LOGIN"Nona, Apa anda baik-baik saja?" Pertanyaan dari seorang pria tampak menggantung di udara. Ana membuka matanya yang tadi tertutup rapat sebelum akhirnya menatap ke arah sumber suara yang memanggilnya dengan nada suara yang terdengar formal.
"Hm, ya..., Jack. Kenapa kamu datang ke sini?" tanya ana dengan nada suara datar. "Saya sudah menghubungi anda berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Saya khawatir, Nona. Apa anda masih mengenang tragedi itu?" tanya Jack dengan ragu. Tiga tahun sudah berlalu, namun tragedi kelam itu masih saja membekas di pikiran serta hati Ana. Waktu itu bukanlah waktu yang singkat, dan Ana masih mengingat jelas tragedi demi tragedi, ia masih memiliki sedikit kekuatan setelah beberapa pekan menghilang dan akhirnya beberapa anggota Klan Mafia milik ayahnya menemukannya tengah di rawat di sebuah rumah sakit. Ana ditemukan di laut lepas, karena ia dan seluruh keluarganya di buang di sana. kebetulan, sebelumnya tempat berlangsungnya pernikahan yang tertunda itu dekat bibir pantai dan yang lebih mengerikan lagi, bangunan tempat menjadi eksekusi dan tempat yang menjadi saksi bisu kekejaman Alexander Lemos ada di sebuah tebing yang benar-benar langsung menghadap ke laut lepas. "Mau bagaimanapun, mereka adalah bagian dari hidupku, Jack. Aku tidak bisa melenyapkannya begitu saja." "Tapi, Nona..., anda juga harus fokus pada hidup anda, dan juga masa depan anda, serta tujuan kita semua." "Aku tahu, akan aku ingat itu. Katakan, ada apa kamu kemari?" tanya Ana. "Wanita itu kembali sakit, Nona. Beliau berkata tengah merindukan anda, dan seluruh keluarganya sudah mencari anda kesana-kemari. Apa anda tidak ada niat untuk pulang dulu ke sana dan beristirahat? Bukankah sudah tidak ada lagi pekerjaan mendesak di sini? Saya yang akan menjaga semua hal di sini, saya janji." "Hmm, rumah ya? Aku akan pulang – Jack. Siapkan Sepeda Motor Kawasaki Ninja H2R." "Anda serius, Nona?!" Jack sampai terkejut saat mendengar ucapan dari bos mudanya itu. Gadis itu biasnya tidak pernah bergaya aneh-aneh. Pulang ke kediaman Keluarga Besar Wilson hanya menggunakan taksi, dan penampilan sederhana, cukup dengan kaos oblong dan celana kargo saja. "Aku bosan di injak-injak, Jack Kamu kenal Tiffany kan? Dia selalu saja menghinaku di belakang keluarganya itu." ujar Ana dengan santainya. "Nona, bukanlah dia juga anak angkat?" tanya Jack dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat serius. Ana menoleh perlahan ke arah Jack, ia mengangguk kecil. Karena memang status Tiffany dengannya di keluarga itu sama. Mereka sama-sama anak yang di adopsi, atau anak angkat. "Tapi, dia lebih dulu di sana, dan dia pandai berakting. Sudahlah, tidak usah membahasnya lagi, kamu lakukan saja apa yang aku katakan, dan aku akan segera kembali. Aku titip tempat ini, Jack." "Baik, Nona." Jack langsung menuruti segala perintah, sedangkan Ana terlihat membereskan bebetapa barang yang akan ia bawa pulang. Sebelum benar-benar pergi dari sana, ia melihat ke arah