بيت / Romansa / Obsesi Tuan Kaivan / Bab 1 Pertunangan yang Memalukan

مشاركة

Obsesi Tuan Kaivan
Obsesi Tuan Kaivan
مؤلف: Ibu3Dara

Bab 1 Pertunangan yang Memalukan

مؤلف: Ibu3Dara
last update تاريخ النشر: 2026-06-16 15:19:06

"Aku tidak pernah menyetujui pertunangan ini."

Kalimat itu meluncur dingin dari bibir Kaivan Adhitama, menghancurkan kebahagiaan yang sejak tadi berusaha dipertahankan Alesha.

"Apa maksudnya, Kai?" tanya Alesha dengan suara bergetar, masih berusaha mencari kesalahpahaman di balik kalimat itu.

Ballroom Hotel Grand Arcadia mendadak sunyi. Alunan biola yang sejak tadi mengalun lembut terasa lenyap begitu saja dari telinganya, seakan seluruh ruangan menahan napas bersama-sama. Dengan tangan gemetar menggenggam buket bunga putih, Alesha menatap pria di hadapannya. Kaivan berdiri sempurna dalam jas hitam mahal, namun sorot matanya hanya dipenuhi kebencian. Tidak ada kehangatan, tidak ada rasa iba hanya penolakan yang begitu nyata di depan semua tamu undangan.

Di momen yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya, Kaivan justru menghancurkan harga diri Alesha tanpa ragu sedikit pun. Tatapannya tajam dan dingin, seolah pertunangan itu adalah kesalahan besar yang seharusnya tidak boleh terjadi. Di tengah ruangan yang dipenuhi orang-orang penting, Alesha hanya bisa berdiri membeku, menyadari bahwa pria yang selama ini ia cintai tidak pernah dan mungkin tidak akan pernah menginginkannya.

"Apa kamu mendengarku, Alesha?" suara Kaivan kembali terdengar rendah. "Aku tidak pernah menginginkan pertunangan ini."

Napas Alesha tercekat. Jantungnya berdebar kencang, tetapi anehnya tubuhnya terasa kaku, seolah seluruh dirinya menolak menerima apa yang baru saja didengarnya.

Puluhan pasang mata mulai menatap mereka bergantian. Bisik-bisik pelan terdengar dari meja-meja tamu undangan, perlahan menjalar seperti riak air yang menyebar ke seluruh ruangan.

Alesha mencoba tersenyum kecil meski bibirnya terasa mati rasa. "Kai, kita bisa bicarakan ini lagi."

"Untuk apa?" potong Kaivan tanpa memberi kesempatan. "Agar mereka berpikir aku menerima semua ini?"

Kaivan melirik sekilas pada kotak cincin yang tergeletak di atas meja kecil di antara mereka, lalu mundur selangkah tanpa menyentuhnya sedikit pun. Gerakan sederhana itu terasa seperti tamparan keras bagi Alesha. Napasnya terasa sesak ketika menyadari semua mata tertuju pada mereka, sementara pria yang baru beberapa menit lalu menjadi tunangannya bahkan tidak mau berpura-pura menghargainya di depan para tamu.

Alesha tahu sejak awal Kaivan tidak pernah mencintainya. Ia tahu pria itu masih memiliki kekasih yang benar-benar ia cintai. Namun jauh di dalam hati, Alesha tetap berharap Kaivan setidaknya bisa belajar menerima pertunangan mereka, meski hanya sedikit. Sayangnya, harapan kecil itu kini hancur berkeping-keping di depan matanya sendiri, dan untuk pertama kalinya Alesha merasa dirinya begitu bodoh karena masih berani berharap pada pria itu.

"Aku datang ke sini hanya karena menghormati kedua orang tua kita," lanjut Kaivan datar. "Bukan karena aku ingin bertunangan denganmu."

Alesha menunduk pelan, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Ballroom yang semula dipenuhi kebahagiaan kini berubah menjadi canggung. Beberapa tamu sengaja mengalihkan pandangan, tidak sanggup melihat situasi memalukan yang terjadi di depan mereka. Di barisan depan, Mahesa Wijanarka tampak menegang, rahangnya mengeras, sementara Helena terlihat pucat melihat putrinya dipermalukan di depan semua orang.

Namun Kaivan sama sekali tidak peduli. Dengan wajah dingin, ia tetap melanjutkan ucapannya tanpa sedikit pun rasa bersalah, seolah ia memang sengaja ingin menghancurkan harga diri Alesha di depan orang banyak.

