Share

Bab 163

Author: Trya Dhafi
last update publish date: 2026-09-11 23:54:54

Axel menatap papanya dengan pancaran mata liar penuh rasa tidak percaya. Pertanyaan Dandi barusan serasa menjadi pukulan telak yang kian menghempaskan harga dirinya ke titik terendah.

"Papa ngomong apa sih?" teriak Axel, suaranya serak melengking, bergetar hebat menahan frustrasi yang membakarnya. "Mana aku tahu dia punya saudara atau enggak. Aku bukan siapa-siapa si Reynald miskin itu, Pa. Kenapa Papa malah mikirin dia saat posisi aku di rumah ini lagi diujung tanduk?"

Axel meremas rambutnya s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ais Rin
lg seru2 nya , tunggu update besok besok
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 193

    Mila terperanjat seketika. Jantungnya berdegup kencang, matanya menatap lembaran kertas di hadapan Dandi."Benarkah, Pa?!" seru Mila dengan suara bergetar, nyaris melengking karena tak kuasa menahan sabar. Tangannya langsung meremasi lengan suaminya. "Jangan bercanda, Pa. Kalau memang benar, siapa dia? Di mana anak kita sekarang? Papa harus cepat beri tahu aku."Antusiasme terpancar jelas di wajah Mila. Selama beberapa waktu terakhir, bayang-bayang tentang seperti apa anak kandungnya yang hilang selalu menghantui setiap jengkal ruang kosong di hatinya.Namun, di balik rasa penasarannya yang menggebu-gebu terhadap anak kandung yang baru saja menemukan titik terang itu, pikiran Mila tiba-tiba teringat pada Axel.Meskipun Dandi telah melarang keras dan menutup pintu bagi pemuda itu, naluri seorang ibu yang sudah membesarkan Axel tidak pernah bisa dibohongi sepenuhnya. Selama beberapa waktu terakhir, di belakang suaminya, Mila sering kali diam-diam mengirimkan pesan singkat atau mencoba m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 192

    Beberapa waktu kemudian, suasana ruang rapat utama di kantor pusat perusahaan milik Darmawa terasa begitu tegang. Di ujung meja panjang berukuran besar, Reno berdiri tegak dengan balutan jas rapi yang melekat sempurna di tubuhnya. Ia baru saja merampungkan presentasi proyek penting yang menentukan arah ekspansi perusahaan."Demikian pemaparan strategi ekspansi dan mitigasi risiko yang telah kami siapkan untuk kuartal ini," ucap Reno dengan suara tegas dan penuh percaya diri, menyapu pandangannya ke seluruh jajaran dewan direksi.Beberapa detik keheningan sempat menyelimuti ruangan sebelum akhirnya tepuk tangan riuh mulai menggema dari beberapa kepala divisi. Heru, yang duduk di barisan kursi pendamping, langsung mengembuskan napas panjang, melepaskan ketegangan yang sedari tadi merajai dadanya."Kerja bagus, Pak Reynald. Presentasi yang sangat komprehensif dan tajam," puji salah satu anggota dewan direksi sambil mengangguk-angguk puas.Reno tersenyum tipis seraya menundukkan kepala si

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 191

    Axel menelan ludah kelat, tenggorokannya terasa tercekat. Nasi sudah menjadi bubur, dan dirinya sudah terlanjur basah melangkah ke dalam jurang ini. Tidak ada lagi jalan untuk memutar waktu. Dengan sisa-sisa kepasrahan yang menyesakkan dada, ia mengangguk pelan mengiyakan tawaran mutlak dari wanita di hadapannya itu.Namun, di tengah keheningan malam yang menyesakkan di dalam kamar mewah tersebut, pikiran Axel justru melayang liar. Ia kembali merutuki kebodohannya sendiri dengan penuh kepahitan. Bagaimana bisa ia sampai berada di titik terendah ini?Saat ia menatap wajah Amelia yang kini tersenyum penuh kemenangan di dekatnya, bayangan wajah seseorang justru tiba-tiba melintas terang di kepalanya, bukan Lani, tapi Viona. Axel merasakan dadanya sesak dan sakit. Ia sangat menyesal. Kenapa dulu ia begitu bodoh menyia-nyiakan Viona demi ambisi dan kesombongannya. Dan kini, sebagai hukuman atas kebodohannya, ia malah terjebak melayani seorang wanita paruh baya seperti Amelia. Ironis sekal

