LOGINTerima kasih. Semoga suka.
Lampu kamar telah dimatikan. Ruang yang terang menjadi remang. Sean dan Aisyah beristirahat di atas kasur yang sama.Vito dan Khaled telah mengerahkan banyak anak buah untuk melumpuhkan klinik. Mereka mau menghancurkan Sean dan merebut Aisyah.Badai berlalu, tetapi masih menyisahan basah. Langit malam di atas klinik Leon terasa berat, seolah ikut menahan napas. Lampu neon di depan pintu bergetar, memantulkan cahaya pucat ke jalan yang sepi. Di dalam, suasana klinik tampak biasa, aroma antiseptik, suara langkah perawat berjaga sesuai jadwal mereka.Penjagaan di klinik Leon sangat ketat. Anak buah Sean ditempatkan di setiap sudut. Ada yang berjaga di pintu depan, ada yang mengawasi lorong belakang, bahkan beberapa orang duduk di ruang tunggu dengan wajah dingin, seolah pasien bayangan. Mereka tahu klinik itu bisa jadi sasaran para musuh Sean yang sedang menunggu kesempatan untuk menyerang.Malam semakin larut dan tiba-tiba. Klinik Leon berubah jadi medan perang terbuka. Anak buah Sean y
Elio benar-benar sibuk mempersiapkan para pengawal untuk melindungi Aisyah yang akan dibawa ke klinik Leon. Wanita itu harus dirawat dan mendapatkan pengobatan agar pulih lebih cepat dan membatasi hubungan intim dengan Sean.“Sayang, apa sudah siap?” tanya Sean.“Ya.” Aisyah keluar dengan gamis hitam cantik dan cadar. Wanita itu benar-benar terlihat seperti bidadari yang turun dari kayangan. Kecantikan yang tersembunyi tetap terpancarkan.“Aku gendong.” Sean memilih mobil dengan perlindungan anti peluru. Pria itu benar-benar tidak ingin Aisyah terlibat dalam bahaya. Apalagi terluka.“Aku sudah lebih baik,” ucap Aisyah melingkarkan tangan di leher Sean.“Aku akan menemani kamu, Sayang.” Sean membawa Asiyah ke dalam mobil.“Terima kasih,” ucap Aisyah lembut. Dia benar-benar wanita Soleha yang taat pada suaminya.Aisyah yang dibawa keluar terlihat jelas oleh mata-mata yang dikirimkan untuk terus mengawasi rumah Sean. Ada banyak musuh yang ingin menghancurkan pria itu dengan segala cara.
Empat mobil telah terparkir di halaman rumah Sean. Leon turun bersama tiga wanita cantik dan masih muda. Mereka adalah para dokter muda yang diseleksi cepat untuk menjadi perawat Aisyah.“Wah!” Para wanita cantik terkagum melihat mewah dan megahnya istana milik Sean.“Sudah lama tidak datang kemari.” Carina memperhatikan sekeliling. Dia mengagumi Sean dari kecil, tetapi pria itu tidak pernah meliriknya sama sekali.“Kalian tunggu di sini, aku masuk duluan,” ucap Leon masuk ke dalam rumah.“Sean,” sapa Leon.“Di mana tim dokter?” tanya Sean keluar dari ruang baca. Pria itu telah menyiapkan kamar untuk pemeriksaan istrinya.“Mereka masih di luar,” jawab Leon yang juga penasaran dengan istri Sean yang seorang Muslimah.“Bawa masuk. Aisyah harus mendapatkan perawatan. Aku sudah melukainya,” bisik Sean.“Kamu gila, Sean.” Leon menunjukkan dengan jarinya.“Diamlah!” Sean menatap tajam pada Leon.“Silakan.” Bibi Rose menawa tiga dokter wanita.“Apa hanya tidak orang?” tanya Sean.“Sean, tiga
Aisyah dan Sean telah selesai sarapan. Mereka berdua berada di ruang baca untuk menunggu kedatangan tim dokter.“Sayang, kenapa kita tidak pergi ke rumah sakit atau klinik?” tanya Aisyah lembut. Dia rebahan di sofa bed.“Tidak perlu, Sayang. Tim dokter terbaik dalam perjalanan ke rumah kita,” jawab Sean.“Hm.” Aisyah mengangguk.“Apa aku tidak akan pernah keluar dari istana ini?” tanya Aisyah di dalam hatinya.“Kenapa, Sayang? Apa kamu punya kenalan dokter yang bisa merawat dan mengobati kamu?” tanya Sean duduk di samping Aisyah. Pria itu membelai kepala istrinya yang tertutup hijab.“Tidak. Aku hanya kenal tim dokter bedah. Belum pernah berhubungan dengan dokter kandungan,” jelas Aisyah.“Kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah berkonsultasi dengan Leon. Dia telah mencari tim dokter wanita yang dibutuhkan untuk pengobatan dan perawatan dirimu.” Sean mencium dahi Aisyah.Leon benar-benar dibuat sibuk oleh Sean dari sejak pagi. Pria itu meminta tim dokter terbaik yang semuanya harus perem
Vito berada di kamar hotel. Pria itu menunggu laporan dari anak buahnya. Dia duduk di sofa dan menghisap cerutu.“Kak, aku sudah kembali.” Varrel berdiri di depan Vito.“Varrel.” Vito melepas cerutu dan memeluk Varrel dengan erat.“Apa aku terlambat?” tanya Varrel.“Tidak ada kata terlambat. Lihatlah foto-foto itu.” Vito menunjukkan foto yang ada di atas meja.“Foto.” Varrel mengambil foto dan melihatnya dengan seksama.“Apa ini?” Varrel mengangkat foto wanita bercadar.“Kamu suka yang mana?” tanya Vito.“Kak, wanita Muslimah tertutup tidak mungkin menjadi pilihanku,” jawab Varrel tersenyum dan melempar foto Aisyah ke meja.“Apa kamu mau yang ini?” Vito mengambil foto Maria.“Aku tidak suka,” ucap Varrel melihat foto seksi Maria.“Kak, aku mau Maria. Gadis kecil yang dulu telah dijodohkan dengan diriku. Perbedaan usia kami hanya lima tahun,” jelas Varrel.“Kamu saja tidak mengenalinya. Bagaimana bisa menikahi gadis itu.” Vito tersenyum.“Apa maksud Kak Vito?” tanya Varrel.“Diantara f
Tidak ada rekan bisnis yang tahu, jika Sean adalah seorang mafia dan tidak ada orang yang bisa membuktin bahwa pria itu sangat kejam. Vito adalah pengecualian karena mereka memiliki hubungan keluarga dan adanya dendam lama sepuluh tahun lalu buntut dari kecelakaan beruntun.“Sean, aku tidak mau membunuh kamu, tetapi akuk ingin kamu merasakan kehilangan wanita yang sangat dicintai. Kecelakaan dan kematian itu membuat kamu bisa memiliki Aisyah. Ini benar-benar tidak adil.” Vito mengepalkan tangannya.“Aisyah yang dulunya Maria telah diincar oleh banyak keluarga terpandang, tetapi cara licik kalian membuat berhasil dengan perjanjian pernikahan. Padahal adikku telah disetujui bertunangan dengan Maria.” Vito menatap tajam pada Sean.“Apa ada dendam lain diantara kita?” tanya Sean yang menyadari tatapan Vito.“Ada banyak utang yang harus kamu bayar,” tegas Vito beranjak dari sofa dan keluar ruangan.“Kembali setelah sepuluh tahun benar-benar tidak salah sehingga kita tahu bahwa putri Jordan
Aisyah terdiam menatap Sean yang bersikap lembut padanya. Pria itu bahkan membeli ponsel baru dan memberikan nomor keluarga kandungnya.“Aku akan ke ruang kerja.” Sean meninggalkan Aisyah di ruang tengah. Pria itu pergi bersama Elio.“Mm.” Aisyah melihat Sean yang pergi begitu saja. Itu cukup membua
Sean memandangi pungkung Aisyah. Pria itu menghela napas dengan berat. Di usia tiga puluh tahun, dia benar-benar tidak memiliki pengalaman mendekati wanita mana pun.“Kenapa Aisyah? Apa kamu membenciku? Kamu harus mencintaiku, Aisyah.” Sean keluar dari kamar Aisyah.“Apa dia benar-benar telah membun
Sean menatap tajam pada Aisyah. Tidak ada senyuman di wajah pria itu. Dia marah dan cemburu. Apalagi melihat kekasihnya melindungi lelaki lain.“Menyingkir, Aisyah! Aku tidak mau melukai kamu,” tegas Sean dengan satu tangan mengarahkan senjata pada Khaled.“Tidak!” Aisyah menggeleng.“Hey, Kau! Berl
Sean sadar bahwa Khaled tidak memberikan ponsel kepada Aisyah, tetapi langsung mematikannya. Pria itu melempar ponsel Jordan ke lantai.“Jika tidak ada ponsel itu. Aisyah tidak akan bisa menghubungi Khaled,” tegas Sean. “Siapa yang mau dikorbankan agar Aisyah bisa kembali?” tanya Sean.“Kami tidak







