Se connecterTak perlu terlalu banyak pertimbangan aku langsung mengajak ibu berbicara malam ini.Sesudah memastikan Maya tenang, aku segera melarikan mobilku untuk pulang ke rumah, rumah yang selama aku tinggali bersama ibu. Rumah lama kami yang sudah aku renovasi sedemikian rupa."Sudah pulang, Jar?" sapa ibu saat beliau menyambutku di depan pintu.Sudah menjadi kebiasaan beliau setiap kali mendengar suara mobilku memasuki halaman, selama ibu masih terjaga ibu akan berjalan menyongsong kedatanganku."Katanya kamu nggak pulang, karena ada operasi besar?""Operasinya diundur Bu, soalnya kondisi pasien nggak memungkinkan."Aku langsung menyalami tangan ibu sambil mencium punggung tangannya saat mulai memasuki rumah."Kamu sudah makan?" tanya ibu selalu penuh perhatian.Aku menggeleng pelan."Ya sudah, ayo ibu siapkan makanan buat kamu."Aku mengangguk dan mulai melangkah lesu menuju meja makan.Sementara ibu terus memperhatikan aku dengan tatapan intens meski beliau langsung menuju dapur demi menyi
Fajar POV Aku memutuskan mendatangi Maya setelah operasi yang sudah dijadwalkan batal karena keadaan pasien yang tak memungkinkan. Sesampainya di rumah yang sudah aku beli bertahun silam itu, hati ini terbetik penasaran ketika melihat mobil Rizal terparkir di depan. Tapi baru akan melangkah menuju pintu, telingaku menangkap suara teriakan Maya. Hatiku segera dihinggapi praduga buruk. Tanpa menunggu lama aku segera membuka pintu di depanku, dan bergegas masuk. Saat di dalam aku tak menyangka bisa melihat pemandangan yang langsung memantik amarahku. Bagaimana mungkin sahabatku sendiri bisa berbuat sekeji itu. Benar-benar tak bisa kuterima dengan nalar, sosok seperti Rizal yang aku tahu sebagai seorang suami yang setia, malam ini, di rumah yang aku jadikan sebagai tempat perlindungan untuk wanita yang aku cintai, melakukan perbuatan bejat. Dia ingin menggagahi Maya, wanita yang selama ini selalu ingin aku jaga. Segera aku menarik tubuh Rizal dan membantingnya ke atas la
Maya POV"Bagaimana ..., kamu mau menerima tawaranku kan?"Rizal bertanya dengan terlalu tenang. Nadanya terkesan membujuk tapi juga disertai keyakinan seakan aku bisa mudah menerima tawarannya.Rizal kian mendekatkan dirinya.Tapi aku segera menggeser tubuhku sedikit menjauh.“Kumohon jangan berpikiran buruk dulu, Maya,” ujar Rizal pelan sambil dia mengambil duduk tepat di sampingku.“Aku justru ingin menyelamatkan kamu.”Aku menggenggam kedua tangan sendiri erat-erat di atas pangkuan.Tatapan lelaki itu terasa semakin membuatku tak nyaman.“Aku akan berusaha untuk melindungi kamu. Yang jelas aku tak akan seperti suami kamu yang tidak punya nurani itu, bukankah dia yang selama ini sudah memaksamu menjual diri?"Suaranya merendah, terdengar lembut. “Aku akan jadikan kamu hanya sebagai milikku."Aku diam. Tapi setelah itu aku mulai menoleh dan memandangnya lekat."Sebagai apa?" tanyaku memastikan.“Aku bisa memberi kehidupan yang layak buat kamu dan anakmu.” Rizal tersenyum tipis. “K
Maya POVTanganku gemetar saat akhirnya membuka kunci pintu itu.Pintu kayu terbuka perlahan, menampilkan sosok Rizal yang berdiri tegap di hadapanku. Aroma parfum mahalnya langsung menyeruak masuk bersama udara malam.Aku mundur satu langkah memberi jarak.“Aku cuma ingin bicara,” katanya tenang.Sorot matanya jauh berbeda dibanding malam pertama saat aku mengenalnya dulu. Kali ini tak ada senyum santai ataupun guratan menggoda. Wajahnya terlihat serius.Aku menelan ludah pelan.Meski begitu aku mulai menggeser tubuhku, memberinya ruang untuk lewat.Rizal melangkah masuk. Matanya menyapu ke dalam rumah seolah ingin memastikan sesuatu sebelum akhirnya kembali menatapku.“Katakan padaku apa yang ingin kamu katakan tentang Fajar?" Aku mulai bertanya. Sementara gelisahku sudah menggantung di ujung hati. Entah mengapa aku merasa telah mengambil keputusan yang salah dengan membiarkan pria yang aku tahu adalah juga teman Fajar itu, masuk ke dalam rumah ini."Tapi sebelumnya apakah aku bole
Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata lewat semua bukti yang sudah dikumpulkan.Meski begitu aku masih belum bisa menghilangkan ganjalan di hati atas keberadaan Mas Angga juga putriku Dita. Aku sangat berharap jika pria yang masih menjadi suamiku itu bisa memperlakukan putri kami dengan baik."Benny pasti akan mendapat hukuman yang setimpal," ucap Fajar sebelum dia menyalakan mesin mobilnya.Wajahnya menunjukkan ekspresi penuh keyakinan kepadaku.Bibirku melengkungkan senyuman samar.Sungguh aku sangat menghargai segala usahanya demi bisa menuntaskan semua persoalanku.Berkali-kali aku telah membebani Fajar dengan permasalahanku. Entah sampai kapan aku akan menjadi bebannya. Kuharap tidak akan terlalu lama karena aku ingin Fajar b
Maya POV“POLISI! JANGAN BERGERAK!”Suara bentakan itu mengguncang seluruh isi kamar.Aku langsung jatuh terduduk di lantai sambil menangis terisak. Tubuhku gemetar hebat. Napasku tersengal tak karuan.Sebisa mungkin aku berusaha meraih apapun yang ada di dekatku demi bisa menutup tubuhku, karena pakaianku terkoyak karena kebrutalan Benny tadi.Sementara Benny yang sempat memegang rambutku spontan melepaskan cengkeramannya.Dia kemudian bergegas bangkit dari ranjang.“Apa-apaan ini?!” bentaknya panik. Dia masih saja mempertahankan kepindahannya.Dua polisi segera menerjang tubuh Benny dan membekuk kedua tangannya ke belakang.“Lepas! Kalian salah orang!” Benny meronta brutal.“Diam!” bentak salah satu polisi sambil menekan tubuhnya ke lantai.Aku memeluk diriku sendiri. Kepalaku terasa berputar. Air mata terus jatuh tanpa bisa kuhentikan.Dan di tengah kekacauan itu, Aku melihat seseorang berdiri di ambang pintu.Dadaku langsung terasa sesak.“F-Fajar…”Pria itu menatapku dengan waja







