āđāļāđāļēāļŠāļđāđāļĢāļ°āļāļTidak ada tanda kiamat.Yang berubah hanyalah cara dunia bernapas.Li Yuan berdiri di tengah aula Heishui, dikelilingi peta-peta realitas yang kini tak lagi patuh. Garis takdir yang dulu lurus dan bercabang rapi kini bergetar, sebagian mengabur, sebagian menulis dirinya sendiri tanpa izin Jam Pasir Naga.âJumlahnya bertambah,â lapor Wen Jue pelan. âBukan satu atau dua. Di tiga belas wilayahâĶ anak-anak tanpa jejak mulai lahir.âWu Xian menghela napas berat. âAku tidak suka frasa itu.âAyuna menoleh. âTanpa jejakâĶ artinya apa sebenarnya?âWen Jue menjawab dengan suara yang nyaris seperti pengakuan dosa.âArtinya dunia tidak tahu apa yang harus terjadi pada mereka.âMEREKA YANG TIDAK DITULISDi Desa Luoyin, seorang anak perempuan berumur tujuh tahun menolak jatuh dari tebingâkarena ia memilih tidak jatuh.Di Wilayah Abu-abu Selatan, seorang bocah lelaki menyentuh api dan api itu padam, seolah tak ingin menyakitinya.Di Heishui sendiri, b
Pelan.Namun cukup untuk membuat Li Yuan membuka mata.Ia berdiri di tepi dataran tinggi, memandang dunia yang terbentang di bawahâcahaya dan bayangan kini tidak lagi bertarung, melainkan berjalan berdampingan dengan canggung, seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi jalan.âApa kau merasakannya?â tanya Ayuna pelan.Li Yuan mengangguk. âBukan serangan. Bukan gangguan.âWu Xian mengernyit. âJangan bilang ini salah satu dari âhal yang lebih burukâ.âRakta Nagendra menjawab lebih dulu, suaranya berat. âIni konsekuensi murni.âGEJALA PERTAMADi wilayah perbatasan antara tanah cahaya dan Daerah Netral Kehendak, fenomena aneh mulai muncul.Sungai yang mengalir ke dua arah sekaligus.Bayangan yang bergerak lebih cepat dari pemiliknya.Anak-anak yang bermimpi tentang masa depanâĶ lalu bangun dengan luka dari mimpi itu.Wen Jue membaca laporan demi laporan, wajahnya makin pucat.âRealitas tidak rusak,â katanya pelan. âIaâĶ bereksperi
Bukan karena tenangâmelainkan karena tak lagi punya arah.Li Yuan berdiri di tengah lingkaran batu, berhadapan dengan Qin Mo. Ribuan mata manusia mengelilingi mereka, tak satu pun berlutut, tak satu pun menunduk. Ini bukan pemberontakan. Ini penolakan sadar.âApa kau sadar apa yang kau minta?â tanya Li Yuan akhirnya. Suaranya tenang, tapi di baliknya ada gema naga dan dunia. âZona tanpa cahaya berarti zona tanpa perlindungan. Tanpa hukum dunia. Tanpa kepastian.âQin Mo mengangguk pelan. âKami sadar.âWu Xian mendengus. âItu cara paling sopan untuk bunuh diri massal yang pernah kudengar.âTak satu pun warga tersinggung.Seorang perempuan muda melangkah maju. Wajahnya pucat, tapi matanya mantap. âIbuku mati saat para dewa berperang. Ayahku mati saat dunia diselamatkan. Sekarang kau datang membawa cahayaâĶ dan berkata semua ini demi kami.âIa menatap Li Yuan lurus. âKami hanya ingin hidup dengan kesalahan kami sendiri.âKalimat itu menghantam lebih k
Itu pelajaran pertama yang Li Yuan pahami setelah langit kembali tenang.Di utara, kota-kota kecil yang baru pulih mulai memadamkan obor suci yang muncul setelah runtuhnya para dewa. Patung-patung naga yang sempat ditegakkan kembaliâĶ diruntuhkan diam-diam pada malam hari. Doa-doa berubah bentukâbukan lagi permohonan, melainkan penolakan.âAda yang menutup diri,â lapor Wen Jue sambil menatap peta energi yang berdenyut redup. âBukan karena takutâĶ tapi karena marah.âWu Xian mengangkat alis. âMarah pada siapa? Kita baru saja menyelamatkan dunia.ââJustru itu,â jawab Wen Jue pelan. âTidak semua orang ingin diselamatkan dengan cara yang sama.âAyuna berdiri di tepi tebing, memandang ke lembah tempat kabut hitam tipis merayap seperti napas. âMereka merasa kehilangan pegangan. Dulu ada dewa untuk disalahkan. SekarangâĶ tidak ada.âLi Yuan tidak langsung menjawab. Ia merasakan sesuatuâgetaran halus di bawah tanah, bukan energi jahat, melainkan tekad yang mengeras
