LOGINTerima kasih atas dukungan teman-teman. Semoga suka.
Aisyah membuka mata dan mendapatkan satu tangan serta dua kaki yang terikat di tempat tidur mewah. Dia memperhatikan sekeliling. Ruangan yang tampak asing. Di samping meja ada tiang infus yang masih terhubung dengan pergelangan tangannya.“Astagfirullah alazim. Di mana ini?” tanya Aisyah segera duduk.“Apa Kak Khaled yang mengikatku?” Aisyah mengingat kembali ingatan terakhir kali sebelum dia pingsan.“Kenapa Kak Khaled lakukan ini? Harusnya dia mengiklaskan aku bersama Kak Sean.” Aisyah tidak berani terlalu bergerak karena ada jarum infus yang tertanam di tangannya. Wanita itu tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakiti dirinya sendiri.“Nona Aisyah, Anda bangun.” Alexa masuk ke dalam kamar Aisyah. Dia membawa nampan berisi makanan dan minuman.“Siapa kamu?” tanya Aisyah memperhatikan Alexa.“Perkenalkan, nama saya Alexa. Mulai hari ini, saya yang akan menjaga dan merawat Anda.” Alexa meletakakn nampan di atas meja samping tempat tidur.“Pukul berapa sekarang?” tanya Aisyah yang
Aisyah sendirian di dalam kamar. Dia bershawalat dan berdoa dengan jari-jari menggenggam pistol milik Sean. Wanita itu bisa mendengarkan suasana yang mencengkap lebih dekat hampir mirip ketika dirinya berada di negara konflik yang sedang berperang.“Sampai kapan perkelahian ini akan terjadi? Ya Allah, lindungilah suamiku dan orang-orangnya.” Aisyah hanya bisa berdoa dari dalam lemari.“Dorr!” Tembakan terdengar begitu dekat. Tepat di dalam ruangan perawatan Aisyah.“Aarrh!” Suara Rose terdengar berteriak. “Bibi.” Aisyah sangat ingin membuka pintu lemari, tetapi tangannya terhenti. Dia mengingat pesan Sean yang melarang dirinya keluar.“Di mana Aisyah?” tanya seorang pria yang menutupi wajah dengan masker.“Tidak ada di sini,” jawab bibi Rose kesakitan karena kakinya tertembak. “Bongkar ruangan ini! Cari Aisyah. Wanita berhijab dan bercadar!” perintah Khaled.“Siap!” Anak buah Khaled segera masuk menyergam ruangan.“Tuan, lemari ini dikunci.” Anah buah Khaled tidak berhasil membuka le
Lampu kamar telah dimatikan. Ruang yang terang menjadi remang. Sean dan Aisyah beristirahat di atas kasur yang sama.Vito dan Khaled telah mengerahkan banyak anak buah untuk melumpuhkan klinik. Mereka mau menghancurkan Sean dan merebut Aisyah.Badai berlalu, tetapi masih menyisahan basah. Langit malam di atas klinik Leon terasa berat, seolah ikut menahan napas. Lampu neon di depan pintu bergetar, memantulkan cahaya pucat ke jalan yang sepi. Di dalam, suasana klinik tampak biasa, aroma antiseptik, suara langkah perawat berjaga sesuai jadwal mereka.Penjagaan di klinik Leon sangat ketat. Anak buah Sean ditempatkan di setiap sudut. Ada yang berjaga di pintu depan, ada yang mengawasi lorong belakang, bahkan beberapa orang duduk di ruang tunggu dengan wajah dingin, seolah pasien bayangan. Mereka tahu klinik itu bisa jadi sasaran para musuh Sean yang sedang menunggu kesempatan untuk menyerang.Malam semakin larut dan tiba-tiba. Klinik Leon berubah jadi medan perang terbuka. Anak buah Sean ya
Elio benar-benar sibuk mempersiapkan para pengawal untuk melindungi Aisyah yang akan dibawa ke klinik Leon. Wanita itu harus dirawat dan mendapatkan pengobatan agar pulih lebih cepat dan membatasi hubungan intim dengan Sean.“Sayang, apa sudah siap?” tanya Sean.“Ya.” Aisyah keluar dengan gamis hitam cantik dan cadar. Wanita itu benar-benar terlihat seperti bidadari yang turun dari kayangan. Kecantikan yang tersembunyi tetap terpancarkan.“Aku gendong.” Sean memilih mobil dengan perlindungan anti peluru. Pria itu benar-benar tidak ingin Aisyah terlibat dalam bahaya. Apalagi terluka.“Aku sudah lebih baik,” ucap Aisyah melingkarkan tangan di leher Sean.“Aku akan menemani kamu, Sayang.” Sean membawa Asiyah ke dalam mobil.“Terima kasih,” ucap Aisyah lembut. Dia benar-benar wanita Soleha yang taat pada suaminya.Aisyah yang dibawa keluar terlihat jelas oleh mata-mata yang dikirimkan untuk terus mengawasi rumah Sean. Ada banyak musuh yang ingin menghancurkan pria itu dengan segala cara.M
