تسجيل الدخولKeesokan paginya, Vanessa masih belum menerima balasan apa pun.Edward tidak membalas. Saaat melihat Vanessa membawa tas dan seolah hendak pergi, Nenek Gori tertegun sejenak saat sedang sarapan dan bertanya, "Vanessa, kau mau pergi ke mana?"Semua orang menoleh.Vanessa menjawab, "Ke kantor."Nenek Gori berkata, "Oh, baguslah."Sebagai pemilik dari X-Tech saat ini, memang sudah seharusnya jika Vanessa lebih peduli pada urusan perusahaan.Namun, dibandingkan dengan X-Tech, mereka tentu berharap Vanessa akan pergi menemui Edward.Lagipula, meskipun X-Tech sekarang cukup berharga, namun masih tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Edward.Tetapi mereka juga mengerti bahwa Vanessa tidak segera menemui Edward saat ini, pasti karena dia punya alasan tersendiri, jadi mereka tidak ingin terlalu memaksanya.Tepat saat itu, pelayan yang memperhatikannya sedang sarapan, berkata, "Nona, Anda memiliki belasan paket yang belum dibuka selama beberapa hari. Kalau nggak segera dibuka, nanti bisa
Edward dan Dani masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi mereka menghabiskan waktu di pulau itu selama dua hari sebelum kembali ke kota.Keesokan harinya, Edward kembali ke Anggasta Group untuk membahas masalah kerja sama.Setelah dua hari yang sibuk, kabar bahwa Edward telah kembali ke ibu kota dari perjalanan bisnisnya sampai ke telinga Ervan.Keluarga Gori dan Sanjaya mengalami masa-masa yang tidak mudah selama beberapa hari terakhir.Setelah mengetahui Edward telah kembali, Ervan segera memberi tahu Vanessa, "Aku dengar Edward sudah kembali."Sebelum Vanessa sempat bereaksi, Diana sudah bersorak gembira dan berkata, "Kak Edward akhirnya sudah kembali? Kalau begitu kita bisa ...."Namun, ekspresi Ervan tidak terlihat baik. Dia menatap Vanessa dan berkata, "Aku dengar Edward sudah kembali sejak beberapa hari yang lalu."Sebelumnya, Vanessa sudah terus mencoba menghubungi Edward, tetapi dia tidak menanggapi sama sekali. Saat itu, mereka menduga dia memiliki banyak hal ya
Elsa berkata, “Iya, Ma. Ya sudah … aku tutup teleponnya ya, Ma.” Clara tidak menyangka Elsa akan langsung berpamitan secepat itu, tetapi tidak berkomentar apa pun. Dia hanya menjawab, “Iya, kau istirahat ya.”“Iya. Selamat malam, Mama.” Setelah menutup telepon, Elsa berbalik dan turun ke lantai bawah, langsung bertanya kepada Kepala Pelayan, “Kek, apa tadi Kakek menelepon mama?”Kepala Pelayan berkata, “Iya. Karena Kakek khawatir kamu nggak mau makan, jadi Kakek memberi tahu mamamu.” Mendengar hal itu, Elsa menundukkan kepala dan tidak mengatakan apa-apa lagi, dia lalu berbalik untuk kembali ke kamarnya....Keesokan paginya, Elsa bangun dan sengaja tidak turun ke lantai bawah untuk sarapan. Edward selesai sarapan dan naik ke lantai atas untuk mengetuk pintunya. “Ayah mau pergi sebentar, nanti sore baru pulang.”Elsa masih merajuk. Saat mendengar hal itu, dia memalingkan muka dan mengabaikan Edward, tetapi seperti teringat sesuatu, dia tiba-tiba menatap ayahnya, namun ragu-ragu untu
Elsa semakin marah dan langsung meronta, "Lepaskan aku! Aku nggak mau dipeluk."Edward menatapnya. "Baiklah, tapi kau harus turun untuk makan."Elsa mengerutkan bibir, dia memalingkan wajah dan tak mau menatap ayahnya.Meskipun begitu, Edward sama sekali tidak melepaskannya dan langsung menggendongnya ke bawah.Di lantai bawah, Kepala Pelayan sudah memanaskan hidangan yang semuanya adalah makanan favorit Elsa.Nasi juga sudah disajikan. Edward menurunkan putrinya itu dan memberinya sendok.Elsa sempat ragu sejenak, lalu mengambilnya, dan mulai makan dalam diam.Edward duduk di sebelahnya. Melihat pemandangan itu, Kepala Pelayan berkata, "Pak, apa Anda juga mau makan sekalian?"Edward menggelengkan kepala. "Aku sudah makan."Dia tidak mencoba mengganggu lebih lanjut, lalu membiarkan ayah dan anak perempuan itu berduaan saja.Elsa tetap makan dalam diam. Edward menatapnya dan berkata, "Sekolah akan segera dimulai. Sebelum itu, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi? Ayah akan menemanimu.
“Ayo, kita pergi bersama.” Dani menyela perkataannya. “Jika benar-benar terjadi sesuatu, kami juga bisa membantu membujuknya.”Clara tidak berkata apa-apa lagi setelah mendengar itu.Gading juga merasa cukup khawatir, jadi dia pun ikut.Situasinya sangat mendesak, jadi Clara belum sempat bertanya lebih banyak. Setelah meninggalkan aula, dia mengambil ponsel dan ingin menanyakan lebih detail tentang situasi Elsa.Panggilan itu langsung terhubung.Dia bertanya, “Apa sebenarnya yang terjadi pada Elsa? Bagaimana dia bisa tiba-tiba jadi seperti ini?”Kepala Pelayan itu menjawab, “Sebenarnya, Elsa beberapa hari ini ....”Sebelum Kepala Pelayan itu selesai berbicara, sebuah suara sudah menyela, “Apa yang terjadi pada Elsa?”Itu suara Edward.Kepala Pelayan itu berbalik dan menyadari bahwa Edward telah kembali.Edward melirik ke arah Kepala Pelayan. “Siapa yang kau hubungi?”Kepala Pelayan menjawab dengan jujur, "Bu Clara. Saya baru saja memberi tahu Ibu tentang kondisi Elsa. Karena merasa kha
Pesan yang dikirim Gading pada hari saat insiden di perusahaan Keluarga Gori terjadi, baru mendapat balasan dari Edward di keesokan siangnya. Balasannya sangat singkat, hanya: [Nggak apa-apa, aku bisa menanganinya sendiri.]Dani berkata, "Apa aku juga perlu mengirim pesan?"Gading menjawab, "Tentu saja."Dani mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan kepada Edward.[Apa urusannya sudah hampir beres? Kapan kau akan kembali?]Saat Dani mengirim pesan itu, tatapan Gading kembali tertuju pada Clara yang berdiri tidak jauh darinya.Malam ini, Clara masih sama seperti sebelumnya, tetap menjadi pusat perhatian.Setelah selesai, Dani juga ikut menatap Clara.Dia benar-benar terkejut dengan kejadian di pesta jamuan Dokter Luwana. Setelah itu, dia sempat berpikir untuk mengirim pesan kepada wanita itu untuk menanyakan perasaannya.Namun, Dani tahu dia tidak memiliki hak untuk menunjukkan kepedulian itu, dan akhirnya dia tidak jadi mengirim pesan tersebut.Sekarang, melihat Clara tampak sangat te







