ログインTerima kasih atas dukungan teman-teman. Semoga suka.
Aisyah telah membuat perjanjian dengan Sean bahwa dia hanya akan menikah dengan pria itu, tetapi dengan kebebasan yang diinginkannya. Dia tetap menjadi dokter dan siap membantu serta menolong pasien.Istana mewah kembali terbuka. Menara kaca tidak lagi terkunci. Rantai dan borgol telah dibuang. Aisyah bisa menikmati hari-hatinya dengan tenang. Dia memberikan waktu untuk Sean mempelajari Islam agar menemukan hidayah bukan karena ingin menikahi Aisyah, tetapi benar-benar mendapatkan ketenangan dari sebuah agama dan kepercayaan. Bukan sekedar permainan.“Nona. Surat pembatalan penikahan telah disiapkan. Anda harus tanda tangan.” Elio memberikan berkas dengan materai kepada Aisyah.“Hm.” Aisyah memegang berkas dan menarik napas dengan berat. Dia harus membatalkan pernikahan dengan Khaled agar semua orang mendapatkan kebebasan dari Sean termasuk dirinya sendiri. “Apa aku bisa pergi sendiri ke Kairo?” tanya Aisyah pada Elio.“Maaf, Nona. Negara yang tidak boleh Anda datangi adalah Kairo,” j
Aisyah memeriksa kesehatan bibi dengan teliti. Dia tahu wanita itu bekerja cukup keras dengan lengan kuat.“Dia bukan wanita biasa,” gumam Aisyah.“Otot-otot yang terlatih. Di usia yang tidak muda lagi, tetapi dia benar-benar sehat.” Aisyah menyelesaikan pemeriksaan. “Bagaimana kondisi Bibi, Non?” tanya bibi. “Bibi sangat sehat,” jawab Aisyah merapikan kotak medisnya. “Otot Bibi cukup tegang dan butuh relax,” lanjut Aisyah. Dia yakin wanita paruh baya itu sangat suka Latihan berat. “Terima kasih, Non.” Bibi tersenyum. Dia tidak akan punya waktu untuk bersantai.Sean melihat Aisyah dari kamarnya. Dia memperhatikan interaksi tunangannya dengan bibi. Dia tahu wanita itu tersenyum dengan ceria.“Kenapa dia tidak pernah memperlihatkan senyumnya padaku?” Sean hanya mengenakan handuk. Pria itu baru selesai mandi dan siap berganti pakaian. Dia menghirup udara pagi dari balkon kamarnya. Dedaunan hijau dari pohon memberikan oksigen alami yang segar dan menyejukan. “Elio, panggil Aisyah ke k
Aisyah melihat mobil hitam pekat keluar dari halaman. Dia tahu bahwa itu adalah Sean.“Dia mau pergi kemana setiap malam?” tanya Aisyah pada dirinya.“Siapa sebenarnya, Sean? Aku telah mencari informasinya bahwa dia adalah putra dari James yang merupakan keluarga terkaya di Italia dan Amerika.” Aisyah tidak bisa lagi keluar dari menara karena semua jendela dan pintu telah dikunci. Dia hanya terkurung di dalam kamar.“Bagaimana caranya aku bisa bebas dari menara ini? Aku ingin pergi ke negara-negara yang sedang terkena konflik dunia.” Aisyah duduk di sofa. Dia membuka ponsel untuk mencari informasi terkini tentang masalah yang terjadi di dunia.Sean pergi memeriksa gudang penyimpanan dan penjara bawah tanah yang berada jauh dari pusat kota. Pria itu menghabiskan waktu dua jam perjalanan dengan kecepatan tinggi. Transaksi illegal yang terjadi di malam hari. Penjualan dan pembelian senjata rahasia serta obat-obatan terlarang yang melibatkan beberapa negara. Bisnis organ tubuh manusia pun
