Home / Rumah Tangga / Obsesi Gila Atasan Suamiku / Bab 3 Warisan keluarga Alina.

Share

Bab 3 Warisan keluarga Alina.

last update Last Updated: 2025-10-31 09:09:16

Alis Nolan berkerut, saat melihat tubuh pelayan itu bergetar. Ntah kenapa intuisinya mengatakan jika pelayan itu adalah Alina istrinya.

Tiba-tiba suara berat Kai memecah suasana. "Cepat kalian bawa pelayan tidak berguna itu!! Dan suruh petugas kebersihan untuk membereskan kekacauan ini!"

Kaiden adalah salah satu pemilik saham terbesar di klub ini, semua orang tahu termasuk para pelayan.

Mereka dengan patuh langsung membawa Alina keluar dari ruangan itu.

Alina sendiri hanya bisa pasrah, saat tubuhnya di seret keluar oleh beberapa pelayan yang lain.

"Kamu mau bersenang-senang tanpa ku dan bayi kita ya ... " Ucapan Ghea masih terus berputar di otaknya.

Hati Alina berusaha menyangkal fakta yang terjadi, tapi ingatannya masih memutarkan adegan saat suaminya menatap Ghea penuh cinta.

"Nggak mungkin-kan kalau selama ini Nolan mengkhianati ku," gumam Alina yang sekarang ini sudah berada didalam kamar mandi.

Hatinya sakit, seperti di tusuk-tusuk oleh pisau.

Dia sudah beberapa kali mencuci wajahnya, tapi air matanya masih terus mengalir membasahi kedua pipinya.

Tatapannya mengarah ke cermin, ia bisa melihat dengan jelas, betapa menyedihkannya wajahnya sekarang ini.

Bayangan-bayangan masa indah bersama dengan Nolan berputar di dalam benaknya, suaminya pernah berjanji hanya akan mencintainya seumur hidup.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, Ghea yang hamil sekitar 8 bulanan masuk.

Ia menatap Alina dengan tatapan mengejek, lalu mengalihkan pandangannya untuk masuk ke dalam bilik kamar mandi.

Alina yang tidak tahan mencekal lengan Ghea, "Siapa ayah dari bayi yang kamu kandung?" tanya Alina.

Ghea menaikkan salah satu sudut alisnya, "Tentu saja suamiku. Memangnya ada urusan apa sama kamu?"

"Suami?" Ulang Alina.

Ghea mengangguk. "Suamiku adalah Nolan Anjasmara, pendiri sekaligus pemilik dari NG Grup."

Tangan Alina yang sedang memegang pergelangan tangan Ghea pun terlepas. 'NG Grup bukankah perusahaan cabang milik Kaiden Grup.'

"Nggak mungkin perusahaan itu milik Nolan?" Alina linglung dan berbicara sendiri.

Ghea yang memang ingin buang air kecil, segera masuk ke dalam kamar mandi, tanpa memperdulikan Alina.

Alina merasa separuh tenaganya sudah menghilang. Ia memilih segera keluar dari dalam kamar mandi klub, rasanya ia tidak sanggup lagi menerima fakta menyakitkan tentang suaminya, jika bertemu dengan Ghea.

Pikirannya sekarang ini kacau.

Dengan langkah terhuyung, akhirnya ia memesan taksi untuk pulang.

Keesokan paginya, Alina terbangun saat merasakan sebuah pelukan hangat.

"Nolan ... " Panggilnya, suaranya sedikit terkejut.

"Kok kamu terkejut sih! Kamu nggak senang melihatku pulang," sahut Nolan dengan senyuman tipis.

Alina menggeleng, pikirannya melayang saat semalam di klub.

Tangannya tanpa sadar mencengkram seprai, sebelum bisa memastikan perselingkuhan suaminya dan mendapatkan bukti. Ia harus tetap bersikap seperti biasa, agar suaminya tidak curiga.

Jadi diam-diam ia bisa mengambil bukti.

Nolan mendekat, dan ingin mencium bibir Alina.

Tapi Alina segera mendorong dada Nolan.

