Share

Bab 3

Author: Sulitina
last update Last Updated: 2025-07-20 15:25:59

Anjani mengendari motor metic dengan kecepatan tinggi, air matanya sejak tadi terus membanjiri wajahnya. Bayangan semalam masih menari dalam ingatan, bagaimana Farhan melakukan hal itu dengan memandangi sebuah foto.

“Kalau kamu gak mau cerai! Biar aku yang ajukan gugatannya, Mas!“ gumamnya pelan.

Sampai di kantor tempatnya kerja, Anjani memarkirkan motornya di halaman parkir yang sudah disediakan perusahaan untuk kendaraan roda dua.

Sebelum melepas helm, Anjani terlebih dulu membersihkan sisa air mata dan kembali merias wajahnya. Setelah selesai ia bergegas meninggalkan area parkir dan berjalan menuju gedung perusahaan.

Anjani meniup napas pelan sebelum masuk ke dalam lobby kantor. “Semangat, Anjani!“

Tidak ada yang tahu jika dia adalah istri Farhan Adinata-Manager keuangan perusahaan. Jika dulu Anjani bisa terima dan maklum, tapi sekarang dia muak.

“An, Pak Presdir mau pensiun. Katanya jabatannya mau dikasih sama anak sulungnya. Dengar-dengar beliau masih jomblo, ganteng pula.”

Baru saja duduk, Sofia sudah menebar gosip. Anjani hanya tersenyum tipis menanggapi teman satu divisinya.

“Kamu gak penasaran, An?“

“Penasaran kinerjanya seperti apa. Apa bisa sehebat dan seprofesional Pak Guntara? Apa bisa sebaik Pak Guntara?“

Sofia manyun dan menarik kursinya kembali ke meja kerjanya. “Kamu tuh gak seru banget deh, An. Kamu tuh normal gak sih?“

Anjani mengerutkan kening. “Kamu pikir aku gak normal?“

“Ya, gak juga sih. Aku cuma heran aja sama kamu. Gak pernah Deket sama cowok. Gak mau pacaran. Aku takut aja kamu malah suka sama aku.“ Sofia bergidik.

“Buang jauh-jauh pikiran kamu itu. Aku normal.” Anjani menggeleng tak habis pikir dengan Sofia yang menganggapnya tak normal hanya karena tidak pernah pacaran. 'Kalau kamu tau Sof. Sebenarnya aku udah nikah,' batin Anjani.

Tak mau memikirkan masalah rumah tangganya dengan Farhan, Anjani kembali fokus pada layar laptop di depannya. Mulai sekarang dia bertekad untuk berkerja lebih baik lagi dan tidak memikirkan Farhan terus menerus.

Jam istirahat makan siang tiba. Anjani sudah janjian dengan Sofia akan makan di restoran baru dekat kantor. Namun, satu pesan masuk membuat langkahnya terhenti. Ia melihat pesan yang dikirimkan Farhan.

(Antar makan siang untuk Vana. Belikan dari restoran Jepang langganannya. Dia ingin makan shusi.)

Satu pesan yang membuat dada Anjani kembali bergemuruh. Tangannya meremas ponsel dengan marah. Lalu, ia pun membalas pesan itu.

(Aku aja belum makan siang Mas. Kamu udah nyuruh aku anter makan siang untuk Vana?)

Tidak menunggu satu menit balasan dari Farhan datang.

(Kamu bisa beli makan siang di restoran yang sama. Makan di jalan menuju kampus bisa, kan?)

Tangan Anjani kembali meremas ponsel dengan kuat. Farhan bahkan tak peduli tadi pagi ia belum sempat sarapan, dan dengan entengnya lelaki itu menyuruhnya untuk membelikan makan siang untuk Vana yang jarak restoran dari kantor dan restoran ke kampus cukup jauh.

"Tega sekali kamu, Mas!“ Meskipun kesal, Anjani tetap melakukan perintah Farhan, membelikan makan siang untuk Vana.

Saat kembali ke kantor waktu istirahat telah usai, seperti siang sebelumnya Anjani hanya sempat makan roti yang tadi pagi ia beli. Farhan bahkan tidak peduli dia sudah makan siang atau belum.

Saat jam pulang kantor tiba, Anjani berjalan menuju lift. Dan dia melihat Farhan sudah berdiri di sana menunggu lift. Anjani berdiri di samping suaminya itu tanpa menyapa.

Biasanya ia akan curi-curi kesempatan untuk berbisik pada lelaki itu, tapi kini mulutnya seolah terkunci rapat.

Farhan pun menyadari sikap Anjani yang tak seperti biasa. Ia hanya melirik dengan ujung mata tanpa ingin bertanya..