"Sejak dulu aku mencintai Vanessa," katanya tegas.

Nama itu terasa seperti pisau yang menembus dada Alesha.

"Bahkan sampai detik ini aku hanya mencintai Vanessa. Dan itu tidak akan berubah hanya karena keluarga kita memaksakan pertunangan ini."

Suasana ballroom semakin terasa menyesakkan bagi Alesha. Bisik-bisik para tamu mulai terdengar samar di telinganya, bercampur dengan rasa malu yang perlahan menghancurkan harga dirinya. Ia berdiri mematung di tempatnya, berusaha tetap tegar meski dadanya terasa sesak dan tangannya dingin serta gemetar. Ia menghitung detik dalam hati, berharap waktu bisa berjalan lebih cepat agar momen ini segera berakhir.

Sementara itu, Kaivan justru terlihat begitu tenang, seolah seluruh kekacauan ini bukan salahnya. Tatapannya tetap dingin ketika memandang Alesha, tanpa sedikit pun penyesalan karena telah mempermalukannya di depan keluarga besar dan para tamu undangan.

"Jadi, berhenti berharap aku akan menjadi tunangan atau suami yang kamu inginkan."

Alesha menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh di depan semua orang. Ia bisa merasakan tatapan iba, penasaran, bahkan ejekan yang mengarah padanya dari berbagai sudut ballroom. Di tengah gemerlap lampu dan dekorasi mewah, ia justru merasa menjadi perempuan paling menyedihkan malam itu.

Namun rasa sakit terbesar bukan datang dari bisikan para tamu, melainkan dari sikap Kaivan yang tetap berdiri dingin tanpa sedikit pun rasa bersalah. Pria itu sama sekali tidak mencoba menjaga harga dirinya, seolah pertunangan mereka hanyalah beban yang ingin segera ia lepaskan di depan semua orang.

"Alesha…" suara Helena terdengar lirih, penuh kekhawatiran.

Alesha menggeleng pelan ketika ibunya hendak mendekat. Ia tahu dirinya tidak akan mampu bertahan jika ada seseorang yang memeluknya sekarang. Dadanya sudah terlalu sesak menahan malu dan sakit hati di depan semua tamu undangan, sementara Kaivan terlihat sama sekali tidak peduli dengan kehancurannya.

Tidak lama kemudian, suasana ballroom kembali berubah saat seorang perempuan bergaun merah marun berjalan masuk dengan penuh percaya diri. Vanessa Callista melangkah ke arah Kaivan dengan senyum di bibirnya, menarik perhatian semua orang yang hadir. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya yang terlihat justru kebanggaan, seolah ia sengaja ingin menunjukkan bahwa dialah perempuan yang dipilih Kaivan.

"Aku pikir kamu akan sampai lebih lama," kata Vanessa lembut pada Kaivan.

Vanessa berhenti tepat di sisi Kaivan dan langsung menggenggam lengan pria itu dengan mesra. Pemandangan itu membuat napas Alesha terasa semakin berat, karena di depan semua orang, Kaivan tidak menolak sentuhan Vanessa sedikit pun. Sikap dingin yang tadi ia tunjukkan pada Alesha kini berubah menjadi kelembutan saat bersama perempuan itu.

Bisik-bisik tamu semakin ramai memenuhi ballroom. Beberapa orang mulai memahami alasan Kaivan menolak pertunangan itu, sementara yang lain hanya menatap Alesha dengan rasa iba. Berdiri sendirian di tengah ruangan mewah itu, Alesha akhirnya sadar bahwa dirinya memang tidak pernah benar-benar dianggap oleh Kaivan.

"Urusanku sudah selesai dan aku tidak suka berada di sini terlalu lama," ucap Kaivan dingin, namun kali ini nadanya jauh lebih lembut dibanding saat berbicara pada Alesha.

Perbedaan itu terlalu jelas. Terlalu menyakitkan.

Vanessa melirik Alesha sekilas sebelum tersenyum tipis. Tatapan penuh kemenangan itu membuat tenggorokan Alesha terasa pahit.

"Ayo kita pergi, Sayang," ujar Vanessa pelan.

Kaivan menoleh pada Vanessa dengan tatapan yang jauh lebih lembut dibanding saat memandang Alesha. Tanpa ragu, ia menggenggam tangan perempuan itu di depan semua tamu undangan, seolah ingin memperjelas siapa yang benar-benar ada di hatinya. Tindakan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua kata-kata penolakan yang baru saja diucapkannya.