Alis Nolan mengerut karena bingung dengan perubahan sikap istrinya, biasanya saat ia pulang Alina akan bersikap manis manja, bahkan selalu menempel padanya.

Alina yang melihat kerutan di dahi suaminya lantas berkata, "Aku baru bangun tidur belum gosok gigi. Aku gosok gigi dulu!"

Nolan mengangguk dan tidak menaruh curiga.

Alina masuk ke dalam kamar mandi, tapi ia lupa kalau semalam ia menstruasi. Ia berniat keluar kamar mandi untuk mengambil pembalut, tapi sebelum benar-benar keluar kamar mandi.

Ia malah mendengar percakapan suaminya dengan ibunya.

"Sebulan lagi, Ghea melahirkan. Kamu harus segera menyelesaikan masalah warisan Alina. Lalu menceraikannya." Suara Rita dari ponsel Nolan terdengar jelas di telinga Alina.

Kedua bola mata Alina membulat sempurna, ia merasa terkejut tentang ibu mertuanya yang ternyata mengenal Ghea.

Kalau Rita mengenal Ghea, berati selama ini ibu mertuanya sudah tahu kalau suaminya berselingkuh, dan diam-diam malah memberikan dukungan.

Walaupun Rita membencinya, apakah hal itu harus di benarkan?

Air mata tak kuasa luruh dari kedua pelupuk mata Alina, tapi akhirnya ia menyadari, jika dirinya wanita yang tidak sempurna tidak bisa hamil dan melahirkan.

Mengingat kekurangannya, Alina pun segera menghapus air matanya.

Alina merasa sedikit bingung, saat ibu mertuanya menyinggung tentang warisannya pada suaminya.

Seingatnya, waktu kecil ia tinggal di panti asuhan, lalu diadopsi oleh keluarga Nolan.

Ia sama sekali tidak bisa mengingat apapun selain itu.

"Ibu tenang saja! Beberapa hari lagi, urusan warisan keluarga Alina pasti sudah berpindah ke tanganku seluruhnya." Sahut Nolan dengan suara datar.

"Baguslah kalau begitu. Tapi kamu jadi untuk menceraikannya bukan?" tanya Rita dari balik telepon.

Nolan malah mengalihkan pembicaraan, "Kalau sudah tidak ada hal lagi yang ingin ibu bicarakan. Aku akan tutup teleponnya."

Suara Rita dari balik telepon terdengar meninggi dan tidak senang, "Apakah kamu nggak ada niat untuk meninggalkan si mandul itu? Bagaimana pun juga, ayahnya Alina sudah membunuh ayah ... "

Ucapan Rita terhenti, saat Nolan menyela ucapannya. "Baiklah aku tutup dulu teleponnya."

Alina mengurungkan niatnya untuk mengambil pembalut, ia memilih segera mandi.

Alina sedikit bingung, setelah mandi, ia merasa kalau darah menstruasinya berhenti.

Biasanya hari pertama menstruasi, dia akan mengeluarkan banyak darah. Tapi kenapa sekarang ia merasa bagian intimnya terasa kering.

Setelah keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk, Alina masuk ke ruang ganti. Ia memilih tetap menggunakan pembalut.

Setelah berpakaian rapi, ia turun ke bawah dan disana ia mendapati Nolan sudah duduk di ruang makan.

Dari kejauhan, Alina tidak melihat ekspresi aneh suaminya. Suaminya bersikap normal seperti biasanya.

Jantung Alina seperti di remas, "Apakah selama ini Nolan memang menipuku? Diam-diam, menyakitiku diluar sana."

Alina mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya.

Setelah bisa menyembunyikan emosinya, Alina berjalan ke arah meja makan.

"Alina, aku memasakkan nasi goreng udang kesukaanmu!" titah Nolan dengan senyuman hangat, ia berjalan ke arah Alina, lalu menarik tangannya dengan lembut.

Tak lupa menarik-kan kursi makan untuk istrinya penuh perhatian.

