بيت / Mafia / Obsesi Cinta Tuan Mafia / [20] Hubungan yang Lain

مشاركة

[20] Hubungan yang Lain

مؤلف: Kim Meili
last update تاريخ النشر: 2026-05-21 19:25:59

“Kakek, kalau begitu aku pulang dulu, ya. Kapan-kapan aku ke sini lagi,” kata Sophie.

Theo yang mendengar hanya menganggukkan kepala. Melihat Sophie yang ceria dan lembut membuat Theo yakin dengan keputusannya. Menikahkan Ethan dan Sophie adalah keputusan terbaik. Selain Sophie yang jelas mengerti tentang Ethan, perusahaan juga bisa lebih maju lagi. Kedua keluarga dengan kekayaan begitu besar bersatu. Jelas itu akan menguntungkan untuknya.

Sedangkan Sophie melangkah keluar rumah. Dia sudah menc
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [20] Hubungan yang Lain

    “Kakek, kalau begitu aku pulang dulu, ya. Kapan-kapan aku ke sini lagi,” kata Sophie.Theo yang mendengar hanya menganggukkan kepala. Melihat Sophie yang ceria dan lembut membuat Theo yakin dengan keputusannya. Menikahkan Ethan dan Sophie adalah keputusan terbaik. Selain Sophie yang jelas mengerti tentang Ethan, perusahaan juga bisa lebih maju lagi. Kedua keluarga dengan kekayaan begitu besar bersatu. Jelas itu akan menguntungkan untuknya.Sedangkan Sophie melangkah keluar rumah. Dia sudah mencapai tujuannya. Kalau dia tidak bisa mengendalikan Ethan, akan lebih baik menyerahkan dengan orang yang memang sudah ahli. Membayangkan dirinya akan memiliki Ethan, Sophie tersenyum lebar.Namun, senyumnya menghilang ketika manik matanya menatap sosok yang tidak asing. Langkhanya pun terhenti, memperhatikan pria yang tidak asing baginya. Hingga jarak keduanya semakin dekat, membuat Sophie membuang napas kasar.‘Jangan dipikirkan lagi, Sophie. Anggap saja tidak ada,’ batin Sophie.Sophie pun memi

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [19] Akan Menjodohkannya denganmu

    Theo menatap hamparan rumput di depannya dengan sorot mata nanar. Sejak tadi dia tidak melakukan apa pun. Dia hanya duduk, sesekali membuang napas kasar. Hingga Brian—anak buah Theo datang mendekat.“Anda memanggil saya, Tuan?” tanya Brian dengan sopan.Theo menganggukkan kepala. Dia menepuk sofa di sebelahnya, mempersilahkan Brian untuk duduk. Jelas pria yang mengikutinya lebih dari dua puluh tahun itu langsung menurut. Usia Brian memang cukup jauh dengan Theo, tetapi Brian sangat menghormatinya.“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Brian.“Kamu awasi Ethan. Aku takut dia melakukan hal nekat,” jawab Theo memerintah.Brian yang mendengar diam, menatap Theo dengan pandangan menyelidik. Wajahnya menunjukkan ekspresi berpikir. Rasanya aneh karena tiba-tiba saja Theo menyuruhnya mengawasi Ethan.‘Sudah lama Tuan Theo tidak menyuruhku mengawasi. Apa terjadi sesuatu?’ batin Brian bertanya-tanya.“Akhir-akhir ini Belinda membuat masalah lagi dengannya,” ucap Theo, seakan tahu isi pikiran

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [18] Cari Tahu Mengenai Dia

    “Sialan. Benar-benar jalang sialan!”Sophie yang baru sampai rumah langsung mengamuk. Rasanya kesal dan tidak terima setiap kali mengingat apa yang dilihatnya pagi tadi. Ethan mencium wanita yang bahkan tidak sebanding dengannya.“Aku benar-benar tidak terima dengan ini. Aku akan membalasnya. Aku akan menyingkirkanmu, wanita murahan!”Sophie kembali berteriak dengan emosi yang semakin memuncak. Dadanya terlihat naik-turun dengan napas memburu. Kedua tangannya mengepal dengan rahang mengeras, menunjukkan seberapa besar emosi yang menguasainya.“Sophie, kamu kenapa?”Sophie mengalihkan pandangan ketika mendengar suara tersebut. Tidak menjawab apapun, Sophie memilih duduk dengan kedua tangan disedekapkan. Pandangannya dialihkan, tidak mau menatap Viana—sahabatnya yang baru saja datang.“Sophie, kenapa kamu mengamuk? Ada apa sebenarnya?” tanya Viana dengan ekspresi bingung. Pasalnya ini pertama kali dia melihat Sophie mengamuk seperti sekarang. Ponsel yang tergeletak di lantai. Isi tas ya

