Share

Tawaran

Penulis: Miss Eka
last update Tanggal publikasi: 2026-08-29 15:50:44

Hari sudah benar-benar malam ketika Mark dan Elase masih bertahan di pesisir pantai.

Langit begitu gelap, hanya dihiasi cahaya bulan yang memantul di permukaan laut. Ombak datang silih berganti, pecah di bibir pantai lalu kembali surut meninggalkan suara gemerisik yang menenangkan. Angin laut berembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang perlahan menusuk hingga ke kulit.

Melihat Elase beberapa kali merapatkan kedua lengannya ke tubuh, Mark akhirnya mengumpulkan beberapa potong kayu kering yang ada di sekitar mereka dan membuat api unggun kecil.

Api itu menyala di antara mereka.

Cahayanya menari-nari, terkadang membesar ketika diterpa angin, terkadang mengecil sebelum kembali berkobar. Pantulan warna jingga dari api sesekali menerangi wajah Mark dan Elase yang duduk berdampingan di atas pasir.

Malam itu terasa begitu santai.

Tidak ada pekerjaan. Tidak ada keramaian. Tidak ada orang lain yang mengganggu.

Hanya mereka berdua, suara ombak, api unggun, dan beberapa bungkus camilan yang berserakan di antara mereka.

Mereka berbicara tentang banyak hal. Hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting, tetapi justru terasa menyenangkan ketika dibicarakan bersama. Sesekali Mark melontarkan gurauan yang membuat Elase tertawa, meskipun terkadang Elase sendiri menggeleng karena merasa leluconnya sama sekali tidak lucu.

Mark bahkan sempat mengambil camilan dari tangan Elase tanpa meminta izin.

Elase langsung memprotes.

“Paman punya sendiri.”

“Punya Paman sudah habis.”

“Itu bukan alasan.”

“Kalau begitu, belikan lagi.”

Elase mendengus, tetapi pada akhirnya tetap tertawa.

Suasana kembali tenang.

Keduanya kemudian memandang laut dalam diam. Cahaya bulan membuat permukaannya terlihat seperti ditaburi serpihan perak.

Hingga tiba-tiba Elase bersuara.

“Paman sudah memiliki kekasih?”

Tangan Mark yang sedang membawa camilan menuju mulut langsung berhenti.

Ia menoleh perlahan.

Elase masih menatap laut, seolah pertanyaan tadi bukan sesuatu yang besar.

“Belum,” jawab Mark singkat.

Barulah Elase menoleh.

Ia mengamati wajah Mark beberapa detik. Tatapannya berpindah dari mata, hidung, hingga rahang pria itu, seperti seseorang yang sedang mencari jawaban atas sesuatu.

Mark akhirnya mengernyit.

“Kenapa?”

Elase justru semakin memperhatikannya.

“Paras Paman sangat rupawan.”

Mark mengangkat sebelah alis.

Elase mengatakannya dengan begitu polos.

“Hampir sempurna.”

Mark terkekeh.

Elase belum selesai.

“Aku sungguh tidak percaya kalau wanita-wanita Palermo tidak tertarik pada Paman.”

Tawa Mark pecah.

Tawa rendahnya bercampur dengan suara ombak yang menghantam pantai.

“Benarkah?”

Elase mengangguk mantap.

“Benar.”

Ia kemudian kembali memandang laut sambil berkata dengan penuh keyakinan,

“Kalau Paman tinggal di sini satu bulan saja, kurasa seluruh gadis di desa akan datang ke rumah Ayah untuk melamar Paman.”

“Berlebihan sekali.”

“Tidak berlebihan.”

Elase segera menoleh lagi.

“Buktinya, tadi pagi tetangga sebelah mengantarkan camilan manis untuk Paman.”

Mark terdiam sebentar.

Entah mengapa, kalimat itu justru membuat hatinya terasa hangat.

Ia menahan senyum.

“Memangnya kenapa kalau ada yang mengantarkan camilan?”

Elase mengangkat bahu.

“Tidak kenapa-kenapa.”

Jawabannya terlalu cepat.

Mark menatapnya dengan senyum tipis yang semakin sulit disembunyikan.

“Benarkah tidak kenapa-kenapa?”

“Benar.”

“Paman rasa ada sesuatu.”

“Tidak ada.”

Mark terkekeh pelan.

Ia mulai menyadari bahwa mungkin saja ada sedikit rasa tidak suka dalam nada bicara Elase. Dan entah mengapa, menyadari hal itu membuatnya merasa senang.

Percakapan mereka kembali berjalan beberapa saat sebelum Elase tiba-tiba bertanya lagi.

“Paman tidak punya niatan untuk menikah dalam waktu dekat?”

Kali ini Mark tidak langsung menjawab.

Ia menatap api unggun di hadapannya. Wajahnya diterangi cahaya jingga yang bergetar, sementara pikirannya seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang jauh lebih serius.

