Share

Bab 272

Penulis: Millanova
last update Tanggal publikasi: 2026-07-25 22:52:36

Cahaya lampu ruang operasi bawah tanah yang steril masih tergambar jelas di ingatan Kukuh. Semalam, ia baru saja membuktikan kepada Dokter Harsha bahwa perpaduan antara pisau bedah perak dan pengetahuan anatomi modern adalah senjata mematikan bagi ilmu hitam.

Waktu bergulir cepat. Sinar matahari senja perlahan meredup, tergantikan oleh pendaran lampu gantung kristal di dalam mansion Aji Saka. Udara sore menjelang malam itu terasa sibuk. Di ruang keluarga utama yang megah, arena pertempuran yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 298

    "Ayo, Kukuh. Jangan berdiri saja di ambang pintu. Malam ini kamu duduk di sini, bersama kami."Suara bariton Adiwangsa memecah keheningan yang anggun di ruang makan utama Mansion Cokro. Ruangan megah itu bermandikan cahaya keemasan dari lampu gantung kristal raksasa yang memantul indah di setiap sudut ruangan. Di tengah ruangan, sebuah meja makan berukuran panjang bermaterial marmer putih dari Italia terbentang sangat mewah. Malam ini, meja itu tidak hanya dihiasi dengan berbagai macam hidangan bergaya fine dining yang kebarat-baratan, melainkan juga secara khusus menyajikan hidangan lokal kesukaan menantu mereka. Terdapat sepiring besar sate ayam dengan bumbu kacang yang kental, pecel rawon dengan kuah hitam yang harum memikat, dan seporsi nasi goreng spesial dengan taburan bawang merah.Kukuh, yang baru saja pulang dari kegiatan kampusnya dengan mengenakan kemeja flanel sederhana yang lengannya digulung hingga siku, berdiri sejenak di ambang pintu ganda. Selama ini, rutinitas makan

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 297

    "Jelaskan padaku sekarang juga, Bhanu! Apa yang sedang kamu lakukan terhadap rekan mahasiswamu di dalam ruangan ini?!"Suara Profesor Tirtayasa menggelegar, memantul di dinding stainless steel ruang penyimpanan alat medis. Wajah keriput sang profesor memerah padam. Sebagai dosen paling dihormati di fakultas, melihat indikasi kekerasan atau perundungan di area kekuasaannya adalah sebuah pelanggaran etika yang tidak bisa ditoleransi.Di sudut ruangan, Gisella masih terengah-engah. Mahasiswi Peringkat Satu itu memeluk dadanya di lantai, berusaha mengembalikan pasokan oksigen ke paru-parunya setelah nyaris dicekik oleh hawa panas tak kasatmata dari energi Rajah Geni.Bhanu Wahnindara, yang sepersekian detik lalu memancarkan aura pembunuh yang kental, seketika mengubah postur tubuhnya. Otak taktis militernya bekerja kilat mencari jalan keluar. Menyadari bahwa karier akademis dan nama baik dinasti militernya sedang dipertaruhkan, Bhanu segera menurunkan ketegangan bahunya, menundukkan kepal

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 296

    "Katakan yang sebenarnya, Gisella. Berapa banyak dosen yang sudah kamu suap dengan hasil sabotase semalam?"Suara Bhanu Wahnindara menggema pelan namun mengancam di dalam ruang penyimpanan alat medis yang sempit dan tertutup rapat itu.Gisella terdorong mundur hingga punggungnya menabrak rak stainless steel. Kertas-kertas laporannya berserakan di lantai. Wajah mahasiswi perfeksionis itu pucat pasi, matanya membelalak ketakutan menatap pemuda berambut cepak di hadapannya."Sabotase apa? Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu, Bhanu!" bantah Gisella dengan suara bergetar. "Aku ke sini hanya untuk mengambil stok kasa steril untuk praktikum Profesor Tirtayasa!"Bhanu mendengus sinis. Alih-alih mundur, ia justru melangkah maju, memangkas jarak. Pewaris Rajah Geni itu memusatkan pikirannya, perlahan memancarkan hawa panas murni dari aliran darahnya. Udara di dalam ruang steril itu seketika berubah menjadi sangat pengap, layaknya berada di dalam oven yang terkunci."Jangan bermain bodoh den