Pintu lift terbuka keduanya pun masuk bergantian. Di dalam lift suasana kembali hening. Baik Anjani maupun Farhan tetap dalam diam mereka. Padahal biasanya Anjani akan bicara ini itu saat hanya berdua dalam lift seperti sekarang, tapi kini wanita itu seolah tak peduli dengan kehadiran Farhan.

Lagi-lagi Farhan hanya melirik dengan ujung mata tanpa mau bertanya. Saat lift terbuka pun dia langsung ke luar tanpa menunggu istrinya.

Anjani tersenyum kecut, Farhan memang seperti itu. Tidak pernah menganggapnya ada. Orang di kantor ini pun tidak ada yang tahu tentang pernikahan mereka. Pria itu yang tidak ingin mempublikasikan pernikahan mereka.

Sampai di rumah Anjani tetap diam, bahkan malam ini ia tidak memakai baju tipis seperti biasanya. Malam ini tidak ada rayuan dan suara manja darinya. Dia tidur membelakangi Farhan.

Farhan menatap punggung Anjani yang tertutup piyama panjang. Ia sedikit heran kenapa wanita itu bersikap dingin. Namun, lidahnya terlalu kelu untuk sekedar bertanya.

Anjani yang masih belum tidur meremas selimut tebal yang ia gunakan. Dia diam, Farhan pun ikut diam. Lelaki itu tidak berkeinginan meminta maaf masalah tadi pagi.

“Kamu sudah buatkan Vana susu hangat?”

Yang Anjani tunggu adalah kata maaf dan penjelasan siapa wanita itu, tapi yang ke luar dari mulut Farhan malah tentang Vana lagi. Anjani menahan kesal, dia tetap diam.

"Vana gak bisa tidur tanpa minum susu hangat.”

Suara Farhan kembali terdengar, tapi Anjani malas untuk menanggapi.

"Aku bicara denganmu, Anjani!”

Kini suara lelaki itu terdengar kesal, dan Anjani mendengkus pelan. “Vana sudah dewasa! Biarkan dia buat susu sendiri!“

Farhan mendengkus kesal mendengar jawaban dari istrinya. “Vana lelah seharian kuliah. Kamu sebagai Kakak ipar harus pengertian! Urus keperluannya, dia adikmu juga.”

Anjani berbalik dan tersenyum sinis, wajahnya tampak sangat kecewa. “Apa aku juga gak lelah, Mas?! Aku gak sempat sarapan, pun kamu gak peduli. Aku gak sempat makan siang pun, kamu gak peduli! Lagipula aku bukan pembantu!”

Wajah Farhan terlibat merah padam, pria itu terlihat marah. “Siapa yang menganggapmu pembantu, hah! Aku cuma minta kamu mengurus keperluan Vana! Apa itu salah?!”

Kini Anjani duduk dengan ekspresi menahan air mata. "Dia sudah dewasa. Bukan lagi bayi yang harus aku urus setiap hari!”

“Kau-”

Ucapan Farhan menggantung di udara saat terdengar suara barang pecah dari lantai bawah. Dia langsung turun dari tempat tidur dan berlari ke luar.

Anjani menatap pintu kamar dengan senyuman hampa. Ia pun ikut turun dari tempat tidur dan ke luar kamar. Ingin melihat apa yang terjadi di lantai bawah.

Sampai di dapur Anjani melihat kepanikan suaminya. Ternyata Vana tidak sengaja menjatuhkan gelas dan jari tangannya tergores pecahan gelas.

"Kakak bawa kamu ke rumah sakit.”

"Kak, aku gak apa-apa. Ini hanya tergores kecil. Gak sakit, kasih obat merah juga sembuh.“

Farhan tak mendengarkan ucapan Vana, lelaki itu tetap menggendong Vana melewati Anjani dan berlari ke luar rumah menuju mobil.

Anjani yang mengikuti setiap langkah suaminya hanya mampu menahan rasa iri dalam hati. Sekuat apapun ia mencoba menepis rasa itu, tapi tetap saja tumbuh di hatinya.

Dia iri pada Vana, iri perlakuan manis suaminya pada Adik iparnya itu. Iri kepanikan suaminya saat tahu Vana terluka, iri sikap posesif suaminya pada Vana. Semua yang dilakukan Farhan untuk Vana, Anjani merasa iri.

"Astaghfirullah....“ Ia berusaha menepis perasaan itu dalam hatinya.

Saat akan kembali ke lantai atas, pandangan Anjani tak sengaja tertuju pada kamar tamu. Ia begitu penasaran foto itu. Wanita seperti apa yang selama ini suaminya cintai.

Dengan langkah pelan Anjani mendatangi kamar tersebut. Jantungnya berdebar saat membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya. Matanya tertuju pada meja nakas di dekat tempat tidur. Anjani melangkah menuju meja nakas itu.