“Paman sangat ingin menikah saat ini,” jawabnya akhirnya.

Elase mengangguk perlahan.

“Mengingat usia Paman yang sudah tiga puluh satu tahun.”

“Masuk akal,” sahut Elase.

Mark meliriknya.

Elase tampak menunggu kelanjutan jawabannya.

Namun Mark justru diam.

Terlalu lama.

Elase akhirnya mengernyit.

“Kenapa?”

Mark menelan saliva.

Ia kembali menatap api unggun.

Sebenarnya ada sebuah kalimat yang sejak tadi berputar-putar di kepalanya. Kalimat yang seharusnya tidak perlu ia ucapkan.

Namun malam yang tenang, suasana yang terlalu nyaman, dan percakapan mereka membuat pertahanannya perlahan runtuh.

“Andai kamu bukan putri Kak Wendo…”

Suara Mark terdengar rendah.

Ia berhenti.

Elase langsung menoleh.

“Apa?”

Mark tidak segera menjawab.

Beberapa detik kemudian, ia berkata pelan,

“Mungkin sejak sore tadi Paman sudah melamarmu.”

Seketika semuanya berubah.

Elase membeku.

Matanya membesar.

Seolah kalimat itu baru saja membuat seluruh pikirannya berhenti bekerja.

Mark sendiri tidak lagi tersenyum. Ia menatap lurus ke depan, menyadari sepenuhnya bahwa kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya bukanlah sebuah gurauan biasa.

Api unggun masih menyala.

Ombak masih bergulung.

Angin masih berembus.

Namun di antara mereka, keheningan terasa begitu pekat.

Elase menundukkan pandangan. Jemarinya tanpa sadar meremas ujung pakaian sendiri.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian, dengan suara sangat pelan, Elase bertanya,

“Bagaimana jika…”

Mark perlahan menoleh.

Elase mengangkat wajahnya.

Tatapan mereka kembali bertemu.

“Bagaimana jika seandainya aku menjadi kekasih Paman?”

Mark benar-benar terdiam.

Tidak ada tawa kali ini.

Tidak ada senyum menggoda.

Tatapannya tertahan pada wajah Elase, seolah ia sedang memastikan bahwa gadis itu benar-benar mengucapkan pertanyaan tersebut.

Elase pun tidak mengalihkan pandangannya.

Untuk pertama kalinya malam itu, keduanya sama-sama tidak tahu harus mengatakan apa.

Hanya suara ombak yang menjadi saksi ketika sebuah pertanyaan sederhana perlahan mengubah seluruh suasana malam mereka.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Paman! Puaskan Aku   Basah

    Mark menindih Elase dengan lembut namun tegas, bibirnya menyentuh bibir Elase dengan napas hangat yang berbaur. “Kau boleh bilang stop kapan saja,” bisiknya di antara ciuman, suara rendah dan berat. Elase mengangguk kecil, jari-jarinya meremas bahu Mark seolah menariknya lebih dekat, bukan mendorong pergi. Mark mengulum bibir bawah Elase pelan, lidahnya menyusup saat Elase membuka mulut dengan desah kecil. Tangan Mark naik di balik kaos putih, menyentuh kulit hangat sebelum meraih bra pink yang sudah agak longgar. Ia membuka kaitnya dengan satu tangan, lalu meremas payudara Elase dengan telapak yang hangat dan berat. Elase membusung, punggung melengkung, napasnya tersentak. Mark menunduk, mulutnya menutup puting yang sudah mengeras, menghisap pelan sambil lidahnya berputar. Elase menggigit bibir bawah, suara lirih keluar dari tenggorokannya. “Mark… ahh…” Panggilan nama itu membuat Mark tersenyum di kulit Elase. Tangan Mark turun, menyusuri perut rata hingga menyelinap ke dalam c

  • Paman! Puaskan Aku   Menginginkanmu

    Setelah kejadian semalam, Mark benar-benar kesulitan mengendalikan pikirannya setiap kali melihat Elase. Terlebih ketika gadis itu tersenyum lepas seolah tidak terjadi apa-apa. Senyum sederhana itu saja sudah cukup membuat kepalanya kembali dipenuhi bayangan yang berusaha keras ia singkirkan sejak pagi.Bahkan pagi ini Mark sampai mandi tiga kali. Bukan karena ia kotor, melainkan karena ia membutuhkan sesuatu untuk menenangkan dirinya sendiri dan meredakan gejolak yang terasa begitu sulit dikendalikan.Namun semua usahanya seakan sia-sia.Sebab sekarang Elase duduk tidak jauh darinya, menikmati sarapan dengan santai. Gadis itu bahkan sempat tertawa kecil ketika melihat sesuatu di ponselnya, sama sekali tidak menunjukkan kecanggungan sedikit pun.Mark hanya bisa menghela napas panjang dalam hati.Bagaimana mungkin gadis itu bisa bersikap senormal itu?Sementara dirinya hampir tidak mampu menatap wajah Elase terlalu lama.Hingga akhirnya Wendo membuka suara."Mark, apa kau terburu-buru