Jika biasanya Alina begitu senang menerima perhatian suaminya seperti ini. Tapi sekarang ia merasa seperti ada duri yang menusuk hatinya, membayangkan suaminya selama ini berduaan dengan Ghea di ranjang sampai membuat wanita itu hamil.

Rasa sakit menghujam dada Alina.

"Kok nggak di makan!" tegur Nolan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Gila Atasan Suamiku   Bab 69. Celana dalam berwarna hitam yang tertinggal.

    Alina tahu, suaminya akan memeluknya. Ia yang melihat, keraguan dari kedua bola mata suaminya, langsung paham. "Sayang, aku mandi dulu ya. Aku sedang menstruasi, nggak tahu kenapa, bau badanku akhir-akhir ini berbeda." Ujar Alina dengan nada lembut. Ia terpaksa berbohong. Alina tahu, bau apa gang yang sekarang tercium di hidung suaminya. Hati Nolan menghangat, melihat senyuman istrinya, kecurigaannya pun memudar. "Baiklah, kamu mandi dulu!!" Ujar Nolan seraya mengusap kepala Alina, cuman ia merasa aneh dengan rambut istrinya yang terasa sedikit kaku dan ... Ia merasa rambut istrinya seperti terkena cairan pria. Nolan sebenarnya ingin menanyakan tentang jendela kamar yang dibiarkan terbuka semalaman, tapi ia mengurungkan niatnya. Di dunia ini, tidak ada seorang pun manusia yang terima kalau tuduh melakukan sesuatu hal yang tidak di lakukan. Takutnya, kalau sampai Alina tersinggung karena tuduhannya. Bagaimana pun juga, hubungannya dengan Alina baru saja membaik. Ia

  • Obsesi Gila Atasan Suamiku   Bab 68. Bau lain di tubuh Alina.

    Alina mendengar suara suaminya yang memanggil namanya. "Kenapa kamu nggak pergi dari sini?!" Kata Alina dengan nada panik, karena sekarang ini posisinya Kaiden malah memeluknya. Ia bangkit dari ranjang untuk mengganti piyamanya. Semua kancing piyama yang sebelumnya dia gunakan terlepas, gara-gara tarikan kasar Kaiden. "Aku masih mau satu ronde lagi, sepertinya kita harus bermain didepan Nolan." Kata Kaiden dengan senyuman licik. Alina menatap tajam ke arah Kaiden, kalau buka karena Kaiden yang sekarang ini memegang kartu ASnya. Ia mungkin memilih untuk memukul Kaiden. Tapi ... Hmmm. Alina menghembuskan napas kasar, matanya menyipit menatap wajah Kaiden yang begitu dekat dengannya. Setiap kali kemarahannya memuncak, Kaiden justru semakin bermain-main, seolah menikmati pertarungan kecil yang membuatnya semakin penasaran. Tubuh Alina bergetar menahan emosi yang naik turun, namun ia tahu melawan terus hanya akan memperpanjang permainan ini.Dengan langkah pelan, ia mendekat, lalu

  • Obsesi Gila Atasan Suamiku   Bab 67. Selamanya kamu akan jadi milikku.

    Risma terdiam, wajahnya sangat panik. Awalnya Vino berniat untuk menunggu, sampai Risma merasa siap, tidak berniat untuk memaksanya. Tapi setelah mendapatkan pesan dari Rita tentang seorang pria di kampus yang terus mengejar Risma, rasa cemburu pun membakar Vino. Apalagi, Rita menjelaskan kalau pria itu teman masa kecil Risma. Bagaimana pun juga Risma sekarang itu istrinya, tidak ada salahnya dirinya meminta kewajiban Risma sebagai seorang istri sekarang. "Kenapa panik? Jangan-jangan kamu udah nggak segel!!" Kata Vino, ia sengaja memancing kata-kata agar istrinya terpancing. Mengingat watak Risma yang keras, dan sangat sulit di kendalikan, ditambah gadis itu sangat menyukai adrenalin. Jadi Vino tahu bagaimana cara memancing gadis itu. Wajah Risma memerah, ucapan Vino barusan terdengar biasa, tapi sebenarnya memiliki makna yang kasar, seakan Vino meragukan harga dirinya. Jadi wajah Risma memerah bukan hanya karena malu, tapi juga marah. Bahkan kedua tangan Risma juga terkepal.

