MasukBab 21Jarum jam digital di dasbor menunjukkan pukul 23.15Suasana di dalam kabin SUV hitam itu begitu pekat, lebih gelap dari malam Jakarta yang sedang diguyur gerimis tipis. Samudera mencengkeram kemudi dengan buku-buku jari yang memutih.Di sampingnya, Seraphine menyandarkan kepala pada kaca jendela yang dingin. Efek alkohol mulai bekerja sepenuhnya, menciptakan sensasi panas yang menjalar dari perut ke dadanya, namun kesadarannya masih cukup tajam untuk merasakan aura intimidasi yang memancar dari pria di sebelahnya."Lo tahu nggak," Samudera akhirnya memecah keheningan, suaranya rendah dan serak, "betapa rendahnya perasaan gue saat harus nanya lokasi istri gue ke sopir mertua gue sendiri?"Seraphine tidak menoleh. Ia hanya memejamkan mata. "Lo nggak perlu nanya kalau lo percaya sama gue, Sam. Gue udah bilang gue bakal pulang.""Percaya?" Samudera tertawa hambar. "Gimana gue bisa percaya sama orang yang sengaja ngebalikin HP-nya biar nggak liat telpon dari suaminya? Lo nggak cuma
Tanpa disadari, waktu sudah menunjukkan pukul 22.45. Di dalam tasnya, ponsel Seraphine terus bergetar tanpa henti. 21.30 | Samudera: Sera, udah jam setengah sepuluh. Belum mau balik? 22.00 | Samudera: Lo di mana sih? Kok nggak dibales? 22.15 | Samudera: Seraphine, angkat telpon gue. Gue nggak suka lo pulang lewat jam 10 tanpa kabar. 22.30 | Samudera: 15 menit lagi kalau nggak ada kabar, gue cari lo. Ponsel Seraphine di atas meja bergetar hebat. Kali ini bukan pesan, tapi panggilan telepon dari nomor yang sudah ia hafal luar kepala. Ia melirik layar, lalu dengan santai membaliknya, mengabaikannya lagi. "Siapa? Samudera?" tanya Anya. "Siapa lagi," sahut Seraphine sambil menyesap gelas ketiganya. "Biarin aja. Dia harus tahu kalau gue bukan anak buahnya di Motion13 yang harus laporan tiap detik." "Tapi Sera... kalau dia beneran dateng ke sini gimana?" tanya Valerie khawatir. "Beritanya bakal gila." "Nggak mungkin. Dia tahu risikonya kalau ketahuan di tempat publik begini malem-ma
Sore itu, Seraphine telah menyelesaikan beberapa rapat sejak tadi pagi. Ia memijat tengkuknya yang terasa pegal. Namun pikirannya terus melayang ke kejadian pagi tadi. Serratus juta, usapan di kepala, dan aroma maskulin Samudera yang seolah menempel di kulitnya. Ia meraih ponselnya. Ada sebuah grup W******p yang riuh dengan notifikasi. The Inner Circle. Isinya adalah enam sahabat terdekatnya sejak masa sekolah dan kuliah di luar negeri—para pewaris takhta bisnis dan sosialita kelas atas Jakarta yang tahu hampir setiap rahasia gelapnya. Termasuk fakta bahwa pernikahannya dengan Samudera adalah sebuah transaksi hitam di atas putih. Gisela: ICE QUEEN IS BACK! Congrats for the wedding, Sera! Tapi serius, gue butuh laporan pandangan mata. Malam pertama gimana? Aman? Atau ada yang jebol? Valerie: Jangan tanya di sini, kumpul dong! Malam ini di Private Lounge 'The Glasshouse'. Gue udah pesen tempat paling pojok. Seraphine menghela napas. Ia butuh pelarian. Ia butuh mendengar suara-suara b
Seraphine terdiam, namun matanya masih berkilat penuh emosi yang campur aduk. Ia bisa merasakan deru napas Samudera yang stabil, sangat kontras dengan detak jantungnya yang berpacu cepat sejak tadi. “Lo gila,” desis Seraphine akhirnya, suaranya sedikit bergetar. “Lo pikir dengan duit segini, lo bisa beli jam tidur gue? Lo pikir dengan transfer uang segitu, lo bisa seenaknya mengabaikan aturan yang udah kita sepakati? Gue bikin barikade itu bukan buat gaya-gayaan, Sam. Itu buat kenyamanan kita berdua.” Samudera tidak bergeming, ia justru memajukan wajahnya. “Kenyamanan siapa, Sera? Kenyamanan lo yang kedinginan semalam sampai harus nyari panas tubuh gue? Atau kenyamanan gue yang harus kaku kayak patung karena takut lo bangun?" Seraphine membuang muka, tidak sanggup menatap mata tajam Samudera. "Kalau kayak gini terus, kalau lo nggak bisa jaga tangan lo dan terus-terusan pakai alibi 'nggak sadar' atau 'bayar denda', mending kita pisah kamar aja deh. Beneran. Gue bakal pindah ke kamar
Cahaya matahari pagi yang hangat sudah mengintip di balik celah gorden. Samudera sudah terjaga sejak sepuluh menit yang lalu. Tetapi, alih-alih langsung beranjak untuk memulai rutinitas aktivitas fisiknya, ia memilih untuk tetap diam, menikmati sensasi kepala Seraphine yang masih bersandar di bahunya.Posisi Seraphine sudah bergeser jauh dari zonanya di sisi kiri, wanita itu benar-benar menginvasi seluruh wilayah Samudera di sisi kanan. Kaki Seraphine melilit betis Samudera dan tangan kirinya mendekap pinggang Samudera seolah pria itu adalah guling raksasa yang paling nyaman di dunia.Samudera melirik ke bawah, ke lantai marmer yang dingin. Di sana, tiga bantal sofa panjang yang semalam dijuluki "Barikade Sepuluh Juta" tergeletak mengenaskan, berserakan seperti prajurit yang kalah perang.“Gue nggak akan ngelepasin momen ini gratis,” batin Samudera dengan seringai nakal yang perlahan terbit di wajahnya.Peralahan kelopa mata Seraphine bergetar. Kedua mata cantiknya terbuka sempurna be
Malam kedua di rumah baru mereka dimulai dengan suasana yang jauh lebih "waspada" dibandingkan malam sebelumnya. Jika semalam Seraphine hanya masuk ke kamar dengan keraguan, malam ini ia masuk dengan sebuah misi. Di pelukannya, ia membawa tiga buah bantal sofa panjang yang tadi siang baru saja dikirim—hasil belanja mereka di mal.Samudera, yang sudah lebih dulu berada di atas ranjang dengan posisi andalannya—bersandar topless sambil memeriksa email di tablet—hanya menaikkan sebelah alisnya melihat pemandangan di depannya.“Lo mau bikin benteng-bentengan?” tanya Samudera menahan tawa.Seraphine tidak menjawab. Dengan wajah seriusnya yang biasa ia gunakan di kantor, Seraphine mulai menyusun bantal panjang itu tepat di tengah-tengah ranjang Super King mereka.“Gue nggak mau kejadian tadi pagi ke ulang lagi, Sam. Itu memuakkan buat gue,” ujar Seraphine setelah memastikan barikadenya kokoh.Ia berdiri di samping ranjang, berkacak pinggang menatap Samudera. “Dan dengerin baik-baik. Gue mau







