LOGINAtas instruksi dari Alina, Nolan pun akhirnya memilih untuk melanjutkan pestanya dengan Ghea. Walaupun terlihat jahat, karena tidak memperdulikan adiknya yang sedang sekarat. Namun, hampir semua orang di kota Utara tahu tentang penyakit Risma yanh di sebabkan oleh racun yang di berikan oleh Victor.Jadi hampir tidak ada orang yang membicarakan tentang penyakit Risma di pesta itu. Walaupun beberapa petugas kebersihan sekarang ini sedang membersihkan darah Risma yang berceceran. Di rumah sakit. Suara para perawat dan dokter terdengar saling bersahutan, mereka nampak panik karena Vino dan Kaiden yang terkenal sebagai dua penguasa kota Utara datang ke rumah sakit kecil milik mereka. Risma terbaring lemah di ranjang yang sedang di dorong, wajahnya yang pucat berkerut saat perlahan membuka mata. Matanya yang basah segera mencari sosok yang selama ini selalu ada di sisinya yaitu Alina. Alina berusaha melangkahkan kakinya dengan cepat, mengikuti para tenaga medis. Awalnya Kaiden kebe
Seminggu berlalu begitu cepat, sekarang adalah hari pernikahan Nolan dan juga Ghea. Wajah Ghea terlihat begitu bahagia, namun ekspresinya berubah saat melihat Alina datang bersama dengan Kaiden, Risma dan juga Vino. Walaupun Nolan sudah berkali-kali mengatakan tidak akan mempedulikan Alina, tapi ntah kenapa hatinya masih begitu gusar. Ia sudah berusaha untuk mendekati Alina dan berdamai dengan wanita itu. Namun, saat dia bersama Alina dan bertemu dengan Nolan. Pandangan Nolan terhadap Alina tidak pernah berubah, pria itu tetap menatap Alina dengan lembut dan penuh kasih.Sangat berbeda saat Nolan menatapnya dengan tatapan hampa dan hanya di penuhi rasa tanggung jawab, hal itu membuat dada Ghea merasa sesak. Ghea melangkah pelan, dada sesak menahan gelombang cemburu yang berdesir tajam di dalam hatinya setiap kali matanya menangkap sosok Alina yang tersenyum lembut kepada para tamu. Walaupun tengah hamil besar, Alina terlihat sangat cantik. Ntah kenapa ia merasa minder sendiri,
Ekspresi Alina berubah khawatir, "Risma ... Kenapa kamu bicara seperti itu?"Ntah kenapa ia merasa ucapan Risma seperti sebuah perpisahan. Risma memainkan jari tangannya. "Kehidupan seseorang tidak ada yang tahu bukan? Walaupun Victor sudah tertangkap, bahkan berakhir cacat ... Dia tidak bisa mengembalikan kesehatanku seperti sebelumnya."Alina nampak terkejut, "apakah penawar itu kurang efektif?"Risma mengangguk. "Alina, aku dan Vino sudah tidak memiliki harapan. Mungkin kamu bisa saja mudah melupakan perbuatan buruk yang di lakukan Kaiden di masa lalu, bahkan dengan mudahnya melupakan kebohongan Nolan.""Tapi, aku berbeda denganmu. Bayang-bayang perlakuan buruk Vino setiap hari terus saja menghantuiku, hal itu membuatku merasa trauma."Risma mendongakkan wajahnya, ia menatap ke arah langit. "Dari awal hubunganku dengan Vino di mulai dari kesepakatan, terus kita menikah selama lebih dari sebulan. Walaupun sebulan itu hanya berisi kebahagiaan, tapi Vino menyakitiku lebih dari sebul
Perjalanan menuju kediaman Vino terasa lebih hidup saat Alina tiba-tiba menyodorkan ponsel ke arah Kaiden. "Kita mampir ke kedai ubi ungu ini dulu!" serunya dengan mata berbinar penuh antusiasme. Kaiden mengernyit, menerima titik lokasi yang diberikan dengan ragu. "Lokasi ini jauh, bahkan kita harus putar balik," ucapnya pelan, nada suaranya penuh pertimbangan.Alina langsung memasang ekspresi cemberut, bibirnya menekuk, dan alisnya berkerut kecil. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi sikapnya sudah cukup jelas: kecewa karena Kaiden tak seantusias dirinya. Kaiden menghela napas ringan, lalu mengangguk pasrah. "Baiklah, kita mampir dulu," katanya sambil menyalakan mesin mobil kembali.Bagaimana pun juga, Kaiden akan sulit bernapas kalau Alina ngambek padanya. Dua jam berlalu, jalanan berkelok dan suasana mulai berubah seiring mereka semakin dekat ke rumah Vino. Di dalam mobil, kotak makanan dan minuman berbahan ubi ungu diletakkan di pangkuan Alina, aroma manis dan hangat