luar jendela ruangan itu, ia melihat pepohonan yang menjulang tinggi, dan mulai bergumam sendiri. "Ayah, aku akan pulang..., Markas besar ini, akan aku tinggalkan sejenak, aku akan kembali ke keluarga itu, dan aku berjanji pada kamu, aku akan mulai menjalankan semua aksiku. Tidak akan aku biarkan mereka hidup tenang, Ayah. Tidak akan pernah!" gumam Ana. *** Pukul Enam Sore... "Rere, sebaiknya kita ke rumah sakit saja sekarang." Ricard Wilson, pria paruh baya itu masih mencoba membujuk istrinya untuk ke rumah sakit, akan tetapi... "Tidak! Kalau kalian tidak bisa membawa pulang Aira, maka aku tidak akan ke manapun!" tekan wanita itu. Semua orang di ruangan itu tampak frustasi dengan segala hal yang wanita itu pinta. Keluarga itu sudah mengadopsi seorang gadis yang tidak mereka ketahui identitasnya, dan gadis yang berkata tidak mengingat apapun termasuk namanya itu akhirnya mereka beri nama Aira, nama anak bungsu mereka, darah daging Ricard dan Rere yang meninggal di usia 17 tahun. Meski wajah mereka tentu tidak sama, akan tetapi – Rere ternyata merasa ada sebuah kehangatan yang dapat menyentuh hatinya saat ia berada di dekat gadis itu. Mereka buta akan kenyataan, dan tidak mau berusaha keras mencari identitas, sehingga tanpa mereka sadari, mereka memelihara sosok monster yang berada di dalam tubuh manusia. "Cepat kalian cari adik kalian, dan jangan kembali kalau tidak menemukannya!" tegas Ricard pada ketiga putranya. Aldo Wilson, anak kedua dari keluarga itu tampak terkejut, ia ingin protes – tapi akhirnya di hentikan oleh Alex, anak sulung keluarga Wilson. "Aldo, kamu pergilah dulu, dan kamu Aldi, ikut bersama Aldo." Pemuda kembar itu tidak bisa berbuat banyak saat Alex memerintahnya pergi sesegera mungkin. Meskipun mereka menolak, mereka tidak berani melakukannya pada Alex. "Sialan ya wanita itu!" celetuk Aldi. "Anak tidak tahu diri ya begitu!" timpal Aldo. Mereka berdua terus saja menggerutu sembari keluar dari rumah besar kedua orantua mereka, dan sesampainya di depan rumah... "Eh, Kak! Mau kemana?" tanya seorang gadis manis yang tampak baru datang. Entahlah darimana. "Mau cari wanita itu lagi," celetuk Aldi dengan sedikit ketus. Tiffany mengernyitkan dahinya saat mendengar kata wanita itu. "Siapa, Kak? Kak Aira?" tanya Tiffany. Suara deru dari bising mesin motor akhirnya membuat mereka semua menatap ke arah sumber suara, dan setelah itu mereka melihat seseorang tampak menghentikan sepeda motornya dan setelahnya ia membuka helm yang ia kenakan. Dan tiba-tiba saja... "AIRA?!" pekik mereka semua. Ana hanya melirik ke arah mereka sejenak, sebenarnya ia tidak suka dipanggil Aira, tapi ia tidak bisa mengungkap jati dirinya. bahkan hanya sekedar namapun ia enggan memberitahukannya. Ana hanya diam, serasa enggan mengurusi mereka semua. Ia meletakan helamnya di spion motor, sebelum akhirnya ia pergi dari sana. "Kau bisu ya?!" pekik Aldo! Ana yang sudah berlalu meninggalkan mereka akhirnya menoleh ke belakang dan menatap dingin ke arah mereka. "Aku