Se connecterSetelah meluapkan kemurkaannya, Dandi memutar badan dan melangkah naik ke kamarnya tanpa memedulikan tangisan histeris Mila maupun tatapan hancur Axel yang merasa dunianya benar-benar telah berakhir.Axel terpekur di lantai dingin, meratapi kata-kata Dandi yang menghantam mentalnya jauh lebih menyakitkan daripada pukulan para pengawal di klub malam semalam. Rasa perih di wajahnya tak ada apa-apanya dibandingkan kehancuran total atas harga diri dan masa depannya.Mila merengkuh tubuh Axel yang bergetar hebat, terisak-isak sembari mengusap darah di sudut bibir anaknya. "Sudah, Nak. Sudah... Kamu naik ke kamar dulu, Mama obati luka-lukamu."Dengan sisa tenaga yang ada, Axel memaksakan diri berdiri dituntun oleh Mila. Setiap jengkal langkah menuju kamarnya terasa begitu berat. Bayangan esok hari saat amplop hasil tes DNA dibuka dan kebenaran mengeksekusi nasibnya, kini menjadi monster menakutkan yang tak lagi bisa ia hindari.***Reno melangkah percaya diri menyusuri koridor lantai kantor
Dandi bangkit dari kursi makan, merapikan kemejanya tanpa memedulikan tatapan nanar sang istri. Menunggu hingga besok untuk jadwal pengambilan hasil tes DNA rasanya hanya akan membakar habis kesabarannya. Dalam hati kecilnya, ia sudah terlanjur yakin bahwa Axel bukanlah darah dagingnya.Dan satu teka-teki besar masih mengganjal di benaknya. Bagaimana mungkin anak kandungnya bisa tertukar atau hilang dua puluh lima tahun lalu tanpa ada yang menyadari?"Papa mau ke mana?" tanya Mila seraya menyapu air matanya, suaranya parau menatap langkah terburu-buru suaminya."Papa mau ke Rumah Sakit Medika Sejahtera," jawab Dandi dingin tanpa menoleh. "Papa nggak bisa cuma duduk diam menunggu hasil tes keluar besok. Papa harus melacak arsip pendaftaran kelahiran kamu puluhan tahun lalu di sana. Papa harus tahu siapa saja tenaga medis yang bertugas kala itu."Tanpa menunggu balasan dari Mila, Dandi melangkah mantap keluar rumah, mengendarai mobilnya membelah lalu lintas pagi menuju rumah sakit bersa
Viona menyandarkan kepalanya di dada bidang Reno yang telanjang, membiarkan nafas mereka yang masih memburu dan badan yang masih berkeringat kembali teratur secara perlahan. Jemari lentiknya membelai lembut garis rahang dan dada suaminya yang kokoh, mengagumi kehangatan pria yang baru saja memuaskannya hingga lemas tak tersisa."Apa jadinya kalau kamu dan Axel ternyata saudara kandung?"Tiba-tiba Viona nyeletuk bertanya seperti itu, memecahkan keheningan kamar hotel yang temaram saat mereka sedang berbaring rileks setelah aktivitas ranjang mereka yang panas dan menggairahkan.Reno terkekeh pelan, mengusap bahu mulus Viona seraya menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang, lalu menjawab dengan entengnya, "Ya kalau memang sudah takdir mau bagaimana lagi? Kita nggak bisa milih lahir dari rahim siapa atau punya saudara siapa. Tapi kamu sendiri gimana? Nggak apa-apa kan dan nggak bakal terganggu sama posisi itu kalau ternyata dia beneran saudara kembarku?"Viona mengangkat bah
Sementara itu di kampung halaman Reno, suasana di rumah Bu Rahma diselimuti redup sore yang muram. Ravita duduk di tepi ranjang kamarnya dengan mata sembap dan hidung kemerahan. Sampai sore ini, gadis itu masih sesekali meneteskan air mata, terisak pelan meratapi kenyataan pahit yang baru saja menimpa keluarganya.Hatinya serasa diiris-iris mengingat kenyataan bahwa Mas Reno, kakak yang selama ini paling menyayanginya, membimbingnya, dan selalu menjadi pahlawan ekonomi keluarganya, ternyata sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya."Reno... Reno... Dia udah berangkat ke kota, ngapain kamu masih sibuk nangisin dia," celetuk sebuah suara serak dari arah pintu.Rizal melongok dari pintu sambil mengucek matanya yang masih lengket, baru saja terbangun dari tidur siangnya yang panjang dari dini hari tadi. Pria itu menguap lebar, melirik adik perempuannya dengan pandangan mencibir dan rasa tidak peduli."Alay banget sih kamu, Rav. Cengeng amat," cibir Rizal pedas seraya menyandar
Seorang petugas laboratorium berpakaian steril akhirnya keluar dari ruang pengambilan sampel, memecahkan ketegangan tegang yang berkecamuk di koridor rumah sakit tersebut."Keluarga Bapak Dandi dan Bapak Reynald?" panggil petugas itu ramah seraya membawa clipboard di tangannya.Dandi langsung berdiri tegak, memutus tatapan dinginnya dari Axel. "Iya, kami.""Silakan masuk ke dalam untuk pengambilan sampel darah dan swab mukosa pipi. Prosedurnya hanya sebentar," lanjut petugas laboratorium tersebut seraya membukakan pintu.Reno mengangguk tenang, meremas lembut jemari Viona sebelum melepaskan pegangannya. "Aku masuk dulu ya, Vi.""Iya, Mas. Aku tunggu di sini," bisik Viona penuh kehangatan, tersenyum menguatkan sembari merapikan kerah kemeja Reno. Tatapan matanya memancarkan rasa cinta, percaya dan dukungan yang begitu dalam.Pemandangan mesra itu membuat Axel makin muak. Dengan langkah terseret dan wajah ditekuk penuh amarah, ia mendahuluilangkah Dandi dan Reno masuk ke dalam ruangan.
Beritahu Dandi dengan helaan napas berat, teringat raungan histeris Axel itu di rumah tadi. "Saat ini dia sedang frustrasi parah karena posisinya sebagai anak kami sedang terancam. Tapi biar saya yang urus. Mau tidak mau, dia harus mau."Darmawan dan yang lainnya pun setuju. Mereka mengobrolkan beberapa hal, Reno dan Dandi bertukar informasi tentang data dirinya dan Axel.Setelah itu, tanpa membuang waktu lagi, Dandi pamit dan langsung bergegas pulang.Keheningan tegang masih menggelayuti ruang tamu sepeninggal Dandi. Darwin, Darmawan, Reno, dan Viona masih terdiam, sibuk mencerna kerumitan benang merah yang baru saja terhampar di hadapan mereka.Tepat saat itu, langkah kaki memecah kesunyian. Rima melangkah masuk dengan gaya anggunnya setelah bepergian seharian, kumpul dengan teman-teman sosialitanya. Dahi wanita umur tiga puluhan itu berkerut dalam, di halaman depan tadi, ia sempat melihat Dandi dengan kilat raut wajah Dandi yang amat keruh. Dan sekarang begitu masuk rumah, suasana
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama







