LOGINPBN 120Maya POVAku memejamkan mata, berusaha meredam isak yang kembali memenuhi dada.Suara Fajar terdengar pelan dari seberang sana.["May... boleh aku meminta satu hal padamu? Anggap saja ini permintaan terakhirku."]Jantungku kembali berdegup tak beraturan.Aku menggenggam ponsel semakin erat.["Katakan... apa permintaanmu, Jar?"]Hening beberapa saat.Seolah Fajar sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya.Lalu...["Datanglah ke pernikahanku."]Aku membeku.["Aku ingin... kamu mendampingiku sebelum akad dimulai."]Napas seolah berhenti."Apa?"Kalimat itu nyaris lolos dari bibirku.["Aku tahu permintaan ini egois."]["Tapi aku benar-benar ingin kamu dampingi demi meyakinkan diriku sendiri jika apa yang sudah aku pilih ini adalah sesuatu yang benar."]Aku membeku mendengar permintaan Fajar yang terasa sulit untuk dikabulkan.Saat ini aku bahkan menjadi kian sulit untuk menahan laju air mataku."Jar..."["Tolong..."]Suaranya mulai bergetar.["Aku ingin orang terakhir ya
Maya POV"Hans... lepaskan aku."Aku kembali berusaha menarik pergelangan tanganku, tetapi cengkeramannya justru semakin erat."Aku nggak akan membiarkan kamu pergi menemui Fajar."Nada suaranya terdengar tenang, tetapi ketegasan di dalamnya membuatku semakin marah."Kamu nggak berhak mengatur hidupku!""Aku memang belum berhak."Hans menatapku tanpa berkedip."Tapi aku hanya ingin menenangkan diriku saja."Aku langsung membeliak kesal."Maksud kamu?"Beberapa pasang mata mulai memperhatikan kami.Hans seolah tak peduli.Ia justru menarikku berdiri. Dia sama sekali tak menjelaskan kalimatnya tadi."Ayo pulang.""Pulang?"Aku mengernyit."Ke mana?""Ke rumah.""Aku punya rumah sendiri!""Bukan rumah itu."Hans berjalan sambil tetap menggenggam tanganku."Rumah yang kubelikan untukmu."Aku spontan menghentikan langkah."Aku nggak mau!""Kamu boleh marah.""Tapi hari ini kamu tetap ikut denganku."Aku benar-benar kehilangan kesabaran."Hans! Jangan paksa aku!"Namun semua protesku sama s
Maya POVAku masih menatap Hans dengan penuh tanda tanya."Menunjukkan apa?"Hans tidak langsung menjawab.Pria itu justru menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu merogoh saku jas yang sejak tadi dikenakannya. Hans kemudian mulai mengeluarkan ponsel miliknya."Aku ingin kamu melihat sesuatu."Hans menggulir layar ponsel di tangannya sebelum dia menyerahkannya padaku.Aku mengernyit."Lihatlah foto ini."Aku termangu kelu saat melihat foto-foto yang terpampang di layar ponsel milik Hans.Di dalam foto itu tampak Hans sedang duduk berdampingan dengan seorang ustaz. Mereka terlihat berbincang cukup akrab di dalam sebuah masjid.Aku segera menggeser foto berikutnya.Dadaku kembali bergemuruh.Di foto itu Hans mengenakan baju koko putih dengan peci hitam.Wajahnya tampak jauh lebih teduh daripada biasanya.Aku kembali membuka lembar berikutnya.Kali ini kulihat Hans sedang menjabat tangan sang ustaz dengan mata yang tampak berkaca-kaca.Aku perlahan mengangkat wajah."Hans... ini apa?"Ha
Maya POV"Selamat pagi, sayang."Suara Hans membuat suasana mendadak membeku.Ketiga perempuan yang sejak tadi mengejekku langsung saling berpandangan. Mata mereka membulat menatap pria tinggi berwajah tampan yang kini berdiri tepat di sampingku.Hans bahkan dengan santainya mengambil satu kotak rice bowl dari atas meja."Aromanya enak sekali."Aku menatapnya tajam."Apa yang kamu lakukan di sini?"Hans hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.Sikap Hans yang terkesan dekat denganku itu langsung memancing rasa penasaran dari ketiga teman-temanku itu."Itu siapa kamu?"Aku tak menjawab hanya memberikan lirikan tipis pada Hans yang saat ini malah tersenyum lebar seraya memandangku dengan lekat terkesan terlalu intim.Nyatanya justru Hans yang membuka suara dengan menegaskan jati dirinya di hadapan mereka."Sayang, aku sudah bilang sama kamu kemarin untuk nggak usah berjualan, hari ini kan kita rencananya mau mencari cincin pernikahan."Lagi-lagi aku dibuat terkesiap dengan kalimat yang dia
Maya POV"Maya...."Aku perlahan mengangkat wajah.Air mataku masih membasahi pipi ketika kulihat Hans berdiri beberapa langkah di depanku. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan wajah yang terlihat lelah. Tatapannya penuh rasa bersalah."Aku sudah mencari kamu ke mana-mana."Aku segera berdiri lalu mengusap wajahku."Ada apa lagi?" tanyaku datar.Hans menghela napas panjang."Aku cuma ingin bicara.""Tentang apa? Kurasa sudah tak ada yang perlu dibicarakan."Aku mendesah pelan."Aku sudah menolak lamaranmu."Aku kemudian berbalik mengabaikan Hans yang masih menatapku lurus.Namun saat aku hendak melangkah pergi, Hans buru-buru berkata,"Kumohon ada yang ingin aku tunjukkan sama kamu."Aku mengernyit sejenak. Rasanya terlalu aneh mendapati sosok seperti Hans yang biasanya selalu otoriter kini malah memohon."Setelah ini kalau kamu tetap menolak, aku nggak akan memaksa lagi."Aku terdiam. Perlahan aku menoleh dan memandangnya.Hans menatapku dengan penuh kesungguhan.Aku akhirnya men
Maya POV"May, katakan padaku... apakah kamu masih mencintaiku?"Pertanyaan itu membuat tenggorokanku terasa tercekat.Aku hanya menunduk, menggenggam sendok yang tiba-tiba terasa begitu berat di tangan.Suasana ruang makan mendadak sunyi. Bahkan suara detik jam dinding terdengar begitu jelas di telingaku.Aku tak sanggup menatap wajah Fajar.Pertanyaannya justru menghidupkan kembali semua kenangan yang selama ini mati-matian coba aku kubur.Tentang segala kebersamaan kami dahulu, mulai dari awal saat kami masih memakai seragam abu-abu putih.Tentang canda tawa juga cita-cita kami di masa muda Dan tentang cinta yang selalu dia perjuangkan meski berkali-kali takdir memisahkan kami.Air mataku jatuh begitu saja.Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa semua itu sudah hilang?Tidak...Cinta itu masih ada.Masih sangat hidup.Bahkan mungkin lebih besar daripada sebelumnya.Justru karena aku masih mencintainya, aku tak ingin menghancurkan hidupnya.Aku mengangkat wajah perlahan.Kulihat ma
POV Maya Aku sedang duduk di ruang tamu, menatap kosong ke arah jendela ketika ponselku berdering. Nama Andien muncul di layar. Dengan antusias, aku segera mengangkatnya.[“Ya, Ndien, ada apa?” tanyaku pelan.Namun bukan suara santai yang kudapat, melainkan wajah Andien yang tampak ragu di layar v
“Apa yang harus aku lakukan?” ulangku pelan, masih mencoba menebak arah pikirannya.Bahkan aku tak bisa menepis tebakan kotorku bila mengingat keintiman yang selalu dia tuntut dariku, sebelumnya.Hans tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, lalu menarikku berjalan lebih cepat menuju mob
Ada rasa berat saat aku berusaha membuka mata. Semuanya terasa samar hanya remang-remang.Perlu beberapa lama aku beradaptasi sampai akhirnya aku menyadari keberadaanku.Langit-langit putih. Bau obat yang menyengat. Suara mesin yang berdetak pelan.Jelas sekarang aku sudah berada di rumah sakit.Ak
Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se







