LOGINRevan hanya diam terpaku, menatap amplop cokelat di atas meja tanpa berniat menyentuhnya. Tatapannya kosong, otaknya menolak untuk mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut orang yang selama ini dipanggilnya papa. Hatinya menolak percaya. Baginya semua seperti mimpi, seperti lelucon buruk yang sama sekali tidak lucu."Papa pasti bercanda, kan?" tanya Revan, mencoba tertawa dengan suara yang bergetar. "Ma, ini bercandaan jenis apa sih? Revan ini anak Papa dan Mama. Revan tumbuh besar di rumah ini selama 26 tahun."Harjo menatap Revan dengan rasa iba dan penyesalan. Lalu menghela napas berat, coba menjelaskan kenyataan itu agar bisa masuk di logika Revan."Revan... Coba kamu perhatikan baik-baik," ujar Harjo pelan. "Pernahkah kamu menyadari, atau setidaknya merasa, kalau kamu sama sekali tidak memiliki kemiripan fisik dengan Papa maupun Mama? Garis wajahmu, postur tubuhmu, tak ada satu pun yang menurun dari kami."Kata-kata Harjo menohok Revan. Bukannya langsung percaya, dada
"Pak, Bu..." ucap Reno memecah keheningan. Ia melirik Viona sejenak sebelum kembali menatap orang tua kandungnya. "Kalau dipikir-pikir lagi, dugaan kita soal Revan yang kemungkinan besar adalah anak kandung Pak Dandi Wijaya itu sangat kuat. Tapi, apakah menurut Bapak dan Ibu kita perlu segera memberitahu Axel atau bahkan Pak Dandi soal ini?"Viona mengangguk menyetujui suaminya. "Iya, Pak Harjo, Bu Ambar. Apalagi kalau mengingat kondisi Axel sekarang yang sudah diusir dan hidup hancur. Kalau terbukti Revan adalah anak kandung Pak Dandi, setidaknya Pak Dandi bisa tahu kebenarannya. Siapa tahu itu juga bisa mengubah hidup Axel atau meluruskan hubungan keluarganya."Harjo mendengarkan usulan itu dengan saksama. Ia menyandarkan punggungnya, lalu mengusap dagunya perlahan sambil menatap meja. Pikirannya berputar keras memikirkan rantai keluarga yang rumit ini."Ide kalian tidak salah, Nak Reynald, Nak Viona. Tapi sebelum kita melangkah sejauh itu, sebelum kita menghubungi pihak keluarga Pa
Harjo menelan ludah dengan susah payah, menatap Reno dengan binar mata yang dipenuhi rasa bersalah dan kerinduan mendalam seorang ayah."Lalu... bagaimana kehidupanmu selama 26 tahun ini, Reynald?" Bagaimana kamu bisa tumbuh dewasa sampai menjadi pria hebat seperti sekarang?" tanya Harjo.Reno menghela napas pendek, lalu tersenyum tipis, mengingat ketabahan dari perjalanan hidup yang tak mudah."Dulu, saya ditemukan di depan rumah kontrakan oleh ibu di Jakarta. Beliau dari keluarga yang sangat biasa," tutur Reno perlahan. "Lalu membawa saya pulang ke kampung halamannya. Saya dibesarkan di sana dalam kesederhanaan. Sampai akhirnya almarhum Bapak angkat saya meninggal dunia, dan mau tidak mau saya yang harus menjadi tulang punggung keluarga membantu ibu."Reno mengusap tengkuknya pelan. "Pendidikan saya cuma sampai lulusan SMA, Pak, Bu. Dulu saya kerja keras sebagai buruh di bengkel pabrikasi. Sampai akhirnya takdir membawa saya bertemu Papanya Viona. Beliau mempercayakan saya menjadi m
Harjo menatap putra kandungnya dengan tatapan penuh keharuan dan penyesalan mendalam, lalu menghembuskan napas berat."Maafkan Bapak, Nak. Maaf kalau tindakan Bapak terkesan lancang dan diam-diam," tutur Harjo. "Waktu pertama kali kita tidak sengaja melihatmu di restoran malam kemarin itu, Bapak sangat terkejut melihat wajahmu yang begitu mirip dengan Bapak waktu muda. Jadi sewaktu kamu ke toilet, Bapak ikut menyusul, menyapa dan perkenalan itu, lalu dengan sengaja Bapak mengambil sampel dari rambut kamu yang jatuh."Harjo berhenti sejenak, melirik Ambar yang mengangguk pelan sambil mengusap air matanya, lalu melanjutkan."Itu Bapak lakukan karena dugaanmu yang begitu mirip dengan Bapak. Nggak mungkin kalau bukan anak kandung, bisa semirip itu seperti fotocopy waktu masih muda. Jadi untuk memastikan terpaksa Bapak tes DNA. Tolong, baca lembaran kesimpulan di paling bawah kertas itu, Nak."Dengan tangan yang kini ikut gemetaran, Viona terus membaca kertas tersebut ke bagian akhir, seme
Harjo tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia berusaha menjaga intonasi suaranya agar tetap terdengar seperti obrolan santai, walau dadanya bergemuruh hebat."Maksud Bapak, wajah dan pembawaan Nak Reynald ini benar-benar mengingatkan Bapak pada masa muda Bapak dulu," tutur Harjo hangat. "Rasanya nggak asing."Ambar mengangguk cepat, menyetujui ucapan suaminya, kemudian mencoba memancing lebih jauh, mengarahkan pembicaraan ke arah masa lalu yang ingin mereka pastikan."Nak Reynald ini aslinya memang dari Jakarta, kan?" tanya Ambar dengan raut penuh rasa ingin tahu yang lembut. "Kalau boleh tahu, Nak Reynald tanggal lahirnya kapan? Siapa tahu usianya tidak jauh beda dengan anak kami."Reno yang tidak mencurigai apa pun tersenyum ramah mendengarkan pertanyaan itu. "Iya, Bu Ambar, saya lahir di Jakarta tapi besar di kampung ibu saya. Saya lahir tanggal..."Reno lalu memberitahukan tanggal lahirnya.Mendengar tanggal lahir yang disebutkan Reynald, napas Ambar
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Harjo dan Ambar langsung bergerak cepat. Di tengah debar jantung yang tak karuan, mereka berdua bergegas merapikan diri dan bersiap untuk berangkat. Harjo mengenakan kemeja rapi berbalut jaket kasual, sementara Ambar memilih pakaian terbaiknya, merapikan penampilannya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.Sebelum mereka berangkat, Ambar mendadak menghentikan langkahnya di depan ruang kerja."Pa... tunggu sebentar. Gimana kalau amplop hasil tes DNA itu kita bawa juga?"Harjo menoleh, mengerutkan kening sejenak. "Bawa, Ma. Siapa tahu kita butuh sebagai bukti nanti."Ambar mengambil map dokumen tersebut yang tadi sudah disimpan di dalam brankas. "Benar, Pa. Kita tidak tahu apa yang nanti akan kita bicarakan, Pa. Kalau Reynald tidak percaya, kita bisa tunjukkan bukti hitam di atas putih ini ke Reynald. Biar dia tahu kalau kita benar-benar orang tua kandungnya, bukan orang asing yang berniat aneh-aneh."Harjo merenung sejenak, lalu mengangguk setu
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama







