แชร์

5 - Menghadapi Pria Mabuk

ผู้เขียน: Paus
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-09 15:47:05

Setelah memasuki rumah Ibu mertuanya, Maura langsung pergi ke dapur untuk membawa buah-buahan. Dia mencuci buah-buahan itu, memotong dan mengupas setengahnya dan menyimpan sebagiannya lagi di kulkas agar tetap segar.

Maura juga langsung dengan cekatan membantu ibu mertuanya yang sepertinya baru selesai membuat makan malam.

“Barusan kamu diantar sama siapa?” Aryani, ibu mertua Maura bertanya.

Maura menjawab, “Itu bawahanku di kantor. Kami kebetulan searah, jadi dia menawarkan tumpangan.”

“Bawahanmu?”

“Iya, dia anak magang yang baru bergabung dengan kantor.”

“Ibu pikir siapa. Habisnya, mobilnya mewah sekali. Untunglah kalau cuma anak magang. Orang-orang bisa langsung salah paham kalau melihatnya.”

Maura menghentikan gerakannya sejenak. Lalu menatap ibu mertuanya. “Maksud Ibu?”

“Nggak ada maksud apa-apa. Ibu cuma bilang, perempuan yang berstatus seperti kamu akan selalu diperhatikan orang. Diantar mobil semewah itu, gimana kalau ada yang mengira kamu sedang menggoda seorang pejabat di perusahaan kamu?”

Maura luar biasa kaget mendengarnya. “Kenapa Ibu berbicara seperti itu? Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan anak itu. Dia hanya ingin mengantar saja karena aku sulit mendapat taksi.”

Aryani menghela napas berat di sela kegiatannya memindahkan lauk ke atas piring.

“Ibu nggak tahu apa maksudmu membawa pria seperti itu ke depan rumah ibu, Maura. Tapi seharusnya, kamu memikirkan mendiang suamimu,” suara Aryani terdengar sendu. “Kasihan sekali Adam karena sikapmu tidak tahu diri seperti ini. Padahal semasa hidupnya dia sudah sangat berjasa kepada kamu, tapi beginilah balasanmu.”

Maura merasakan tangannya gemetar. Perasaan bersalah dan sakit hati langsung merayap dengan mudahnya. Jika ibu mertuanya sudah menyinggung soal mendiang suaminya, Maura tidak bisa membalas apa-apa.

Ibu mertuanya itu lupa, bahwa sejak putra kesayangannya sakit parah, Maura lah yang menjadi tulang punggung keluarga, membayar biaya rumah sakit sambil tetap berperan sebagai seorang istri, dan membiayai seluruh kehidupan keluarga suaminya.

Sedangkan, mereka bahkan tidak tahu berapa banyak uang yang harus dikeluarkannya untuk sekedar membeli obat suaminya.

Tapi, kalau sudah menyangkut soal Maura, mereka hanya mengingat hal-hal buruknya saja. Jika Maura berusaha membela diri, mereka akan menganggapnya pembangkang dan mengungkit-ungkit mendiang suaminya lagi.

Aryani juga belum selesai. “Dan kamu pikir hanya karena kita nggak tinggal satu rumah, Ibu nggak tahu rumor-rumor jelek yang dibicarakan semua orang tentang kamu dan kos-kosanmu itu?”

Maura mendesah lelah. “Itu hanya gosipan orang jahil, Bu.”

“Gosip itu tidak akan muncul kalau tidak ada sebabnya, Maura. Seorang janda seperti kamu seharusnya berhenti mencari perhatian pria. Ingat sama suami kamu.”

Maura merasa hatinya diremas. Menjadi seorang janda mungkin artinya tidak boleh berbahagia lagi.

Sekelebat bayangan tiba-tiba melintas di pikirannya.

Saat lengan kokoh Jovan memeluk pinggangnya dengan begitu erat, Maura bisa merasakan besar dan hangatnya tubuh seorang pria setelah sekian lama.

Bayangan itu hanya beberapa detik.

Maura menggelengkan kepalanya dan kembali menyibukkan diri. Merasa bersalah karena berani-beraninya tubuhnya malah menginginkan sentuhan seorang pria.