Perlahan ia tarik lacinya, di sana ada bingkai foto yang di letakkan terbalik. Rasa penasaran begitu mendominasi hingga ia nekad mengambil bingkai itu meskipun tahu akan membuat hatinya terluka lagi.

Deg! Jantungnya seperti disengat aliran lirik, kakinya melemas melihat foto perempuan dalam bingkai.

"Gak, mungkin..., kenapa bisa? Kenapa dia...?” Anjani membekap mulutnya dengan suara tangis tertahan.

Hatinya sungguh hancur, langit seolah menimpa dirinya saat tahu foto siapa yang suaminya sembunyikan. Air matanya mengucur deras, dadanya begitu sesak hingga membuatnya sulit bernapas.

Ia terduduk di tepi ranjang dengan tubuh lemas. Ia pandangi foto itu dengan lelehan air mata. Foto yang ada ditangannya seperti pedang yang menggoreskan ribuan luka. Goresan itu begitu dalam hingga rasa sakitnya tak bisa tergambarkan.

“Kenapa harus dia, Mas?” Air matanya mengucur deras.

Mengetahui kenyataan pahit ini membuat kaki Anjani tak mampu menopang berat tubuhnya. Cukup lama Anjani menangis di dalam kamar itu, hingga ia kembali bangkit. Dengan tangan gemetar, Anjani kembalikan foto itu seperti semula.

Langkahnya begitu berat saat akan meninggalkan kamar. Berbagai pertanyaan kini muncul dalam benaknya. Sepanjang jalan menuju lantai atas, Anjani tidak bisa fokus.

Bayang-bayang bagaimana suaminya memeluk serta menci umi foto itu membuat hatinya semakin sakit.

**,**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Liar Suamiku    Bab 14

    "Benci katamu?“ Farhan tersenyum sinis. "Kamu tidak akan bisa membenciku, Anjani!" ucapnya penuh percaya diri. "Kamu sangat mencintaiku!" Kata cerai yang dilontarkan hanya gertakan wanita itu saja. Farhan yakin Anjani tidak akan pernah meninggalkannya wanita itu tidak akan bisa hidup tanpanya."Kamu hanya cemburu, Anjani." Bibirnya tersenyum miring salah satu tangannya mengelus wajah Anjani. "Kamu sangat mencintaiku. Mana mungkin kamu bisa hidup tanpaku, hem?““Kamu terlalu percaya diri, Mas! Tunggu saja surat gugatan cerai datang padamu!“"Kau!" Farhan meremas kedua tangan Anjani, matanya menatap tajam dengan rahang mengeras. “Kita lihat. Setelah kau sepenuhnya menjadi milikku, apa kau masih bisa pergi?“ Dia menyeringai.“Mas! Jangan gila kamu! Lepaskan aku!“ Jantungnya berdebar kencang ketika melihat Farhan semakin mendekatkan wajah. "Kamu nggak cinta sama aku!" Anjani berontak.Farhan berhenti ia kembali menatap Anjani dengan senyuman sinis. “Bukankah kamu mencintaiku?“ Dia kemba

  • Obsesi Liar Suamiku    Bab 13

    Bu Vanya menatap suaminya yang terbaring di ranjang pasien dengan tatapan sendu. Berbagai alat penunjang kehidupan menempel di hampir seluruh tubuh. Air mata tak sanggup di bendung melihat kondisi lelaki itu. Tangannya meraih tangan Ayah Panji lalu menggenggamnya erat. "Mas..., kamu pasti sembuh, kan? Seperti sebelumnya? Jangan tinggalin aku ya? Aku gak bisa tanpamu.“ Air matanya semakin deras. Cukup lama menangis hingga tak sadar Anjani sudah berdiri di sampingnya. "Bu..., Ayah pasti sembuh," ucap wanita itu lembut. Anjani merasa bersalah dengan apa yang menimpa Ayah Panji. Andaikan tidak mengutarakan niat bercerai dari Farhan, mungkin Ayah Panji tidak akan terbaring lemah seperti sekarang. Anjani sangat menyesal. Bu Vanya mengusap air matanya, menatap Anjani dengan bibir tersenyum tipis. "Kamu jangan merasa bersalah ya. Ayah memang sudah mengeluh sakit beberapa hari ini. Tidak perlu tunda rencana perceraian kalian." Anjani menunduk kedua tangannya saling meremas. Melihat

