ホーム / Romansa / Obsesi Tuan Kaivan / Bab 2 Penghinaan Kaivan

共有

Bab 2 Penghinaan Kaivan

作者: Ibu3Dara
last update 公開日: 2026-06-16 15:19:29

"Alesha…"

Suara itu terdengar samar, seperti dipanggil dari kejauhan. Perlahan, kelopak mata Alesha bergerak, mencoba membuka diri melawan cahaya lampu kamar yang terasa menyilaukan. Bau minyak kayu putih menyengat di hidungnya, dan ada sesuatu yang dingin menempel di keningnya.

"Alesha, sayang… kamu dengar Mama?"

Suara Helena. Penuh kekhawatiran.

Alesha mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar terbangun. Ia mendapati dirinya berbaring di ranjangnya sendiri, masih mengenakan gaun pertunangan yang tadi malam ia kenakan dengan penuh harap. Untuk sesaat, pikirannya kosong. Namun begitu ingatan tentang ballroom, tentang Kaivan, tentang Vanessa kembali memenuhi kepalanya satu per satu, dadanya langsung terasa seperti diremas.

Ia jatuh pingsan di depan semua orang.

Rasa malu yang sempat tertunda saat tubuhnya kehilangan kesadaran kini kembali menghantam, kali ini berlipat ganda.

"Aku… kenapa aku di sini?" suara Alesha terdengar serak.

"Kamu pingsan, Sayang. Papa yang menggotongmu ke mobil." Helena mengusap pelan rambut putrinya, matanya berkaca-kaca. "Dokter bilang kamu cuma kelelahan dan syok. Tidak ada yang serius."

Tidak ada yang serius.

Alesha hampir tertawa mendengar kalimat itu. Tubuhnya memang tidak apa-apa. Tapi ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa retak, dan ia tidak yakin dokter mana pun bisa menyembuhkan itu.

Ia masih duduk di tepi ranjang dengan gaun pertunangan yang sengaja belum dilepas, tatapannya kosong menatap buket bunga putih yang tergeletak di atas ranjang. Buket yang beberapa jam lalu ia genggam dengan bahagia, kini hanya terasa seperti simbol penghinaan yang menghancurkan dirinya.

Tubuh Alesha terasa lelah, tetapi rasa sakit di dadanya jauh lebih berat daripada kelelahan itu sendiri. Di tengah kamar yang sunyi, ia akhirnya menyadari bahwa malam pertunangannya tidak hanya merusak mimpinya, tetapi juga meninggalkan luka yang mungkin akan terus ia ingat seumur hidup.

"Alesha, ayo makan dulu…" Helena mendekat perlahan sambil membawa nampan makanan yang sudah mulai dingin.

"Aku gak lapar, Ma."

Helena menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca, merasa semakin khawatir melihat keadaan Alesha yang terdiam sejak siuman. Alesha mengurung diri dalam keheningan, seolah kehilangan seluruh tenaganya untuk sekadar menangis atau meluapkan rasa sakitnya.

Justru sikap diam itu yang membuat Helena takut. Ia mengenal putrinya dengan baik. Alesha bukan tipe perempuan yang mudah menunjukkan kesedihan. Namun malam itu, keheningan Alesha terasa jauh lebih menyakitkan daripada air mata mana pun.

"Papamu marah besar pada keluarga Adhitama," ujar Helena hati-hati, mencoba memecah kesunyian.

Alesha tertawa kecil.

Tawa pahit yang terdengar menyakitkan.

"Untuk apa marah?" gumamnya lirih. "Kaivan hanya bicara jujur."

Helena langsung menggenggam tangan putrinya.

"Tidak ada laki-laki baik yang mempermalukan perempuan di depan banyak orang seperti itu."

Kalimat itu akhirnya membuat mata Alesha memanas lagi.

Ia menunduk cepat, karena pertahanannya mulai runtuh sedikit demi sedikit.

