ログインBu Rahma lumayan lega dibuatnya.Viona menatap suaminya dengan napas sedikit memburu dan binar mata yang sarat akan rasa kagum yang makin meluap-luap. Tatapannya tertuju pada postur tegap Reno, otot dadanya yang membidang di balik kaus simpel, dan ketenangan dan kekuatan yang baru saja dipamerkannya. Di mata putri konglomerat itu, Reno bukan lagi sekadar pria yang sanggup membuatnya bertekuk lutut dan mengerang puas di atas ranjang setiap saat, tapi juga sosok jagoan sejati yang sanggup melindunginya dari marabahaya tanpa gentar sedikit pun.‘Gila... laki gue makin keren aja. Duh, gak sabar mau ehem-ehem sama Mas Montir malam ini,’ batin Viona bersorak nakal, menggigit bibir bawahnya sembari membayangkan keperkasaan Reno yang bakal makin liar setelah adrenalin bertarungnya terpacu.Setelah rombongan Yunita pergi dengan sisa harga diri yang hancur, Pak RT dan para tetangga pun berpamitan kembali ke rumah masing-masing setelah memastikan situasi benar-benar kondusif. Suasana rumah sede
Dua bodyguard bertubuh kekar itu langsung melangkah maju, memamerkan tatapan beringas sembari merenggangkan otot-otot leher mereka. Suasana di ruang tamu sempit itu seketika mencekam. Bu Rahma dan Ravita di balik punggung Reno spontan menjerit ketakutan, sementara Yunita menyunggingkan senyum puas, menanti untuk melihat keangkuhan Reno dan istrinya dihancurkan.Bukannya gentar atau mundur setapak pun, Reno justru menggeser Viona pelan ke belakang tubuhnya, melindunginya dengan sempurna."Vi, berdiri di belakang Ibu sama Ravita," bisik Reno.Viona yang paham kapasitas dan keperkasaan suaminya tidak panik sedikit pun. Ia justru melangkah mundur dengan santai, melipat kedua tangannya di dada sembari melempar senyum meremehkan ke arah Yunita dan kedua bodyguard tersebut.Reno memutar bahunya sedikit, menyunggingkan senyum miring yang dingin dan penuh bahaya. Matanya yang tajam mengunci pergerakan kedua pria berbadan besar itu."Kalian yakin mau main fisik di rumah saya?" tanya Reno dingi
Reno menyunggingkan senyum miring yang tipis, penuh ketenangan. Bahunya yang tegap serta gesturnya yang santai namun berwibawa memancarkan aura dominan, seorang pria sejati yang siap menjadi benteng terdepan bagi keluarganya."Jawab aja kalau Mbakmu ini wanita karir dari Jakarta," jawab Reno tegas. "Soal kenapa kami baru pulang sekarang, bilang aja Masmu ini sibuk urus pekerjaan di luar kota sekaligus mendampingi istri. Gak perlu jelaskan detailnya."Ravita memilih diam, meskipun dalam hatinya masih banyak pertanyaan dan alasan serta jawaban apa yang harus dia ungkapkan nanti jika para tetangganya bertanya.Viona mendongak, menatap Reno dengan binar mata terpikat. Setiap kali Reno mengambil kendali dengan kepemimpinan dan ketegasannya seperti ini, dada Viona selalu berdesir hebat. Di matanya, Reno adalah sosok pria sempurna yang tak cuma perkasa di atas ranjang, tapi juga sangat tangguh di dalam kehidupan nyata.Reno lalu memegang jemari ibunya, menatap mata rentanya dengan kepastian
Melihat derai air mata dan luka mendalam di mata wanita yang telah melahirkannya, Reno bergerak dari tempat duduknya. Ia berpindah duduk ke samping Bu Rahma, merengkuh bahu ringkih sang ibu dan mengusap lengannya penuh kehangatan. Ravita yang ikut berkaca-kaca segera menggeser duduknya, merapatkan diri di sisi lain Bu Rahma sembari mengelus punggung ibunya.Reno sengaja membisu, membiarkan sang ibu menuntaskan seluruh kepedihan, prasangka, dan tangis serta sesak di dadanya sampai napas wanita tua itu perlahan memelan dan mereda.Setelah suasana mereda dan Bu Rahma menyapu air matanya dengan ujung daster, Reno mengembuskan napas panjang. Ia menatap lekat mata ibunya, tak ingin ada kebohongan di antara mereka."Bu... dengerin Reno baik-baik ya," ujar Reno dengan suara yang begitu lembut. "Reno gak pernah berniat menyisihkan Ibu, apalagi gak menganggap Ibu. Pernikahan ini memang sama sekali gak pernah Reno rencanakan sebelumnya. Kami menikah juga bukan karena Viona hamil duluan."Reno me
Reno hanya melempar senyum tipis tanpa membeberkan identitas wanita di sampingnya. Dengan tenang dan sopan, pria berbadan tegap itu melangkah mendekati para tetangga, menyalami mereka satu per satu.Viona hanya bisa melempar senyum canggung. Baru pertama kalinya merasakan seperti ini. Apa memang seperti ini di kampung?Melihat kerumunan warga yang kian rapat dan raut lelah di wajah putranya, Bu Rahma akhirnya membuka suara. "Wis, wis... Reno kan baru sampai, pasti capek perjalanan jauh. Ayo masuk dulu, Le, istirahat di dalam."Pak RT yang mengerti situasi pun langsung mengibaskan tangannya ke arah warga. "Yo wis, bapak-bapak, ibu-ibu, bubar sek. Biar keluarga Bu Rahma istirahat dulu. Nanti lagi tanyanya."Perlahan para tetangga mulai membubarkan diri meski kasak-kusuk penasaran masih terdengar samar-samar. Reno kemudian mengangkat koper mereka masuk ke dalam rumah, disusul Viona yang terus mengekor di belakangnya.Begitu melangkahkan kaki melewati pintu depan, pandangan Viona refleks
Reno tersenyum puas melihat efek sihir nama Yunita yang sukses membuat Viona melupakan rasa lelahnya. Dengan sikap posesifnya yang menggebu-gebu, Viona terus menggenggam erat jemari Reno.Reno paham betul bahwa kepulangannya kali ini bukan sekadar tentang mudik atau mengenalkan istri barunya. Ada benang kusut masalah keluarga, dan abangnya yang entah menghilang dan sembunyi dimana.Begitu roda pesawat domestik itu terangkat meninggalkan landasan menuju kampung halaman, Viona menyandarkan kepalanya di bahu Reno dengan nyaman.Setelah menempuh penerbangan domestik selama satu jam lebih yang diwarnai sikap makin posesif dan mepetnya Viona pada Reno, pesawat akhirnya mendarat mulus di bandara tujuan. Setelah mengambil bagasi, Reno menatap istrinya lekat-lekat, menyunggingkan senyum tipis sembari merapikan anak rambut yang menjuntai di wajah Viona."Vi, seperti yang aku bilang di pesawat tadi," ujar Reno lembut, menunjuk pakaian dan riasan Viona. "Pakai baju biasa aja dan dandan sekadarny
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m







