ログインLeon baru saja membuka pintu ruang isolasi ketika suara gaduh menyambutnya. Seorang pasien meronta di atas dipan kayu, napasnya memburu, mata memerah tak fokus. Di sampingnya, Nathan berusaha menahan kedua pergelangan tangan pria itu dengan wajah tegang.“Tenang, tenang… kita tidak sedang lomba gulat!” gerutu Nathan, setengah terengah.Pasien itu tiba-tiba menyentakkan tubuhnya, hampir menggigit lengan Nathan. Nathan refleks mundur. “Baiklah, ralat. Kita memang sedang lomba gulat, dan aku jelas tidak mendaftar!”Leon bergerak cepat, menahan bahu pasien dan mendorongnya kembali ke ranjang. “Pegang kepalanya. Jangan beri ruang.”“Aku sudah mencoba, Yang Mulia, eh, maksudku Tuan Leon, tapi kepalanya tidak mau kompromi!” sahut Nathan, masih sempat menyeringai tegang.Pasien itu menggeram pelan, lalu tubuhnya kejang sesaat sebelum akhirnya melemah. Leon tetap waspada, tangannya tak langsung melepaskan.“Nathan,” ucapnya singkat.“Ya?”“Kalau kau digigit, aku akan meninggalkanmu dan mengunc
“Aku bukan Draven. Aku … Thorian,” Thorian angkat suara. Wajahnya berubah dingin seketika. Leon menarik sebelah sudut bibirnya. “Siapapun kau … katakan apa kepentinganmu berada di wilayah Ravensel?”Leon melangkah maju. Thorian tersenyum sinis. Mendengar kalimat ‘siapapun kau’ menyentak hatinya. Ia tidak suka dibandingkan dengan sodaranya—Draven. Apalagi disamakan. Ia pun mengayunkan kakinya memangkas jarak di antara mereka. “Jaga bicaramu, Leonhart.” Ada jeda sesaat, Thorian menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan.“Wilayah ini milik kami. Dragoria yang lebih dulu menaklukkan perbatasan ini.”Leon mendesis pelan, rahangnya mengeras. “Jangan bermimpi.” Tatapannya tajam, tak gentar sedikit pun. “Tanah ini milik Ravensel. Kami memenangkannya dalam pertempuran puluhan tahun silam.”“Secara budaya … mereka warga Dragoria,” sela Thorian dengan tatapan setengah mengejek. Udara di antara mereka menegang. Sejarah lama yang berdarah kembali bangkit, menuntut diselesaikan.Ketegan
Malam itu Clara masih disibukkan dengan meracik berbagai ramuan bagi para pasien yang terjangkit demam di ruang isolasi. Sejak senja ia nyaris tak beranjak, jemarinya terus bekerja menakar, menumbuk, dan merebus dedaunan kering dalam bejana tanah liat. Ia mengabaikan kesehatannya sendiri.Rasa lelah dan pusing yang sesekali datang hanya dianggap angin lalu karena tekadnya satu yaitu menghentikan wabah itu secepat mungkin.Sebelumnya ia telah meminta Nathan mencarikan tambahan herbal dari hutan dan pasar terdekat. Ramuan-ramuan itu untuk sementara hanya mampu menenangkan pasien yang mulai kehilangan kendali akibat demam tinggi dan delirium. Bukan penawar, belum. Clara tahu betul ia masih belum menemukan komposisi yang tepat untuk benar-benar menyembuhkan mereka.Namun setidaknya, untuk malam itu, ia bisa meredakan gejolak sebelum keadaan menjadi semakin buruk.Gadis itu sesekali menguap ketika tangannya dengan lincah menumbuk ramuan. Para tabib sudah kelelahan dan memilih istirahat. Na
Leon menerima kitab pemberian Ana dengan enggan. Sebetulnya, ia kurang meyakini apa yang Ana temukan. Pertama, ia belum bisa melihat langsung wabah dan korbannya. Ke dua, ia memang sukar untuk mempercayai sesuatu.“Aku akan simpan,” kata Leon berusaha menghargai usaha Ana. Ana mengulum senyum melihat respon Leon—yang dengan senang hati mendengar ceritanya dan kitab tentang sejarah perkembangan ilmu medis dan alkimia puluhan tahun silam. “Jadi kau berangkat hari ini?” tanya Ana kemudian. Tenggorokannya tercekat tiba-tiba. Jika Leon pergi ke daerah wabah, ia tidak bisa menghadiri upacara pernikahan Evander. Leon menghela napas berat. Ia menatap istrinya lurus. “Iya, Sayang. Aku harus berangkat hari ini. Tapi … kau tidak usah khawatir. Kami akan pergi dengan sejumlah pasukan elit dan tim medis.”Ana tergugu. Ia percaya dengan pengawalan pasukan elit. Ini bukan tentang pengawalan tetapi pernikahan Evander. “Leon, beberapa hari lagi hari pernikahan Evander dan Inez.”Leon terdiam bebera
Ruang pribadi raja berubah sunyi ketika tabib istana dipanggil dengan tergesa. Leon berdiri di sisi ranjang, wajahnya tegang, sementara beberapa pelayan menyingkir memberi ruang. Tabib tua itu memeriksa denyut nadi Edric dengan teliti. Jemarinya menekan pergelangan tangan sang raja, lalu beralih memeriksa pupil matanya.“Bagaimana keadaannya?” tanya Leon, suaranya tertahan.Tabib menghela napas pelan. “Yang Mulia tidak terserang wabah.”Leon sedikit mengendur, meski belum sepenuhnya lega. “Lalu?”Leon terdiam. Ia tahu itu hampir mustahil. Namun tidak menutup kemungkinan wabah bisa muncul di mana saja. “Kelelahan. Tubuh beliau dipaksa bekerja terlalu keras. Kurang istirahat, terlalu banyak pikiran.” Tabib itu menegakkan punggungnya. “Untuk sementara, beliau harus benar-benar beristirahat. Tidak boleh memikirkan urusan pemerintahan dulu.”Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Elia melangkah masuk dengan wajah pucat. Tatapannya langsung tertuju pada suaminya yang terbaring lemah.“Y
Leon mendengus kesal. Kali ini … tindakan Clara sudah keterlaluan. Dia sudah pergi ke lembah Hidennia—lembah perbatasan di antara dua kerajaan Ravensel dan Dragoria tanpa seijinnya. Tunggu, sebuah pertanyaan mencuat di kepalanya. Mengapa waktu penelitian tanaman herbal bertepatan dengan adanya wabah yang menyerang daerah perbatasan Ravensel dan Dragoria? Tentu saja, Leonhart bukan orang yang mudah dikelabui. Ia yakin Clara tidak mungkin mengetahui kabar tentang wabah itu tanpa sumber yang jelas—dan kemungkinan besar informasi tersebut datang dari pihak Dragoria.Apa pun motif di baliknya, Leonhart sadar ia tidak bisa hanya menunggu laporan. Ia harus turun tangan sendiri, melihat dengan mata kepalanya apa yang sebenarnya terjadi di Lembah Hidenia.Ia juga tak menutup kemungkinan bahwa wabah itu bukan sekadar bencana alam. Dalam politik perbatasan, penyakit pun bisa dijadikan senjata. Bukan tak mungkin apa yang terjadi sekarang hanyalah pengulangan taktik lama—menciptakan kekacauan, l







