LOGINViona menyandarkan kepalanya di dada bidang Reno yang telanjang, membiarkan nafas mereka yang masih memburu dan badan yang masih berkeringat kembali teratur secara perlahan. Jemari lentiknya membelai lembut garis rahang dan dada suaminya yang kokoh, mengagumi kehangatan pria yang baru saja memuaskannya hingga lemas tak tersisa."Apa jadinya kalau kamu dan Axel ternyata saudara kandung?"Tiba-tiba Viona nyeletuk bertanya seperti itu, memecahkan keheningan kamar hotel yang temaram saat mereka sedang berbaring rileks setelah aktivitas ranjang mereka yang panas dan menggairahkan.Reno terkekeh pelan, mengusap bahu mulus Viona seraya menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang, lalu menjawab dengan entengnya, "Ya kalau memang sudah takdir mau bagaimana lagi? Kita nggak bisa milih lahir dari rahim siapa atau punya saudara siapa. Tapi kamu sendiri gimana? Nggak apa-apa kan dan nggak bakal terganggu sama posisi itu kalau ternyata dia beneran saudara kembarku?"Viona mengangkat bah
Sementara itu di kampung halaman Reno, suasana di rumah Bu Rahma diselimuti redup sore yang muram. Ravita duduk di tepi ranjang kamarnya dengan mata sembap dan hidung kemerahan. Sampai sore ini, gadis itu masih sesekali meneteskan air mata, terisak pelan meratapi kenyataan pahit yang baru saja menimpa keluarganya.Hatinya serasa diiris-iris mengingat kenyataan bahwa Mas Reno, kakak yang selama ini paling menyayanginya, membimbingnya, dan selalu menjadi pahlawan ekonomi keluarganya, ternyata sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya."Reno... Reno... Dia udah berangkat ke kota, ngapain kamu masih sibuk nangisin dia," celetuk sebuah suara serak dari arah pintu.Rizal melongok dari pintu sambil mengucek matanya yang masih lengket, baru saja terbangun dari tidur siangnya yang panjang dari dini hari tadi. Pria itu menguap lebar, melirik adik perempuannya dengan pandangan mencibir dan rasa tidak peduli."Alay banget sih kamu, Rav. Cengeng amat," cibir Rizal pedas seraya menyandar
Seorang petugas laboratorium berpakaian steril akhirnya keluar dari ruang pengambilan sampel, memecahkan ketegangan tegang yang berkecamuk di koridor rumah sakit tersebut."Keluarga Bapak Dandi dan Bapak Reynald?" panggil petugas itu ramah seraya membawa clipboard di tangannya.Dandi langsung berdiri tegak, memutus tatapan dinginnya dari Axel. "Iya, kami.""Silakan masuk ke dalam untuk pengambilan sampel darah dan swab mukosa pipi. Prosedurnya hanya sebentar," lanjut petugas laboratorium tersebut seraya membukakan pintu.Reno mengangguk tenang, meremas lembut jemari Viona sebelum melepaskan pegangannya. "Aku masuk dulu ya, Vi.""Iya, Mas. Aku tunggu di sini," bisik Viona penuh kehangatan, tersenyum menguatkan sembari merapikan kerah kemeja Reno. Tatapan matanya memancarkan rasa cinta, percaya dan dukungan yang begitu dalam.Pemandangan mesra itu membuat Axel makin muak. Dengan langkah terseret dan wajah ditekuk penuh amarah, ia mendahuluilangkah Dandi dan Reno masuk ke dalam ruangan.
Beritahu Dandi dengan helaan napas berat, teringat raungan histeris Axel itu di rumah tadi. "Saat ini dia sedang frustrasi parah karena posisinya sebagai anak kami sedang terancam. Tapi biar saya yang urus. Mau tidak mau, dia harus mau."Darmawan dan yang lainnya pun setuju. Mereka mengobrolkan beberapa hal, Reno dan Dandi bertukar informasi tentang data dirinya dan Axel.Setelah itu, tanpa membuang waktu lagi, Dandi pamit dan langsung bergegas pulang.Keheningan tegang masih menggelayuti ruang tamu sepeninggal Dandi. Darwin, Darmawan, Reno, dan Viona masih terdiam, sibuk mencerna kerumitan benang merah yang baru saja terhampar di hadapan mereka.Tepat saat itu, langkah kaki memecah kesunyian. Rima melangkah masuk dengan gaya anggunnya setelah bepergian seharian, kumpul dengan teman-teman sosialitanya. Dahi wanita umur tiga puluhan itu berkerut dalam, di halaman depan tadi, ia sempat melihat Dandi dengan kilat raut wajah Dandi yang amat keruh. Dan sekarang begitu masuk rumah, suasana
Axel menatap papanya dengan pancaran mata liar penuh rasa tidak percaya. Pertanyaan Dandi barusan serasa menjadi pukulan telak yang kian menghempaskan harga dirinya ke titik terendah."Papa ngomong apa sih?" teriak Axel, suaranya serak melengking, bergetar hebat menahan frustrasi yang membakarnya. "Mana aku tahu dia punya saudara atau enggak. Aku bukan siapa-siapa si Reynald miskin itu, Pa. Kenapa Papa malah mikirin dia saat posisi aku di rumah ini lagi diujung tanduk?"Axel meremas rambutnya sendiri, melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding. Air mata emosi menetes membasahi pipinya yang pucat. Ia tak sanggup lagi menampung beban di kepalanya, ancaman kehilangan seluruh harta dan status sosialnya, teror kehamilan Lani yang terus mengejarnya, dan kini sikap Dandi yang justru mulai mengabaikannya demi mencari tahu sosok pria kampung yang sangat ia benci itu."Aku nggak peduli soal Reynald, aku nggak peduli dia kembar atau punya saudara seribu orang sekaligus," lanjut Axel b
Suryo menelan ludah dengan susah payah. Tatapan mengintimidasi dari Darmawan dan ketegangan di wajah Darwin membuat ruang geraknya terkunci rapat. Tak ada celah lagi untuk berbohong."I-iya, Mas," jawab Suryo akhirnya, suaranya bergetar pasrah. "Dewi baru saja telepon dari rumah Dandi. Hasil tes DNA kilat Axel dan Dandi baru keluar pagi ini... dan probabilitasnya nol. Axel bukan anak kandung Dandi dan Mila."Darmawan tersentak hebat. Meski ia berupaya keras mempertahankan raut wajah datarnya, binar di matanya tak sanggup menyembunyikan rasa terkejut yang luar biasa.Otak Darmawan seketika berpikir ke mana-mana, menghubungkan potongan-potongan fakta. Semalam, Viona baru saja menelepon dan mengabarkan hasil mereka di kampung. Bu Rahma mengaku Reno adalah bayi yang dibuang di depan rumahnya, yang artinya Reno juga bukan anak kandung keluarga itu.'Axel bukan anak Dandi dan Reno bukan anak dari orang tuanya di kampung itu,' batin Darmawan, dadanya berdegup kencang. Apakah dugaan Viona dan
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la







