LOGINKeesokan paginya, Alena berangkat kerja dengan wajah lesu. Bahkan sejak turun dari kendaraan sampai masuk ke ruang marketing, senyum yang biasanya selalu menghiasi wajahnya sama sekali tidak terlihat.Tentu saja perubahan itu langsung ditangkap oleh seseorang.Sisca.Wanita itu langsung menggeser kursinya mendekat."Lena.""Hm?""Ayo senyum.""Hmm.""Aku kangen lesung pipimu."Alena tetap diam."Jangan pelit-pelit.""Hmm."Sisca mulai gelisah. Biasanya Alena memang gampang tersipu, gampang malu, tetapi selalu ceria dan tidak pernah semurung ini. Akhirnya Alena mengangkat sudut bibirnya sedikit.Namun... senyum itu begitu kaku.Sisca langsung memegang dada."Jangan begitu dong."Alena mengernyit."Kenapa?""Lebih baik kamu marah.""Hah?""Senyum kayak gitu bikin aku takut."Alena langsung menghela napas. Daripada berdebat dengan Sisca, lebih baik diam.Namun ternyata... diam juga tidak membuat sahabatnya berhenti bicara."Lena.""Hm?""Di dunia ini cowok banyak."Alena meliriknya."Buk
Keesokan paginya...Leon benar-benar mulai merasakan hidupnya berubah. Kalau biasanya ia bebas pergi ke mana pun, sekarang berbeda.Ke mana pun ia pergi, selalu ada satu orang yang mengikutinya.Ibunya.Pagi itu Leon baru saja mengambil kunci mobil."Sudah mau berangkat?""Iya.""Ibu ikut."Leon hanya bisa mengangguk pasrah.Begitu tiba di perusahaan...Mira langsung ikut turun dari mobil, menyapa para karyawan dengan ramah, bahkan sesekali berhenti mengobrol dengan mereka.Melihat tingkah ibunya, Leon sampai merasa wanita itu sudah naik jabatan menjadi sekretaris pribadi keduanya.Leon mulai punya firasat buruk."Bu.""Hm?""Ibu mau ke mana?""Ikut kamu."Leon menghela napas."Tapi Ibu tidak ada urusan di kantor.""Siapa bilang?""Lalu urusannya apa?""Menemani anak."Leon benar-benar kehabisan kata-kata.Sepanjang hari...Leon bahkan tidak pernah benar-benar sendirian. Saat menuju ruang rapat... Mira ikut sampai depan pintu."Mau meeting, Bu.""Iya.""Ibu tunggu."Saat Leon keluar
Sore itu...Jam kerja akhirnya usai. Sebagian besar karyawan mulai berkemas untuk pulang. Namun tidak dengan Leon. Pria itu justru menghela napas panjang begitu keluar dari ruangannya.Seharian ini... ia sama sekali tidak memiliki kesempatan mendekati Alena. Padahal sejak pagi sudah ada rencana di kepalanya.Sepulang kerja... ia ingin mengajak Alena makan malam. Bukan untuk berkencan. Setidaknya menurut pengakuannya sendiri.Ia hanya ingin menjelaskan semua kesalahpahaman yang terus menumpuk.Tentang Cynthia.Tentang ibunya.Dan tentang boneka singa yang ternyata malah membuat keadaan semakin rumit.Namun semua rencana itu langsung buyar. Karena begitu keluar dari lift... seseorang sudah berdiri sambil tersenyum manis.Ibunya."Sudah selesai?"Leon langsung memejamkan mata."Sudah, Bu.""Bagus."Mira langsung merangkul lengan putranya."Yuk pulang."Leon hanya bisa mengangguk pasrah. Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Mira terus mengobrol.Mulai dari menu makan malam.Sampai membah
Begitu Leon dan Mira menghilang ke dalam lift...Area marketing mendadak hening.Lima detik.Sepuluh detik.Lalu..."AAAAAA!"teriak Sisca.Alena yang masih berusaha menenangkan jantungnya sampai terlonjak dari kursinya."Apa lagi sih?!"Sisca langsung menunjuk lift yang sudah tertutup."Itu!""Itu apa?""'Nanti Alena bisa resign!'"Sisca menirukan suara Leon dengan dramatis. Alena langsung memegang kepala."Tolong jangan diulang.""Tidak bisa.""Kenapa?""Karena aku merinding."Alex menghela napas."Aku juga dengar.""Nah kan!"Sisca langsung menepuk meja."Itu bukan kalimat bos biasa."Alena mendelik."Itu kalimat orang yang takut kehilangan karyawan.""Bohong.""Benar."Seperti biasa, Alena memilih diam daripada harus adu mulut dengan Sisca. Ekspresi Sisca sangat serius. Bahkan terlalu serius."Aku tahu sekarang.""Apa?""Pak Leon pasti sudah membayangkan masa depan."Alena langsung memejamkan mata."Tolong jangan mulai.""Tidak."Sisca mengangkat telunjuk."Analisis ini berdasarka
