MasukElase masih terdiam. Pertanyaan Mark menggantung di antara mereka, lebih berat daripada keheningan malam yang menyelimuti taman.
Ia tahu kata “menginginkan” yang baru saja diucapkannya memiliki arti lebih dalam daripada sekadar rasa suka. Namun, ketika menatap mata Mark, Elase tidak menemukan keraguan dalam dirinya—hanya keberanian yang perlahan menguat. “Aku tahu,” jawabnya akhirnya. Suaranya pelan, tetapi terdengar jelas. Mark mengerutkan kening. Tangannya yang tadi berada di tengkuk Elase perlahan turun ke bahunya. Ia berusaha menciptakan jarak, meskipun hatinya sendiri menolak untuk menjauh. “Tidak, Elase. Kurasa kamu belum benar-benar tahu.” “Aku tahu Paman jauh lebih dewasa dariku,” balas Elase. “Aku juga tahu perasaan ini mungkin akan membuat semuanya menjadi rumit.” Ia menundukkan kepala sesaat, lalu kembali menatap Mark. “Tapi aku tidak ingin Paman terus menganggap perasaanku sebagai sesuatu yang akan hilang begitu saja.” Mark terdiam. Sorot matanya berubah serius. Elase menggenggam ujung kemeja Mark, seolah takut pria itu kembali menjauh. “Aku tidak meminta Paman terburu-buru. Aku hanya ingin Paman jujur pada perasaan Paman sendiri.” Angin malam bergerak pelan, membawa aroma rumput dan tanah basah di sekitar mereka. Mark menatap wajah Elase yang diterangi cahaya bulan. Gadis itu memang masih muda, tetapi keyakinan dalam sorot matanya membuat Mark kesulitan menganggapnya sebagai anak kecil. “Kamu tahu apa akibatnya jika kita melangkah terlalu jauh?” tanya Mark. Elase mengangguk perlahan. “Aku tahu mungkin Ayah akan marah. Mama juga mungkin tidak akan menerimanya. Tapi aku tidak ingin memilih berdasarkan ketakutan.” Mark mengembuskan napas panjang. Ia mengangkat tangan, lalu menyentuh pipi Elase dengan hati-hati. “Paman tidak ingin menyakitimu.” “Kalau begitu, jangan perlakukan aku seperti seseorang yang tidak mampu mengambil keputusan.” Jawaban itu membuat Mark terdiam lebih lama. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa Elase tidak sedang terbawa suasana. Ia benar-benar telah memikirkan perasaannya, bahkan kemungkinan buruk yang mungkin menanti mereka. Mark menunduk hingga dahi mereka hampir bersentuhan. “Kalau suatu hari kamu menyesal, Paman tidak akan memaafkan diriku sendiri.” “Aku yang akan menanggung pilihanku,” bisik Elase. Tatapan mereka kembali bertaut. Kali ini Mark tidak langsung menciumnya. Ia hanya membelai pipi Elase, seakan ingin memastikan bahwa gadis itu memahami setiap kata yang akan diucapkannya. “Kalau begitu, kita berjalan perlahan,” katanya akhirnya. “Tidak ada rahasia yang membahayakanmu. Tidak ada paksaan. Dan jika kapan pun kamu ingin berhenti, katakan kepada Paman.” Elase tersenyum lega. “Jadi Paman menerima perasaanku?” Mark mengangguk pelan. “Paman menerima bahwa kamu menginginkanku. Namun, Paman juga akan memastikan kamu tidak kehilangan dirimu sendiri karena perasaan itu.” Elase kembali mengalungkan tangannya ke leher Mark, kali ini tanpa tergesa-gesa. Ia menyandarkan kepala di dada pria itu, mendengarkan detak jantung yang berdegup sama gelisahnya dengan miliknya. Mark memeluknya erat, tetapi tetap menjaga batas yang telah ia janjikan. Di bawah cahaya rembulan, mereka tidak lagi sekadar menyimpan perasaan. Mereka telah memilih untuk mengakuinya—meski keduanya tahu, dunia di luar taman tidak akan semudah malam itu. Mark tetap memeluk Elase dalam diam. Untuk beberapa saat, ia hanya mendengarkan napas gadis itu yang perlahan mulai tenang. Namun, ketenangan tersebut tidak mampu mengusir kegelisahan yang memenuhi pikirannya. “Paman?” panggil Elase pelan. “Hm?” “Paman masih menyesal?” Mark menunduk, menatap rambut Elase yang berada di bawah dagunya. “Paman menyesal karena baru menyadari perasaan ini sekarang.” Elase mengangkat