***

Selama di rumah mertuanya, Maura melakukan seluruh pekerjaan rumah. Mulai dari menyapu lantai, mengepel, mencuci pakaian yang kotor, hingga mencuci piring. Tidak ada bedanya seperti saat dirinya masih menjadi menantu rumah tersebut.

Maura menginap semalam dan baru pulang besok paginya setelah menyiapkan sarapan untuk orang rumah.

Pukul sepuluh, Maura sampai di kamarnya. Dia segera mandi dan berganti pakaian. Saat sedang mengeringkan rambut, Maura mendapatkan telepon dari adiknya. Senyumnya merekah dan Maura langsung mengangkat panggilan itu.

“Nayla, bagaimana kabar kamu?” Maura lebih dulu berbicara kepada adiknya.

“Aku baik. Kakak sendiri gimana? Awas lho, kalau aku tahu Kakak sampai sakit karena terlalu sibuk bekerja sekaligus mengurus kos-kosan.”

Maura tersenyum. Sejak dulu, hubungannya bersama adiknya memang dekat.

“Kakak juga baik-baik saja. Kenapa kamu telepon?”

“Soal bayaran kuliah … tagihannya udah keluar. Tapi nggak perlu buru-buru. Kalau Kakak belum ada uangnya, nggak apa-apa.”

Maura baru saja teringat. “Benar juga. Kakak lupa tentang hal itu. Nanti langsung Kakak kirim ya uangnya.”

“Kak, nggak lama lagi aku juga bakal liburan semester. Nggak sabar mau pulang dan jenguk Ayah dan Ibu.”

Mereka mengobrol sejenak. Maura memberi pesan agar adiknya rajin belajar. Dan tak lama, Nayla pamit untuk mematikan panggilan untuk melanjutkan mengerjakan tugas.

Karena telepon dengan adiknya itu, Maura juga jadi teringat tentang uang perawatan yang belum dikirimkannya bulan ini kepada panti jompo tempat orang tuanya tinggal.

Kedua orang tuanya sudah memasuki usia lansia. Selama ini, Maura memang menyerahkan perawatan mereka kepada pihak profesional. Bukan karena Maura ingin lepas tangan, tapi karena dirinya terlalu sibuk bekerja, ia tidak bisa merawat dan menjaga orang tuanya yang sudah butuh bantuan untuk kegiatan sehari-hari.

Setelah mengecek saldo di rekeningnya, Maura menyusun anggaran pribadinya. Sebagai orang yang bekerja di bidang keuangan, Maura terbiasa mengatur pengeluaran.

Ketika mengamati pembukuan untuk bayaran para penghuni kos, Maura ingat tentang salah satu penghuni yang sudah menunggak selama beberapa bulan.

Maura berusaha menghubungi penghuni penunggak itu, tapi tidak diangkat. Akhirnya, Maura memutuskan untuk pergi ke kamar penghuni itu dan mengetuknya.

Tapi di luar dugaan, saat pintu terbuka, pria itu menyambutnya dengan kondisi mabuk.

Pintu kamar dibuka lebar-lebar dan Maura bisa melihat kondisi kamarnya yang sangat berantakan sekaligus bau alkohol.

“Iya, iya, kubayar bulan depan,” jawab pria itu sembarangan sambil menggaruk rambutnya yang acak-acakan.

“Kamu sanggup membeli bir, tapi nggak sanggup membayar tunggakan kos-kosanmu sendiri?” tegur Maura. “Kalau kamu terus seperti ini, saya bisa usir kamu. Peraturan di sini jelas. Kamu nggak bisa minum alkohol di sini.”

Pria itu marah, matanya merah dengan kantung mata hitam. Jelas-jelas dia masih mabuk. “Mau minum di mana pun, itu terserah aku! Kamu, bukannya janda yang suka dibayar murah? Kenapa nagih-nagih begini?”

Matanya menelusuri Maura dari atas sampai bawah. “Ah, gini saja. Aku puaskan kamu, jadi biaya sewaku lunas. Itu ‘kan yang kamu inginkan?”

Maura terperanjat, dia langsung melangkah mundur. “Jangan macam-macam dengan saya!”

Pria seperti ini berbahaya. Maura harus pergi keluar dan meminta satpam komplek untuk menangkapnya dan membawanya keluar dari kos ini.