Alesha menahan napas yang mulai bergetar. Ia berdiri sendirian di tengah ballroom mewah, sementara pria yang baru saja menjadi tunangannya memilih pergi bersama perempuan lain tanpa sedikit pun rasa bersalah. Di detik itulah Alesha sadar bahwa malam ini bukan hanya menghancurkan pertunangannya, tetapi juga harga dirinya.

"Alesha…"

Suara di sekitar Alesha terasa semakin jauh dan samar, seperti didengar dari balik dinding tebal. Lampu kristal di atas kepalanya yang tadi begitu terang kini terasa menyilaukan, membuat pandangannya mulai berkunang-kunang. Ia melihat punggung Kaivan menjauh bersama Vanessa, langkah mereka begitu ringan, begitu bahagia sementara dirinya berdiri sendiri, ditinggalkan di tengah kerumunan yang menatapnya seperti tontonan.

Kuku Alesha menekan telapak tangannya kuat-kuat hingga meninggalkan bekas merah, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh di depan semua orang. Namun tubuhnya tetap gemetar, terlebih ketika bisikan para tamu mulai terdengar semakin jelas, seolah mempertegas kehancuran harga dirinya malam itu.

"Kasihan sekali…"

"Kaivan sangat keterlaluan."

"Jadi selama ini memang hanya paksaan?"

"Sangat memalukan…"

Setiap bisikan terasa seperti jarum yang menusuk satu per satu. Dadanya semakin sesak, napasnya semakin pendek, dan untuk pertama kalinya malam ini, Alesha merasa lantai di bawah kakinya seolah berputar.

Ia ingin berjalan keluar dengan kepala tegak, ingin membuktikan bahwa dirinya masih bisa berdiri meski hatinya hancur. Namun tepat saat Alesha mengangkat satu langkah, pandangannya mendadak gelap. Suara musik, bisikan tamu, dentingan gelas kristal semuanya melebur menjadi satu dengungan panjang yang semakin menjauh.

Lututnya kehilangan tenaga.

Dan sebelum Alesha sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya jatuh ke lantai marmer ballroom yang dingin, tepat di hadapan ratusan tamu undangan yang baru saja menyaksikan kehancurannya.

“Aleshaaaaaaa…” 

Teriakan Helena adalah hal terakhir yang samar-samar masih bisa didengar Alesha, sebelum kegelapan benar-benar menelannya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 41 Kedatangan yang Tidak Diharapkan

    Pintu ruang kerja itu terbuka, menampilkan sosok Vanessa yang melangkah masuk dengan penuh percaya diri, senyum manis sudah terpasang sempurna di wajahnya sejak sebelum ia melangkahkan kaki ke dalam ruangan itu. Namun begitu matanya bertemu dengan tatapan dingin Kaivan yang duduk di balik meja kerjanya, langkah Vanessa sedikit terhenti, menyadari bahwa sambutan yang akan ia terima jauh berbeda dari yang ia bayangkan sepanjang perjalanan tadi."Kai, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi," ucap Vanessa dengan suara yang dibuat selembut mungkin, melangkah mendekati meja kerja Kaivan dengan gerakan yang begitu terlatih untuk terlihat begitu anggun dan menawan.Kaivan tidak bergeming dari kursinya, matanya menatap tajam ke arah Vanessa tanpa sedikit pun menunjukkan kehangatan yang biasa ia tunjukkan kepada perempuan itu bertahun-tahun lalu, membuat suasana ruangan

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 40 Langkah yang Berbeda

    Setelah keluar dari kantor Adhitama Group, Alesha langsung menuju kampus. Ia tidak ingin terlalu lama memikirkan pertemuannya dengan Kaivan. Baginya, menjaga jarak adalah pilihan terbaik, meski sebenarnya hatinya masih terasa berat. Sesampainya di kampus, Alesha kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Ia masuk ke ruang dosen, memeriksa beberapa dokumen, menghadiri rapat, lalu mengajar sesuai jadwal.Di depan para mahasiswa, Alesha tetap terlihat tenang dan profesional. Ia menjelaskan materi seperti biasanya, menjawab pertanyaan, dan sesekali memberikan tugas kepada mahasiswa. Tidak ada yang tahu bahwa di balik sikap tenangnya, pikirannya masih tertinggal di ruang kerja Kaivan. Tatapan pria itu, suara yang terdengar penuh kerinduan, dan kalimatnya yang terputus sebelum Alesha pergi terus terbayang di kepalanya."Aku tidak boleh memikirkan Kaivan lagi," gum