bisa bicara, tapi– aku bicara pada orang yang tepat! Aku datang tidak untuk berdebat, jadi tidak usah mengajak aku berdebat!" tekan Ana sebelum ia berbalik pergi. Akan tetapi, baru ia berjalan beberapa meter – ia malah berpapasan dengan seseorang yang enggan ia temui. "Kenapa baru datang? Temui mama, dan aku harap – kamu tinggal lebih lama di sini." ujar Alex. Ana diam, ia menatap penuh kebencian ke arah Alex, Alex sendiri selalu merasa bingung mengapa gadis itu sedari dulu tidak menyukainya. Ana tampak seperti orang tidak tau malu dan tidak tahu diri, ia melenggang pergi meninggalkan Alex. "Aira," panggilnya. Ana menghentikan langkah dan kembali berbalik badan dan menatap pria itu. "Kenapa kamu selalu terlihat membenciku, apa aku ada salah padamu?" tatapan pria itu, tatapannya terlihat sendu, dan Ana menatapnya dengan tatapan datar. Ana menatap wajah pria itu datar, tidak ada melas kasihan samasekali. "Terkadang, tidak ada alasan untuk tidak menyukai sesuatu." gumam Ana sebelum ia benar-benar pergi."Sedang apa kalian di sini?!" tanya Alex dengan suara yang lumayan dingin setelah ia melihat ketiga adiknya di sana. Alex berubah, ia seolah kehilangan dirinya. Dan ketiga adiknya sampai membelalakkan mata mereka setelah melihatnya. "Pergi!" ujar Alex tiba-tiba. "Tidak! Kami tidak akan pergi! Kami akan membantu kamu, dan membawa Aira bersama kita!" Tekan Aldo dan Aldi dengan hampir bersamaan. Alex menahan nafas, bukan karena takut, tapi di bagian dadanya seakan ada hal yang sedikit menusuk jantungnya. Sesak, rasnya nafasnya terasa sesak, bukan karena terharu, tapi ia kesal saat kedua adiknya memilih bertahan di sana untuk mempertaruhkan diri mereka. "Baik, tapi aku tak ingin kalian mati terbunuh di sini!" Alex meninggalkan mereka begitu saja. Aldo dan Aldi saling menoleh satu sama lain, menatap satu sama lain sebelum akhirnya mengekor di belakang kakak mereka. Mereka bertiga bahkan sampai melupakan Tiffany yang ada di belakang mereka. Tiffany berdecak kesal. Ia berjalan d
Tubuh Alex membeku, "A–aira." gumamnya dengan bibir bergetar saat melihat sosok gadis pendiam yang selama ini ia kagumi tampak membabat habis lawannya hanya menggunakan belati kecil namun tajam. Ana tidak memperhatikan sampai terlalu jauh, nafsunya membunuh sudah berada di puncaknya. Ia menusuk korban dan darah keluar sangat banyak. Sekilas ia melihat bayangan seseorang yang ia kenali. "Sedang apa kau di situ? Sebaiknya pergi kalau tak ingin mati terbunuh di sini!" ujar Ana sebelum akhirnya ia benar-benar pergi dan kembali mengintai ke segala arah yang ia rasa masih banyak kelompok mereka. Ana terus menuju ke luar, mencari tempat yang dipenuhi udara yang cukup segar. Nafasnya lumayan sesak bila ia tetap bertarung di dalam sana yang cukup gelap dan ia sulit mencari lawannya. Kondisi tubuhnya membuatnya menghemat tenaga termasuk menyisir satu persatu ruangan dengan pendengaran dan mata tajamnya! Hingga... Bugh! Satu serangan mendadak membuatnya harus terpelanting cukup kuat!