  • Obsesi Liar Suamiku    Bab 12

    Anjani menunduk dalam, dia seperti terdakwa yang menunggu dijatuhi hukuman. Kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Jantungnya berdebar cemas. “Anjani," panggil Ayah Panji. "Apa Farhan tidak baik padamu?" Dia tahu betul sifat menantunya. Anjani tidak akan menggugat cerai jika Farhan bersikap baik. Anjani menatap Ayah mertua dengan mata berkaca. Melihat raut kecewa Ayah Panji membuat hatinya sakit. "Maafkan Anjani, Ayah." Lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan isi hatinya. Ayah Panji mengalihkan tatapannya pada Farhan. Tatapannya menghunus tajam. "Ayah kecewa denganmu, Farhan! Anjani istri yang baik! Kenapa kamu tidak bisa memperlakukannya dengan baik?!" Farhan menunduk dalam, dadanya bergemuruh marah. Bercerai dari Anjani tidak pernah terlintas dalam benaknya. "Aku tidak pernah menyetujui perceraian ini!" Ayah Panji menghela napas. Dia bisa melihat wajah tertekan Anjani. Dari pertama datang ke rumah ini, dia sudah bisa melihat hubungan keduanya tak seperti suami

  • Obsesi Liar Suamiku    Bab 11

    Bu Vanya menepis tangan Farhan saat lelaki itu akan memegang tangannya. Menatap Farhan dengan tatapan tak percaya. "Sejak kapan Farhan? Sejak kapan kamu begini?“ Dia menatap Farhan seraya menunjukkan fotonya. Rasanya tak percaya Farhan akan seperti ini. Farhan menunduk merasa bersalah. Sesal dalam hati membuatnya malu luar biasa. Namun, inilah konsekuensi akibat perbuatannya yang menyimpang. “Sejak pertama kali melihatmu. Sebelum kamu menikah dengan Ayah," ungkapnya. Cinta itu tumbuh jauh sebelum Bu Vanya menjadi istri sang ayah. Bu Vanya menatap lekat wajah Farhan. Rasanya tak percaya, anak tirinya akan jatuh cinta padanya. Helaan napas panjang keluar dari mulutnya. Rasa kecewa itu ada, tapi dia mencoba untuk memaafkan dan melupakan. “Ibu tidak akan memberitahu ayahmu. Tapi, lupakan perasaanmu. Jalani rumah tanggamu dengan Anjani dengan baik. Ibu gak mau jadi perusak rumah tangga kalian.“ "Kamu gak pernah merusak rumah tangga siapapun!" Farhan menatap lekat wajah wanita yang

  • Obsesi Liar Suamiku    Bab 10

    Pagi tiba seperti biasa. Anjani menjalani aktivitasnya, menyiapkan air hangat dan baju ganti untuk Farhan. Selesai dengan tugasnya di lantai atas, kini Anjani turun ke lantai bawah, langkahnya menuju dapur. Di sana sudah ada Bu Vanya. Wanita itu sedang membuat kopi untuk ayah mertua. “Pagi, Bu," sapa Anjani sopan. Bu Vanya tersenyum. "Pagi juga, An. Ibu sudah masak untuk sarapan,“ kata Bu Vanya. “Iya, Bu. Tapi lain kali biar Anjani yang masak. Ibu gak usah repot-repot.“ Anjani tersenyum tipis. Teringat saat Farhan memarahinya karena membiarkan Bu Vanya masak sendiri. "Ibu gak repot. Masak untuk anak mantu masak dibilang repot sih.“ Anjani kembali tersenyum tipis. Dia mengambil kopi dan menyeduhnya. Meskipun hati tak lagi sama, tetapi dia masih berstatus istri Farhan. Keperluan lelaki itu masih ia siapkan. “An, mana kopiku?“ Dua wanita itu menoleh saat mendengar suara Farhan. Mereka menatap dengan ekspresi masing-masing. Bu Vanya dengan senyuman, Anjani dengan wajah

  • Obsesi Liar Suamiku    Bab 9

    Anjani meremas selimut dengan kuat. Sentuhan Farhan semakin menuntut. Jika dulu pastilah bahagia yang dirasa, tapi sekarang hanya jijik yang ada. Netranya masih setia terpejam, berharap Farhan menghentikan aksinya. Namun, sepertinya suaminya itu telah diliputi nafsu. "An, bukankah ini yang selama ini kamu inginkan?“ Suara Farhan terdengar semakin berat, deru napasnya semakin memburu. "Apa kamu mau menolak suamimu, hem?“ Tangannya membelai wajah Anjani dari mata sampai bibir tipis wanita itu. “Bukankah wanita muslimah sepertimu tahu hukum menolak suami?” Air mata Anjani tumpah, hatinya seperti ditikam sembilu. Ia buka netra yang berkaca, menatap Farhan dengan penuh luka. "Kenapa baru sekarang, Mas?“ Farhan kembali membelai wajah cantik Anjani. Ia akui istrinya ini sangatlah cantik. Tak heran hampir semua pria di perusahaan tergila-gila pada istrinya ini. Hanya saja hatinya terlanjur jatuh terlalu dalam untuk Bu Vanya. Sejak pertama kali melihat wanita yang sekarang m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status