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 39 Pertemuan yang Tak Terduga

    Kaivan berdiri mematung mendengar nama itu disebutkan, jantungnya berdebar begitu kencang hingga terasa hampir melompat keluar dari dadanya sendiri. Setelah enam bulan penuh pencarian yang sia-sia, sosok yang begitu ia rindukan itu kini benar-benar berdiri tidak jauh dari ruang kerjanya."Alesha? Suruh dia masuk, Sita," ucap Kaivan cepat, suaranya terdengar begitu bersemangat, tangannya buru-buru merapikan kemeja yang ia kenakan meski sebenarnya penampilannya sudah cukup rapi sejak pagi tadi.Sita mengangguk dan segera keluar, tidak sampai satu menit kemudian pintu ruang kerja itu kembali terbuka, menampilkan sosok Alesha yang berdiri dengan sebuah kotak kecil berbalut kain beludru di tangannya, wajahnya terlihat begitu tenang meski sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit diartikan."Alesha," ucap Kaivan pelan, s

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 38 Fokus Pemulihan

    Lavienna segera menghampiri anaknya, menahan bahu Kaivan yang sudah setengah bangkit dari ranjang dengan tenaga yang masih begitu terbatas, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang begitu besar melihat tekad anaknya yang begitu terburu-buru itu."Kaivan, tenang dulu, Nak. Kondisimu masih belum sepenuhnya pulih, kamu baru saja pulang dari rumah sakit hari ini," ucap Lavienna cemas, tangannya mencoba menahan tubuh Kaivan yang masih terlihat begitu lemah untuk memaksakan diri bergerak seperti itu.Kaivan menggeleng keras kepala, matanya menatap ibunya dengan tatapan penuh keteguhan meski tubuhnya sendiri jelas belum siap untuk melakukan aktivitas seberat yang ia inginkan saat itu."Aku tidak peduli, Ma. Aku harus menemuinya sekarang, aku sudah menunggu terlalu lama," ucap Kaivan keras kepala, mencoba kembali bangkit mesk

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 37 Kebenaran yang Terungkap

    Kaivan menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah pesan singkat dari Vanessa, matanya membaca setiap kata dengan dahi yang semakin berkerut, wajahnya berubah pucat seiring dengan makna kalimat itu perlahan meresap ke dalam pikirannya.Pesan itu berbunyi: "Apa kamu memutuskanku karena Alesha yang selama ini menemanimu di rumah sakit, Kai?"Kaivan terdiam mematung menatap layar itu, tangannya yang tadi masih gemetar menahan amarah kini gemetar karena alasan yang begitu berbeda, pikirannya langsung dipenuhi kebingungan yang begitu besar mengingat jawaban yang ia terima dari ibunya beberapa waktu lalu."Ma," ucap Kaivan pelan, suaranya terdengar begitu berat, matanya menatap lurus ke arah Lavienna yang duduk tidak jauh darinya dengan raut wajah yang seketika berubah tegang begitu mendengar nada bicara anaknya itu.

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 36 Kata Putus dari Kaivan

    Kaivan menatap layar ponselnya yang terus bergetar dengan nama Vanessa terpampang jelas, wajahnya seketika berubah dingin dan penuh kebencian. Tangannya yang tadi masih gemetar menahan emosi kini mengepal semakin erat, tidak sanggup lagi menyentuh benda itu meski hanya untuk menolak panggilan."Ma, tolong angkat saja. Aku tidak mau bicara dengannya lagi," ucap Kaivan pelan, suaranya bergetar menahan amarah yang begitu besar, menyerahkan ponselnya kepada Lavienna yang segera menerimanya dengan tatapan penuh kemarahan yang sama besarnya.Lavienna menatap layar ponsel itu sejenak sebelum akhirnya menekan tombol hijau, mengaktifkan mode pengeras suara agar Adrian dan Kaivan bisa mendengar langsung percakapan yang akan terjadi selanjutnya."Halo, dengan siapa ini?" tanya Lavienna dengan nada dingin dan sinis, meski jelas ia sudah tahu betul siapa yang menghubungi ponsel anaknya itu.Suara Vanessa terdengar sedikit terkejut di seberang telepon, jelas tidak menduga akan mendapati suara Lavie

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status