LOGIN
“Kamu kapan mau nikah?”
Perasaan Karuna mendadak tidak enak saat Winanto, papinya mengajukan pertanyaan. Meja dan kursi-kursi taman belakang kediaman keluarga Atmaja di kota Bandung bagai membeku.
Untuk mengusir rasa tidak nyaman itu, Karuna mengambil satu keripik kentang dari sebuah toples camilan yang masih terbengkalai sejak tadi.
“Kalau nggak Minggu, ya, Sabtu?” ujarnya terkekeh, berpura-pura santai.
Winanto menatap Karuna lurus. “Kamu bercanda terus–jadi Papi dan Mami yang ambil keputusan.”
Alis Karuna berkerut lebih dalam, matanya memincing.
“Kami sudah menjodohkan kamu.”
Dunia Karuna berhenti bergerak. Ia tertawa pendek, seolah Winanto sedang membual. “Haha. Papi yang bercanda mulu, nih.”
Namun,
“Kita nggak bercanda.” Kini, giliran Mami yang menatapnya.
Kerongkongan gadis itu terasa kering, ia meraih satu gelas air mineral. “Oke,” katanya cepat. “Oke, bentar,” ia mengerjapkan matanya berkali-kali, juga menarik dan menghembuskan napasnya sebanyak empat kali.
“Kita ulang dari awal, ya? Papi sama Mami barusan bilang apa?”
Iya.
Kita ulang.
Siapa tahu Karuna salah mendengar.
Siapa tahu Karuna berhalusinasi.
Saat itu, detak jantungnya jelas berlarian. Menunggu jawaban Winanto terasa jauh lebih menegangkan, dibandingkan dengan persiapan presentasi promosi naiknya jabatan.
“Papi dan Mami sudah menjodohkan kamu.”
Bagi Karuna, kalimat Papinya barusan adalah yang terkonyol sepanjang masa.
Mual mulai mendera organ pencernaannya. “Hok–” Gadis itu buru-buru meraih tisu, hampir memuntahkan kunyahan keripiknya.
Winanto menghela napas, mengernyit ke arah gadisnya yang kini mencondongkan wajah ke arahnya. Ia dorong pelan kening itu dengan telunjuk agar menjauhinya. "Karuna."
“Piiiiii?”
“Tiga bulan lagi, ya?”
“Tiga….bulan?” ulangnya terbata, segalanya semakin tidak masuk akal. “Papi sadar nggak sih, tiga bulan itu artinya apa?”
“Artinya cukup waktu buat kamu adaptasi.” ujar Winanto.
Marlina meraih tangan Karuna. Kali ini wanita paruh baya itu menggenggamnya erat. “Ini bukan keputusan mendadak. Keluarga mereka sudah lama kenal kita dan sebaliknya.”
“Kami lakuin ini karena kami percaya ini yang terbaik.” imbuh Marlina.
“Terbaik versi siapa?” Karuna menarik tangannya pelan, habis sudah energinya untuk bercanda berlama-lama. “Versi Papi dan Mami, atau versi aku?”
tanya Karuna lagi, menatap dua orang itu bergantian. “Kenapa sekarang?”“Karena kesempatan ini nggak datang dua kali.”
Kesempatan.
Kata itu terdengar ironis di telinga Karuna.
Sejak kapan perjodohan jadi buah kesempatan, bukan jebakan?
“Siapa?”
Dua orang itu akhirnya saling pandang.
“Siapa orang yang Papi dan Mami maksud?” ulang Karuna, suaranya lebih rendah sekarang.
Winanto menarik napas dalam-dalam. Tangannya terletak di atas meja, jemarinya saling bertaut. “Kamu kenal, kok, Kak.”
Perut Karuna terasa mengeras, berdecak tidak sabar. “Siapa?"
Winanto mengangguk pelan. “Ya–ya.”
Ia menatap Karuna lurus-lurus, tanpa senyum, tanpa basa-basi.
“Rajendra.”
Hah?
“Rajendra Keenan Witjaksana.”
Benturkan kepala Karuna ke benda keras mana pun yang ada di hadapannya.
Sekarang.
Maksud mereka … Rajendra mantan kekasihnya!?
“Nikah sama Rajendra?! Pi?! Yang bener aja?!”
Yang dituju hanya menghela napas pendek. Winanto melepas kaca mata yang terpasang di tulang hidungnya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di atas meja dengan ketenangan yang mencurigakan.
“Toh, dulu kamu kemana-mana sama Rajendra terus. Sampai kelas berapa itu? Rajendra kelas tiga, kamu kelas satu SMA, ya?” Winanto tersenyum penuh keyakinan. “Laki-laki itu—Rajendra ‘kan baik."
Karuna mual.
Bahkan untuk mengingat apapun yang terjadi dengannya bersama Rajendra di masa lalu, ia sungguh enggan.
Tujuh tahun bukan waktu sebentar untuk pulih dan Karuna sama sekali tidak berniat mengulanginya. Sungguh ia tak mau kembali lagi.