Ana, Ia menatap lurus ke depan. Rambutnya yang berantakan berkibar, wanita itu masih memakai pakaian pasien pada saat itu. Nafasnya masih belum teratur, tapi sorot matanya tajam! Senyuman kecil tampak hadir di bibirnya, ia mengambil sebuah batang kayu dan melemparkannya pada mereka sebelum ia berlari masuk ke dalam. Bukan karena ia tidak ingin menghadapi mereka, hanya saja ia harus mencari sesuatu agar mudah menghadapi mereka. Pada saat yang sama, di berbagai tempat sudah banyak orang yang menyisir lokasi sepi atau terbengkalai demi mencari Ana. Baik anak buahnya, Alex maupun Edward, mereka semua mencari Ana. Bahkan Edward dan Alex sampai menggunakan masinh-masing mobil mereka sendiri demi mencari Ana. *** Mobil milik Alex terus membelah jalanan sepi. Matanya menatap ke kiri kanan jalan yang sunyi. Sekarang ia berada di sebuah jalan yang sangat sunyi, tidak ada kendaraan yang lewat selain kendaraannya, sampai akhirnya ia melihat seorang wanita berlari menuju ke sebuah bang
Ana, ia bukanlah wanita lemah yam mereka kira. Sebuah sambungan telepon yang membuat ana yakin dengan dugaannya membuatnya tak bisa berpura-pura lagi. Terlebih orang yang ada di sekitarnya sudah memendam nafsu padanya saat melihat betapa moleknya tubuh Ana. Mata indahnya terbuka dengan cepat, orang di sekitar tubuhnya bahkan sangat terkejut melihatnya. "Hey, kau mau menyentuhku? Atau bahkan menikmati tubuh indahlu ini? Jangan harap bisa melakukannya dasar lelaki jelek!" Ana memuntir dua tangan di kanan dan kiri tubuhnya yang siap menjamahnya. Memutarkannya dan... Kraak! "Aaggh!" teriak orang yang tangannya dibuat patah oleh Ana. Setelah Ana mematahkan tangan orang, ia duduk dengan benar dan mulai menendang burung salah satu pria yang hendak mendekat ke arahnya. Laju mobil tak terkendali, pada saat yang sama akhirnya mobil itu masuk ke sebuah kawasan yang sudah tidak asing lagi bagi Ana. Di dalam mobil hitam yang melaju kencang, Ana duduk di kursi tengah tanpa di ikat, dan tanpa
Di rumah sakit.. Alex ditemukan tak sadarkan diri di ruangan rawat inap yang sebelumnya di huni Ana. Cairan darah berceceran di lantai, ibunya sampai histeris saat melihat kondisi Alex. Setelah ada pasien yang ikut menangani, setelah beberapa saat kemudian akhirnya ia sadar. Alex membuka matanya perlahan, saat ia melihat ke atas ia melihat semua anggota keluarganya kecuali Ana. "Aira mana?" tanya Alex. Siang itu ruang rawat inap Ana sebelumnya akhirnya tampak ramai. ."Di mana Ana?" Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir Alex. Suaranya serak.Aldo saling pandang dengan Aldi, ragu untuk menjawab. Aldi menelan ludah, lalu melangkah maju setengah langkah."Kak, kami melihatnya," ujar Aldi dengan suara pelan namun jelas. "Tadi saat kami ada di luar, kami melihat Aira dibawa beberapa orang. Ada sebuah mobil hitam. Beberapa orang turun. Mereka membawa Aira pergi."Aldo mengangguk cepat, membenarkan ucapan kembarannya. "Aira sempat melawan Kak. Kami mencoba mengejar, tapi mo
Di rumah sakit.. Alex ditemukan tak sadarkan diri di ruangan rawat inap yang sebelumnya di huni Ana. Cairan darah berceceran di lantai, ibunya sampai histeris saat melihat kondisi Alex. Setelah ada pasien yang ikut menangani, setelah beberapa saat kemudian akhirnya ia sadar. Alex membuka matanya perlahan, saat ia melihat ke atas ia melihat semua anggota keluarganya kecuali Ana. "Aira mana?" tanya Alex. Siang itu ruang rawat inap Ana sebelumnya akhirnya tampak ramai. ."Di mana Ana?" Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir Alex. Suaranya serak.Aldo saling pandang dengan Aldi, ragu untuk menjawab. Aldi menelan ludah, lalu melangkah maju setengah langkah."Kak, kami melihatnya," ujar Aldi dengan suara pelan namun jelas. "Tadi saat kami ada di luar, kami melihat Aira dibawa beberapa orang. Ada sebuah mobil hitam. Beberapa orang turun. Mereka membawa Aira pergi."Aldo mengangguk cepat, membenarkan ucapan kembarannya. "Aira sempat melawan Kak. Kami mencoba mengejar, tapi mo