"Aku kira…" napasnya bergetar. "Aku sempat berpikir, dia akan menghargai aku walaupun sedikit saja." Suara Alesha pecah di akhir kalimat.

Dan untuk pertama kalinya sejak semalam air matanya jatuh.

Helena langsung memeluk putrinya erat, membiarkan Alesha menangis sepuasnya di bahunya. Tidak ada kata-kata yang diucapkan untuk beberapa saat, hanya isak tangis yang pecah di tengah kesunyian kamar.

"Aku malu, Ma…" bisik Alesha gemetar. "Semua orang melihatku seperti perempuan yang memaksakan cinta laki-laki."

"Tidak," Helena menggeleng cepat. "Kamu tidak salah karena mencintai seseorang."

"Tapi aku bodoh."

Tidak lama kemudian, Mahesa meminta Helena keluar dari kamar, ingin berbicara berdua saja dengan putrinya. Namun begitu pintu tertutup, ruangan itu justru dipenuhi keheningan yang terasa berat. Mahesa menatap putrinya yang duduk diam dengan tatapan kosong, sementara hatinya dipenuhi rasa marah dan rasa bersalah karena tidak mampu melindungi Alesha dari penghinaan semalam.

Untuk pertama kalinya, Mahesa melihat putrinya tampak begitu rapuh. Tidak ada tangisan histeris atau amarah, hanya sorot mata kosong yang membuat dadanya terasa sesak. Ia sadar luka yang ditinggalkan Kaivan bukan sekadar rasa malu, tetapi sesuatu yang jauh lebih dalam daripada itu.

Dua hari kemudian, suasana di ruang keluarga rumah Wijanarka masih terasa tegang. Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton, sementara secangkir kopi di meja Mahesa sudah dingin sejak pagi.

"Apa mereka tidak punya kerjaan selain mengurusi hidup orang lain?" geram Keano dari sofa, melempar ponselnya ke sofa dengan kesal setelah membaca komentar-komentar di media sosial.

Mahesa yang sejak tadi diam akhirnya meletakkan koran di meja dengan keras.

"Adrian keterlaluan karena membiarkan anaknya mempermalukan kamu seperti itu."

"Sudahlah, Pa," lirih Alesha sambil mematikan layar ponselnya yang sejak tadi terus bergetar oleh notifikasi yang tidak ingin ia baca. "Aku capek."

Ia benar-benar lelah.

Lelah berharap.

Lelah malu.

Lelah mencintai seseorang yang bahkan tidak pernah menginginkannya.

"Alesha," Mahesa menatap putrinya dengan penuh rasa bersalah. "Papa tidak tahu Kaivan akan bertindak sejauh itu."

Alesha tersenyum kecil dan tipis.

"Kaivan hanya berusaha bicara jujur, Pa."

Mahesa menarik napas panjang sebelum akhirnya duduk di depan Alesha. Ia ingin marah, ingin menghancurkan Kaivan karena telah mempermalukan putrinya di depan banyak orang, tetapi melihat kondisi Alesha sekarang justru membuat semua emosinya berubah menjadi rasa sakit yang menyesakkan. Putrinya yang biasanya kuat kini hanya diam dengan tatapan kosong, seolah kehilangan semangat untuk sekadar berbicara.

Perlahan, Mahesa menggenggam tangan Alesha dan meminta maaf karena telah memaksanya menerima pertunangan itu. Suaranya terdengar berat dan penuh penyesalan, sebab sekarang ia sadar bahwa ambisi dan gengsi keluarga telah membuat putrinya menanggung luka sebesar itu.

Tiga hari setelah kejadian itu, Alesha memaksakan diri untuk kembali mengajar. Ia tahu cepat atau lambat ia harus menghadapi tatapan orang-orang, dan menunda hanya akan membuat semuanya semakin berat.