Alena sudah benar-benar hampir putus asa. Karena perasaannya sudah tidak tenang, di kepalanya sekarang hanya ada satu ketakutan.Aduh mati aku.Jangan-jangan aku mau dituduh jadi pelakor lagi.Penyebab hubungan mereka bermasalah.Dan karena terlalu panik ... tanpa sadar Alena malah menambahkan,"Aku juga tidak minta apa-apa.""Hm?""Maksud saya..."Alena langsung ingin menepuk mulutnya sendiri. Namun semuanya sudah terlambat."Aku tidak minta apa-apa."Mira mulai penasaran."Lalu?""Pak Leon sendiri yang antar boneka singa."Hening.Mira membeku."Hah?"Alena ikut membeku.Astaga.Kenapa omongan seperti itu keluar dari mulutnya?"Apa?"Mira berkedip."Boneka singa?"Alena langsung ingin menghilang dari muka bumi.Sementara di kejauhan ... Sisca yang sedang menguping hampir jatuh dari kursinya."ASTAGA!""Kali ini aku juga bakal kena masalah!"Alex buru-buru menarik lengannya."Kok bisa?""Aku kan konsultannya!""Hah?"Tapi Sisca malah berdiri dan menegakkan tubuhnya."Duduk!""Tapi in
Alena berdiri kaku di depan Mira Mahardika.Jujur saja ... ia lebih memilih menghadapi deadline mendadak daripada situasi seperti ini. Karena wanita di depannya adalah ibu Leon.Dan entah kenapa ... fakta itu saja sudah cukup membuatnya gugup."Jangan tegang begitu."Mira tersenyum kecil."Hah?""Kamu seperti sedang diwawancarai polisi.""Ti-tidak kok, Bu."Jawaban itu keluar terlalu cepat. Mira langsung tertawa.Lucu juga, anak ini benar-benar mudah dibaca.Sementara di kejauhan ... Sisca yang pura-pura bekerja sudah menggeser kursinya beberapa sentimeter lebih dekat."Astaga."gumamnya."Apa lagi?"tanya Alex."Lena sedang diinterogasi.""Itu cuma ngobrol.""Tidak."Sisca menggeleng mantap."Itu wawancara calon menantu."Alex langsung memejamkan mata.Sementara itu ... Mira kembali menatap Alena."Kamu kerja di sini sudah lama?""Belum terlalu lama, Bu.""Oh."Mira mengangguk."Betah?""Alhamdulillah betah.""Teman-temannya baik?""Iya.""Atasanmu?""Baik juga."Mira tersenyum. Jawa
Pagi berikutnya, Alena datang ke kantor jauh lebih awal dari biasanya. Langit masih diselimuti cahaya lembut matahari pagi ketika ia berdiri di depan gedung Mahardika Group sambil menggenggam tasnya erat-erat. Sejak menerima pesan singkat dari Leon semalam, ia hampir tidak bisa tidur. Kalimat forma
Pagi itu Alena datang ke kantor jauh lebih awal daripada biasanya. Langit masih berwarna abu-abu pucat ketika ia tiba di depan gedung Mahardika Group. Udara pagi terasa sejuk, tetapi jantungnya sudah berdebar cepat sejak membuka pesan dari Alex semalam. Hari ini mereka akan mempresentasikan strateg
Mereka terus menuruni anak tangga hingga akhirnya tiba di lobi. Begitu pintu tangga darurat dibuka, udara malam langsung menyambut mereka dan ketiganya berjalan menuju pintu utama gedung. Udara malam menyambut mereka. Mobil hitam Leon sudah menunggu di depan gedung. Leon berhenti sejenak dan menata
Alena menelan ludah pelan lalu mengambil tempat di kursi yang berada tepat di depan Leon. Dari jarak sedekat ini, ia semakin sadar betapa tampannya pria itu. Jasnya telah dilepas, lengan kemejanya digulung hingga siku, dan ekspresi serius di wajahnya justru membuat Leon terlihat lebih dewasa dan mem