wajahnya. “Kenapa?” “Karena mungkin selama ini Paman membuatmu menunggu tanpa memberikan kepastian.” Ada sedikit rasa bersalah dalam suara Mark. Ia tahu, sebagai orang yang lebih dewasa, seharusnya dirinya menjadi pihak yang paling mampu mengendalikan keadaan. Namun, setiap kali Elase berada di dekatnya, pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun selalu runtuh perlahan. Elase tersenyum kecil. “Aku tidak merasa menunggu. Aku hanya merasa yakin.” “Keyakinanmu itu yang membuat Paman takut.” “Takut padaku?” “Takut pada apa yang mungkin terjadi jika Paman terlalu mengikuti keinginan sendiri.” Elase terdiam. Ia memahami bahwa Mark tidak sedang menolaknya. Pria itu justru sedang berusaha melindunginya, meski caranya membuat hati Elase sedikit perih. “Aku tidak ingin Paman terus menghukum diri sendiri hanya karena menyayangiku,” ucap Elase. Mark membelai pipinya dengan lembut. “Kalau begitu, berjanjilah. Apa pun yang terjadi, kamu akan tetap mengejar impianmu. Jangan menjadikan hubungan ini alasan untuk meninggalkan hidupmu.” Elase mengangguk. “Aku berjanji. Tapi Paman juga harus berjanji untuk tidak tiba-tiba menjauh.” Mark tersenyum tipis. “Paman akan berusaha.” “Bukan berusaha. Berjanji.” Mark menghela napas, lalu mengecup keningnya. “Baik. Paman berjanji.” Elase kembali menyandarkan kepalanya di dada Mark. Untuk pertama kalinya, keduanya merasa keputusan itu benar-benar nyata. Meski banyak rintangan menanti, malam itu mereka memilih untuk tidak lagi melarikan diri dari perasaan masing-masing.Setelah kejadian semalam, Mark benar-benar kesulitan mengendalikan pikirannya setiap kali melihat Elase. Terlebih ketika gadis itu tersenyum lepas seolah tidak terjadi apa-apa. Senyum sederhana itu saja sudah cukup membuat kepalanya kembali dipenuhi bayangan yang berusaha keras ia singkirkan sejak pagi.Bahkan pagi ini Mark sampai mandi tiga kali. Bukan karena ia kotor, melainkan karena ia membutuhkan sesuatu untuk menenangkan dirinya sendiri dan meredakan gejolak yang terasa begitu sulit dikendalikan.Namun semua usahanya seakan sia-sia.Sebab sekarang Elase duduk tidak jauh darinya, menikmati sarapan dengan santai. Gadis itu bahkan sempat tertawa kecil ketika melihat sesuatu di ponselnya, sama sekali tidak menunjukkan kecanggungan sedikit pun.Mark hanya bisa menghela napas panjang dalam hati.Bagaimana mungkin gadis itu bisa bersikap senormal itu?Sementara dirinya hampir tidak mampu menatap wajah Elase terlalu lama.Hingga akhirnya Wendo membuka suara."Mark, apa kau terburu-buru
Mark sungguh tidak bisa tidur malam itu. Sepulang dari pantai, pikirannya justru semakin kacau. Kejadian yang berlangsung beberapa jam lalu terus berputar di kepalanya, seolah menolak untuk memberinya sedikit saja ketenangan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi rasa kantuk sama sekali belum datang. Mark mengembuskan napas gusar sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju balkon kamar, membuka pintu kaca, lalu menyalakan sebatang rokok. Bara kecil menyala di antara jemarinya. Ia mengisapnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap perlahan sambil memandangi gelapnya perkebunan milik kakaknya. Namun beberapa detik kemudian, pandangannya bergeser ke kanan. Di sanalah kamar Elase berada, tepat di samping kamarnya. "Dia bisa tidur?" gumam Mark kepada dirinya sendiri. Entah mengapa pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya semakin tidak tenang. Tatapannya tak beranjak dari pintu balkon kamar Elase. Ia kembali mengisap rokoknya, kemudian