Itulah hal pertama yang dirasakan Li Yuan ketika membuka mata.Bukan keheningan biasaâmelainkan sunyi yang begitu murni, seolah dunia menahan napas untuk memastikan ia benar-benar masih hidup.Cahaya putih lembut menyelimuti sekelilingnya. Tidak menyilaukan, tidak menekan. Cahaya itu terasaâĶ ramah. Hangat. Seperti pelukan yang sudah lama ia lupakan.âAkuâĶâ Li Yuan berusaha berbicara, namun suaranya hanya keluar sebagai desahan pelan.Ia menurunkan pandangan ke tubuhnya.Sisik putih keperakan menutupi sebagian lengannya, tersusun rapi seperti karya seni. Tidak ada aura kehancuran, tidak ada bisikan kegilaan seperti saat inti naga hitam masih hidup di dadanya. Yang ada hanyalah aliran kekuatan stabilâtenang, tapi dalam. Sangat dalam.Kekuatan yang tidak ingin menghancurkan apa pun.âBangunlah perlahan.âSuara itu bergema dari segala arah, lembut namun agung.Li Yuan menoleh.Di hadapannya berdiri sosok naga raksasa berwarna putih murni. Tubuhnya panjang dan anggun, sisiknya memantulkan
Justru itu yang membuat semua orang merinding.Awan darah berputar perlahan di barat, membentuk pusaran raksasa seperti mata yang sedang membuka diri. Tidak ada petir. Tidak ada gemuruh. Hanya tekanan halusânamun cukup kuat untuk membuat tulang terasa berat dan napas tertahan.Li Yuan berdiri di garis depan. Cahaya putih keperakan di sekeliling tubuhnya tidak meledak, tidak meluap. Ia menahan semuanya dengan tenang, seperti danau yang menelan badai.âItu bukan invasi,â gumam Wen Jue dari belakang. âItuâĶ pengujian.âWu Xian menyeringai tipis. âSelalu saja. Dunia ini nggak pernah langsung percaya.âAyuna melangkah setengah langkah ke depan, berdiri sejajar dengan Li Yuan. âKalau itu musuh, aku serang. Kalau itu dewaâĶ aku tetap serang.âLi Yuan menoleh sebentar. Senyum kecil munculâlelah, tapi tulus.âAku tahu.âUdara di depan mereka terbelah.Bukan robek. Bukan retak.Terbuka.Dari celah itu, sosok tinggi melangkah keluar. Tubuhnya berlapis jubah merah tua, seperti kain yang direndam da
Setelah para Malaikat Langit mundur, langit tetap kelabu. Awan menggantung berat, seperti menyimpan luka yang enggan tertutup. Angin sepi, dan tanah yang dilalui Li Yuan retak halus seperti cermin yang dihantam kenyataanâtanda bahwa hukum dunia mulai goyah. âLangit sudah menandaimu,â ujar Sihuan M
Malam menyelimuti Sekte Bambu Langit dengan keheningan yang tidak biasa. Bintang-bintang tampak redup, seolah menyaksikan kegemparan hari ini dengan ngeri. Seluruh sekte gemetar. Pertarungan antara Han Wu dan Li Zhong menjadi buah bibir seluruh murid. Tak hanya karena kekuatan luar biasa yang ditam
Matahari baru saja menembus ufuk timur, tapi udara di Sekte Bambu Langit telah dipenuhi aura membunuh. Arena utama dibersihkan semalaman, namun bau darah Luo Sheng masih belum lenyap sepenuhnya.Hari ini, pertarungan paling dinanti akan terjadi.Han Wu vs Li Zhong.Atau, dalam kebenaran yang tak se
Lapangan utama Sekte Bambu Langit pagi itu penuh sesak. Ribuan murid berkumpul, membentuk lingkaran besar di bawah bendera merah dengan lambang bambu bersilang. Di tengahnya, para tetua berdiri di atas panggung batu spiritual.Kompetisi antar murid diumumkan secara resmi. Tapi bagi sebagian besar y