Namun begitu ia melangkah masuk ke area parkir kampus, dua orang mahasiswa yang sedang berjalan di depannya tiba-tiba berbisik. Bisikan yang sengaja dibuat cukup keras agar terdengar.

"Bukannya itu Bu Alesha?"

"Iya… yang ditolak Pengusaha Kaivan Adhitama."

"Kasihan banget…"

Langkah Alesha sempat goyah. Ia merasakan wajahnya memanas, jantungnya berdebar tidak nyaman, dan untuk sepersekian detik ia ingin berbalik arah, kembali ke mobil, dan tidak pernah keluar lagi. Namun ia menarik napas panjang, menegakkan bahunya, dan tetap berjalan seolah tidak mendengar apa pun.

Harga dirinya sudah cukup hancur. Ia tidak ingin kehilangan martabatnya juga.

"Alesha."

Suara seorang dosen perempuan menghentikannya.

Maya, rekan dosennya sekaligus sahabatnya, mendekat dengan ekspresi khawatir. "Kamu gak apa-apa?"

Alesha mengangguk kecil. "Gak apa-apa. Aku masih hidup."

Jawaban itu justru membuat Maya semakin sedih.

"Kamu gak harus selalu terlihat kuat."

Alesha tersenyum tipis.

Sayangnya, senyum itu terlihat dipaksakan.

"Aku cuma gak mau terlihat menyedihkan."

Malam harinya, Alesha duduk sendirian di balkon kamar sambil menatap lampu kota yang tampak samar dari kejauhan. Angin malam terasa dingin menusuk kulitnya, tetapi ia tidak beranjak. Hatinya terasa sesak setelah semua penghinaan yang ia terima beberapa hari ini, dan entah kenapa, justru di tempat sepi seperti inilah rasa sakit itu terasa paling jelas.

Saat ponselnya tiba-tiba bergetar dan nama Kaivan muncul di layar, jantungnya langsung berdetak keras. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap layar itu tanpa bergerak, karena Kaivan tidak pernah menghubunginya lebih dulu. Tidak sekali pun, sepanjang mereka mengenal satu sama lain.

“Kaivan… mau apa dia menghubungiku? Apa mungkin dia mau minta maaf?” pikirnya, sedikit berharap.

Dengan tangan gemetar, Alesha akhirnya mengangkat panggilan itu. Harapan bodoh sempat muncul di dalam dirinya, berharap Kaivan menelepon untuk meminta maaf. Namun semua harapan itu runtuh begitu suara dingin pria itu terdengar dari seberang sana, menghancurkan hati Alesha sekali lagi.

"Al, aku harap setelah ini keluargamu berhenti membahas masalah pertunangan itu."

Napas Alesha tercekat.

Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada penyesalan. Hanya penolakan lagi.

"Aku tidak ingin Vanessa salah paham."

Kalimat itu terasa seperti pisau kedua.

Alesha memejamkan matanya pelan. Dan untuk pertama kalinya, ia mulai merasa lelah karena mencintai Kaivan Adhitama.

"Aku mengerti," jawab Alesha pelan.

Keheningan muncul selama beberapa detik di antara mereka, hanya terdengar suara angin malam yang berembus pelan di balkon.

Kaivan tampak sedikit terdiam, seolah tidak menyangka Alesha akan menjawab setenang itu. Biasanya perempuan itu akan berusaha menjelaskan atau mempertahankan perasaannya. Namun tidak kali ini.

"Alesha…"

"Aku capek, Kaivan," potongnya lirih. "Jadi tenang saja. Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi."

Untuk pertama kalinya, Kaivan terdiam dan tidak langsung menjawab. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit sesak saat mendengar nada datar dalam suara Alesha.

Namun rasa itu kalah oleh ego dan amarah yang selama ini ia pelihara. Kaivan memilih tetap dingin, menekan rasa bersalah yang sempat muncul di hatinya.

"Bagus kalau begitu. Artinya urusan kita selesai sampai di sini. Ke depannya, jangan pernah lagi kamu mengganggu hubunganku dengan Vanessa," ucap Kaivan dengan nada sinis.

"Tentu saja. Kamu tidak perlu khawatir," balas Alesha singkat.

Panggilan telepon itu berakhir. Alesha yang mematikannya lebih dulu.

Alesha meremas ponselnya kencang. Perasaan marah, terluka, kecewa, dan sakit hati bercampur menjadi satu, memenuhi dadanya hingga rasanya sulit bernapas.

"Demi Tuhan aku bersumpah. Mulai detik ini, aku haramkan cintaku untuk Kaivan Adhitama." Sumpah itu keluar dari mulut Alesha, dibarengi air mata yang mengalir di kedua matanya.

Ia menatap langit malam yang gelap tanpa bintang, mencoba menenangkan diri. Namun belum sempat napasnya benar-benar stabil, ponsel di tangannya kembali bergetar kali ini bukan panggilan, melainkan notifikasi dari sebuah akun gosip yang baru saja memposting sesuatu.

Dengan tangan yang masih gemetar, Alesha membuka notifikasi itu tanpa berpikir panjang.

Sebuah foto langsung memenuhi layar ponselnya.

Foto Kaivan dan Vanessa, berpelukan mesra di salah satu sudut ballroom Hotel Grand Arcadia diambil tepat beberapa menit setelah Alesha jatuh pingsan di lantai yang sama.

Keterangan foto itu tertulis dengan huruf tebal.

Pengusaha muda Kaivan Adhitama batalkan pertunangan demi kekasihnya. Siapa wanita yang ditinggalkan ini?

Jari Alesha membeku di atas layar.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 13 Kepergian yang Dipaksakan

    Vanessa terdiam mematung mendengar ancaman tegas yang baru saja terlontar dari mulut Adrian. Wajahnya yang tadi berusaha menampilkan kesedihan kini berubah pucat, matanya bergerak gelisah antara menatap Adrian dan Lavienna yang masih memandangnya dengan penuh amarah."Om... aku tidak bermaksud…" ucap Vanessa berusaha membela diri, namun suaranya tercekat di tenggorokan begitu melihat tatapan Adrian yang sama sekali tidak menunjukkan celah untuk bernegosiasi.Adrian mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Vanessa tidak melanjutkan kalimatnya lebih jauh, sorot matanya tetap dingin tanpa sedikit pun melunak."Saya tidak butuh penjelasan apa pun dari kamu. Yang saya butuhkan hanya kamu pergi dari sini dan dari kehidupan anak saya, sekarang juga," ucap Adrian tegas, setiap kata terdengar seperti keputusan final

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 12 Kejang di Ruang ICU

    Panggilan mendadak itu membuat semua orang di ruang tunggu langsung berdiri serentak, jantung mereka berdebar kencang antara harap dan cemas. Adrian bergegas menggandeng tangan Lavienna yang sudah lebih dulu melangkah cepat menuju lorong ruang ICU, sementara Alesha dan Vanessa mengikuti dari belakang dengan langkah tergesa-gesa."Ada apa, Suster? Apa yang terjadi pada anak saya?" tanya Lavienna panik begitu sampai di depan pintu ICU, suaranya bergetar menahan ketakutan yang tiba-tiba kembali muncul.Dari balik pintu kaca ruang ICU, mereka bisa melihat beberapa tenaga medis bergerak cepat mengelilingi ranjang Kaivan. Tubuh pria itu tampak menghentak-hentak tidak terkendali, sementara alat pemantau di sampingnya berbunyi nyaring bersahutan."Pasien mengalami kejang mendadak! Siapkan obat antikonvulsan sekarang!" seru