Belum sempat pergi dari sana, pria itu sudah menarik tangan Maura dan menyeretnya masuk.

“Jangan sok jual mahal. Tubuhmu sia-sia kalau nggak dipakai.” Pria itu mendorong tubuh Maura hingga terjerembab ke kasur yang bau apek.

Maura menjerit, tubuhnya menegang karena rasa sakit dan gemetar karena panik.

“Tolong—!”

Sebelum Maura berteriak kencang, cengkeraman tangan pria mabuk itu tiba-tiba terlepas darinya. Pria itu tiba-tiba terhuyung ke belakang dengan jeritan kesakitan, kedua tangannya dipelintir di belakang punggungnya.

“Dasar keparat!” Suara itu familier.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   18 - Memanfaatkan Situasi

    Hujan baru saja berhenti.Langit di atas sana masih menggantung kelabu. Meski waktu sudah menunjukkan hampir pukul 07.00, cuaca seperti menunjukkan bahwa hari enggan benar-benar cerah.Karin berdiri di dekat pagar besi depan kamarnya, karena suasana lembab dan sumpek di dalam rumah malah membuatnya tidak nyaman.Ia meloloskan dengkusan kasar. “Tidak di dalam, tidak di luar rumah, suasananya sama saja. Bagaimana bisa orang-orang betah tinggal di sini?”Gerutuan itu mengudara. Karin membencinya. Hujan sudah turun sejak dini hari. Baru berhenti belum lama.Karin terbiasa tetap tertidur lelap walaupun hujan turun dengan derasnya. Tapi di kos-kosan itu, tembok seperti jauh lebih tipis dari tembok di rumahnya. Meski masih ada lantai 3 tepat di atas kamarnya, Karin bisa tetap mendengar dengan jelas suara berisik dari hujan. Sampai dirinya kesulitan tidur semalam.Kamarnya jadi terasa lebih lembab dari biasanya. Karin tidak suka. Niatnya dirinya ingin langsung pergi ke kamar Jovan, tapi yang

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   17 - Rencana Karin

    Makan malam Karin dan Jovan jauh lebih cepat daripada yang Karin bayangkan. Padahal Karin mengharapkan kencan yang istimewa di mana dirinya bisa menghabiskan lebih banyak waktu berduaan hanya dengan Jovan saja. Malang, itu ada di angan-angan Karin saja. Sudah repot-repot dirinya memesan restoran mahal, memesan ruangan private, tapi Jovan ogah berlama-lama di restoran. Bahkan mereka tidak banyak mengobrol. Karin berusaha membujuk setelah mereka keluar dari restoran. “Bagaimana kalau kita menonton film dulu? Sudah lama kita nggak nonton bioskop.” “Aku nggak bisa.” Jovan menolak tanpa memikirkannya. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri jalan untuk melihat taksi online yang sudah dipesan olehnya. Taksi itu belum datang dan mereka terpaksa menunggu sebentar di sana. “Kamu ini kenapa sih terus-terusan nolak aku? Kita udah lama nggak ketemu dan seharusnya kita lebih banyak ngabisin waktu berdua sekarang. Kenapa buru-buru banget mau pulang? Tadi pun di dalam restoran kamu kelihatan

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   16 - Bangun dari Mimpi

    Setelahnya Jovan langsung mengambil alih box dari tangan Maura. Hal itu membuat Maura menatapnya kaheranan. Terutama saat Jovan menumpuk box itu dengan satu box lainnya.“Saya bisa sendiri. Lagi pula ini nggak berat.” Maura berusaha menolak bantuan Jovan.“Menurut saya ini lumayan berat. Kalau ringan sudah pasti Ibu langsung membawanya dua sekaligus.”“Hanya berjaga-jaga. Kalau semuanya jatuh, bakal rusak isi di dalamnya.”“Memangnya isinya apa?”“Cuma kebutuhan sehari-hari. Saya pesan online tadi.”Jovan manggut-manggut mengerti dan membawa dua box itu dengan mudah. Cukup berat, tapi masih bisa ditangani.Maura ingin mengambil alih salah satunya, agar beban Jovan tidak terlalu berat, tapi Jovan menjauhkan box itu.“Biar saya saja. Kamar Ibu kan di lantai teratas. Lumayan juga kalau bawa barang ini sampai ke sana.”Jovan bahkan tidak membiarkan Maura untuk menjawab perkataannya. Dia langsung berlalu meninggalkan Maura meski Maura belum menyetujui bantuan itu. Mau tak mau Maura mengik