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 190

    Viona mengerjap beberapa kali, namun alih-alih merasa salah tingkah lebih lama, bibirnya justru menyunggingkan senyuman penuh godaan. Sorot matanya berubah menjadi nakal, menantang suaminya yang tengah menatapnya lekat-lekat."Jadi gimana kelanjutannya? Kita sama-sama sudah melanggarnya," lanjut Reno, setengah bercanda, menunggu reaksi sang istri.Alih-alih panik, Viona justru mendengkus pelan lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Reno, menarik wajah suaminya itu mendekat."Tentu saja batal sudah, Sayang," bisik Viona tepat di dekat telinga Reno dengan nada menggoda. "Karena benar kata kamu, kita kan sudah sama-sama melanggarnya. Lagian... aku sekarang malah menyesal banget sudah bikin perjanjian konyol itu dulu."Reno mengangkat sebelah alisnya. "Menyesal kenapa?"Viona terkekeh kecil, sementara tangannya perlahan turun meraba dan menggenggam erat pusaka sang suami dengan penuh percaya diri. "Iya, aku malah kena karma instan, niatnya mau cari aman, eh sekarang aku malah ketagiha

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 189

    Axel menunduk, menghindari tatapan menyelidik dari wanita hampir paruh baya di sampingnya, merasakan gengsinya menciut drastis di dalam kabin mobil yang dingin itu."Aku lagi butuh bantuan banget, Tante." suara Axel terdengar parau, jauh dari kesan arogan yang biasa ditunjukkan dulu. "Hidupku lagi di ambang kehancuran. Aku diusir dari rumah, nggak punya pegangan apa-apa lagi sekarang."Amelia melirik sekilas ke arah Axel, lalu kembali fokus menyetir dengan senyuman tipis yang masih menghiasi bibir merahnya. Ia sengaja membiarkan keheningan sejenak, menikmati momen di mana pemuda sombong itu kini terdengar begitu memelas di hadapannya."Diusir dari rumah? Wah, hebat banget omongan kamu, Xel," sahut Amelia dengan nada santai, setengah meremehkan. Ia lalu menepuk pelan paha Axel dengan sebelah tangannya, membuat pemuda itu sontak menegang. "Santai aja kali. Kamu kan tahu, Tante paling nggak tega kalau lihat cowok ganteng kayak kamu kesusahan. Tapi, bantuan Tante itu nggak gratis, tahu ka

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 188

    "Gimana, Kak? Hasilnya?" tanya Vera tanpa basa-basi.Viona yang duduk di sebelah suaminya mengangkat sebelah alisnya, tampak bingung dengan arah pertanyaan adiknya. "Hasil apa maksudmu, Ver?""Ya hasil PO keponakan aku lah," jawab Vera blak-blakan tanpa filter.Viona langsung mengerjap kaget, pipinya merona merah seketika mendengar ucapan blak-blakan adiknya itu. Tanpa beban, ia lantas menjawab, "Belum berhasil, tahu ih. Masih butuh usaha lagi, lagian kita santai aja. Malah kesempatan masih punya banyak waktu."Mendengar jawaban Viona, Rima yang sudah tahu dari tadi sore, ikut nyeletuk dengan nada menyindir. "Wah, kalau gitu berarti Reno-nya yang nggak tokcer dong?"Mendengar suaminya disentil seperti itu, Viona tidak tinggal diam. Ia langsung pasang badan membela sang suami tanpa rasa canggung di depan keluarga besar. "Eh, bukan nggak tokcer, Ma. Kita tuh masih menikmati masa-masa jadi pengantin baru. Lagi pula, dapet kegiatan olahraga ranjang baru yang seru, masalah hamil mah urusan

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 6

    Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status