  • Paman! Puaskan Aku   Mandi Pagi

    Mark sungguh tidak bisa tidur malam itu. Sepulang dari pantai, pikirannya justru semakin kacau. Kejadian yang berlangsung beberapa jam lalu terus berputar di kepalanya, seolah menolak untuk memberinya sedikit saja ketenangan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi rasa kantuk sama sekali belum datang. Mark mengembuskan napas gusar sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju balkon kamar, membuka pintu kaca, lalu menyalakan sebatang rokok. Bara kecil menyala di antara jemarinya. Ia mengisapnya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap perlahan sambil memandangi gelapnya perkebunan milik kakaknya. Namun beberapa detik kemudian, pandangannya bergeser ke kanan. Di sanalah kamar Elase berada, tepat di samping kamarnya. "Dia bisa tidur?" gumam Mark kepada dirinya sendiri. Entah mengapa pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya semakin tidak tenang. Tatapannya tak beranjak dari pintu balkon kamar Elase. Ia kembali mengisap rokoknya, kemudian

  • Paman! Puaskan Aku   Menjadi Kekasih Paman

    Elase masih terdiam. Pertanyaan Mark menggantung di antara mereka, lebih berat daripada keheningan malam yang menyelimuti taman.Ia tahu kata “menginginkan” yang baru saja diucapkannya memiliki arti lebih dalam daripada sekadar rasa suka. Namun, ketika menatap mata Mark, Elase tidak menemukan keraguan dalam dirinya—hanya keberanian yang perlahan menguat.“Aku tahu,” jawabnya akhirnya.Suaranya pelan, tetapi terdengar jelas.Mark mengerutkan kening. Tangannya yang tadi berada di tengkuk Elase perlahan turun ke bahunya. Ia berusaha menciptakan jarak, meskipun hatinya sendiri menolak untuk menjauh.“Tidak, Elase. Kurasa kamu belum benar-benar tahu.”“Aku tahu Paman jauh lebih dewasa dariku,” balas Elase. “Aku juga tahu perasaan ini mungkin akan membuat semuanya menjadi rumit.”Ia menundukkan kepala sesaat, lalu kembali menatap Mark.“Tapi aku tidak ingin Paman terus menganggap perasaanku sebagai sesuatu yang akan hilang begitu saja.”Mark terdiam. Sorot matanya berubah serius.Elase meng

  • Paman! Puaskan Aku   Tawaran

    Hari sudah benar-benar malam ketika Mark dan Elase masih bertahan di pesisir pantai.Langit begitu gelap, hanya dihiasi cahaya bulan yang memantul di permukaan laut. Ombak datang silih berganti, pecah di bibir pantai lalu kembali surut meninggalkan suara gemerisik yang menenangkan. Angin laut berembus cukup kencang, membawa hawa dingin yang perlahan menusuk hingga ke kulit.Melihat Elase beberapa kali merapatkan kedua lengannya ke tubuh, Mark akhirnya mengumpulkan beberapa potong kayu kering yang ada di sekitar mereka dan membuat api unggun kecil.Api itu menyala di antara mereka.Cahayanya menari-nari, terkadang membesar ketika diterpa angin, terkadang mengecil sebelum kembali berkobar. Pantulan warna jingga dari api sesekali menerangi wajah Mark dan Elase yang duduk berdampingan di atas pasir.Malam itu terasa begitu santai.Tidak ada pekerjaan. Tidak ada keramaian. Tidak ada orang lain yang mengganggu.Hanya mereka berdua, suara ombak, api unggun, dan beberapa bungkus camilan yang

  • Paman! Puaskan Aku   Pantai

    Begitu tiba di parkiran, Elase menghembuskan napas lega.“Kuharap perjodohan ini akan berakhir,” gumam Elase pada dirinya sendiri penuh harapan.Mark mengamati dari samping paras yang menurutnya sungguh sempurna dan luar biasa cantiknya.“Jadi dia yang akan menikahimu?” Elase menoleh, kemudian mengangguk dengan lesu.Ia menghabiskan sisa permen kapasnya dengan bibir cemberut ke depan.“Aku tak ingin nikah muda, aku ingin kuliah dulu lalu menjadi desainer terkenal, keliling dunia dan mencoba banyak hal baru,” cerita Elase penuh semangat saat membicarakan tentang mimpinya.Mark tersenyum, mengusap puncak kepala Elase dengan lembut.Kian rencananya untuk membawa Elase ke Palermo sebagai bentuk penolakan perjodohannya dengan Clera sepertinya harus ia batalkan setelah mendengar bagaimana impian Elase tentang cita-citanya sebagai desainer.“Sudah, mau pulang sekarang?” Tanya Mark membuat Elase langsung menoleh cepat.“Ya, besok pagi akan kuajak ke Desa Pesisir Liguria, aku jamin paman pasti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status