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 11 Kabar dari Ruang ICU

    Adrian segera berdiri dan menghampiri perawat itu, diikuti Lavienna yang berjalan dengan wajah penuh cemas. Vanessa dan Alesha juga ikut berdiri, tetapi tetap menjaga jarak satu sama lain karena suasana di antara mereka masih terasa canggung."Saya ayahnya. Bagaimana keadaan anak saya sekarang?" tanya Adrian dengan nada cemas.Perawat itu tersenyum tipis, seolah berusaha menenangkan keluarga Kaivan sebelum menjelaskan kondisinya.."Pasien sudah dipindahkan ke ruang ICU. Kondisinya sudah lebih stabil dibanding sebelumnya, meski masih memerlukan pemantauan intensif," jelas perawat itu dengan nada menenangkan, membuat semua orang di ruang tunggu sedikit menghela napas lega.Lavienna langsung meremas tangan suaminya erat, air mata yang tadinya karena kesedihan kini bercampur

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 10 Kedatangan yang Tidak Diinginkan

    Vanessa berjalan cepat menuju ruang tunggu dengan napas memburu, penampilannya masih terlihat rapi meski matanya sembap seolah baru selesai menangis di dalam mobil. Begitu melihat Adrian dan Lavienna duduk berdampingan dengan wajah lelah, langkahnya sedikit melambat, seakan ragu untuk berjalan mendekat."Tante, Om," sapa Vanessa pelan, suaranya terdengar hati-hati begitu berdiri di hadapan kedua orang tua Kaivan.Lavienna langsung berdiri dari kursinya, menatap Vanessa dengan tatapan tajam yang jarang sekali ia tunjukkan kepada siapa pun. Kesedihan yang sejak tadi memenuhi wajahnya kini bercampur dengan kemarahan yang sulit ia sembunyikan."Kamu masih berani datang ke sini setelah tahu apa yang terjadi pada Kaivan?" tanya Lavienna dengan suara bergetar menahan amarah, matanya menatap lurus ke wajah Vanessa tanpa ber

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 9 Panggilan yang Tidak Terjawab

    Pertanyaan Lavienna menggantung di udara, membuat Adrian ikut terdiam beberapa saat sebelum akhirnya merangkul bahu istrinya lebih erat. Ia tidak memiliki jawaban pasti untuk menenangkan kecemasan itu, karena jauh di dalam hatinya sendiri, ketakutan yang sama juga mulai menggerogoti pikirannya."Jangan berpikir yang macam-macam dulu, Sayang. Kita tunggu saja perkembangannya, jangan berandai-andai tentang hal buruk yang belum tentu terjadi," ucap Adrian dengan suara pelan, meski nada bicaranya sendiri terdengar kurang meyakinkan.Lavienna hanya mengangguk lemah, air matanya masih terus mengalir sementara pandangannya kosong menatap lantai rumah sakit yang dingin. Alesha yang berdiri tidak jauh dari mereka mendengar percakapan itu dengan dada yang semakin sesak, sementara ponsel di tangannya masih terus bergetar tanpa henti.

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 8 Vonis Dokter

    Lavienna Adhitama langsung berdiri dari kursinya begitu mendengar pertanyaan dokter, tubuhnya sedikit oleng karena terlalu cepat bangkit setelah sekian lama menunggu dalam ketegangan. Adrian segera menopang bahu istrinya, meski wajahnya sendiri juga tidak lepas dari raut cemas yang sulit disembunyikan."Saya papanya, Dokter. Bagaimana keadaan anak saya sekarang?" tanya Adrian dengan suara yang berusaha ia jaga tetap tegas, meski nada bicaranya sedikit bergetar di akhir kalimat.Dokter itu menghela napas pelan sebelum menjawab, tangannya masih memegang beberapa lembar hasil pemeriksaan yang baru saja keluar dari ruang operasi."Pasien mengalami cedera kepala cukup serius akibat benturan keras, disertai patah tulang rusuk dan pendarahan internal yang sempat membuat kondisinya kritis di perjalanan," jelas dokter itu de

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status