Ah, bagaimana Karuna mengatakannya jika orang tuanya saja tidak pernah tahu hubungannya dengan Rajendra seperti apa?
“Kata siapa dia baik sih?!”
Wanita dua puluh enam tahun itu baru saja pulang kerja. Blazer masih menggantung di lengannya, tas bahkan belum sempat ia letakkan, sementara migrain mulai berdenyut di pelipisnya—hingga sebuah kalimat akhirnya lolos dari bibirnya.
Kalimat yang sekonyong-konyong, tidak ia saring dengan otak juga mulutnya.
“Mereka tawarin apa aja ke Papi sama Mami, huh? Uang? Saham? Atau janji investasi? Karuna janji, Karuna bisa cari yang lebih! Nggak dengan dijodoh-jodohin kayak gini!”
“Karuna,” tegur Marlina, jelas tidak suka.
Akan tetapi bagi Winanto, adalah wajar jika Karuna mengungkap kecewanya. Gadis itu juga ada benarnya, pria tua itu juga tidak mau berbohong dan sembunyi tangan.
“Mungkin kamu masih kerja dengan fasilitas baik di bagian kantor Dago, karirmu bagus, cara kerjamu juga nggak ada masalah. Empat tahun ini, kamu memang banyak bantu, tapi… itu belum cukup, Kak. Kamu tahu, ‘kan, cabang Braga dan Martadinata sedang defisit habis-habisan sekarang? Kebutuhan yang sekarang terlalu mendesak. Berapa pegawai restoran lagi yang harus Papi PHK?”
Kalimat itu jatuh lebih berat dari yang Karuna bayangkan.
Ia bukan anak manja. Ia terbiasa bekerja keras. Tapi mendengar itu langsung dari Winanto, seolah semua usahanya hanya catatan kaki. Rupanya, apa yang ia lakukan tidak pernah cukup. Ia kecewa dan malu.
Mendengar itu, Karuna langsung memicingkan matanya. Rasanya kacau hingga setetes air mata begitu saja turun di pipinya. Ia semakin merasa bahwa pendapatnya di sini sama sekali tidak diperlukan.
“Kenal sama dia nggak menjamin dia orang yang tepat buat jadi suamiku.”
Kalimat itu menggantung di udara, berat dan dingin.
Tak ada yang langsung menjawab.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Karuna angkat kaki dari duduknya. Langkahnya cepat, hampir tergesa, menutup pintu taman belakang kencang.
Rajendra adalah sisi koin paling sempurna, sementara Karuna adalah yang paling cacat, begitukah maksud orang tuanya?
Sore itu, Karuna sebenarnya tidak punya alasan jelas untuk terlihat sibuk. Rumah itu sudah terlalu bersih sejak pagi–lantainya mengkilap, meja-meja bebas debu, bahkan bunga di sudut ruang tamu tampak seperti baru diganti setiap hari.“Bosen,” adunya, entah pada siapa. Ia masih duduk bersandar di atas sofa, sambil memeluk bantal dengan bibir mencebik. Oh, gadis itu memang belum kembali ke kamarnya sejak makan siang. Ia menghabiskan harinya dengan menonton drama korea di ruang tamu, dengan televisi besar di sana. Sekarang sudah pukul empat sore.“Rumah segede ini masa nggak ada kerjaan,” gumamnya sendiri.Tanpa sadar maniknya menjelajah, kemudian menemukan satu alat yang ukurannya sedang hingga selutut. Senyumanya naik, menghampiri robot vacuum itu. Dinyalakan dengan pengetahuan sekadarnya–ya, di rumahnya yang meski sudah besar itu, mereka tidak punya alat-alat seperti ini. “Woah, woah, nyala!”Robot vacuum itu mulai bergerak, berputar patuh di dekat kakinya. Karuna jelas tidak menga
Karuna terbangun dengan kepala berat, sisa kantuk masih menempel di pelupuk matanya. Ia mengucek wajah pelan–tidurnya baru benar-benar lelap sekitar pukul dua pagi. Saat melirik jam di atas nakas, jarumnya sudah menunjuk pukul delapan.Delapan.Angka itu langsung menampar kesadarannya.Isteri.Karuna mendengus kecil sambil mendudukkan badan. Tidak ada suara berisik dari dapur–atau memang tidak cukup dekat untuk terdengar? Tetapi yang jelas, tidak ada yang mengetuk pintu atau menyuruhnya bangun.Karuna turun ke lantai bawah masih mengenakan piyama–ia hanya mencuci muka dan menggosok gigi sebelumnya. Rambutnya bahkan belum sempat dirapikan.Baru dua langkah memasuki ruang makan, ia mengerjap saat seorang wanita paruh baya keluar dari dapur.“Selamat pagi, Nyonya. Saya Natri, asisten rumah tangga di rumah ini.”Senyumnya teduh–anehnya itu mengingatkan Karuna pada Marlina. Sosok cerewet yang baru sehari tidak ia temui tapi sudah ia rindukan.Karuna langsung mengibaskan tangan kecil. “Jang
Begitu pintu utama terbuka, Karuna refleks merapatkan bibir. Karuna tahu betul dirinya bukan orang susah. Rumah keluarganya juga besar, warisannya banyak. Pantas.Namun, sejak pajero Rajendra berbelok masuk ke dalam kompleks mewah ini saja, Karuna paham satu hal. Gerbang hitam menjulang, lengkap dengan petugas keamanan, hunian ini meninggalkan kesan mewah lewat standar yang berbeda. Lalu garasi yang luas–ini bahkan bukan rumah utama keluarga Witjaksana, akan tetapi, setelah Karuna hitung cepat, bisa menampung empat mobil tanpa saling senggol. “Semuanya ini … kamu bayar sendiri?” Jangan salahkan Karuna yang tak bisa menahan rasa penasarannya.Rajendra tidak terlihat terganggu, ia menutup pintu, geraknya efisien. “Sebagian warisan,” katanya singkat. Karuna ber-oh-ria saja. Ruang tamu itu lagi-lagi sukses membuat Karuna merasa sedang berada di katalog interior kelas atas. Lantai marmer mengilap, sofa besar, lampu gantung kristal, hingga tangga siku yang menghubungkan lantai satu dan
Resepsi digelar di Jakarta, di sebuah ballroom mewah yang menghadap gemerlap lampu ibu kota. Dekorasi didominasi warna putih dan silver, elegan tanpa kesan berlebihan. Rangkaian bunga segar tersusun rapi di setiap meja, sementara lampu kristal menggantung tinggi memantulkan cahaya lembut di atas lantai marmer.Jumlah tamu tidak banyak, namun hampir seluruhnya berasal dari kalangan pebisnis besar dan relasi keluarga–yah, kalian tahu, deretan wajah-wajah yang akrab menghiasi majalah akhir pekan. Suasananya terasa eksklusif, lebih menyerupai pertemuan prestisius daripada pesta yang ramai dan hingar-bingar.Ada permintaan khusus dari Rajendra yang disetujui Karuna, selain tidak diundangnya media elektronik–yang sebetulnya dijunjung oleh Hartono juga Winanto–adalah bahwa tamu tidak diperkenankan melakukan dokumentasi dalam bentuk apapun. Biarlah pernikahan ini jadi cerita hanya bagi yang datang. “Papi percayakan Karuna padamu, Rajendra. Jaga baik-baik, ya?”Dengan begitu, telapak putih K
Sisa dingin selepas hujan masih tersisa di kulit. Jalan setapak taman restoran memantulkan cahaya lampu kekuningan, membuat permukaannya berkilau basah seperti kaca tipis. Karuna yang mengenakan sebuah gaun satin mahogani selutut berlengan pendek itu mengusap siku telanjangnya pelan, mencoba terlihat tenang meski sebenarnya menggigil.Matanya jatuh pada patung air mancur yang terpahat cantik, berbentuk sepasang kekasih yang saling memeluk mesra.Ironis sekali.Bahkan patung pun punya hubungan yang lebih jelas daripada dirinya sekarang.Karuna bukan sosok yang pendiam. Ia banyak bicara, penuh rasa penasaran, dan selalu sibuk. Kalendernya jarang kosong. Pekerjaan menumpuk, rapat menyambung, dikerjarnya investor untuk suntikan dana secara terus-menerus. Apakah ia lelah? Tentu.Sayangnya, ia justru menyukai kesibukan itu. Karena hanya saat sibuk, pikirannya tidak kembali pada hal-hal yang pernah menghancurkannya.“Saya nggak berencana jebak kamu.” Suara berat dari arah belakang membuat K
Kawasan Diponegoro pada sore hari selalu ramai. Di ujung ruangan private Plataran Bandung, dua keluarga duduk dalam lingkar tawa yang terdengar terlalu hangat untuk situasi Karuna.“Nggak nyangka lho kita serius jadi besan begini,” suara lembut itu berasal dari Dahlia Kumala Witjaksana. Nyonya besar keluarga Witjaksana itu selalu anggun dan terdengar tulus. “Rasanya baru kemarin Karuna masih sering mampir ke rumah kami di Bandung, cuma buat minta diajarin Matematika sama Rajendra.”“Tante senang bisa ketemu Karuna lagi.”Nama dan cerita lamanya disebut. Karuna mendongak setelah sejak tadi hanya menunduk, mencoba tersenyum sebisanya. Jemarinya sibuk merapikan serbet di pangkuan, sesuatu yang bahkan tidak perlu dirapikan.“Kerjaannya sekarang di Kantor Resto Dago, ya?” tanya Dahlia ramah.“Iya, Tante,” jawab Karuna singkat.“Rajendra juga keliatan gigih banget sekarang, ya, Har?”Hartono, calon mertuanya tersenyum bangga, menoleh pada putera bungsunya sesekali. “Dia memang lagi sibuk se