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 295

    "Kumpulkan semua rekaman kamera pengawas di sekitar Bangsal Umum C semalam, Mayor. Seseorang telah mensabotase rencana kita."Suara Mayor Yudha dari seberang telepon terdengar kaku dan dingin. "Komandan besar sudah menarik mundur pasukan, Tuan Muda Bhanu. Faksi militer tidak akan mencampuri urusan ini lagi. Anda harus menemukan pelakunya dan membereskan kekacauan Anda sendiri."Panggilan terputus sepihak. Bhanu Wahnindara meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih.Rasa malu karena diusir dari bangsal tadi pagi masih membakar harga dirinya. Ia tidak akan tinggal diam. Diam-diam, pewaris Rajah Geni itu menyelinap ke ruang pembuangan limbah medis rumah sakit. Di tengah bau obat dan desinfektan yang menyengat, ia membongkar tong sampah khusus dari Bangsal Umum C.Setelah beberapa saat menggeledah tumpukan limbah, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Ia menemukan beberapa kantong infus saline kosong yang semalam tidak ada dalam daftar logistik tim medisnya.Bhanu memungut salah

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 294

    "Semua persiapan sudah matang, Tuan Muda Bhanu? Komandan besar berpesan agar Anda tidak mempermalukan nama faksi militer kita di depan para petinggi kedokteran sipil ini."Suara berat nan tegas itu bergema di sepanjang lorong utama Rumah Sakit Pendidikan Universitas Mahkota. Pria berwajah keras yang berbicara adalah Mayor Yudha, ajudan kepercayaan sekaligus tangan kanan dari perwira tinggi klan Wahnindara yang ditugaskan khusus untuk mendampingi Bhanu pagi itu. Di belakang mereka, berbaris rapi selusin pasukan medis taktis berseragam loreng lengkap dengan peralatan intervensi darurat.Bhanu Wahnindara yang berjalan di samping sang ajudan tersenyum penuh percaya diri. Jas laboratorium putihnya tampak sangat kontras dengan aura militer dan wibawa komando yang ia pancarkan."Anda tidak perlu khawatir, Mayor Yudha. Sampaikan pada paman saya bahwa saya sudah memantau perkembangannya semalaman penuh," jawab Bhanu dengan nada arogan, dagunya terangkat tinggi. "Para profesor kedokteran sipil

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 293

    "Kuh, kamu benar-benar sudah gila, ya? Ini jam dua pagi! Kalau ketahuan satpam atau perwira medis dari keluarganya Bhanu yang sedang patroli, kita bisa langsung dikeluarkan dari kampus!"Suara Farhan terdengar bergetar, nyaris seperti cicitan tikus yang ketakutan. Wajah pemuda berkacamata itu pucat pasi, dan peluh dingin sebesar biji jagung terus menetes membasahi dahi hingga ke kerah jas putihnya. Ia berusaha menahan lengan Kukuh, namun tenaga sahabat barunya itu terasa jauh lebih kokoh dari kelihatannya."Tenang saja, Farhan. Pasukan jaga malam rumah sakit biasanya sedang pergantian shift pada jam segini. Lobi utama kosong," bisik Kukuh dengan suara baritonnya yang sangat tenang, terus menarik Farhan menyusuri lorong temaram menuju Bangsal Umum C."Lagipula, untuk apa kita mengendap-endap ke bangsal pasien kritis ini? Bukankah jam observasi kita sudah selesai sejak tengah malam tadi?!" cecar Farhan, setengah merengek namun tak berani melepaskan diri dari Kukuh karena koridor rumah s

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 6

    Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 5

    Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 4

    Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 3

    "Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status