로그인Mahesa mengatupkan rahangnya rapat-rapat saat membaca baris demi baris ancaman Damar."Kurang ajar..." bisiknya lirih, hampir tak terdengar.Napasnya memberat seketika, mengikis habis kehangatan di raut wajahnya. "Berani-beraninya Damar mengancamku."Mahesa mematikan pendar layar ponsel, lalu mendongak.Di hadapannya, Ellena masih sibuk terpesona dengan sekelilingnya, tertawa lepas begitu menikmati liburannya.Mahesa menelan kembali gelegak emosinya. Ia menolak merusak binar itu. Biarlah beban ini tetap menjadi urusannya sendiri.Malam merambat turun. Usai seharian mengelilingi wahana Disneyland, mereka akhirnya kembali ke hotel bintang lima di kawasan pusat Tokyo.Rasa lelah rupanya tak memberi Ellena ampun. Hanya dalam hitungan detik setelah kepalanya rebah di atas bantal empuk, napasnya sudah teratur, terlelap pulas.Mahesa yang masih terjaga memandangi paras tenang istrinya sejenak. Dengan gerakan yang teramat pelan, ia menyibak selimut dan turun dari peraduan.Ia melangkah perlah
Pesawat yang memboyong Mahesa dan Ellena perlahan menyusup, lalu menghilang di balik gumpalan awan.Sementara itu, jauh di Jakarta, Damar masih memaku tatapannya pada pendar layar ponsel.Panggilannya kembali terputus hampa.Tak diangkat.Ia menekan ulang nomor yang sama. Nada sambung berdering beberapa detik sebelum mendadak mati.Damar mengumpat lirih. "Kenapa tidak diangkat-angkat, sih?!"Sudah berulang kali ia mencoba menghubungi Mahesa sejak pagi, tetapi tak ada satu pun yang membuahkan hasil.Biasanya, Mahesa memang tipikal orang yang tak gampang diraih lewat telepon.Namun jika menyangkut urusan bisnis yang pernah mereka garap bersama, pria itu tak pernah abai memberi respons.Kali ini atmosfernya beda. Pesan singkatnya bahkan cuma dibiarkan mengendap dengan tanda terbukti dibaca.Damar berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya, gelisah.Firasat buruk mulai menggerogoti benaknya. Padahal belum lama ini ia menawarkan draf kerja sama baru kepada Mahesa. Namun respons CEO ALTV it
"Mas, angkat dulu teleponnya." Ellena melirik ponsel yang tak henti bergetar di atas konsol.Mahesa hanya melirik sekilas pendar layar itu sebelum kembali melempar pandangan lurus ke jalanan."Biar saja. Paling-paling urusan kantor."Jemarinya terulur mematikan layar ponsel, lalu menghempaskannya kembali."Aku sedang malas diganggu. Apalagi kita lagi berdua begini."Ellena terdiam sejenak. Sunggingan senyum tipis perlahan mengembang di parasnya."Apaan sih, Mas..." cetusnya pelan, meresapi rona hangat yang mendadak merayapi kedua pipinya. "Bisa banget bikin orang salah tingkah."Mahesa tertawa renyah. "Memangnya kamu tidak suka?"Ellena berdengus kecil, memilih memalingkan wajah dan melempar tatapan keluar jendela mobil.Sedan hitam itu terus membelah jalanan, mengikis jarak dan meninggalkan bayangan gedung NTV jauh di belakang. Keduanya tak pernah menduga, bahwa satu panggilan terabaikan itu membawa serta riak yang siap mengusik ketenangan mereka.Beberapa menit bergulir, Ellena kemb
Seiring kesuksesan besar program barunya, Mahesa berniat merayakannya secara personal bersama sang istri. Ia ingin memboyong Ellena melipir sejenak dari hiruk-pikuk pekerjaan, mencuri waktu berdua di tengah senggang yang langka.Sore itu, Mahesa sudah menepi di area parkir luar gedung NTV.Ia sengaja tak menginjakkan kaki ke dalam.Sebagai nahkoda tertinggi ALTV, Mahesa paham betul garis batas profesionalitas yang mesti dijaganya. Gedung ini adalah domain Ellena, persis sebagaimana ALTV adalah wilayah kekuasaannya.Ia memilih mengulur waktu di luar.Tubuhnya bersandar santai pada lambung sedan hitam milik dasinya. Satu tangan menggenggam ponsel, sementara jemari lainnya perlahan melonggarkan ikatan dasi yang membelenggu lehernya sejak pagi.Sesekali matanya bergulir menyapu layar ponsel.Nihil. Belum ada notifikasi baru dari sang istri.Mahesa menghembuskan napas pelan, lantas menyusupkan kembali ponselnya ke dalam saku jas. Pandangannya kini mengunci lurus ke arah pintu kaca utama ge
Beberapa menit kemudian, ketegangan di studio memuncak saat waktu voting akhirnya habis.Layar televisi besar di tengah panggung berubah menampilkan hitungan mundur terakhir yang dramatis.3... 2... 1...Angka di layar berhenti berdetak."Voting telah resmi ditutup!"Suara lantang pembawa acara menggema di seisi studio, seketika disambut gemuruh sorakan penonton yang riuh.Tanpa sadar, Kenzo dan yang lainnya melangkah maju, mendekat ke layar untuk melihat hasilnya lebih jelas."Hasilnya keluar!" seru seseorang menunjuk ke layar.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam, hingga akhirnya daftar peringkat sementara muncul.Nama peserta pilihan Arka bertengger di posisi paling atas."Yes!" Arka spontan mengepalkan tangan, wajahnya berseri-seri penuh kemenangan.Rafasya, yang berdiri di sampingnya, langsung menepuk pundak Arka, mencoba meredam kegembiraan berlebihannya."Jangan senang dulu," potong Rafasya. "Ini baru episode kedua, perjalanan masih panjang."Arka hanya tertawa
Jalinan pertemanan antara Arka dan Kenzo tumbuh kian erat. Di antara senggangnya ritme kerja yang padat, keduanya mulai rajin menyempatkan waktu—sekadar nongkrong santai atau menonton bersama kelanjutan kompetisi news anchor besutan Mahesa.Malam itu, Arka kembali bertandang ke kediaman Kenzo demi menyaksikan babak terbaru acara tersebut.Atmosfer ruang keluarga terasa begitu hangat dan cair. Zoana bahkan telah menggelar aneka kudapan di atas meja tengah, memanjakan teman-teman putranya.Sebab malam ini bukan cuma Arka yang hadir. Rafasya dan Nathan pun turut meramaikan suasana, memecah sepi ruangan.Atensi mereka berempat mengunci lurus ke layar televisi."Kontrol emosinya luar biasa," celetuk Rafasya tatkala salah satu kontestan tuntas melibas tantangan dengan wajah tanpa riak."Iya," timpal Nathan, manggut-manggut. "Tipikal Arka banget. Kelewat tenang."Ucapan itu seketika memancing kekeh renyah Rafasya."Omong-omong soal Arka, kalian masih ingat tidak waktu dia melintasi tes tahan