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   15 - Panggil Saya Saja Kalau Butuh Bantuan

    Sudah sangat sore saat itu, ketika Karin datang ke kamar Jovan dan mengetuk pintunya.Jovan baru saja pulang magang beberapa waktu lalu. Ketika membuka pintu, matanya memutar malas mendapati Karin di depan pintu kamarnya.“Mau apa? Bukannya aku sudah bilang buat nggak bersikap seolah-olah kita dekat?”Karin cemberut mendengar penolakan tidak langsung itu. “Aku mau ajak makan malam. Cuacanya bagus. Kita bisa sekalian cari udara segar.”Jovan geleng-geleng kepala dan menarik gagang pintu dengan cepat. Tidak tertarik dengan hal itu. Tapi sebelum pintu tertutup sepenuhnya, Karin langsung menahan pintu tersebut dengan kedua tangannya. Segera berdiri di ambang pintu yang tidak sepenuhnya terbuka.“Aku sudah bersikap halus loh sama kamu. Jangan sampai aku teriak-teriak supaya semua orang di kos-kosan sempit ini tahu kalau kamu itu tunanganku. Itu yang kamu mau?”“Berhenti bersikap konyol. Kembali ke kamarmu. Aku nggak mau makan malam sama kamu. Aku sudah pesan makanan.”Jovan ingin menutup p

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   14 - Jarak

    Maura memandangi nomor-nomor lantai yang menyala bergantian. “Apa soal pekerjaan?” “Bukan.” “Kalau begitu tidak perlu dibicarakan. Kita sedang berada di kantor dan yang boleh dibicarakan di sini hanyalah tentang pekerjaan. Di luar dari hal itu sebaiknya ditahan saja.” “Tapi saya perlu minta maaf buat apa yang terjadi. Saya juga nggak tahu kalau Karin bakal tiba-tiba muncul di kos-kosan.” Maura mengalihkan wajahnya pada Jovan. Entah perasaan Maura saja atau bagaimana, wajah Jovan sempat terlihat cemas tadi, tapi sekarang ada senyum tipis yang mewarnai bibirnya. “Dia cuma kenalan saya. Nggak lebih. Soal apa yang dia ucapkan tentang kami berdua, itu cuma salah paham. Dia bukan tunangan saya.” Maura diam selama beberapa detik. Hening. Seolah ruangan besi yang tengah menjaga mereka itu tiba-tiba menjadi terlalu sempit. Pandangan Maura kembali beralih. Untuk sekarang lampu berkedip yang ada di depannya nampak jauh lebih menarik daripada pria tampan di sampingnya. “Itu bukan urusan

  • Nyaman di Dekapan Berondong Muda   13 - Menjaga Dalam Diam

    Di dalam kamar Karin, Jovan yang lengannya masih dipeluk oleh Karin langsung melepaskan diri. “Karin,” suara Jovan berubah dingin. Ia menepis tangan Karin dari lengannya, membuat gadis itu terhuyung dua langkah ke belakang. Karin menatapnya dengan raut bingung dan polos. Baginya, perlakuan kasar Jovan sudah biasa. Ia memang suka sekali membuat Jovan marah dengan tingkahnya. “Bersikap berlebihan gimana maksudnya?” tanyanya. “Buat apa tiba-tiba datang dan pindah ke sini? Nggak menghubungi dulu?” “Gimana mau bilang kalau Kakak saja nggak bisa dihubungi?” Kening Jovan berkerut lagi. Tentu saja Karin punya banyak cara untuk mengabarinya. Namun gadis itu keras kepala. Ia hanya suka melakukan hal sesukanya sendiri. Karin mendekat lagi. “Apa salahnya sih kalau aku mau deket sama Kakak? Lagi pula kita nggak melanggar apa pun. Kita ‘kan beda kamar.” “Kamu nggak bisa bersikap seenaknya, Karin.” Jovan mengingatkan dengan suara rendah. “Di rumahmu, mungkin saja kamu megang kendali atas semu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status