LOGINWaktu bergulir cepat hingga sore hari menjelang pukul lima. Sesuai janjinya, Reno sudah kembali ke kamar hotel. Setelah membersihkan diri dan menyegarkan badannya dengan mandi air hangat, Reno kini. santai mengenakan kaus polos dan celana kasual.Sambil menunggu jam makan malam, mereka berdua duduk berdekatan di sofa empuk ruang tengah kamar suite tersebut. Viona menyandarkan kepalanya manja pada bahu kokoh sang suami, menikmati momen santai setelah seharian beraktivitas masing-masing.Di tengah obrolan hangat mereka, Viona teringat kejadian kocak sekaligus menggelikan tadi siang. Ia langsung menegakkan tubuhnya, menatap Reno dengan binar mata antusias yang berapi-api."Oh iya, Mas. Mas tahu nggak? Tadi siang tiba-tiba aja ada nomor baru yang ngirim pesan. Nanyain Kamu udah nyari orang tua kandungmu nggak? Terus karena nggak aku tanggapin, dia nelfon aku berkali-kali," cerita Viona penuh ekspresi.Reno mengerutkan keningnya, menatap istrinya heran. "Nomor baru? Siapa? Orang iseng?""A
Axel yang sempat terpaku mendengarkan semburan amarah Viona langsung tersadar seketika. Mumpung Viona belum mematikan sambungan telepon secara sepihak, dia cepat-cepat memotong selagi masih ada kesempatan bicara."T-tunggu, Viona! Jangan dimatikan dulu," seru Axel panik. "Aku Axel! Sorry, aku lupa memperkenalkan diri tadi dan terpaksa pakai nomor baru karena kamu sudah memblokir nomorku yang dulu."Napas Viona tercekat sejenak di balik telepon, raut wajahnya seketika berubah makin masam saat menyadari siapa pemilik suara di seberang sana.Tanpa membiarkan Viona menyela, Axel dengan cepat melanjutkan maksudnya. "Aku bertanya karena penasaran juga. Maksudku... apakah suamimu itu mencari orang tua kandungnya? Kalau iya, itu otomatis adalah orang tua kandungku juga, kan? Dan bagaimanapun juga, kamu itu iparku.""Cih!" Viona berdecih keras. "Ipar? Nggak sudi banget aku punya ipar modelan kayak kamu. Nggak usah kepedeaan deh.""Dan nggak usah sok ikut campur urusan suamiku. Mau Mas Reno men
Viona mengernyitkan alisnya saat membaca cuplikan pesan yang muncul di layar kunci ponselnya. Nomor pengirimnya adalah nomor baru dan tidak terdaftar di daftar kontaknya."Siapa sih ini? Nomor nggak dikenal tiba-tiba nanya hal privasi begini," gumam Viona dengan nada jengkel.Viona tidak membuka apalagi membalas pesan dari nomor baru itu, karena tiba-tiba bertanya tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu, sehingga sangat tidak penting untuk dilayani. Mengingat status latar belakang keluarga adalah hal yang sensitif, Viona memilih untuk mengabaikan dan tidak membalas pesan itu sama sekali.Tanpa perlu menggeser layar untuk membuka pesan, Viona langsung menaruh ponselnya begitu saja di atas nakas. Ia mengaitkan jubah mandi di tubuhnya lalu mengambil telepon kamar untuk memesan makanan ke room service. Perutnya yang makin keroncongan jauh lebih penting untuk diurus daripada melayani orang iseng yang tak jelas asal-usulnya.*Sementara itu, di tempat lain, Axel menatap layar ponselnya de
Ambar menelan ludahnya yang terasa pahit. Bulu kuduknya merinding mendengar analisis suaminya. "Tapi... siapa, Pa? Siapa yang tega melakukan hal sebiadab itu pada kita? Apa salah kita sampai ada orang yang sengaja memisahkan kita dari anak kandung kita sendiri?"Harjo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Otak bisnis dan daya ingatnya yang tajam kini memutar kembali ingatan masa lalu, mengingat siapa saja musuh bisnisnya saat itu, siapa dokter yang menangani persalinan Ambar, hingga siapa saja pihak rumah sakit yang terlibat."Siapa pun orangnya, dia sangat mengenal kita, tahu posisi keuangan kita saat itu, dan punya akses penuh di rumah sakit tersebut. Jika dugaan ini benar, Papa tidak akan tinggal diam. Papa akan lacak kembali semua rekam medis dua puluh enam tahun lalu, cari tahu siapa dokter dan perawat yang bertugas malam itu. Siapa pun yang bertanggung jawab atas penderitaan dan kebohongan ini... mereka harus bayar mahal."Ambar mencengkeram lengan suaminya, hatinya makin bergetar he
Di sisi lain, Revan yang menoleh seketika mendapati kedua orang tuanya berdiri tidak jauh darinya. Sontak, napas Revan tercekat. Pikirannya langsung ke mana-mana, tidak hanya sekadar masuk angin atau kecapekan biasa. Wajah pucat dan lesu yang Harjo pasang saat sarapan tadi pagi tiba-tiba berputar kembali di kepalanya.Dengan langkah tergesa-gesa, Revan langsung berlari kecil menghampiri orang tuanya."Ma! Pa," seru Revan panik, matanya memindai tubuh Harjo dari ujung kepala hingga kaki. "Papa kenapa dibawa ke rumah sakit? Tadi pagi Papa cuma bilang kurang enak badan, tapi kenapa sekarang sampai ke sini? Sakit apa, Pa? Jantungnya kambuh? Atau ada apa?"Rentetan pertanyaan Revan meluncur begitu cepat, mencerminkan betapa besarnya rasa khawatir pemuda itu pada sang ayah.Harjo dan Ambar saling berpandangan seketika. Mereka benar-benar tidak menyangka akan berpapasan dengan Revan di tempat ini, di saat mereka sendiri baru saja merampungkan langkah rahasia untuk menyelidiki kebenaran biolo
Keesokan harinya, sinar matahari pagi mulai menerobos masuk lewat celah tirai kediaman keluarga Santoso. Suasana rumah yang megah itu perlahan mulai ramai dengan aktivitas pagi.Revan yang sudah tampil rapi dengan kemeja dan jas kerjanya menyantap sarapan singkat di meja makan. Sementara itu, Harjo duduk di sebelahnya hanya meminum teh hangat sambil sesekali memegang pelipisnya, memajang wajah lesu yang dipaksakan."Papa beneran nggak ke kantor hari ini?" tanya Revan khawatir. "Biar Revan yang handle rapat pagi ini kalau Papa masih agak pusing.""Iya, Nak," jawab Harjo dengan suara yang dibuat agak lemas. "Papa agak kurang enak badan pagi ini. Mungkin kecapekan. Kamu berangkat duluan saja, dan pegang kendali di kantor hari ini.""Baik, Pa. Papa istirahat saja di rumah. Ma, Revan berangkat dulu ya," pamit Revan seraya mencium tangan Ambar yang berdiri di dekat meja makan."Hati-hati di jalan ya, Revan," balas Ambar lembut, mengelus lengan anak yang dibesarkannya selama 26 tahun itu den
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je