Setelah beberapa hari hanya berada di dalam kamar bersama dengan Kaiden, akhirnya hari ini Alina memilih keluar kamar dengan punggung yang terasa remuk. "Apa kita tunda saja harinya, untuk berkunjung di kediaman Vino?" Tanya Kaiden dengan suara polos. Alina yang sedang mengunyah makanan, sontak tersedak. Sekarang ini keduanya sedang sarapan sekaligus makan siang di ruang makan. "Alina ... " Panggil Kaiden dengan nada khawatir, bagaimana pun juga, ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Alina. "Panggil dokter cepat!!" Teriak Kaiden dengan suara marah. Tangan Alina berusaha meraih gelas yang ada di meja, namun tubuhnya malah di angkat Kaiden dan di rebahkan di sofa yang berada tak jauh di sana. "Astaga, orang ini!" Umpat Alina dalam hati.Tak berselang lama, seorang dokter umum, seorang dokter kandungan dan seorang bidan masuk bersama beberapa pelayan. Alina tanpa sadar memutar bola matanya, "padahal aku hanya tersedak biasa." Gumamnya dalam hati, walaupun tindakan Kaiden
"hmm, lakukanlah!" Sahut Alina dengan wajah memerah. Biasanya ia hanya memuaskan dirinya sendiri dengan beberapa alat. Ntah kenapa? Hasrat seksnya selama hamil malah semakin menggebu. Kaiden mengangkat tatapan lembut ke wajah Alina, kemudian dengan hati-hati ia mulai melepaskan baju dan celana Alina dengan lembut. Tangannya bergerak pelan, penuh kasih sayang, seolah takut melukai kulitnya yang kini tampak semakin halus dan memancarkan kehangatan baru. "Perutmu sekarang sudah besar sekali," ucap Kaiden dengan nada hangat yang menyimpan kekaguman, bukan ejekan. Namun, Alina segera menanggapi dengan bibir yang menekuk dan alis berkerut, matanya menyipit penuh curiga. "Kamu mengejek aku ya, gara-gara hamil jadi jelek. Ya udah, kemarikan bajuku, aku nggak jadi." Suaranya sedikit meninggi, mencerminkan rasa tidak percaya diri yang tiba-tiba muncul dari dalam hatinya.Kaiden cepat-cepat meraih tangan Alina, menatap matanya dengan tulus, "Sayang, maaf, aku nggak niat mengejekmu. Aku..
Kedua tangan Dika terkepal, ia malah menarik Alina dalam pelukannya. "Mulai sekarang kamu nggak boleh memikirkan pria lain selain aku!" Kata Dika posesif. Alina menjauhkan tubuh Dika. "Hubungan kita hanya di dasari kesepakatan, aku harap kamu bisa mengerti dan tidak melakukan hal yang melampaui
Alina mendorong tubuh Dika. Dika yang batinnya terguncang karena kehilangan adiknya, di tambah sikap kedua orang tua kandungnya yang begitu mengecewakannya. Membuat Dika sekarang ini benar-benar kehilangan akal. Dika malah semakin terprovokasi karena penolakan Alina. Tangan Dika mulai menj
Vino tahu benjolan itu tumbuh di titik rahim yang sulit untuk dioperasi. Karena itu, ia tidak menjawab ucapan Kaiden. Sebagai dokter kandungan, Vino paham bahwa peluang Risma untuk selamat atau bisa hamil lagi setelah operasi sangat kecil. Jika rahimnya diangkat, operasi dengan tingkat keberhasi
Kaiden melangkah tergesa-gesa menaiki tangga menuju lantai paling atas rumah sakit, napasnya memburu dan dada sesak oleh kekhawatiran yang membakar. Setiap detik terasa seperti jarum tajam menusuk hati ketika namanya terucap lirih, "Alina …" Suaranya bergetar, menyiratkan ketakutan yang jarang t