Elase masih terdiam. Pertanyaan Mark menggantung di antara mereka, lebih berat daripada keheningan malam yang menyelimuti taman.Ia tahu kata “menginginkan” yang baru saja diucapkannya memiliki arti lebih dalam daripada sekadar rasa suka. Namun, ketika menatap mata Mark, Elase tidak menemukan keraguan dalam dirinya—hanya keberanian yang perlahan menguat.“Aku tahu,” jawabnya akhirnya.Suaranya pelan, tetapi terdengar jelas.Mark mengerutkan kening. Tangannya yang tadi berada di tengkuk Elase perlahan turun ke bahunya. Ia berusaha menciptakan jarak, meskipun hatinya sendiri menolak untuk menjauh.“Tidak, Elase. Kurasa kamu belum benar-benar tahu.”“Aku tahu Paman jauh lebih dewasa dariku,” balas Elase. “Aku juga tahu perasaan ini mungkin akan membuat semuanya menjadi rumit.”Ia menundukkan kepala sesaat, lalu kembali menatap Mark.“Tapi aku tidak ingin Paman terus menganggap perasaanku sebagai sesuatu yang akan hilang begitu saja.”Mark terdiam. Sorot matanya berubah serius.Elase meng
Hari sudah benar-benar malam ketika Mark dan Elase masih bertahan di pesisir pantai.Langit begitu gelap, hanya dihiasi cahaya bulan yang memantul di permukaan laut. Ombak datang silih berganti, pecah di bibir pantai lalu kembali surut meninggalkan suara gemerisik yang menenangkan. Angin laut berembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang perlahan menusuk hingga ke kulit.Melihat Elase beberapa kali merapatkan kedua lengannya ke tubuh, Mark akhirnya mengumpulkan beberapa potong kayu kering yang ada di sekitar mereka dan membuat api unggun kecil.Api itu menyala di antara mereka.Cahayanya menari-nari, terkadang membesar ketika diterpa angin, terkadang mengecil sebelum kembali berkobar. Pantulan warna jingga dari api sesekali menerangi wajah Mark dan Elase yang duduk berdampingan di atas pasir.Malam itu terasa begitu santai.Tidak ada pekerjaan. Tidak ada keramaian. Tidak ada orang lain yang mengganggu.Hanya mereka berdua, suara ombak, api unggun, dan beberapa bungkus camilan yang
Begitu tiba di parkiran, Elase menghembuskan napas lega.“Kuharap perjodohan ini akan berakhir,” gumam Elase pada dirinya sendiri penuh harapan.Mark mengamati dari samping paras yang menurutnya sungguh sempurna dan luar biasa cantiknya.“Jadi dia yang akan menikahimu?” Elase menoleh, kemudian mengangguk dengan lesu.Ia menghabiskan sisa permen kapasnya dengan bibir cemberut ke depan.“Aku tak ingin nikah muda, aku ingin kuliah dulu lalu menjadi desainer terkenal, keliling dunia dan mencoba banyak hal baru,” cerita Elase penuh semangat saat membicarakan tentang mimpinya.Mark tersenyum, mengusap puncak kepala Elase dengan lembut.Kian rencananya untuk membawa Elase ke Palermo sebagai bentuk penolakan perjodohannya dengan Clera sepertinya harus ia batalkan setelah mendengar bagaimana impian Elase tentang cita-citanya sebagai desainer.“Sudah, mau pulang sekarang?” Tanya Mark membuat Elase langsung menoleh cepat.“Ya, besok pagi akan kuajak ke Desa Pesisir Liguria, aku jamin paman pasti
Malam harinya, setelah makan malam selesai, Wendo dan Lesan sedang menemui para supervisor dari kota untuk mengambil beberapa hasil kebun mereka.Mark memilih untuk pergi ke kamarnya berniat istirahat. Namun begitu ia hendak menuju kamar, ia berpapasan dengan Elase.“Paman mau ikut denganku keluar sebentar?” Tawarinya membuat Mark berpikir sejenak dan mengangguk mengiyakan.Elase tersenyum riang dan menarik tangan Mark begitu cepat.“Ayah ibu, aku akan membawa paman Mark keluar sebentar di pinggir kota, hari ini ada festival malam, aku akan membawa paman untuk jalan-jalan,” Wendo dan Lesan hanya mengangguk mengizinkan membuat Mark langsung mengikuti Elase.Keduanya lalu pergi menuju ke pinggir kota untuk melihat festival malam yang banyak digemari warga sekitar karena di sana akan ada banyak jajanan, pertunjukkan, hiburan serta tempat-tempat indah untuk sekedar duduk saja.Sepanjang perjalanan Mark begitu senang mendengarkan cerita Elase yang sangat antusias menceritakan tentang festi







