengkel di wajahnya menguap, digantikan oleh senyum simpul yang langsung terukir di sudut bibirnya. Nama yang tertera di layar bukanlah Papa Lani, melainkan suaminya tercinta. Dengan gerakan cepat dan binar mata yang mendadak bersemangat, Viona langsung menggeser tombol hij
Setelah beberapa saat terdiam dengan napas memburu dan pikiran yang kalut, Papa Lani akhirnya mencoba memaksakan diri untuk menenangkan diri. Ia sadar, panik dan memarahi Lani tidak akan menyelesaikan masalah yang sudah telanjur terjadi ini. Jalan satu-satunya yang harus mereka tempuh adalah mencari tahu pada Viona sekarang. Apakah sepupu jauhnya itu sudah berniat meledakkan bom waktu ini, atau masih ada celah untuk diajak bicara baik-baik.Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Papa Lani meraih ponselnya di atas meja, lalu mencari kontak Viona di grup keluarga dan menekan tombol panggil.Sementara itu, di kediaman Darmawan, Viona sedang merebahkan diri dengan santai di atas ranjang kamar mewahnya. Tak lama berselang setelah kepergian Reno ke kantor, ketukan pelan terdengar di pintu kamar. Begitu dibuka, seorang ART masuk dengan membawa sebuah kantong kecil tertutup rapat dari apotek, berisi titipan test pack yang dipesan Reno tadi."Ini pesanan Den Reno, Non," ujar sang ART sopan
Sementara itu, di kediaman keluarga Dandi yang atmosfernya jauh dari kata hangat, suasana pagi ini justru terasa sangat mencekam. Axel duduk di kamarnya dengan wajah kusut dan rahang mengeras. Bayangan ancaman dari sang ayah kemarin, masih terngiang jelas di kepalanya. Dandi tidak memberi ruang bagi Axel untuk membantah atau mencari-cari alasan lagi."Pilih kamu nikahi Lani secepatnya untuk menutupi semua skandal ini, atau kamu angkat kaki dari rumah dan fasilitasmu dicabut sekarang juga!" begitu ultimatum Dandi yang mutlak. Tanpa daya, Axel terpaksa harus menelan ludah dan menerima perintah sang ayah, meskipun hatinya berontak hebat. Dandi juga menegaskan bahwa seluruh biaya pernikahan kilat itu akan ditanggung penuh olehnya demi menjaga nama baik keluarga.Ternyata urusannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Meskipun Axel sudah membawa-bawa titah sang ayah dan menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab, Lani tidak langsung setuju. Mengingat perdebatan sengit yang terjad
Pemikiran penuh kalkulasi yang mendadak muncul di benak Rima, tiba-tiba Darmawan berdehem pelan. Pria paruh baya itu menatap penuh harap ke arah Viona dan Reno."Sudahlah, kalau memang ada tanda-tanda begitu, tidak ada salahnya untuk langsung dipastikan," ucap Darmawan dengan senyum yang menghiasi wajahnya. "Reno, nanti sepulang kerja atau sore ini, antar Viona ke dokter kandungan terpercaya. Biar semuanya jelas. Kalau memang benar positif, ini adalah berkat luar biasa untuk keluarga kita."Reno langsung mengangguk patuh dengan binar mata antusias. "Baik, Pa. Nanti saya pastikan Viona langsung periksa ke dokter."Mendengar titah sang ayah yang begitu antusias menyuruh mereka langsung pergi ke dokter kandungan, Viona buru-buru melambaikan tangan menolak."Eh, nggak usah terburu-buru begitu, Pa. Malu nanti kalau ternyata gejalanya cuma masuk angin biasa, tapi kita langsung heboh datang ke dokter kandungan. Mending dipastikan dulu pakai test pack di rumah."Darmawan terkekeh pelan menden
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa







