FAZER LOGIN
"Aku tidak pernah menyetujui pertunangan ini."
Kalimat itu meluncur dingin dari bibir Kaivan Adhitama, menghancurkan kebahagiaan yang sejak tadi berusaha dipertahankan Alesha.
"Apa maksudnya, Kai?" tanya Alesha dengan suara bergetar, masih berusaha mencari kesalahpahaman di balik kalimat itu.
Ballroom Hotel Grand Arcadia mendadak sunyi. Alunan biola yang sejak tadi mengalun lembut terasa lenyap begitu saja dari telinganya, seakan seluruh ruangan menahan napas bersama-sama. Dengan tangan gemetar menggenggam buket bunga putih, Alesha menatap pria di hadapannya. Kaivan berdiri sempurna dalam jas hitam mahal, namun sorot matanya hanya dipenuhi kebencian. Tidak ada kehangatan, tidak ada rasa iba hanya penolakan yang begitu nyata di depan semua tamu undangan.
Di momen yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya, Kaivan justru menghancurkan harga diri Alesha tanpa ragu sedikit pun. Tatapannya tajam dan dingin, seolah pertunangan itu adalah kesalahan besar yang seharusnya tidak boleh terjadi. Di tengah ruangan yang dipenuhi orang-orang penting, Alesha hanya bisa berdiri membeku, menyadari bahwa pria yang selama ini ia cintai tidak pernah dan mungkin tidak akan pernah menginginkannya.
"Apa kamu mendengarku, Alesha?" suara Kaivan kembali terdengar rendah. "Aku tidak pernah menginginkan pertunangan ini."
Napas Alesha tercekat. Jantungnya berdebar kencang, tetapi anehnya tubuhnya terasa kaku, seolah seluruh dirinya menolak menerima apa yang baru saja didengarnya.
Puluhan pasang mata mulai menatap mereka bergantian. Bisik-bisik pelan terdengar dari meja-meja tamu undangan, perlahan menjalar seperti riak air yang menyebar ke seluruh ruangan.
Alesha mencoba tersenyum kecil meski bibirnya terasa mati rasa. "Kai, kita bisa bicarakan ini lagi."
"Untuk apa?" potong Kaivan tanpa memberi kesempatan. "Agar mereka berpikir aku menerima semua ini?"
Kaivan melirik sekilas pada kotak cincin yang tergeletak di atas meja kecil di antara mereka, lalu mundur selangkah tanpa menyentuhnya sedikit pun. Gerakan sederhana itu terasa seperti tamparan keras bagi Alesha. Napasnya terasa sesak ketika menyadari semua mata tertuju pada mereka, sementara pria yang baru beberapa menit lalu menjadi tunangannya bahkan tidak mau berpura-pura menghargainya di depan para tamu.
Alesha tahu sejak awal Kaivan tidak pernah mencintainya. Ia tahu pria itu masih memiliki kekasih yang benar-benar ia cintai. Namun jauh di dalam hati, Alesha tetap berharap Kaivan setidaknya bisa belajar menerima pertunangan mereka, meski hanya sedikit. Sayangnya, harapan kecil itu kini hancur berkeping-keping di depan matanya sendiri, dan untuk pertama kalinya Alesha merasa dirinya begitu bodoh karena masih berani berharap pada pria itu.
"Aku datang ke sini hanya karena menghormati kedua orang tua kita," lanjut Kaivan datar. "Bukan karena aku ingin bertunangan denganmu."
Alesha menunduk pelan, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Ballroom yang semula dipenuhi kebahagiaan kini berubah menjadi canggung. Beberapa tamu sengaja mengalihkan pandangan, tidak sanggup melihat situasi memalukan yang terjadi di depan mereka. Di barisan depan, Mahesa Wijanarka tampak menegang, rahangnya mengeras, sementara Helena terlihat pucat melihat putrinya dipermalukan di depan semua orang.
Namun Kaivan sama sekali tidak peduli. Dengan wajah dingin, ia tetap melanjutkan ucapannya tanpa sedikit pun rasa bersalah, seolah ia memang sengaja ingin menghancurkan harga diri Alesha di depan orang banyak.
"Sejak dulu aku mencintai Vanessa," katanya tegas.
Nama itu terasa seperti pisau yang menembus dada Alesha.
"Bahkan sampai detik ini aku hanya mencintai Vanessa. Dan itu tidak akan berubah hanya karena keluarga kita memaksakan pertunangan ini."
Suasana ballroom semakin terasa menyesakkan bagi Alesha. Bisik-bisik para tamu mulai terdengar samar di telinganya, bercampur dengan rasa malu yang perlahan menghancurkan harga dirinya. Ia berdiri mematung di tempatnya, berusaha tetap tegar meski dadanya terasa sesak dan tangannya dingin serta gemetar. Ia menghitung detik dalam hati, berharap waktu bisa berjalan lebih cepat agar momen ini segera berakhir.
Sementara itu, Kaivan justru terlihat begitu tenang, seolah seluruh kekacauan ini bukan salahnya. Tatapannya tetap dingin ketika memandang Alesha, tanpa sedikit pun penyesalan karena telah mempermalukannya di depan keluarga besar dan para tamu undangan.
"Jadi, berhenti berharap aku akan menjadi tunangan atau suami yang kamu inginkan."
Alesha menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh di depan semua orang. Ia bisa merasakan tatapan iba, penasaran, bahkan ejekan yang mengarah padanya dari berbagai sudut ballroom. Di tengah gemerlap lampu dan dekorasi mewah, ia justru merasa menjadi perempuan paling menyedihkan malam itu.
Namun rasa sakit terbesar bukan datang dari bisikan para tamu, melainkan dari sikap Kaivan yang tetap berdiri dingin tanpa sedikit pun rasa bersalah. Pria itu sama sekali tidak mencoba menjaga harga dirinya, seolah pertunangan mereka hanyalah beban yang ingin segera ia lepaskan di depan semua orang.
"Alesha…" suara Helena terdengar lirih, penuh kekhawatiran.
Alesha menggeleng pelan ketika ibunya hendak mendekat. Ia tahu dirinya tidak akan mampu bertahan jika ada seseorang yang memeluknya sekarang. Dadanya sudah terlalu sesak menahan malu dan sakit hati di depan semua tamu undangan, sementara Kaivan terlihat sama sekali tidak peduli dengan kehancurannya.
Tidak lama kemudian, suasana ballroom kembali berubah saat seorang perempuan bergaun merah marun berjalan masuk dengan penuh percaya diri. Vanessa Callista melangkah ke arah Kaivan dengan senyum di bibirnya, menarik perhatian semua orang yang hadir. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya yang terlihat justru kebanggaan, seolah ia sengaja ingin menunjukkan bahwa dialah perempuan yang dipilih Kaivan.
"Aku pikir kamu akan sampai lebih lama," kata Vanessa lembut pada Kaivan.
Vanessa berhenti tepat di sisi Kaivan dan langsung menggenggam lengan pria itu dengan mesra. Pemandangan itu membuat napas Alesha terasa semakin berat, karena di depan semua orang, Kaivan tidak menolak sentuhan Vanessa sedikit pun. Sikap dingin yang tadi ia tunjukkan pada Alesha kini berubah menjadi kelembutan saat bersama perempuan itu.
Bisik-bisik tamu semakin ramai memenuhi ballroom. Beberapa orang mulai memahami alasan Kaivan menolak pertunangan itu, sementara yang lain hanya menatap Alesha dengan rasa iba. Berdiri sendirian di tengah ruangan mewah itu, Alesha akhirnya sadar bahwa dirinya memang tidak pernah benar-benar dianggap oleh Kaivan.
"Urusanku sudah selesai dan aku tidak suka berada di sini terlalu lama," ucap Kaivan dingin, namun kali ini nadanya jauh lebih lembut dibanding saat berbicara pada Alesha.
Perbedaan itu terlalu jelas. Terlalu menyakitkan.
Vanessa melirik Alesha sekilas sebelum tersenyum tipis. Tatapan penuh kemenangan itu membuat tenggorokan Alesha terasa pahit.
"Ayo kita pergi, Sayang," ujar Vanessa pelan.
Kaivan menoleh pada Vanessa dengan tatapan yang jauh lebih lembut dibanding saat memandang Alesha. Tanpa ragu, ia menggenggam tangan perempuan itu di depan semua tamu undangan, seolah ingin memperjelas siapa yang benar-benar ada di hatinya. Tindakan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua kata-kata penolakan yang baru saja diucapkannya.
Alesha menahan napas yang mulai bergetar. Ia berdiri sendirian di tengah ballroom mewah, sementara pria yang baru saja menjadi tunangannya memilih pergi bersama perempuan lain tanpa sedikit pun rasa bersalah. Di detik itulah Alesha sadar bahwa malam ini bukan hanya menghancurkan pertunangannya, tetapi juga harga dirinya.
"Alesha…"
Suara di sekitar Alesha terasa semakin jauh dan samar, seperti didengar dari balik dinding tebal. Lampu kristal di atas kepalanya yang tadi begitu terang kini terasa menyilaukan, membuat pandangannya mulai berkunang-kunang. Ia melihat punggung Kaivan menjauh bersama Vanessa, langkah mereka begitu ringan, begitu bahagia sementara dirinya berdiri sendiri, ditinggalkan di tengah kerumunan yang menatapnya seperti tontonan.
Kuku Alesha menekan telapak tangannya kuat-kuat hingga meninggalkan bekas merah, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh di depan semua orang. Namun tubuhnya tetap gemetar, terlebih ketika bisikan para tamu mulai terdengar semakin jelas, seolah mempertegas kehancuran harga dirinya malam itu.
"Kasihan sekali…"
"Kaivan sangat keterlaluan."
"Jadi selama ini memang hanya paksaan?"
"Sangat memalukan…"
Setiap bisikan terasa seperti jarum yang menusuk satu per satu. Dadanya semakin sesak, napasnya semakin pendek, dan untuk pertama kalinya malam ini, Alesha merasa lantai di bawah kakinya seolah berputar.
Ia ingin berjalan keluar dengan kepala tegak, ingin membuktikan bahwa dirinya masih bisa berdiri meski hatinya hancur. Namun tepat saat Alesha mengangkat satu langkah, pandangannya mendadak gelap. Suara musik, bisikan tamu, dentingan gelas kristal semuanya melebur menjadi satu dengungan panjang yang semakin menjauh.
Lututnya kehilangan tenaga.
Dan sebelum Alesha sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya jatuh ke lantai marmer ballroom yang dingin, tepat di hadapan ratusan tamu undangan yang baru saja menyaksikan kehancurannya.
“Aleshaaaaaaa…”
Teriakan Helena adalah hal terakhir yang samar-samar masih bisa didengar Alesha, sebelum kegelapan benar-benar menelannya.
Pertanyaan Kaivan menggantung di udara, namun ayahnya tidak segera menjawab. Ia hanya menggeleng pelan, seakan takut menyebutkan nama itu secara langsung, lalu berdiri dan berjalan perlahan meninggalkan ruangan. Kaivan tidak mengejarnya; ia tahu jawaban itu akan datang pada waktunya. Namun saat ini, pikirannya justru tertuju pada hal lain. Saran yang terus berputar di kepalanya, yang semakin lama semakin sulit untuk diabaikan. Ia merasa terjepit di antara keputusasaan dan keinginan untuk memiliki Alesha. Akhirnya, ia memutuskan untuk berbicara jujur kepada kedua orang tuanya, berharap mereka akan mengerti, berharap mereka akan mendukungnya.Malam itu, setelah makan malam, Kaivan duduk di hadapan ayah dan ibunya di ruang tengah. Ia menarik napas panjang, menata kata-kata yang selama ini mengganjal di tenggorokannya. Wajahnya tegang, namun suaranya mantap saat ia mulai berbicara.
Kata-kata ayahnya menggantung di udara, membuat napas Kaivan tertahan seketika. Ia menatap pria yang selama ini ia anggap teladan itu, mencari tanda-tanda kebohongan atau sekadar kiasan, namun tidak ada. Wajah ayahnya penuh penyesalan yang mendalam, seakan kata-kata itu mengembalikannya puluhan tahun ke masa lalu yang ingin ia lupakan. Keheningan yang menyelimuti ruangan terasa berat, menekan dada Kaivan yang masih berusaha mencerna apa yang baru didengarnya. Jika ayahnya pernah melakukan hal serupa, jika pernikahan mereka pun bermula dari langkah yang kelam, apakah itu berarti saran temannya tidak sepenuhnya salah? Pertanyaan itu muncul perlahan, menyusup ke celah keraguannya yang paling rapuh.“Apa maksud Papa?” tanya Kaivan pelan, suaranya bergetar. “Apakah… pernikahan Papa dan Mama juga dimulai dengan cara itu?”Ayahnya mengan
Kabar kesembuhan ayah Alesha menjadi awal yang baru bagi keluarganya, namun bagi Kaivan justru sebaliknya. Ia tetap datang setiap pagi, kadang membawa makanan kesukaan Alesha, kadang sekedar membantu urusan rumah yang berat, kadang hanya duduk di teras menunggu sekedar untuk menyapa. Setiap kali ia menyampaikan maksud hatinya, Alesha menyampaikan penolakan dengan lembut. Semakin ia berusaha mendekat, semakin Alesha mundur perlahan, menjaga jarak yang tegas seakan ada tembok tidak terlihat di antara mereka. Kaivan mulai menyadari, kehadirannya bukannya mendekatkan, justru membuat perempuan itu semakin menjauh.Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat, Kaivan berdiri di depan pagar rumah Wijanarka. Ia baru saja menyampaikan niatnya untuk berbicara sebentar, namun jawaban Alesha sama seperti biasanya, ia menolak dan memintanya untuk tidak menunggu lebih lama lagi. Ia menatap punggung Alesha yang masuk
Pintu ruangan dokter terbuka lebar. Dokter tersenyum ramah menyampaikan kabar yang dinanti, kondisi ayah Alesha sudah stabil, tidak ada resiko tersisa, dan ia dinyatakan sudah sehat sepenuhnya. Mahesa tersenyum lebar, memeluk istrinya yang tampak lega tidak terlukiskan. Suasana di ruangan itu seharusnya penuh sukacita, namun Alesha berdiri agak terpisah, tersenyum tipis tanpa benar-benar ikut merasakannya. Ia bersyukur ayahnya sembuh, namun kabar baik itu tidak mampu mengangkat beban yang masih membebani hatinya. Bayangan masa lalu, penolakan yang telah ia sampaikan, dan pesan misterius yang belum terjawab. Semuanya bercampur menjadi satu, membuat hatinya tetap berat.Di perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa hangat. Ayahnya bercerita tentang rencana kegiatan yang ingin dilakukannya setelah sekian lama sakit. Namun sesampainya di rumah, saat semua mulai tenang, ayahnya menatap putrinya dengan pan
Pesan itu masih terngiang di pikiran Alesha meski layar ponsel sudah kembali gelap. Ia berdiri terpaku, tangan masih gemetar memegang benda itu. Manipulasi? Apakah mungkin sikap dingin dan kata-kata kasar Kaivan dulu bukan sepenuhnya kehendak hatinya sendiri? Pertanyaan itu muncul sekaligus disangkalnya sendiri, terlalu mustahil, dan terlalu menyakitkan jika ternyata benar. Ia menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran itu. Apa pun alasannya, kenyataan tetap sama, luka itu nyata dan belum sembuh. Ia tidak bisa membiarkan keraguan baru mengubah keputusan yang sudah bulat di hatinya.Pintu perlahan terbuka. Kaivan berdiri di ambang pintu, belum pergi sepenuhnya. Ia menatap Alesha, menyadari ada sesuatu yang berubah. Keraguan di wajah perempuan itu bukan lagi sekedar ketakutan, melainkan bercampur kebingungan yang mendalam. Ia melangkah masuk kembali perlahan, menutup pintu di belakangnya, namun tidak mendekat. Ia berdiri di tempat yang sama, menjaga jarak yang sopan, seakan takut kehad
Kata-kata itu menggantung berat di ruangan itu, lalu pria itu berbalik pergi, meninggalkan keheningan yang mencekam. Tak ada yang mengejarnya, tak ada yang meminta penjelasan lebih lanjut; semua orang terpaku mendengar apa yang baru saja terucap. Kaivan berdiri diam, bingung sekaligus tertekan. Tuduhan itu datang dari orang yang seharusnya mendukungnya, dan kenyataan yang tersisa terasa makin mengancam.Namun bagi Alesha, keraguannya bukan hanya soal rahasia masa lalu keluarga. Setiap kali ia melihat Kaivan, wajah dingin dan kata-kata tajam yang dulu pernah diucapkan pria itu kembali muncul di pikirannya. Ia ingin percaya perubahan ini nyata, tapi luka lama belum kering, apalagi sembuh.Mahesa menghela napas panjang, memecah keheningan. “Kami melihat usahamu selama ini, Kaivan,” ucapnya pelan namun tegas, menatap pemuda itu. “Kamu datang setia