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [17] Detak Jantung Tidak Karuan

    Clara menatap tampilan dirinya di depan cermin dan membuang napas kasar. Manik matanya mengamati tanda merah di lehernya, membuat Clara berdecak kecil dan tidak lagi bersemangat. Setiap kali melihat tanda yang Ethan tinggalkan, Clara benar-benar merasa lesu. Dia seakan tidak memiliki semangat apa pun.“Kapan kehidupan semacam ini akan berakhir,” batin Clara, lagi-lagi menghela napas kasar.Clara merasa kehidupannya tidak lagi sama setelah dia menginjakkan kaki di rumah Ethan. Dia yang biasanya bebas, kali ini hanya terkurung seperti burung dalam sangkar. Dia tidak mengetahui kehidupan di luar sana, apa saja yang terjadi. Bahkan, dia tidak bisa mengetahui kabar sahabatnya.“Liya pasti mengkhawatirkanku,” gumam Clara. Membayangkan sahabatnya yang mencari kemana-mana, Clara menjadi cemas. Hanya Liya yang dimiliki di dunia ini, di saat orang tua angkatnya tidak menginginkannya sama sekali. Sayangnya, Clara tidak bisa memberikan kabar apa pun. Dia tidak memiliki ponsel. Rumah Ethan juga ti

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [16] Suasana yang Canggung

    Suasana makan yang seharusnya tenang, kini berubah menjadi tegang. Pasalnya, sekarang bukan hanya Clara yang ada di ruang makan, melainkan Ethan dan kedua sahabatnya. Padahal tujuan Clara bangun setelah dirasa Ethan pergi karena tidak mau pria itu melihatnya. Tapi sayangnya semua malam berbanding terbalik, membuat Clara menundukkan kepala.‘Padahal aku hanya mau makan dengan tenang, tetapi kenapa malah begini,’ batin Clara menggerutu. Rasanya terlalu sulit untuk menelan makanannya. Apalagi salah satu sahabat Ethan sejak tadi menatapnya.Austin yang memperhatikan pun tersenyum ketika melihat tingkah Clara yang tampak malu-malu. Dia pun bertanya, “Namamu Clara, kan?”Clara yang ditanya pun hanya menganggukkan kepala. Dia bingung harus bicara apa. Pasalnya, dia tidak mengenal teman Ethan sama sekali. Jangankan kenal, melihat saja baru sekarang.Melihat sikap malu-malu Clara, Austin langsung nyeletuk, “Sayang sekali, gadis semanis kamu harus jatuh ke tangan Ethan. Seharusnya kamu jatuh ke

  • Obsesi Cinta Tuan Mafia    [15] Berniat Menghabisi

    “Wow. Aku pikir kamu tidak akan keluar malam ini dan membiarkan kami menunggu di ruang kerjamu, Ethan.”Ethan hanya diam ketika mendapat godaan dari Austin. Dia memilih melangkahkan kaki, menuju ke arah sofa dan duduk, tidak mendengarkannya sama sekali. Ethan bahkan tidak mempedulikan ucapan sahabatnya itu.“Kalian kenapa ke sini?” tanya Ethan. Ini sudah malam dan tidak seperti biasa kedua sahabatnya itu datang.Julian yang ditanya pun menjawab, “Kami hanya bosan di bar. Jadi, kamu ke sini. Lagi pula sudah lama kami tidak datang ke sini.”Ethan hanya diam dan menganggukkan kepala. Dia menuangkan alkohol ke gelas dan meneguk secara perlahan. Dia menatap gelas yang sudah sedikit berkurang isinya degan tatapan lekat. Sesekali tangannya menggoyang pelan.“Ethan, aku dengar kamu mendatangi Om Bruno di rumah. Apa itu benar?” tanya Julian.“Tentu saja,” jawab Ethan tanpa pikir panjang.“Terus, kamu menyakitinya?” tanya Julian lagi. Dia lebih cemas dari Ethan sendiri.Ethan membuang napas kas

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status