Aisyah terdiam menatap Sean yang bersikap lembut padanya. Pria itu bahkan membeli ponsel baru dan memberikan nomor keluarga kandungnya.“Aku akan ke ruang kerja.” Sean meninggalkan Aisyah di ruang tengah. Pria itu pergi bersama Elio.“Mm.” Aisyah melihat Sean yang pergi begitu saja. Itu cukup membuatnya bingung dengan sikap sang mafia muda.Sean duduk di kursi kerja. Dia tersenyum dan terlihat puas dengan pembicaraannya dengan Aisyah.“Apa yang membuat Anda senang, Tuan?” tanya Elio memperhatikan Sean.“Aisyah sudah mengatakan syarat untuk menikahinya. Aku akan melakukan itu,” jawab Sean.“Apa Anda benar-benar akan masuk islam dan meninggalkan bisnis ini?’ Elio menatap Sean.“Kita pelajari dulu tentang Islam. Aturan dan larangan agama Aisyah,” ucap Sean.“Baiklah. Saya akan mencari tahu tentang Islam untuk Anda.” Elio mengangguk.“Apa pun akan aku lakukan agar bisa menikahi kamu, Aisyah.” Sean tersenyum.Sean melihat layar computer yang menampilkan Aisyah di ruang tengah. Wanita itu me
Sean memandangi pungkung Aisyah. Pria itu menghela napas dengan berat. Di usia tiga puluh tahun, dia benar-benar tidak memiliki pengalaman mendekati wanita mana pun.“Kenapa Aisyah? Apa kamu membenciku? Kamu harus mencintaiku, Aisyah.” Sean keluar dari kamar Aisyah.“Apa dia benar-benar telah membunuh Kak Khaled? Bagaimana aku mengetahui keadaan Kak Khaled? Bagaimana dengan keluargaku?” Aisyah memutar tubuh dan melihat Sean yang telah menghilang dari balik pintu.“Dia benar-benar memborgolku.” Aisyah kembali duduk dan melihat tangan serta kakinya yang diborgol dengan besi.“Ya Allah berikan petunjuk untuk hamba. Apa yang harus aku lakukan untuk menyelesaikan masalah ini? Aku belum menemukan jawaban.” Aisyah turun dari tempat tidur. Dia masuk ke kamar mandi.“Aku akan memohon pada Sean agar melepaskan rantai ini.” Aisyah benar-benar tidak bisa melakukan apa pun di kamar mandi dengan kaki dan tangan yang dirantai.“Sean.” Aisyah mengetuk pintu kamar yang terkunci.“Ada apa, Nona?” Bibi y
Sean menatap tajam pada Aisyah. Tidak ada senyuman di wajah pria itu. Dia marah dan cemburu. Apalagi melihat kekasihnya melindungi lelaki lain.“Menyingkir, Aisyah! Aku tidak mau melukai kamu,” tegas Sean dengan satu tangan mengarahkan senjata pada Khaled.“Tidak!” Aisyah menggeleng.“Hey, Kau! Berlindung di balik wanita. Apa kamu tidak malu?” Sean memicing matanya. Dia mencari posisi yang tepat untuk menembaki Khaled, tetapi pria itu benar-benar ragu karena takut melukai Aisyah.“Aisyah benar-benar bisa menjadi kelemahan dan kekuatan ku,” ucap Sean di dalam hati.“Aku tidak seperti itu,” balas Khaled.“Aisyah. Menyingkirlah! Jangan permalukan aku di depan pria lain,” ucap Khaled pelan. “Dia tidak akan menyakitiku.” Aisyah melangkah pelan.“Sean, tolong lepaskan kami. Kita tidak bisa bersama. Aku sudah menikah dengan Khaled,” jelas Aisyah tenang.“Aku tidak peduli karena dari awal kamu memang milikku,” tegas Sean bergerak sedikit ke samping dengan cepat.“Dorr!” Sean berhasil menembak