  • Obsesi Gila Atasan Suamiku   Bab 66. Respon alami pria.

    "Kamu!!" Teriak Risma dengan kedua bola mata yang membulat tajam. "Sungguh, ini respon alami pria. Kalau nggak begini, kamu malah harus meragukan kejantananku." Ujar Vino panik mencari pembenaran. Ntah kenapa, Risma malah merasa kesal dan malu sendiri dengan milik Vino yang terlihat menonjol. "Keluar!!! Dasar nggak tahu malu!!" Teriak Risma, tapi wajahnya bukanya terlihat marah, malah terlihat malu. "Kamu yakin nyuruh aku keluar!! Oke aku bakal keluar ... " Ujar Vino seraya melangkah ke arah pintu kamarnya.Tiba-tiba ia berjalan kembali. "Aku lupa ini kamarku, kamu yang harusnya keluar ... ""Biarlah kamu keluar dengan baju terbuka seperti ini!!"Vino tersenyum miring, ia tahu Risma berwatak keras dan selalu mempertahankan harga dirinya. Ia mendorong kursi roda Risma ke arah pintu. Sementara Risma sendiri kedua bola matanya melotot tajam, ia tahu ucapan Vino barusan bukan main-main. Vino beneran akan mengeluarkannya dari dalam kamar. Sekuat tenaga Risma menggerakkan tangannya,

  • Obsesi Gila Atasan Suamiku   Bab 65. Jonny yang berdiri.

    Air mata keluar dari pelupuk mata Risma. Sementara Vino hanya bisa menelan ludahnya yang kelu. "Aku nggak akan menyentuhmu jika kamu nggak mau. Aku nggak akan paksa kamu ... " Ujar Vino, walaupun sekarang ia ingin memaksa Risma. Tapi ia tidak ingin memberikan kesan buruk pada wanita itu. Mengingat pernikahan ini untuk selamanya, cepat atau lambat ia yakin cinta bakalan tumbuh diantara mereka. Jika sering bersama. "Sekarang Risma juga sudah jadi istriku. Aku juga nggak bakal ceraiin dia, jadi apa yang aku takutkan sekarang!" Gumam Vino dalam hati, guna menekan rasa ragu dan sakit hati yang memulai menggerogotinya. Vino memang benar-benar merasa takut kalau sampai Risma menghilang dari hidupnya lagi. Air mata yang sebelumnya berjatuhan dari kedua pelupuk mata Risma pun berhenti mengalir, ntah kenapa setelah statusnya sah menjadi istri Vino? Risma merasa, kalau cara pandangannya pada Vino sekarang ini berbeda. Vino tidak seburuk dan sebajingan yang ia kira. Ri

  • Obsesi Gila Atasan Suamiku   Bab 64. Tolong jangan!!

    Kembali pada malam sebelumnya di depan kantor KUA. Vino menatap punggung Kaiden yang perlahan menghilang di antara kerumunan malam. Matanya lalu berpaling ke arah Risma, yang duduk lemah di kursi roda, wajahnya pucat tertutup bayang-bayang luka dan kelelahan. Udara dingin malam itu seolah menambah berat beban di dada Vino. "Walaupun pernikahan kita dadakan dan diadakan di pukul dua pagi, tapi pernikahan kita itu nyata," ucap Vino lirih dengan suara penuh harap, mencoba menanamkan keyakinan di tengah keraguan yang menggelayuti hatinya. Risma terdiam, bibirnya bergetar ingin membalas, namun suntikan yang ibunya berikan baru saja mengunci saraf di tubuhnya. Matanya yang berkaca-kaca memancarkan kebencian dan ketakutan yang bertarung dalam diam, tak mampu menolak pelukan Vino yang mengangkatnya ke dalam mobil. Setelah duduk di kursi belakang, Vino menundukkan kepala dan menciumi wajah Risma dengan lembut, seolah ingin menghapus segala luka yang tersembunyi di balik tatapan dinginny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status