Empat mobil telah terparkir di halaman rumah Sean. Leon turun bersama tiga wanita cantik dan masih muda. Mereka adalah para dokter muda yang diseleksi cepat untuk menjadi perawat Aisyah. “Wah!” Para wanita cantik terkagum melihat mewah dan megahnya istana milik Sean.“Sudah lama tidak datang kemari.” Carina memperhatikan sekeliling. Dia mengagumi Sean dari kecil, tetapi pria itu tidak pernah meliriknya sama sekali.“Kalian tunggu di sini, aku masuk duluan,” ucap Leon masuk ke dalam rumah.“Sean,” sapa Leon.“Di mana tim dokter?” tanya Sean keluar dari ruang baca. Pria itu telah menyiapkan kamar untuk pemeriksaan istrinya.“Mereka masih di luar,” jawab Leon yang juga penasaran dengan istri Sean yang seorang Muslimah.“Bawa masuk. Aisyah harus mendapatkan perawatan. Aku sudah melukainya,” bisik Sean.“Kamu gila, Sean.” Leon menunjukkan dengan jarinya.“Diamlah!” Sean menatap tajam pada Leon.“Silakan.” Bibi Rose menawa tiga dokter wanita.“Apa hanya tidak orang?” tanya Sean.“Sean, tiga
Aisyah dan Sean telah selesai sarapan. Mereka berdua berada di ruang baca untuk menunggu kedatangan tim dokter.“Sayang, kenapa kita tidak pergi ke rumah sakit atau klinik?” tanya Aisyah lembut. Dia rebahan di sofa bed.“Tidak perlu, Sayang. Tim dokter terbaik dalam perjalanan ke rumah kita,” jawab Sean.“Hm.” Aisyah mengangguk.“Apa aku tidak akan pernah keluar dari istana ini?” tanya Aisyah di dalam hatinya.“Kenapa, Sayang? Apa kamu punya kenalan dokter yang bisa merawat dan mengobati kamu?” tanya Sean duduk di samping Aisyah. Pria itu membelai kepala istrinya yang tertutup hijab.“Tidak. Aku hanya kenal tim dokter bedah. Belum pernah berhubungan dengan dokter kandungan,” jelas Aisyah.“Kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah berkonsultasi dengan Leon. Dia telah mencari tim dokter wanita yang dibutuhkan untuk pengobatan dan perawatan dirimu.” Sean mencium dahi Aisyah.Leon benar-benar dibuat sibuk oleh Sean dari sejak pagi. Pria itu meminta tim dokter terbaik yang semuanya harus peremp
Vito dipukul mundur oleh pasukan elit milik Sean. Pria itu tidak berani menyerang sama sekali karena mereka telah dikepung dari segala penjuru.“Kamu hanya perlu pergi,” tegas Sean yang sudah berada di luar masjid bersama pasukannya.“Kita bisa bertemu lagi di lain waktu, Vito, tetapi hari ini biark
Langit pagi berwarna biru terang. Cahaya matahari menembus kaca-kaca mozaik Masjid Agung Roma, memantulkan kilau yang seolah menari di lantai marmer putih. Di dalam, suasana hening namun tegang. Jamaah terbatas, hanya saksi, imam, dan beberapa orang kepercayaan Sean yang berpakaian rapi namun aura m
Dunia begitu tenang. Sean benar-benar tidak meninggalkan rumah. Pria itu bekerja secara virtual. Mengurus bisnis legal dan illegal. Dia mempersiapkan diri untuk menikah dengan Aisyah dalam kondisi terbaik. Menjaga organ vitalnya agar bisa bekerja dengan maksimal.“Tuan muda. Busana pengantin telah s
Keluarga Jordan sedang dalam masa pemulihan. Perusahaan yang kembali stabil karena dilepaskan oleh Sean atas permintaan Aisyah.“Kita tidak bisa bertemu Aisyah, tetapi berkat dia Sean membebaskan kita dari hukuman,” ucap Jordan di ruang makan keluarga. Mereka semua berkumpul termasuk juga Maria. “P







